Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
  • visibility 837

Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti Maluku Utara. Dampak itu begitu nyata dirasakan. Hal ini kemudian mendorong Risal Assor  Ketua Kelompok Difabel Maku Gawene  Kota Ternate datang dalam kegiatan Indonesia Climate Justice Sumit   (ICJS) atau Forum Temu Rakyat yang berlangsung di Jakarta Selasa (26/8/2025)  hingga Kamis (29/8/2025) lalu.

Risal Assor (47 tahun)  memakai kursi roda akibat jatuh sejak usia  3 tahun. Saat ini dia adalah pemusik, yang sehari- hari  bekerja di Red Corner Restauran  sebuah restauran di Ternate sebagai pemain saxophone.

Risal sehari – hari di Ternate bersama istrinya Nurjannah yang juga seorang difabel membangun usaha kerajinan Eco Print. Yakni teknik mencetak pola pada kain dengan memanfaatkan pigmen alami dari bagian tumbuhan seperti daun, bunga, batang, serta ranting, yang kemudian diolah menjadi motif unik dan otentik melalui proses seperti pengukusan atau pemukulan. Meski dengan dibantu kursi roda otomat dia ikut hadir dalam forum ini sekaligus  menyampaikan aspirasinya dalam bentuk aksi ke kawasan Monas Jakarta.

Risal hadir di panggung utama gedung Seraba guna  Senayan Jakarta   bersama berbagai kelompok masyarakat yang menjadi korban   dampak iklim yang menghantam kehidupan umat manusia saat ini.  Kehadiran Risal membacakan sikap politik tidak hanya atas nama dirinya tetapi dari  kaum disabilitas di Indonesia dan dunia. Tak hanya mengikuti pertemuan yang dilaksanakan selama 6 hari yakni 23 hingga 29 Agustus yang diakhiri dengan aksi Justice Climate ke kawasan Monas Jakarta pada pada Kamis (29/8/2025). Bersama kelompok disabilitas dari seluruh Indonesia bergabung bersama kelompok masyarakat, petani, nelayan, masyarakat adat, kaum miskin kota dan   kelompok anak muda menyuarakan dampak perubahan iklim yang turut membuat orang seperti dirinya ikut terpapar.

Risal Assor (47 tahun)  saat membacakan sikap kaum disabilitas terkait iklim di gedung Serba Guna Senayan Jakarta, foto Ichi

Dalam aksi itu, Risal ikut serta membawa pamflet berisi  pesan pesan keadilan iklim yang diperjuangkan. Tidak itu saja melalui aksi ini mereka menyuarakan dan mendesak pemerintah agar mempercepat pengesahan Rancangan Undang-undang Perubahan Iklim yang saat ini telah masuk ke dalam Badan Legislasi DPR.

Kegiatan yang diinisiasi Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI)sejak 23 hingga 28 September lalu itu, menghadirkan berbagai kelompok masyarakat yang  kurang lebih 1500 orang. Mereka ini yang menerima dampak langsung dari  perubahan iklim karena adanya berbagai aktivitas industri  yang berlangsung di darat dan laut. Saat pembukaan acara Rizal  diutus  menyampaikan  pernyataan politik difabel. Dia merupakan perwakilan difabel  yang menyampaikan sikap terkait kondisi yang dialami akibat dampak perubahan iklim.

Berikut pernyataan politik disabilitas.  “Nama saya Rizal.  Saya penyandang disabilitas dari Ternate  Maluku Utara. Dulu saya masih bisa beraktivitas  dengan lebih mudah.  Lingkungan sekitar saya mendukung. Cuaca lebih bisa diprediksi. Saat menyeberang antarpulau  di sekitar tempat tinggal saya laut lebih tenang  angin tidak sekencang sekarang. Ombak masih bisa diprediksi.  Meski menghadap hambatan sebagai penyandang disabilitas,  saya bisa bepergian, bekerja  terlibat dalam kegiatan  masyarakat tanpa rasa takut tiba tiba terjebak badai  angin kencang  atau gelombang tinggi.

Saya merasakan sendiri  bagaimana krisis iklim  memperparah hambatan  yang  sudah ada. Tinggal di pesisir pulau pulau kecil  membuat saya harus menghadapi  hujan deras,  banjir rob,  ombak tinggi,  dan kekeringan panjang. Yang menyulitkan akses transportasi  air bersih  dan bahkan evakuasi. Semua ini membuat  saya cemas  lelah secara fisik maupun mental.  Hal ini menambah stigma diskriminasi  yang selama ini kami alami.  Padahal  kami penyandang disabilitas  sangat sedikit berkontibusi terhadap perubahan iklim, tetapi menanggung dampak lebih berat yakni kehilangan rumah, mata pencaharian  bahkan keselamatan jiwa.

