Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 16 jam yang lalu
  • visibility 44

Belajar Ragam Isu, Menulis dan Kampanye hingga Bersih Pantai dan Tanam Pohon

10 anak muda duduk bersila di sebuah rumah panggung di kawasan perkemahan Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat 20 hingga 23 Agustus 2026 kemarin. Rumah panggung  itu  berada tepat di  punggung danau Tolire.

Musim kemarau yang kering diikuti tiupan angin kencang dari selatan  dalam beberapa bulan ini, ikut dirasakan para peserta pada hari itu. Lantai hutan Pulau Tareba   terlihat coklat dengan    dedauanan  pohon yang mengering beterbangan. Meski suasana agak gerah, tidak mengurangi semangat  a peserta untuk tetap bertahan mengikuti seluruh  materi.

Mereka tidak hanya berkemah menikmati kehidupan  di alam bebas. Ada banyak asupan informasi dan belajar tentang lingkungan serta memahami manusianya.

Tak lupa  juga diberikan  materi menulis beragam isu lingkungan dan mengampanyekan  penyelamatannya.  Kegiatan selama tiga hari itu, ditutup dengan bersih- bersih pantai dan penanaman mangrove untuk menyulam pohon  yang telah mati di  kawasan Danau Tolire Kecil.

Perkumpulan Pakativa Maluku Utara, sebuah  organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk isu lingkungan dengan berfokus pada masyarakat pesisir dan perubahan iklim  menggelar kegiatan bertitel  Camp Kaum Muda Estuaria Maluku Utara. Ini sudah keenam  kalinya, sejak 2021 lalu. Hasilnya banyak dari mereka tersebar di berbagai organisasi dan lembaga. Selain bekerja, mereka turut membawa nilai dan kampanye lingkungan di mana mereka berada.

Direktur Perkumpulan Pakatativa Zafira Daeng Barrang menjelaskan, kelas Estuaria ini adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kaum muda kepulauan. Terutama, menyangkut pemahaman ekosistem kepulauan guna minimalisir dampak perubahan iklim.

Peserta termuda dalam kegiatan penanaman mangrove dalam Kelas Estuaria oleh perkumpulan Pakativa Maluku Utara

“Tujuan kita dengan kegiatan ini adalah bisa memberikan landasan kepada anak muda, agar berpikir dan memahami sekaligus mendapat pengetahuan tentang lingkungan. Kedua, membangun jaringan kaum muda yang responsif terhadap kerusakan lingkungan di Maluku Utara,” ujarZafira.

Selama tiga hari itu, para peserta diberikan pemahaman awal berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat pesisir. Kesempatan ini para peserta mendapatkan materi dari Sosiolog Maluku Utara Dr Herman Oesman yang memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi sosial masyarakat pesisir. Termasuk bagaimana mengenal beragam kerifan lokal yang dimiliki masyarakat.  Terutama mereka  memanfaatkan alam pesisir dan menjaganya.

Para peserta juga  belajar bagaimana membangun sikap cinta terhadap lingkungan pesisir serta penguatan pemahaman  pengorganisasian rakyat, resiko  dan penerapannya.

Bahkan peserta juga ikut belajar pemetaan. Materi ini bertujuan agar peserta bisa memahami dan mempraktekkan proses pemetaan lapangan ketika melakukan pendampingan.

Khsusus untuk pelatihan menulis para peserta diberi pemahaman  dasar-dasar menulis. Tujuannya bisa menuliskan kembali apa yang mereka amati atau saksikan di lapangan sebagai bagian dari menceritakan  kepada publik  kondisi alam pesisir dan laut  saat ini. Cerita tersebut terutama akibat dampak perubahan iklim, aktivitas antrposentris maupun  kegiatan industri ekstraktif.

“Ini  nantinya mereka bisa menuliskan narasi dan didukung dengan foto yang bisa dikampanyekan melalui media mainstream atau media sosial,”ujar Zafira.

Aksi bersih bersih pantai dari sampah plastik oleh peserta kelas Estuaria, foto Pakativa

Di hari terakhir, para peserta melakukan aksi bersih pantai  dan  menanam mangrove di kawasan danau  Tolire Kecil. Ada 50 pohon mangrove di tanam di kawasan itu sebagai bentuk aksi nyata mengawal kondisi pesisir, terutama di kawasan hutan mangrove yang saat ini menghadapi beragam ancaman serius. Dari perluasan pemukiman hingga  reklamasi pantai.

Laode Arman salah satu peserta kelas Estuaria mengaku senang, bisa  bergabung dalam kelas belajar ini. Pasalnya, dia tidak hanya belajar   pengetahuan  lingkungan dan kondisi sosial masyarakat pesisir dan kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Pelajaran penting dari pelatihan ini adalah  belajar dan menuliskan apa yang diliat disaksikan dan diteliti.

“Saya mau ikut  kelas ini  sebagai cara saya mendapatkan pengetahuan di luar kampus yang bisa menjadi bekal setelah lulus,” jelas La Ode Arman yang juga mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah itu.

Bagitu juga Nurul Syakila A Kodja salah satu peserta yang datang dari Tidore, meskipun  sibuk membantu usaha orang tuanya dia masih menyempatkan diri ikut camping dan melahap berbagai materi yang diberikan selama tiga hari di lapangan.

“Selain mendapatkan pengetahuan yang tidak ada di ruang kuliah, di forum ini  bisa bertemu kawan-kawan anak muda yang baru dengan concern yang sama,”imbuhnya.

Sampah yang berhasil dikumpulkan di kawasan pantai Danau Tolire Kecil, foto Pakativa

Sementara dalam aksi bersih pantai para peserta bersama alumni Kelas Estuaria sebelumnya, dikumpulkan berkarung karung sampah plastik,  dari berbagai jenis. Mulai dari botol kemasan atau tempat air mineral, kemasan sabun shampo hingga berbagai jenis plastik lainnya. Sampah-sampah yang datang dari laut ini  adalah dari hasil buangan masyarakat yang terbawa ke laut kemudian kembali lagi ke pantai. (*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 855
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • 14 Lurah di Ternate Utara Jadi Mahimo Gam   

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 823
    • 1Komentar

    Ternate  dikenal sebagai negeri   adat  se atorang. Karena itu segala sesuatu mestinya berdasar pada ketentuan yang diatur  oleh adat seatorang di Kesultanan Ternate.  Dalam hal perangkat dan struktur pemerintahan baik penamaan dan penyebutannya  sudah saatnya mengikuti   pada adat se-atorang  di kesultanan Terante tersebut.  Setidaknya,  hal ini   kemudian,   14 lurah di Kota Ternate Utara, dikukuhkan sebagai […]

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 962
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 749
    • 0Komentar

    Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan […]

  • Sopik, Cara Orang Makean Tahane Jadikan Laut Sumber Keadilan

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 941
    • 0Komentar

    Laut tidak hanya menyediakan sumber protein dan kekayaan lainnya bagi manusia. Dia juga menjadi pengadilan bagi sebagian orang di Tahane Pulau Makean/

  • Malut United Imbang di Kandang photo_camera 4

    Malut United Imbang di Kandang

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.370
    • 0Komentar
expand_less