Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
  • visibility 884

Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti Maluku Utara. Dampak itu begitu nyata dirasakan. Hal ini kemudian mendorong Risal Assor  Ketua Kelompok Difabel Maku Gawene  Kota Ternate datang dalam kegiatan Indonesia Climate Justice Sumit   (ICJS) atau Forum Temu Rakyat yang berlangsung di Jakarta Selasa (26/8/2025)  hingga Kamis (29/8/2025) lalu.

Risal Assor (47 tahun)  memakai kursi roda akibat jatuh sejak usia  3 tahun. Saat ini dia adalah pemusik, yang sehari- hari  bekerja di Red Corner Restauran  sebuah restauran di Ternate sebagai pemain saxophone.

Risal sehari – hari di Ternate bersama istrinya Nurjannah yang juga seorang difabel membangun usaha kerajinan Eco Print. Yakni teknik mencetak pola pada kain dengan memanfaatkan pigmen alami dari bagian tumbuhan seperti daun, bunga, batang, serta ranting, yang kemudian diolah menjadi motif unik dan otentik melalui proses seperti pengukusan atau pemukulan. Meski dengan dibantu kursi roda otomat dia ikut hadir dalam forum ini sekaligus  menyampaikan aspirasinya dalam bentuk aksi ke kawasan Monas Jakarta.

Risal hadir di panggung utama gedung Seraba guna  Senayan Jakarta   bersama berbagai kelompok masyarakat yang menjadi korban   dampak iklim yang menghantam kehidupan umat manusia saat ini.  Kehadiran Risal membacakan sikap politik tidak hanya atas nama dirinya tetapi dari  kaum disabilitas di Indonesia dan dunia. Tak hanya mengikuti pertemuan yang dilaksanakan selama 6 hari yakni 23 hingga 29 Agustus yang diakhiri dengan aksi Justice Climate ke kawasan Monas Jakarta pada pada Kamis (29/8/2025). Bersama kelompok disabilitas dari seluruh Indonesia bergabung bersama kelompok masyarakat, petani, nelayan, masyarakat adat, kaum miskin kota dan   kelompok anak muda menyuarakan dampak perubahan iklim yang turut membuat orang seperti dirinya ikut terpapar.

Risal Assor (47 tahun)  saat membacakan sikap kaum disabilitas terkait iklim di gedung Serba Guna Senayan Jakarta, foto Ichi

Dalam aksi itu, Risal ikut serta membawa pamflet berisi  pesan pesan keadilan iklim yang diperjuangkan. Tidak itu saja melalui aksi ini mereka menyuarakan dan mendesak pemerintah agar mempercepat pengesahan Rancangan Undang-undang Perubahan Iklim yang saat ini telah masuk ke dalam Badan Legislasi DPR.

Kegiatan yang diinisiasi Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI)sejak 23 hingga 28 September lalu itu, menghadirkan berbagai kelompok masyarakat yang  kurang lebih 1500 orang. Mereka ini yang menerima dampak langsung dari  perubahan iklim karena adanya berbagai aktivitas industri  yang berlangsung di darat dan laut. Saat pembukaan acara Rizal  diutus  menyampaikan  pernyataan politik difabel. Dia merupakan perwakilan difabel  yang menyampaikan sikap terkait kondisi yang dialami akibat dampak perubahan iklim.

Berikut pernyataan politik disabilitas.  “Nama saya Rizal.  Saya penyandang disabilitas dari Ternate  Maluku Utara. Dulu saya masih bisa beraktivitas  dengan lebih mudah.  Lingkungan sekitar saya mendukung. Cuaca lebih bisa diprediksi. Saat menyeberang antarpulau  di sekitar tempat tinggal saya laut lebih tenang  angin tidak sekencang sekarang. Ombak masih bisa diprediksi.  Meski menghadap hambatan sebagai penyandang disabilitas,  saya bisa bepergian, bekerja  terlibat dalam kegiatan  masyarakat tanpa rasa takut tiba tiba terjebak badai  angin kencang  atau gelombang tinggi.

Saya merasakan sendiri  bagaimana krisis iklim  memperparah hambatan  yang  sudah ada. Tinggal di pesisir pulau pulau kecil  membuat saya harus menghadapi  hujan deras,  banjir rob,  ombak tinggi,  dan kekeringan panjang. Yang menyulitkan akses transportasi  air bersih  dan bahkan evakuasi. Semua ini membuat  saya cemas  lelah secara fisik maupun mental.  Hal ini menambah stigma diskriminasi  yang selama ini kami alami.  Padahal  kami penyandang disabilitas  sangat sedikit berkontibusi terhadap perubahan iklim, tetapi menanggung dampak lebih berat yakni kehilangan rumah, mata pencaharian  bahkan keselamatan jiwa.

