Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
  • visibility 805

Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate  

Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah

Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko Ternate atau Pitta Ternate [Erythropitta rufiventris cyanonota].

Akhmad David, pengamat burung di Maluku Utara dalam catatannya menjelaskan, Pitta Ternate ini hidup di lantai hutan mulai dari ketinggian 200–900 mdpl, yang umumnya kawasan hutan lebat.

Jenis ini selalu menyendiri dan menempati lantai hutan Gamalama. Memiliki suara yang mirip sebutan namanya, ia bisa menghibur siapa saja dengan suara khasnya di pagi, siang dan sore hari.

kabarpulau.co.id/ berkesempatan menyaksikan langsung burung ini di lembah Buku Bendera Gunung Gamalama Kelurahan Moya Kota Ternate Maluku Utara pada Sabtu (10/2/2-24) pagi lalu. Bersama tim dari LSM Burung Indonesia  datang  di tempat tersebut, mengamati dan menonton burung ini sambil memotret dan memvideokan.

Untuk mengamati burung dengan warna bulu menawan ini harus berjalan menuruni perbukitan kurang lebih 20 menit. Setelah sampai butuh kesabaran waktu menunggu  burung ini mendekat ke tempat pengamatan. Untuk memancing burung ini datang ke lembah  itu, diputarlah suara burung ini dari hand phone yang disambung ke sebuah sound kecil yang telah disiapkan mereka yang punya  tempat pengamatan.

Ketika berjalan sampah ke batas lembah di sana  ada sebuah gubuk/tempat pengamatan burung berdinding jaring plastic berwarna hitam yang dilobangi. Lobang itu berfungsi untuk melihat keluar saat mengamati dari dalam gubuk dengan jarak dekat  saat burung itu datang.

Ketika mengamati burung ini juga tak boleh ada suara suara atau gerakan, karena Tohoko sangat sensitive degan aktivitas manusia. Jika ada gerakan atau suara, burung ini tidak nyaman dan pergi menjauh.

Burung Pitta Ternate yang berhasil diabadikan oleh Junaidi Hanafiah

Cukup lama kami menunggu hamper 2 jam dari pukul 07.00 hingga pukul 09.00 WIT burung ini kemudian mendekat perlahan hingga berjarak kurang lebih 12 meter. Hanya satu ekor burung ini  bisa disaksikan dan diabadikan gambarnya.    Pengakuan pemilik rumah pengamatan burung ini jarang terlihat  bahkan nyaris tidak ada dua ekor bisa disaksikan sekaligus.

Tim bisa menyaksikan burung khas Gamalama tersebut dari dekat, sebenarnya karena jasa Rasmin Bochy,  seorang anak muda Kelurahan Moya Kota Ternate, yang dalam satu tahun terakhir menyediakan tempat pengamatan  burung ini. Dia memanfaatkan lahan kebun salah satu warga Moya  karena di tempat itu burung sering muncul dan mencari makan.  Karena itu  dia juga menyediakan makanan burung ini berupa cacing atau siput yang diletakkan di atas batu.

Rasmin yang mengaku menyukai wisata minat khusus pengamatan burung ini, menyediakan tempat pengamatan karena terinspirasi usai mengikuti kegiatan pengamatan burung bersama salah satu kawannya  di Halmahera.   Mereka mengamati burung jenis yang sama di hutan Kabupaten Halmahera Timur.

Selepas dari situ dia mengingat-ingat burung ini juga ada di kampungnya di Moya. Karena itulah dia kemudian tergerak membuat sebuah pondok pengamatan   di lembah buku Bendera antara hutan sekunder dan kawasan hutan cengkih dan pala.

Tujuan dia menyediakan tempat  ini  adalah untuk memudahkan pengunjung maupun peneliti burung yang mau mengamati burung ini.

Apa yang disiapkan oleh Rasmin ini mampu menarik wisatawan minat khusus pengamatan burung datang ke sini.

Meskipun tempat pengamatan burung ini hanya dibuat sendiri belum cukup setahun ini, sudah banyak peminat wisata khusus datang ke sini. Rasmin bilang  banyak pengamat burung datang ke tempat yang dia bangun, khusus melihat Pitta dan raja udang. “Umumnya, yang datang itu pengamat burung dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, juga Amerika. Kalau pengunjung lokal masih kurang tertarik,” katanya.

Sekadar diketahui tempat pengamatan burung Tohoko di Ternate ini selain di Kelurahan Moya,  juga dapat diamati di hutan Kelurahan Tongole, Ternate Tengah. Sejumlah masyarakat di kelurahan tersebut juga menyiapkan lokasi pengamatan.

Untuk gambaran burung Tahoko,  punya ciri khas  warna unik, berkaki panjang, dan berekor pendek. Perutnya merah mencolok dengan pita lebar biru berkilau di atasnya. Tubuhnya bulat dengan ukuran sekitar 15-17 cm.

