Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Warga Haltim Protes Masalah Tambang di Depan Istana

Warga Haltim Protes Masalah Tambang di Depan Istana

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 8 Des 2023
  • visibility 942

Desak Bebaskan Halmahera  dari Kehancuran Ekologi

Dampak lingkungan dan social yang ditimbulkan akibat industri tambang di Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara, mendapat protes warga. Mereka  protes karena merasakan  dampak industry tersebut secara langsung. Jumat (7/12/20223)  masyarakat Halmahera Timur (Haltim) Maluku Utara terdiri dari Aliansi Masyarakat Buli Peduli Watowato, Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur Jabodetabek menggelar unjuk rasa  di kawasan Istana Negara, Jakarta Pusat. Massa yang datang menggunakan truk dan kendaraan roda dua itu,  selain berorasi   juga  membentangkan spanduk  yang berisikan protes terkait  beroperasinya sejumlah perusahaan  tambang di Halahera Timur dan Halmahera Tengah.

“Halmahera Bangkrut Selamatkan ruang hidup warga. Halmahera Butuh Pemulihan, Bukan Industri kapitalis,” demikian tulisan beberapa spanduk yang dibentangkan peserta  aksi di depan istana negara.   

Dalam orasi mereka  turut menyampaikan 5 tuntutan  penting  kepada pemerintah pusat. Pertama, cabut  izin PT Priven Lestari di  Gunung Wato wato, lindungi daerah aliran Sungai Sagea dan kawasan karst Gua Bokimoruru. Pulihkan pesisir Tanjung Buli, Pulau Gee, Pakal, dan kawasan pesisir Moronopo. Evaluasi izin tambang di Teluk Weda dan moratorium pemberian izin tambang di Maluku Utara.  Terakhir menolak rencana pembangunan pabrik elektrik vehicle (EV) di Halmahera Timur.

Said Marsaoly Warga Desa Teluk Buli yang juga menyampaikan orasi dalam aksi tersebut mengatakan alasan  5 poin tuntutan itu disampaikan karena lebih dari dua dekade, Pulau Halmahera menjadi sasaran empuk industry oligarki .  

Dia bilang eksploitasi Pulau Halmahera diklaim sebagai mitigasi perubahan iklim, mendukung propaganda ekonomi hijau yang rendah karbon di negara berkembang. Padahal klaim ini bertentangan dengan realitas yang  ada. Aktivitas penambangan dan beroperasinya smelter nikel  dilengkapi pembangkit listrik batubara, justru memicu kerusakan di daratan dan perairan Halmahera. Kesehatan warga juga terancam, bahkan  memicu lahirnya kemiskinan terstruktur.

“Kerusakan lingkungan  akibat dari tambang sudah terjadi di hamper di seluruh Pulau Hamahera. Misalanya  dampak yang ditimbulkan  di pesisir dan laut Teluk Buli. Termasuk pulau kecil Gee dan Pakal di Halmahera Timur. Pencemaran sungai Sagea di Halmahera Tengah dan penggusuran warga di Pulau Obi, Halmahera Selatan,” cecarnya.  

Baginya  pemerintah pusat maupun daerah  tidak lakukan  pemulihan, malah melegitimasi izin tambang baru seperti  PT Priven Lestari, yang konsesinya berada di kawasan Gunung Wato-wato, sehingga mengancam ruang hidup  warga Haltim karena  beroperasi di kawasan hutan, pemukiman, serta lahan pertanian dan sumber air minum warga.

Aksi-warga-dan-aktivis-Halmahera-Timur-di-Depan-Istana- foto Said M

“Gunung Wato- wato ini   sumber air hampir 20 ribu warga di Kecamatan Maba. Sumber air yang sama juga digunakan warga di Subaim Kecamatan Wasile, yang saat ini diklaim sebagai lumbung pangan padi  di Maluku Utara,” ujarnya.

Gunung Wato-wato juga terdapat kawasan hutan lindung dan hutan desa yang telah ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada 2021. Fungsinya sebagai wilayah resapan air dan fungsi esensial lainnya.

“Dari kawasan hutan Wato-wato ini  terdapat lahan pertanian dan perkebunan warga yang ditanami pala, cengkeh, dan nanas. Semua itu sumber perekonomian warga setempat,” ujarnya.

