Menjaga Riuh Kepak Sayap Burung di Tanah Rempah:Catatan dari Pulau Tareba
- account_circle Redaksi
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 17

Pintu masuk Tareba foto, Safri Rusdi
Pulau Tareba. Mendengar namanya, di benak saya adalah hampiran pulau kecil yang berada di seberang Ternate. Namun, kenyataanya kawasan ini ada di lereng Gunung Gamalama. Tepatnya di sisi danau yang kaya cerita rakyat, Danau Tolire di Kelurahan Takome, Ternate Barat Kota Ternate, Maluku Utara. Dari kawasan ini juga terlihat pantai dan laut biru, memesona sejauh mata memandang.
Pulau Tareba adalah destinasi wisata minat khusus yang dikembangkan oleh masyarakat sebagai tempat camping dan juga bersantai sambil menikmati suasana alam pulau vulkanik Ternate.
Pagi di akhir Juli itu, saya bersama rombongan pelatihan menulis lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh LSM Burung Indonesia, selama dua hari sejak 24 hingga 25 Juli 2026 melanjutkan agenda pelatihan dengan perjalanan ke kawasan Toreba untuk praktik menulis.
Tempat ini ternyata menyimpan keunikan dan pesona tersendiri. Agenda lanjutan pelatihan itu di digelar di sebuah rumah panggung di tepi danau Tolire di kawasan wisata Pulo Tareba.
Kurang lebih 15 meter dari tempat pertemuan, ada sebuah rumah kecil berarsitektur estetis. Di dalamnya, tersusun rapi deretan buku serta beragam hasta karya berpigura mempermanis sudut-sudut ruangan hingga ke langit-langit rumah.
Tak lama setelah melihat rumah mini itu, kami mulai menyusuri kawasan tersebut. Langkah kaki saya terhenti pada salah satu papan informasi yang terpampang deretan foto burung dengan kepakan warna-warni memenuhi papan informasi itu. Ternyata selain sebagai tempat camping, Pulo Tareba juga menjadi tempat konservasi hewan endemik di Pualu Ternate.
Berdiri lalu memperhatikan gambar tersebut ada muncul rasa penasaran. Lalu menghampiri panitia penyelenggara pelatihan yang paham soal informasi burung. Andi namanya. Di lembaganya dia bertugas sebagai fasilitator komunitas/masyarakat (community facilitator). Kami berdiri tepat di papan informasi satwa di Pulau Tareba itu. Andi lalu menjelaskan satu per satu foto burung yang ada di papan informasi tersebut.

Beragam jenis burung yang ada di Maluku Utara dan Pulau Tareba, foto M Ici
“Ini merupakan hasil penelitian burung di Pulau Tareba yang dilakukan Halmahera Wildlife Photography (HWP) sebuah komunitas fortografi alam liar di Ternate,” kata Andi sambil menunjuk gambar burung tersebut.
Setidaknya ada 30 jenis burung sudah diteliti di kawasan itu. Dari banyaknya jenis burung, salah satu yang menarik adalah burung bermahkota biru yang lebih umum dikenal dengan walik topi biru (Ptilinopus monacha).
“Ini adalah jenis burung merpati hutan berukuran kecil dengan ciri warna kebiruan di bagian atas kepalanya yang aktif di pohon-pohon kawasan Pulo Tareba,” ujar Andi.
Selain jenis burung ini ada juga mayoritas burung paruh bengkok yang terbang berseliweran di kawasan hutan ini.
Saat mengamati satu per satu nama dan jenis burung, tiupan kencang angin musim kemarau yang panas menghantam ranting- ranting pepohonan kawasan hutan sekunder itu, membuat, daun-daun kering berguguran. Suara burung sesekali terdengar. Saya pun melangkah ke beberapa spot, termasuk pendopo tempat berkumpul sambil belajar dan berdiskusi di situ.

