Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
  • visibility 720

Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir

Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ternate memprediksi ujan masih melanda beberapa wilayah di Maluku Utara.

Data terbaru BMKG, mengingatkan masyarakat melalui peringatan dini yang dikeluarkan untuk tetap waspada bahwa potensi terjadi hujan lebat disertai petir bisa menyebabkan banjir terjadi di wilayah Morotai, Patani Utara, Pulau Gebe sampai Kepualaun Widi dan sekitarnya. Sementara beberapa wilayah seperti Jailolo, Ternate Taliabu dan Sanana diprediksi terjadi hujan ringan.   

Sementara hujan sepekan ini di Kepulauan Sula  menyebabkan banjir tak terelakan. Satu desa di Pulau Mangoli Kecamatan Pulau Mangoli tepatnya di desa Waitina, akibat  hujan, Jumat (14/7/2023) sejak pukul 08.00 hingga siang menyebabkan air kali Waisenga meluap dan masuk pemukiman warga.

Kepala Desa Waitina, Sirajudin Umasangadji mengatakan seperti dilansir media media di Maluku Utara, banjir merendam 48 rumah warga, dengan ketingigian air mencapai 1 setengah meter.

“48 rumah yang terendam banjir ini, di dua RT yakni RT 01 dan R0 2.  Akibatnya  warga  harus menyelamatkan harta bendanya di tempat yang aman,” kata Sirajudin kepada media Jumat (14/7/2023). Sirajudin dan masyarakat berharap bantuan pemerintah daerah  hingga pusat. Sebab,  banjir di desanya sudah berkali-kali terjadi, namun belum dilakukan upaya penaggulangan menyeluruh dari pemerintah. “Banjir pada 2020 lalu sudah ada kunjungan dari tim penanggulangan pusat tapi sampai saat ini belum ada bantuan secara langsung yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat Desa Waitina, khususnya yang terdampak banjir,” keluhnya.  

Pada Rabu (13/7/2023) akibat hujan deras yang terjadi di Halmahera Selatan yakni Desa Panamboang, Bacan Selatan, juga dilanda banjir  hebat. Ada puluhan rumah warga terendam banjir. Di desa ini ada 39 Kepala Keluarga (KK) terkena dampak banjir. Rumah mereka terdampak banjir karena rata rata berada  di bantaran  kali mati atau sungai yang kering saat  tidak ada hujan.

Sebelumnya banjir juga merendam satu desa di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku Utara pada Senin (11/7/2023). Peristiwa tersebut terjadi pascahujan dengan intensitas tinggi pagi hingga sore hari. Akibatnya   sungai  di wilayah tersebut meluap dan menyebabkan banjir.

Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan, desa terdampak banjir adalah Desa Kabuno Kecamatan Tabona. Dilaporkan  ada 60 KK/ 170 jiwa terdampak  banjir yang  menggenangi 60 unit rumah dengan ketinggian muka air 10 sampai 30 centimeter pada saat kejadian. 

Hingga Selasa (12/7/2023) pukul 06.00 banjir masih menggenangi permukiman warga dengan ketinggian setinggi mata kaki dan sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga yang lebih aman dari banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu sejak  kejadian terus melakukan pemantauan, assesmen dan berkoordinasi dengan pihak desa untuk melakukan penanganan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Kabupaten Pulau Taliabu, periode Selasa (12/7) dan Rabu (13/7) akan mengalami cuaca hujan ringan dan berawan. Sementara itu merujuk pada analisis inaRISK BNPB, wilayah Kabupaten Pulau Talibu memiliki risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi dengan seluruh kecamatan yang terdapat di Kapubaten Pulau Taliabu berisiko terpapar banjir.

Merespon potensi banjir tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan seperti membersihkan saluran air, mengetahui jalur evakuasi dan bagi warga yang bermukim di sekitar sungai ketika hujan dengan itensitas tinggi terjadi terus menerus selama satu jam untuk mempersiapkan diri melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman.

Ada Apa Kemarau Tapi Hujan hingga Banjir?

Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan penyebab sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir pada musim kemarau 2021.
Menurut LAPAN meski kemarau di beberapa daerah tetap mengalami curah hujan tinggi. “Hal itu disebabkan distribusi spasial suhu permukaan di wilayah Indonesia yang secara umum dipengaruhi posisi semu matahari yang saat ini berada di belahan Bumi Utara menyebabkan permukaan di Utara Indonesia menjadi lebih tinggi,” ungkap LAPAN dalam postingan  akun Facebooknyaa, dikutip  Sabtu  (15/7/2023).
LAPAN menyebutkan pergerakan angin saat ini didominasi trade win (angin pasat) dan Monsun Australia.

Trade win merupakan angin permukaan yang terjadi sepanjang tahun karena pengaruh tekanan rendah di wilayah khatulistiwa dan efek corriolis akibat rotasi bumi yang kadang diperkuat atau diperlemah oleh sirkulasi angin lainnya seperti Enso, easerly surge dan lainnya,” jelas LAPAN. LAPAN menjabarkan wilayah Kalimantan dan Sulawesi sering kali dilalui angin pasat ini sehingga menyebabkan terjadinya konvergensi pada wilayah-wilayah tersebut.


 “Konvergensi dapat menyebabkan terbentuknya awan skala besar dan terbentuknya hujan. Intentisitas hujan yang dihasilkan bergantung dari kandungan uap air yang berasal dari lautan pasifik dan laut Jawa serta kandungan uap air permukaan pada wilayah itu,” kata LAPAN.

Sementara untuk Pulau Jawa, pertumbuhan awan menjadi berkurang karena wilayah daratan Jawa cenderung dingin sehingga angin pasat yang melalui Pulau Jawa tidak membangkitkan konvergensi.

“Pergerakan uap air dari Juni hingga awal Juli menunjukan kandungan uap air tinggi yang bergerak masuk ke Samudera Pasifik,” tutup LAPAN.
 
Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto melalui rilis resminya Selasa (6/7/2023)  lalu mengatakan bahwa pada akhir Juni, gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO terpantau aktif dan merambat dari Samudera Hindia bagian barat.
Lalu awan itu melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia, dan bergerak ke arah timur hingga pertengahan dasarian II Juli 2021.

“Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya,” ujar Siswanto lewat keterangan tertulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.547
    • 0Komentar

    Kawasan konservasi Kepulauan Sula di Kabupaten Kepulauan Sula  di Provinsi Maluku Utara mencakup enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kecamatan Sulabesi Timur, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kecamatan Mangoli Timur, dan Kecamatan Mangoli Tengah. Terdapat 35 desa di enam kecamatan  masuk di dalam wilayah konservasi  Kepulauan Sula. KKP Sula yang masuk dalam Taman Pesisir […]

  • Pemkot Ternate akan Bangun Pusat Studi dan Riset Rempah

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 762
    • 1Komentar

    Bentang Artefak sejarah tentang kejayaan rempah di masanya/ foto istimewa

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 1.479
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • 9 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Halmahera

    • calendar_month Kam, 30 Sep 2021
    • account_circle
    • visibility 633
    • 0Komentar

    Burung burung tersebut saaat diangkut menuju Halmahera

  • Kampanye Hari  Air Sedunia Lewat Konten Digital

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 622
    • 1Komentar

    Warga Lingkungan Ake Gaale Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara  akan merayakan Hari Air Sedunia 23 Maret nanti dengan beragam kegiatan. Diawali dengan kegiatan Workshop Makin Cakap Digital pada Selasa (14/3/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya memiliki pemahaman dan pengetahuan soal pemanfaatan dan penggunaan  media social dan alat digital. Tidak […]

  • Saatnya Pariwisata Go Digital

    • calendar_month Jum, 27 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Cry Jailolo Ramaikan Ultah GenPI dan Pasar Teluk   Pada 25 November 2020 lalu,  Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Halmahera Barat dan Pasar Teluk, genap berusia dua tahun.  Dalam perayaan ulang tahun kedua itu banyak atraksi ditampilkan. Salah satunya seni tari Cry Jailolo  yang sudah go internasional itu. Rilis yang dikirimkan GenPi kepada kabarpulau.co.id/ menyebutkan, dengan […]

expand_less