Sementara perlindungan  yang ada seringkali  tidak berpihak pada kami. Bantuan pemerintah saat bencana  masih belum ramah disabilitas. Akses informasi terbatas,  tempat evakuasi tidak bisa dijangkau  dan bantuan pangan tidak sesuai kebutuhan. Padahal kami seharusnya  mendapat perlindungan sosial  yang memperhitungkan ekstra cost of disabilty  dan kerentanan yang lebih tinggi. Kesempatan kerja makin sedikit  sementara bagi kami sangat sulit mengganti pekerjaan  seperti orang tanpa disabilitas. Karena itu  jaminan  pekerjaan layak dan  perlindungan sosial  yang inklusif  harus menjadi prioritas  negara terutama  di tengah krisis iklim.

Kami penyandang disabilitas  bukan penyebab krisis iklim  tetapi justru menanggung dampak  paling berat.  Kami menghadapi  hambatan berlapis  akses terbatas  diskriminasi dan  kini ancaman iklim.  Meski begitu  kami tetap berkontribusi  menjaga keidupan dan komunitas. Kami menolak dipandang sebagai objek  belas kasihan. Kami adalah warga negara setara  dan bagian penting dari solusi. Mengabaikan kami berarti  mengabaikan keadilan. Kami menuntut  akses perlindungan sosial  yang adil dan inklusif  khususnya dalam situasi krisis iklim. Kami menuntut  layanan evakuasi,  bantuan pangan  dan fasilitas publik  yang aksesibel  bagi semua jenis disabilitas.

Kami menuntut dukungan nyata  dari negara  dalam menghadapi krisis air  kesehatan dan kehilangan  mata pencaharian akibat dari  cuaca ekstrem.  Kami mendesak agar penyandang disabilitas dilibatkan  secara langsung  dalam perumusan kebijakan iklim, bencana dan pembangunan. Kami menuntut keadilan iklim yang menghentikan ketidakadilan struktural dan memastikan  tidak ada kelompok rentan yang ditinggalkan. Tanpa Keadilan iklim,penyandang disabilitas  akan selalu terpinggirkan. Tanpa aksesibilitas  tidak ada keselamatan. Ini soal hidup dan mati kami. Kami tidak minta dikasihani. Kami menuntut pengakuan dan keadilan. Keadilan iklim adalah  untuk semua.Termasuk kami penyandang  disabilitas.

“Bersama Kita Lebih Kuat”        

  • Penulis:
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 810
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

  • Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 525
    • 0Komentar

    Pakativa- KPMK- Foshal- Pemdes Guruapin Kerja  Bareng   Perlindungan komprehensif untuk hutan mangrove dan pesisir laut sedang digagas bersama lembaga dan pemerintah desa Guruapin Kayoa Halmahera Selatan. Adalah Perkumpulan Pakativa, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak mengkampanyekan budaya, litrerasi dan ekologi bersama Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistwa (KPMK) serta Forum Studi Halmahera (Foshal)   mendorong pembuatan Peraturan […]

  • Doho-doho Kemerdekaan  

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Ironi Negeri El Dorado dan El Picente Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga […]

  • Sagu, Pangan Lokal dan Identitas Warga Sagea (2)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 1.147
    • 0Komentar

    Terjualnya kebun sagu ikut memunculkan kekuatiran luar biasa terkait nasib pangan warga Sagea Weda Utara Halmahera Tengah Maluku Utara  di masa depan. Saat ini pangan lokal seperti pisang, singkong dan keladi saja hamper semua didatangkan dari luar daerah. Karena itu jika lahan sagu yang sudah terjual digusur perusahaan, pupuslah harapan warga setempat bisa mendapatkan sagu […]

  • Bank Indonesia umumkan uang beredar di masyarakat

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Petugas menghitung uang pecahan milik nasabah di salah satu agen BRILink di Ternate, Maluku Utara, Jumat (3/10/2025).Bank Indonesia (BI) mengumumkan uang beredar di masyarakat M2 pada Agustus 2025 sebesar Rp 9.657,1 triliun atau tumbuh 7,6 persen tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,6 persen yang didorong uang beredar sempit (M1) sebesar 10,5 persen dan […]

  • Bangun Jalan, Mangrove di Pulau Bacan Rusak

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 757
    • 2Komentar

    Mangrove yang ditebang untuk pembuatan jalan masuk ke kawasan resapan air Labuha Bacan foto Sahmar

expand_less