Fakawel/Vauf:Jalan Konservasi dan Pariwisata Berbasis Masyarakat (3)
- account_circle Redaksi
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 64

Perempuan-perempuan yang melakukan fakawel di kawasan berkarang di pantai Desa Gemia Patani Utara
Sejak pagi di pertengahan Mei 2026 lalu itu, para ibu telah berkumpul di tepi pantai Desa Gemia. Ada kurang lebih 26 orang. Mereka berasal dari Desa Blifitu, Woyobibil, Gemia dan Santosa Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara.Para ibu ini adalah peserta lomba fakawel/vauf mancing tradisional perempuan Gam Range.
Salah satu pesertanya adalah Rahima Kadir (60 tahun). Dia bersama tiga rekannya ikut lomba tersebut. Agenda lomba ini dilaksanakan pemerintah desa Gemia bersama lembaga swadaya masyarakat Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara. Lomba ini, tujuannya melestarikan Budaya Fakawel/Vauf sebagai kearifan lokal masyarakat pesisir. Selain itu ingin menguatkan peran perempuan pesisir dalam pelestarian budaya bahari yang selama ini sudah dijalankan turun temurun.
Dalam lomba ini Rahima dan rekan rekannya mendapatkan puluhan ekor ikan karang. Hasil ini mengantarkan mereka juara dalam lomba tersebut. Kegiatan itu terbilang meriah sebab selain peserta lomba ini, masyarakat umum juga ikut hadir menyaksikan aktivitas sehari-hari yang dilombakan tersebut.

Beberapa jenis ikan karang yang biasa dipancing saat dilakukan lomba Fakawel. oleh ibu-ibu desa Gemia Patani Utara, foto Semank
“Saya senang dan bersemangat karena lomba ini. Selain menyenangkan karena sudah jadi hobi, juga ikannya menjadi milik kita,”cerita Rahima.
Menurutnya, Vauf ini memang sudah mentradisi dan dilakukan setiap saat. Tetapi perlu dengan lomba seperti ini, agar memberikan perhatian dari masyarakat dalam menjaga dan melindungi tempat ikan di sekitar pesisir desa. Untuk mama mama seperti dirinya yang masih biasa melakukan Fakawel, tempat yang punya ikan banyak rata rata sudah diketahui. Karena itu perlu dijaga agar wilayah itu tidak dirusak.
Menurutnya di laut sekitar desa Gemia praktik destruktif sudah jarang terjadi. Namun ada kekuatiran dilakukan orang orang di luar desa.
“Budaya Fakawel ini cara dapat ikan yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan,”ujar pendiri SEMANK Mufti Murhum dalam acara tersebut.
Praktik ini katanya adalah contoh baik yang lahir dari warga sehingga perlu dilesatarikan. Salah satu caranya dengan membuat lomba agar masyarakat merasa penting dan terus menjalankan dan menjaga laut mereka.
Selain itu ikut mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir. Hal lain perlu diangkat melalui agenda seperti ini, sehingga menjadi potensi pengembangan wisata bahari berbasis budaya lokal di Kecamatan Patani Utara Halmahera Tengah.
Dia bilang, jika menjadi agenda pariwisata, secara tidak langsung masyakarat akan melindungi wilayah laut mereka dari berbagai aktivitas destruktif secara sukarela.
“Kegiatan semacam ini hanya pemantik. Baik kepada masyarakat maupun pemerintah desa dan kabupaten. Tujuannya diperhatikan dan dilestarikan. Bisa menjadi potensi wisata yang menarik,” tutup Mufti.
Kepala Desa Gemia Wahyudin Majid melihat tradisi ini adalah potensi besar pariwista. Karena pemerintah desa akan menjadikan Fakawel/Vauf ini jadi agenda tahunan. Ini bagian dari mendorong pariwisata mancing tradisonal.
“Vakawel ini kita akan tetapkan menjadi agenda tahunan untuk pariwisata. Kita mulai untuk tingkat kabupaten dulu,” kata Wahyudin.
Nantinya akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten (DLH) Halmahera Tengah dan Dinas Pariwisata.
“Pelibatan ini terutama mendorong instansi terkait menyediakan fasilitas yang jadi kebutuhan dalam pengembangan wisata di desa ini,”jelas Wahyudin.

Kegiatan Vauf/Fakawel yang dilaksanakan oleh kaum perempuan di Gemia Patani Utara Halmahera Tengah, foto SEMANK
Mendorong Konservasi Berbasis Masyarakat
Desa Gemia di kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah, memberikan contoh baik dalam upaya konservasi laut. Mereka mendorong perlindungan pesisir laut juga biota lainnya. Salah satunya mengkonservasi biota laut dilindungi seperti penyu. Upaya tu, melibatkan anak muda di kampung ini. Mereka bentuk komunitas konservasi.
Desa berpenduduk 1.488 jiwa dengan 346 KK ini juga sedang mendorong Peraturan Desa (Perdes) khusus melindungi penyu dari perburuan dan dikonsumsi telurnya.
“Proses draft peraturan desanya (Perdes) sedang digodok dan sudah dibahas dalam Musyawarah Desa (Musdes),” jelas Majid akhir September 2026 lalu.
Desa dengan luas mencapai 6, 10 km² lautnya menghadap samudera pasifik. Di bagian tenggara desa ada Pulau Liwo, Pulau Sayafi dan Pulau Jiew. Kawasan pulau-pulau ini masuk kawasan konservasi perairan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Kampung ini juga memiliki tradisi fakawel/vauf seperti desa- desa lainnya di Halmahera Tengah. Praktik memancing oleh kaum perempuan pesisir di Halmahera Tengah masih terus dilestarikan warganya.
Wahyudin bilang Fakawel/Vauf adalah model praktik menangkap ikan yang sangat ramah lingkungan dan menjaga keberlanjutan sumber daya ikan. Karena itu perlu dilindungi. Di desanya, sudah tidak ada lagi aktivitas bom dan potas. Pemerintah desa sudah memperketat pengawasan untuk upaya- upaya destruktif seperti itu.
“Vakawel ini masih dipertahankan hingga kini. Setiap saat ibu-ibu masih menjalankan bahkan menjadi bagian dari keseharian mereka,” jelas Wahyudin.