Sementara perlindungan  yang ada seringkali  tidak berpihak pada kami. Bantuan pemerintah saat bencana  masih belum ramah disabilitas. Akses informasi terbatas,  tempat evakuasi tidak bisa dijangkau  dan bantuan pangan tidak sesuai kebutuhan. Padahal kami seharusnya  mendapat perlindungan sosial  yang memperhitungkan ekstra cost of disabilty  dan kerentanan yang lebih tinggi. Kesempatan kerja makin sedikit  sementara bagi kami sangat sulit mengganti pekerjaan  seperti orang tanpa disabilitas. Karena itu  jaminan  pekerjaan layak dan  perlindungan sosial  yang inklusif  harus menjadi prioritas  negara terutama  di tengah krisis iklim.

Kami penyandang disabilitas  bukan penyebab krisis iklim  tetapi justru menanggung dampak  paling berat.  Kami menghadapi  hambatan berlapis  akses terbatas  diskriminasi dan  kini ancaman iklim.  Meski begitu  kami tetap berkontribusi  menjaga keidupan dan komunitas. Kami menolak dipandang sebagai objek  belas kasihan. Kami adalah warga negara setara  dan bagian penting dari solusi. Mengabaikan kami berarti  mengabaikan keadilan. Kami menuntut  akses perlindungan sosial  yang adil dan inklusif  khususnya dalam situasi krisis iklim. Kami menuntut  layanan evakuasi,  bantuan pangan  dan fasilitas publik  yang aksesibel  bagi semua jenis disabilitas.

Kami menuntut dukungan nyata  dari negara  dalam menghadapi krisis air  kesehatan dan kehilangan  mata pencaharian akibat dari  cuaca ekstrem.  Kami mendesak agar penyandang disabilitas dilibatkan  secara langsung  dalam perumusan kebijakan iklim, bencana dan pembangunan. Kami menuntut keadilan iklim yang menghentikan ketidakadilan struktural dan memastikan  tidak ada kelompok rentan yang ditinggalkan. Tanpa Keadilan iklim,penyandang disabilitas  akan selalu terpinggirkan. Tanpa aksesibilitas  tidak ada keselamatan. Ini soal hidup dan mati kami. Kami tidak minta dikasihani. Kami menuntut pengakuan dan keadilan. Keadilan iklim adalah  untuk semua.Termasuk kami penyandang  disabilitas.

“Bersama Kita Lebih Kuat”        

  • Penulis:
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 641
    • 1Komentar

    “Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  […]

  • Begini Cara Siapkan Warga Tubo Tanggap Bencana

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Kolaborasi Pertamina, IAGI, PRB dan PMI Kuatkan Warga Puluhan warga Tubo antusias mengikuti Simulasi Manajemen Posko dan Bantuan Pertama (First Aid) di sebuah tenda pengungsi di halaman Kantor Lurah Tubo Selasa (21/2/2-23). Mereka serius mendengar penjelasan dari para fasilitator. Sekdar diketahui warga Kelurahan Tubo di Kota Ternate Utara Ternate Maluku Utara ini,  rentan terhadap  bencana […]

  • Alokasi PS- TORA dan Pelepasan HPK-TP Perlu Kajian Mendalam

    • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 637
    • 0Komentar

    Aktivitas menanam KTH Ake Guraci yang memperoleh Izin seluas 100 hektar foto Juliaty penyuluh Ps

  • Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Entah apa yang ada dalam benak Bupati Kabupaten Kepulauan Sula Ahmad Hidayat Mus,  pasca tragedi kecelakaan longboat dari Mangole Tujuan Sanana pertengahan September lalu, dia lalu mengeluarkan instruksi untuk seluruh PNS daerah itu. Instruksi tegas mewajibkan untuk menyumbang tiap orang satu pelampung atau life jaket untuk diserahkan ke long boat atau alat transportasi lainnnya. Kecelakaan […]

  • Kuso Endemik Ternate, Terus Diburu untuk Dikonsumsi

    • calendar_month Sen, 5 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 907
    • 2Komentar

    Perburuan kuso mata biru yang juga salah satu hewan endemic pulau Ternate,  benar- benar massive. Akibatnya  hewan bermata unik ini semakin sulit ditemukan. Pengakuan sejumlah warga di Pulau Ternate yang bertempat tinggal di kawasan barat  pulau, menjelaskan bahwa kuso  ini sudah jarang terlihat sekarang. Jaib Sadek warga Sulamadaha Kota Ternate mengaku, dulu  hamper setiap saat […]

  • FKIP Unkhair dan Warga Buat Peta Jalur Evakuasi Bencana Tsunami

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 633
    • 1Komentar

    Pengabdian  Kepada Masyarakat (PKM), dilaksanakan oleh dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Khairun, di Desa Bobanehena Kecamatan Jailolo Halmahera Barat. Dalam PKM ini para dosen bersama masyarakat membuat  pemetaan partisipatif  jalur evakuasi bencana tsunami. Kegiatan pada Selasa (11/7/2023) lalu itu, sebagai bentuk literasi pengurangan resiko bencana untuk masyarakat. Koordinator kegiatan Astuti Salim MPdSi […]

expand_less