Walik Topi Biru
Kesempatan itu sempat menyaksikan pasangan burung walik topi biru sedang bertengger di dahan pohon. Warnanya hijau dengan ekor bawah kuning. Salah satu burung terbang berpindah ke dahan lain. Spesies burung dalam keluarga Columbidae ini juga memiliki mahkota depan biru. Burung ini bisa ditemukan sendirian, kadang bisa berkelompok seperti yang saya temukan di Toreba. Burung ini menyukai buah-buahan kecil. Kebetulan pohon-pohon di hutan ini juga banyak tumbuh pohon jambulang.
“Burung ini kita bisa temukan di dataran rendah dan perbukitan rendah dalam berbagai habitat berpohon, termasuk hutan, hutan bakau, dan perkebunan,” kata Andi.
Burung ini dibedakan dari jenis-jenis walik lain. Melalui kepala gelap dengan mahkota depan biru, serta garis kuning sebagai fitur pembeda tambahan pada jantan. Seperti dahi biru yang lebih tebal pada jantan, dibatasi garis kuning tipis namun jelas. Di usia remaja burung ini memiliki tepian bulu sayap kuning.
Jenis Walik topi biru dari status konservasi, tidak dilindungi. Burung berukuran kecil 16–18 cm itu tidak termasuk spesies dilindungi. Padahal akibat berkurangnya habitat dan populasi, keberadaannya sangat terancam.
International Union for Conservation of Nature (Uni Internasional untuk Konservasi Alam), sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang konservasi alam dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, mengelompokkannya ke dalam burung hampir terancam (Near Threatened).
Dia juga tidak termasuk spesies burung yang diperdagangkan, sehingga tidak tercantum dalam daftar Appendix CITES.
Persoalan status konservasi ini juga dialami sejumlah satwa endemik lainnya di Maluku Utara. Kakatua putih, misalnya, menghadapi ancaman kepunahan yang nyata akibat tingkat perburuan yang sangat tinggi. Menyusul di belakangnya adalah Kasturi ternate yang kini berada dalam status rentan (Vulnerable).
“Untuk jenis yang paling sulit dijumpai di alam liar, bidadari halmahera dan mandar-gendang menjadi dua nama yang kian jarang menampakkan diri,” jelas Andi.
Menurutnya, burung hanyalah satu mata rantai kecil dalam kompleksitas jaring kehidupan ekosistem. Namun, perilaku merusak, seperti berburu untuk diperjualbelikan atau sekadar kesenangan semata, lahir dari sudut pandang antroposentris.
Yakni warisan semangat keilmuan Barat abad ke-19 yang berambisi mendominasi alam raya. Pandangan ini tidak hanya menghancurkan populasi burung, tetapi juga mengancam seluruh makhluk hidup di luar manusia.
Ini katanya adalah sudut pandang keliru. Karena itu perlu disadarkan kembali,. Bahwa manusia adalah bagian utuh dari alam itu sendiri. Bukan entitas yang berdiri terpisah di luarnya.
“Selama ini, kita kerap menganggap burung, satwa lain, dan hutan sebagai hal sepele yang tidak penting. Sebab, perspektif antroposentris selalu menempatkan mereka sekadar sebagai objek eksploitasi demi memuaskan hasrat manusia,” tutupnya.
Maluku Utara adalah bagian dari kawasan Wallacea yang kaya akan keanekaragaman hayati. Khusus di Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya (seperti Bacan, Morotai, Obi, dan Ternate), tercatat ratusan jenis burung. Sekitar 41 spesies dikategorikan sebagai burung endemik atau memiliki daerah sebaran terbatas.
Alfred Russel Wallace seorang penjelajah, naturalis, dan ahli biologi asal Inggris yang terkenal karena menemukan teori evolusi lewat seleksi alam dan memetakan Garis Wallace. Ia Menulis makalah tentang seleksi alam yang dikirimkan dari Ternate kepada Charles Darwin pada tahun 1858.( https://jelajah.kompas.id/episode/ekspedisi-wallacea/)
Penulis: Taty Balasteng, Peserta Pelatihan Menulis Isu Lingkungan oleh Burung Indonesia dan SIEJ Maluku Utara 23 dan 24 Juli 2026
- Penulis: Redaksi
