Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 8 Jan 2024
  • visibility 811

Sejak dulu kampung-kampun g di Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara memiliki banyak kebun sagu. Salah satu desa yang menjadi pusat sagu adalah Sagea dan Kiya di Weda Utara.

Karena potensi itu, pemerintah daerah kemudian berpikir melindunginya setelah massivenya industri tambang masuk ke wilayah ini. Pemkab Halmahera Tengah  kemudian membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi pohon sagu dan kesinambungan produksinya sebagai salah satu pangan penting masyarakat.

Perda Nomor 2 tahun 2018 itu mengatur Tentang  Pengelolaan dan Pelestarian  Sagu di daerah Halmahera Tengah yang  disahkan pada 28 Desember 2017  dan diundangkan dalam lembaran daerah 6 Juni 2018. Perda itu, menegaskan bahwa sagu merupakan sumber daya alam yang mempunyai peranan penting bagi masyarakat sebagai karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, patut dikelola dan dilestarikan keberadaanya demi  kemakmuran rakyat.

Selain itu akibat berubahnya pola konsumsi, rendahnya nilai ekonomi, laju pembangunan termasuk pengembangan areal pemukiman baru, pemanfaatan ruang yang tidak terencana, perusakan areal hutan dan tuntutan bahan bangunan, mengakibatkan areal tumbuh kembang tanaman sagu makin tergerus dan berpotensi punah. Karena itu  perlu dikelola dan dilestarikan.

“Untuk memberikan arah, landasan dan kepastian hukum kepada semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan pelestarian tanaman sagu, dibutuhkan peraturan terkait pengelolaan dan pelestarian sagu. Berdasarkan pertimbangan itu maka perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu,” demikian bunyi Perda tersebut. 

Ada pohon sagu di Desa Sagea yang dibiarkan terbakar sebelum diolah. foto M Ichi

Dalam Pasal 3 Perda itu menjelaskan bahwa Pengelolaan dan Pelestarian Sagu bertujuan mewujudkan konservasi sumberdaya hutan sagu, menjaga keseimbangan ekosistem; keberlanjutan ketersediaan sumberdaya air bagi kehidupan masyarakat; ketersediaan sumber bahan makanan penghasil karbohidrat; ketersediaan bahan baku bio energi;  usaha kultivasi bagi kepentingan masa depan kehidupan masyarakat; kesejahteraan dan eksistensi masyarakat (adat) Halmahera Tengah. Sekaligus menjadi objek pendidikan, penelitian dan pariwisata.

Dalam BAB III misalnya, mengatur tentang Hak   Kewajiban dan Peran Serta Masyarakat. Di Pasal 7 mengatur Pemerintah daerah, masyarakat dan atau badan hokum wajib ikut serta dalam upaya pelestarian sagu. Dalam BAB IV  Perda mengatur tentang pembentukan Badan Pengkajian dan Penelitian Sagu  (BPPS) untuk Pengelolaan dan Pelestarian.

BPPS ini mempunyai tugas dan wewenang melakukan pengkajian dan penelitian dalam upaya pengembangan, pengelolaan dan pelestarian Sagu. Lembaga ini akan  menyusun dan melaksanakan program dalam rangka pengelolaan dan pelestarian sagu. Melaksanakan pembinaan dan pengawasan, koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah, serta membuat rekomendasi terkait pemanfaatan areal hutan dan/atau kebun sagu. 

 Perda ini juga mengatur tentang ketentuan pidana. “Setiap orang dan/atau badan hukum yang dengan sengaja melakukan penebangan, perusakan, pembakaran dengan tujuan merusak dan/atau memusnahkan tanaman sagu pada kawasan hutan dan/atau kebun sagu,  dipidana dengan Pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluhjuta rupiah),” demikian bunyi Bab V Perda.

Begitu juga setiap orang dan/atau badan hukum yang dengan sengaja memanfaatkan tanah kawasan hutan dan/atau kebun sagu untuk kepentingan lain, tanpa izin Bupati diancam pidana kurungan paling lama 3 bulan  atau denda paling banyak Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah). 

Lalu bagaimana faktanya dengan  pelaksanaan Perda ini?

Ternyata masyarakat juga tidak tahu kalau ada Perda yang mengatur tentang Sagu. Tokoh masyarakat Sagea Ibrahim Sigoro misalnya mengaku tidak tahu Perda sagu tersebut. “Sampai saat ini belum ada sosialisasinya. Kami juga tidak tahu kalau ada Perda tersebut,” katanya.

Begitu juga Kepala Desa Sagea Arif Thaib. Ditanya soal Perda itu, dia mengaku tak tahu. “Selama ini  belum ada sosialisasinya,” katanya. Soal Perda Pengelolaan dan Perlindungan Sagu ini, sangat bagus tetapi sayang belum diketahui publik secara luas dan pelaksanaanya juga tidak  jalan. Faktanya, lahan lahan sagu semakin berkurang bahkan terancam habis karena masuk konsesi tambang setelah dijual pemiliknya kepada perusahaan.

