Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
  • visibility 725

Fenomena mudik kaum urban, terkadang memantik perdebatan panjang. Selain mengundang  keprihatinan, di mana mudiknya kaum urban ikut melibatkan negara dengan segala risiko,  mudik itu juga melibatkan jumlah yang demikian massif yang justru memang menimbulkan tantangan tersendiri, di mana emosi dan segala perhatian tertumpah di sana.

Tak ada perhatian ekstra keras yang dilakukan pemerintah jelang hari-hari besar keagamaan,  selain mengurus mudik kaum urban.  Yang dari tahun ke tahun selalu menumbalkan korban jiwa demikian besar.

Alhasil,  berbagai perbaikan,  termasuk meminimalisir jatuh korban, terus diupayakan. Sarana dan infrastruktur pendukung jalan raya dan transportasi ditingkatkan demi menghadirkan kenyamanan. Negara hadir ketika segala risiko benar-benar tertangani dengan baik.  Dan mudik,  merupakan parameter,  bagaimana negara bekerja,  dan serius mengurus rakyat.

Ternyata,  mudik bukan semata milik kaum urban.  Mudik telah menjadi tradisi yang “melembaga” hampir semua masyarakat di Indonesia mengenal dengan kuat tradisi pulang kampung ini.

Pun demikian halnya dengan masyarakat pulau.  Mudik merupakan sebuah kerinduan yang tak  terkatakan bagi mereka yang menjalaninya. Mudik tidak hanya sebuah perjumpaan fisik,  tetapi lebih dari itu adalah menggayuh makna dan kedalaman kerinduan ontologis, menemukan bilah maknawi keagamaan yang primordial.

Tentu,  antara mudik kaum urban dan mudik masyarakat pulau memiliki konstruk persepsi yang berbeda,  sekalipun mungkin saja memiliki silang singgung konsep yang sama.

Nah,  pada titik ini,  dan ini yang menjadi stand point coretan ini, bahwa mudik masyarakat pulau kurang memperoleh perhatian serius negara. Betapa tidak,  proses mudik orang pulau,  dilakukan apa adanya,  dengan fasilitas seadanya,  dukungan transportasi tak laik,  bahkan siap mengancam nyawa. Tetapi bagi orang pulau,  yang utama bisa “pulang kampung” walau dihantam ombak besar,  dibelai angin sakal jahat,  diselimuti hujan deras,  dan ditemani alam pekat. Tak surut nyali untuk menginjak pasir pulau yang pernah menancapkan memori dan pengalaman sejak kecil.

Pada konteks ini,  mudik masyarakat pulau kurang mendapat perhatian, bahkan terkesan diabaikan. Pernahkah berbagai fasilitas,  sarana,  infrastruktur untuk mudik masyarakat pulau menjadi perhatian? Apakah tol laut nanti dapat memberi nyaman masyarakat pulau ketika pulang kampung? Apakah pwrnah terlintas,  bagaimana mengatasi mudik masyarakat pulau yang rentan menumbalkan jiwa?

Syukur-syukur yang pulang kampung dengan kapal ferry, speed boat cepat.  Bagaimana dengan mereka yang mudik dengan perahu kayu?

Sejauh ini,  dan sejak lama,  mudik masyarakat pulau jauh dari kesan perhatian serius kita bersama.  Kita menganggap sebagai “tradisi” yang tidak berisiko.

Mudik orang pulau,  adalah pulang yang menautkan rindu,  cinta,  cita-cita, serta spirit transendensi untuk mengistirahatkan keegoan setelah penat diterpa deru bising materialisme di kota. Mudik adalah perjalanan menuju kebersamaan, walau jiwa harus dikorbankan.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fakawel/Vauf: Perempuan Gamrange, Laut, dan Tradisi yang Terancam (1)

    Fakawel/Vauf: Perempuan Gamrange, Laut, dan Tradisi yang Terancam (1)

    • calendar_month Rab, 14 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Angin selatan bertiup kencang. Gelombang menghantam pesisir Desa Banemo, Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah. Di tengah teriknya siang pada akhir September 2026 itu, tiga perempuan sebaya, Nurida Masin, Muhlisa Muksin, dan Mariani Hairil, bersiap menuju tempat untuk melakukan Fakawel/Vauf– memancing. Ketiganya tinggal bertetangga dan masih memiliki hubungan keluarga. Siang itu, mereka berencana memancing untuk memenuhi […]

  • Malut Punya Potensi Kepiting Kenari Berlebih

    • calendar_month Sab, 5 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 1.102
    • 2Komentar

    Dua ekor Kepiting kenari yang berukuran kecil saat diambil oleh para penangkap di Pu;au Obi, foto Mohdar H.jpg

  • Ingin Tegakkan Prinsip Politik Hijau, PHI Terbentuk

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 753
    • 1Komentar

    Kongres Online Partai Hiua Indonesia

  • Seni dan Tradisi Togal Tergerus Zaman?

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 1.603
    • 0Komentar

    Ditinggal Muda-mudi, Digandrungi Kaum Tua      Ibu-ibu berkebaya memakai sarung dan selendang  itu usianya sudah di atas 50 tahun. Mereka duduk berbaris di bawah tenda, sambil menunggu bapak-bapak yang datang dan ikut  pesta ronggeng togal. Ini adalah cara warga Desa Samo di Halmahera Selatan meramaikan  Festival Kampung Pulau dan Pesisir yang diinisiasi perkumpulan PakaTiva bersama […]

  • Dokumen RTRW Halmahera Tengah Memihak Industri (1)

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 3.332
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah pada 5 September 2024 lalu telah mengesahkan perubahan Peraturan Daerah  Kabupaten Halmahera Tengah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Halmahera Tengah 2012-2032 menjadi Perda nomor 3 Tahun 2024. Masa berlaku Perda Perubahan tersebut hingga 2043 mendatang. Dokumen setebal 241 halaman dengan lampiran-lampirannya itu, telah dinyatakan berlaku sejak […]

  • Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

    • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 864
    • 1Komentar

    Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun […]

expand_less