“Burung ini  biasanya mencari makan di atas permukaan tanah pada hutan dataran rendah dan perbukitan yang lembab, juga pada hutan sekunder sekitarnya,”kata Benny Aladin Siregar, Koordinator Burung Indonesia Wilayah Kepulauan Maluku.

Burung ini katanya  masuk spesies Paok Jailolo. Paok Jailolo memiliki empat sub spesies, yaitu, Erythropitta rufiventris cyanonota, Erythropitta rufiventris rufiventris, Erythropitta rufiventris obiensis, serta Erythropitta rufiventris bernsteini.

Satu jenis yang paling ingin dilihat pengamat burung di Ternate adalah burung Tohoko atau Pitta Ternate [Erythropitta rufiventris cyanonota]. Burung ini masuk spesies Paok Jailolo.

“Paok Jailolo memiliki empat subspesies, yaitu, Erythropitta rufiventris cyanonota sebarannya di Ternate, Erythropitta rufiventris rufiventris  sebarannya di Kepulauan Morotai, Halmahera, Moti, Bacan, Mandioli, Damar, dan Kasiruta.

Rumah/gubuk untuk pengamatan burung Tohoko yang dibuat oleh Rasmin, foto M Ichi

Kemudian, Erythropitta rufiventris obiensis yang sebarannya di Pulau Obi, serta Erythropitta rufiventris bernsteini di Pulau Gebe,” terang Benny  Sabtu [10/2/2024]. 

Maluku Utara merupakan wilayah yang menjadi habitat alami berbagai jenis burung. Provinsi ini juga termasuk kawasan Daerah Burung Endemik, dengan 43 spesies burung sebaran terbatas.

Di Maluku Utara terdapat 171 spesies yang tersebar di daratan Pulau Halmahera, Pulau Bacan, Morotai, dan Kepulauan Obi. Secara global, Maluku Utara berada di peringkat 10 besar, berdasarkan perhitungan total jumlah spesies burung sebaran terbatas, khususnya pada spesies paruh bengkok.

Benny mengatakan, dilihat dari sisi geologi, tingginya populasi burung endemik di Indonesia, terjadi karena negara ini merupakan kepulauan yang terbentuk dari pertemuan banyak lempeng bumi.

Pulau-pulau yang saling terpisah, membuat fauna, salah satunya burung, berevolusi sesuai kondisi wilayahnya masing-masing. Dengan begitu, memiliki ciri unik di setiap wilayah.

Soal kondisi  populasi Tahoko di Ternate terbilang stabil karena ada kesadaran masyarakat menjaganya. Tantangan saat ini adalah keberadaan habitatnya yang terganggu akibat pembukaan hutan untuk lahan perkebunan dan pertanian. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Awas Bahaya Limbah Tailing Nikel di Balik Transisi Energi

    • calendar_month Sab, 16 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 894
    • 34Komentar

    Cerita  Film Dokumenter Ungkap Korban Nyawa dan Lingkungan Indonesia, merupakan negara produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54%–61% pasokan global (diproyeksikan meningkat hingga 74% pada 2028). Sering disebut sebagai kunci transisi energi global,namun, di balik narasi optimisme hilirisasi tambang, mengintai ancaman yang jarang disorot: limbah beracun industri nikel yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Di […]

  • Banjir Sumatera: Krisis Iklim yang Menuntut Aksi Nyata

    Banjir Sumatera: Krisis Iklim yang Menuntut Aksi Nyata

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 696
    • 0Komentar

    Krisis iklim menghantam  Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Per 3 Desember 2025: 3,3 juta orang terdampak, 753 tewas, 600 hilang, 2 juta orang mengungsi. Kerugian materiil mencapai Rp 68,67 triliun (CELIOS). Bantuan sulit masuk karena akses logistik terputus. Cyclone Senyar yang terjadi di Selat Malaka pada saat bencana terjadi merupakan fenomena langka di garis katulistiwa dan […]

  • Korban Lakalaut Tinggi, Butuh Kolaborasi Penanganan

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 623
    • 1Komentar

    Ketua POSSI dan SAR Ternate didampingi Danlanal Ternate menunjukan isi MoU yang telah ditandatantangani foto M Ichi

  • Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy (Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate) Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah […]

  • Malut Masuk 10 Provinsi yang Terus Alami Deforesfasi

    • calendar_month Sab, 19 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 828
    • 2Komentar

    Hutan yang berada di sejumlah pulau di Maluku Utara    terus alami deforestasi. Walau lajunya cenderung turun, faktanya hingga kini masih banyak  pulau  yang kehilangan tutupan hutannya. Data Yayasan Auriga Nusantara, menunjukan tutupan hutan alam nasional di Indonesia mencapai 88 juta hektare. Dari angka tersebut, 80% berada di 10 provinsi kaya-hutan, seperti Papua, Papua Barat, Kalimantan […]

  • Hutan dan Laut  Malut Makin Terancam

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2022
    • account_circle
    • visibility 653
    • 1Komentar

    Salah satu peserta aksi Hari Bumi yang membawa Pamflet berisi pesan Jaga Laut Maluku Utara foto M Ichi

expand_less