Asisten I Bidang Pemerintahan Pemkab Halmahera Tengah Husain Ali SE mengaku belum tahu seperti apa pelaksanaan Perda tersebut di lapangan. Karena itu dia berjanji berkoordinasi lagi dengan instansi tekhnis yang mengurusi soal ini, “Saya infokan nanti ya soal pelaksanaan Perda ini setelah berkoordinasi dengan instansi tekhnis ,” katanya singkat. Sayangnya hingga tulisan ini terbit tidak ada tanggapan yang diberikan pemerintah daerah.

Warga Sagea memanfaatkan sela sela kebun sagu tersisa dengan menanam singkong dan pisang. Foto M Ichi

Anggota DPRD Halmahera Tengah Munadi Kilkoda  dikonfirmasi soal ini menyampaikan bahwa,  Perda yang dibuat ini tidak ada tindaklanjutnya di lapangan oleh ekskutif. Misalnya, sosialisasi maupun pembentukan badan seperti BPPS. Padahal semakin gencarnya industri ekstraktif masuk ke Halteng saat ini, perlu menjaga dan melindungi sagu dengan menjalankan regulasi ini.

“Dalam setiap pandangan akhir Fraksi DPRD, kami selalu mendesak segera dibentuk BPPS tersebut karena  masifnya investasi saat ini. Hanya saja eksekusinya nol oleh pemerintah daerah,” katanya.

Subhan Somola Pegiat Pangan Lokal Sagu di Halmahera Tengah yang selama ini mendamping sejumlah kelompok Badan Usaha Milik Desa   mengelola sagu, meminta  perlu dilakukan perlindungan terhadap kawasan hutan sagu. Ini sangat penting dilakukan untuk menjaga tersediaan pangan lokal sagu dan manfaat ekologinya. Selain itu  perlu membangun  industri pengolahan sagu yang terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadikan negeri ini sebagai lumbung pangan lokal sagu.

“Selain itu perlu menggalakkan kegiatan- kegiatan ekonomi produktif dari olahan lokal tepung sagu rumbia yang dapat diterima pasar lokal maupun nasional. Menciptakan budaya konsumsi pangan lokal sagu, sehingga terbangun kesadaran sosial ekonominya,”harapnya.

Dr.Erna Rusliana M.Saleh, STP., Msi  Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia Cabang Ternate sekaligus pengurus pusat mengatakan  untuk mengembalikan sagu menjadi tuan di kampungnya, yang utama tetap menjaga kontinuitas produksinya didukung dengan ketersediaan lahan.

Permasalahan teknologi produksi yang kadang menjadi masalah lamanya waktu proses dalam pengolahan, dapat diatasi dengan menyiapkan teknologi tepat guna yang mampu mempersingkat waktu proses. Hal ini mungkin, jika ada political will dari pemerintah yang mendukung petani dengan program intensifikasi dan ekstensifikasi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, tidak hanya segelintir kalangan investor.

Tulisan ini merupakan liputan fellowship kerja sama AJI Indonesia Kurawal Foundation dan Independen.id

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkici dada-merah Sangat Terancam

    • calendar_month Kam, 29 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 632
    • 0Komentar

    Nuri Ternate yang dilepasliarkan setelah di tempatkan di kandang transit Ternte

  • Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif. Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia. […]

  • Kebun Sagu Dijual, Cadangan Pangan Warga Sagea Hilang (1)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 739
    • 0Komentar

    Rintik hujan pada Minggu (26/11/2023) sekira pukul 17.00 WIT itu, tak menyurutkan semangat Abdurahman Jabir (50) dan Anwar Ismail (67). Keduanya bahu membahu dengan kedua tangan, mengangkat tepung sagu yang telah mengendap di dalam perahu–wadah penampung perasan pokok sagu.  Tepung terisi dalam tiga karung besar hasil perasan  empulur setengah batang pohon sagu, yang panjangnya kurang […]

  • Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 784
    • 1Komentar

    Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau. Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata […]

  • Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

    • calendar_month Sab, 20 Okt 2018
    • account_circle
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Komitmen melindungi satwa endemic tidak hanya hadir melalui  forum  seminar atau diskusi   peneliti,  maupun mereka yang concern terhadap isyu lingkungan dan keanekaragaman hayati. Apa yang dilakukan   bersama  Pemerintah Desa Kao  Halmahera Utara  Selasa (02/10) akhir pecan lalu ini juga,  memiliki maksud  yang sama. Membicarakan upaya  perlindungan   m,angrove dan satwa endemik.  Melalui forum ini, mereka  menyatukan presepsi  menjaga […]

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 667
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

expand_less