Kini, Gunung Wato-wato  akan dibongkar.  Salah satu modusnya mengutak-atik Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Halmahera Timur  dan memasukan kawasan itu   ke dalam kawasan  tambang.

Hal yang sama juga dirasakan warga di Desa Lelilef dan Gemaf di Halmahera Tengah, PT IWIP beroperasi. Termasuk  di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, tempat dimana Harita Group beroperasi.

“Dua wilayah itu masuk zona pengorbanan, dimana tambang  nikel dan operasi pabrik smelter serta PLTU meninggalkan kerusakan, kehilangan dan mewariskan penyakit yang sulit dipulihkan. Melenyapkan hak veto rakyat,” tuturnya.

Dia bilang tambang nikel telah mengokupasi daratan, mencemari pesisir dan perairan, serta memporak-porandakan pulau kecil seperti Pulau Gee dan Pulau Pakal,” katanya.

Karena dampak serius tamang  gelombang penolakan dan perlawanan warga  makin massif dilakukan. Pemerintah justru abai dengan hal itu. Bahkan  ada upaya  kriminalisasi warga menggunakan tangan aparat kepolisian.

“Ini ditandai dengan munculnya surat panggilan dari polisi kepada 13 warga Kecamatan Maba yang menolak tambang pada Juli 2023 lalu, dengan tuduhan mengada-ada, yakni penganiayaan, pengancaman, dan pengerusakan,”tegasnya.   

Hingga  saat ini, ada warga Buli memilih  ke Jakarta ingin menyuarakan tuntutan mereka. Meski dengan berbagai konsekuesi.  

“Ini  jadi alasan kuat  kami  gelar aksi di depan Istana Negara. Semua lembaga di bawah naungan presiden telah kehilangan akal sehat, lebih mementingkan kepentingan bisnis  tambang dibanding kehidupan warga Halmahera,” pungkasnya.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 1.678
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

  • Tiga Persen APBD Harus Dialokasikan Atasi Sampah

    • calendar_month Sen, 16 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.004
    • 0Komentar

    Gubernur/Bupati Wali Kota Didesak Buat Aksi Nyata Kepala Daerah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku Utara  dan Kabupaten/kota  didesak segera melakukan aksi nyata  atasi sampah yang  makin tidak bisa tertangani  saat ini. Aksi nyata  yang harus dilakukan kepala daerah  Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), […]

  • Ingatkan Warga Kota Ternate Hemat, Jaga dan Rawat Air

    • calendar_month Sab, 18 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Kampanye Jalanan Komuntas Save Ake Gaale Ternate Hari Air Sedunia atau World Water Day yang diperingati warga dunia pada 23 Maret setiap tahun, selalu diperingati juga kelompok masyarakat di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara, terutama mereka yang berada di kawasan sumber mata air Ake Gaale.   Ada beragam cara dilakukan. Salah satunya sebelum masuk puncak […]

  •  “Nagari Beta Yang Gulana”

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 778
    • 1Komentar

    mendung terus sepanjang hari.. mentari seakan enggan beranjak, tegar bersembunyi dibalik awan.. seiring hujan kian merintik bagai menandai duka anak bangsa yang terlilit nasib diantara antrian nan panjang untuk sebutir nasi demi sesuap dan.. disudut sana di kotaraja prawira nagara ketawa ketiwi berdecak kagum berbagi bintang dipundak, dalam jejak penuh tetesan darah.. darah anak negeri […]

  • Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 746
    • 1Komentar

    Kegiatan Literasi Keuangan Nelayan yang dilakukan MDPI di Seram Maluku foto MDPI

  • Perampasan Ruang Laut Marak, BRIN Ajak Kolaborasi Keilmuan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.134
    • 1Komentar

    Beberapa dekade terakhir, pesisir dan laut menjadi arena perebutan kepentingan yang tidak seimbang antara pemegang kuasa ekonomi-politik dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai coastal and marine grabbing – praktik perampasan ruang laut. Berapa besar dampak bagi komunitas tempatan dan ekosistem pesisir dan laut saat ini? Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan […]

expand_less