Kawasan Laut Desa Gemia Kecamatan Patani Utara,terlihat perahu nelayan milik nelayan lego sauh karena cuaca kurang bersahabat, foto M Ichi
Bukti tetap bertahannya Fakawel/Fauf dari generasi ke generasi bisa dilihat dalam keseharian Rahima Kadir. Meski sudah 60 tahun usianya masih menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari hidupnya, terutama memenuhi kebutuhan protein anak cucunya selain sebagai hobi.
Pertanyaannya mengapa harus perempuan yang melakukan aktivitas ini?
Menurut Rahima, dibanding laki-laki karena perempuan lebih sabar menunggu ketika melempar umpan saat Fakawel/Vauf ke laut.
“Kalau laki-laki rata-rata tidak sabar menunggu. Jika ikan belum makan mereka langsung pindah. Berbeda dengan perempuan, ketika umpan dilemparkan ke laut selalu sabar menunggu hingga mendapatkan ikan yang dicari,”ujarnya.
Selain itu menurutnya, perempuan seperti dirinya gemar memancing tradisonal ini karena merupakan cara mencari ikan paling mudah yang bisa dikerjakan.
“Kita berdiri di pantai belakang kampung ini satu dua jam sudah bisa daptkan ikan satu atau dua ekor dan sudah bisa memenuhi kebutuhan makan siang atau malam,” imbuhnya.
Jika sudah memancing ada banyak jenis ikan karang bisa didapat. Dari ikan gutila, kakap, goropa, baronang termasuk ikan bobara. Ikan yang didapat bukan untuk dijual tapi hiburan. Hiburan sekaligus memenuhi kebutuhan.
“Artinya ikan yang diambil sesuai apa yang dapat saja,” imbuh Rahima.
Karena mudahnya mencari ikan lewat Fakawel dia turut berharap, kawasan pesisir perlu dilindungi. Terutama berhubungan dengan kegiatan yang merusak terumbu karang.
Dia berharap Fakawel dipertahankan. Dengan begitu anak cucu di kemudian hari masih dapat ikan. Kalau diracun atau bom, tempat ikan rusak dan bibit ikan akan habis.
“Vauf ini tidak akan hilang jika terumbu karang tidak rusak. Terumbu karang itu tempat ikan bertelur dan berlindung. Jadi kalau torang jaga berarti dia terus ada,” katanya.
Dia cerita kurang lebih 15 tahun lalu, Vauf sempat terhenti karena banyaknya aktivitas destructif fishing. Ada banyak bom dan potasium waktu itu. Akhirnya para perempuan malas lakukan Fakawel. Nanti sekira 10 tahun belakangan bom dan potas sudah dilarang keras, para perempuan mulai turun fakawel/lagi.
Dia lantas mencontohkan, sekira 25 tahun lalu, masih ada warga panen telur ikan terbang yang terdampar di pantai desa ini. Tetapi kini sudah tidak lagi. Padahal dulu saat musim telur ikan terbang, ramai dipanen warga. Namun demikian masih ada mimyen (laor) atau sejenis cacing laut yang dipanen warga setiap April dan Mei saat bulan di langit 19 dan 20 malam. Laor dipanen dari pukul 23:00 wit hingga pukul 06:00 Wit.

Panen laor atau mimyen (cacing laut) salah satu potensi pesisir di Gemia yang dipanen setiap tahun, foto wahyudin
Mimyen atau nama latinnya Polychaeta saat naik ke pesisir , sangat ditunggu-tunggu. Ketika musim tiba, warga menyiapkan alat tradisional untuk mengambilnya. Mereka gunakan sib-sib atau serokan ikan. Setelah diambil selanjutnya diolah menjadi berbagai menu seperti wirwor (gohu), poto (laor panggang), mimyen garo (masak rempah), dan sambal.
Banyak potensi selain ikan itu, maka laut dan pesisir perlu dilindungi termasuk daerah yang biasa dilakukan Fakawel/Vauf,”tutupnya. (*)
Penulis: Mahmud Ichi
Tulisan ini adalah, hasil liputan kolaborasi Kabarpulau dalam Program Fellowship Media Grant “Coastal Voice, Hidden Conservation: Reporting OECMs from Indonesia’s Marine Frontline”. Oleh Yayasan Kolase
- Penulis: Redaksi
