Home / Lingkungan Hidup

Selasa, 15 Agustus 2023 - 12:02 WIT

Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

Konidisi hilir sungai Sagea  berwarna kuning kecoklatan diduga karena cemaran kerukan tambang beberapa waktu lalu . Foto Adlun Fikri

Konidisi hilir sungai Sagea berwarna kuning kecoklatan diduga karena cemaran kerukan tambang beberapa waktu lalu . Foto Adlun Fikri

Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia

Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti emas bahkan kecoklatan.

Hal tidak biasanya itu, akhirnya memunculkan spekulasi warga, di daerah hulu sungai ada aktivitas pembukaan lahan penambangan hingga menyebabkan air keruh saat  ada hujan di hulu sungai meski dengan intensitas rendah.

“Perubahan warna air  ini  tidak pernah disaksikan warga sebelumnya. Biasanya saat banjir akibat hujan airnya keruh tapi tidak seperti hasil kerukan tambang,”kata Adlun Fikri Juru Bicara Koalisi Save Sagea dihubungi Kabarpualau.co.id Senin (14/8/2023) malam.

Dia bilang, kejadian beberapa waktu belakangan ini  muncul saat ada hujan di bagian hulu. Sejak akhir Juli    hingga Senin kemarin, sudah 3 sampai 4 kali kejadian.  

“Dugaan kita begitu karena berdasarkan pengalaman  dan membandingkan air yang keluar dari hulu karena banjir biasa sangat berbeda,” katanya.  

Kondisi air sungai Sagea jernih saat belum dihantam dugaan kerukan tambang. Foto P Yusuf

Dia bilang warga Sagea juga menduga kuat,  perubahan warna air dari bening menjadi kuning bahkan seperti  warna coklat itu karena adanya lahan  yang dibongkar di bagian hulu.

Kondisi parah saat banjir 2 Agustus lalu. Meski  kekeruhannya sempat berkurang tetapi kembali lagi terjadi pada 14 Agusutus 2023 siang hingga sore. Saat  ada  hujan sedikit saja di hulu, air yang mengalir keluar sudah begitu parahnya. Dia bilang warna air saat ini sudah seperti yang terjadi di kali Kobe, salah satu sungai di kecamatan Weda yang juga kuning bercampur tanah kerukan tambang.

Dia bilang, seumur hidup warga di sini (Sagea,red)  belum pernah melihat kejadian seperti ini. Diduga  kuat kejadian ini karena adanya bukaan lahan tambang di daerah DAS Sagea yang tersambung dengan beberapa DAS kecil lain. “Di kawasan itu beroperasi beberapa perusahaan tambang   yang dicurigai  jadi penyebabnya.  Ada tiga perusahaan beroperasi di kawasan ini,” tambahnya.  Pihaknya  belum bisa  memastikan perusahaan mana   terindikasi hasil kerukan tambangnya  terbawa masuk ke  badan air sungai.

Baca Juga  Ini Model Mitigasi Gempabumi Siswa SD

Untuk memastikannya butuh perjalanan puluhan kilometer  sampai ke wilayah  cemaran berasal. Karena  kondisi ini kemudian masyarakat dan komunitas Save Sagea mendesak Gakkum KLHK, DLH Kabupaten dan  Provinsi, Dinas Pertambangan, Balai Wilayah Sungai  (BWS) serta Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS)  turun memantau dan memastikan kondisi ini. “Perlu ada penyelidikan dari instansi terakit untuk memastikan. Kita yakini sumber cemarannya bukan karena banjir biasa,” cecarnya.

Kekuatiran warga soal kondisi sungai ini karena karena  airnya jadi sumber kehidupan. Selain itu terbilang penting adalah di sungai ini juga ada kawasan wisata  Bokimoruru  yang tentu saja perubahan warnai air ini sangat merugikan.  “Merugikan banyak pihak apalagi ada kawasan wisata  di sini,” kata Adlun.

Selain itu,  air dari sungai ini  juga akan dijadikan  air kemasan dan isi  ulang yang rencana dikelola BUMDES Desa Sagea. Jika air ini tercemar tanah kerukan tambang,  maka   jadi sumber masalah. Tidak hanya  memengaruhi wisata  Goa Bokimoruru,  dan usaha desa serta sumber air utama warga, tetapi  juga rencana usaha desa tersebut.

Camat Weda Utara Takdir Tjan  dihubungi dari Ternate Senin (15/8/2023) pagi mengungkapkan,  kejadian ini benar adanya. Atas kejadian tersebut seluruh masyarakat desa Sagea merasa sangat prihatin. Masalah ini kemudian memunculkan kecurigaan  masyarakat jika dugaan cemarannya  dari  aktivitas penambangan. Hanya saja soal ini kata Takdir, masih dibutuhkan penelitian atau investigasi lebih lanjut.  “Kita juga belum tahu dari perusahaan mana sumber cemaranya.   Kami sebagai kepala kecamatan Weda Utara telah mengkoordinasikan dengan pihak perusahaan terutama PT IWIP dan mereka berjanji melakukan cross check lagi aktivitas penambagan mereka,” jelas Takdir.

Selain itu banyak beredar informasi di Sagea jika ada aktivitas hauling (pengangkutan,red) material PT HSN salah satu perusahaan yang beroperasi di daerah ini ke areal penambangan mereka melewati sungai Manona.  Namun demikian, belum bisa disimpulkan sebagai sumber  cemaran dari perusahan bersangkutan, karena   butuh  proses investigasi lebih mendalam dan akurat sehingga informasi yang disampaikan juga bisa dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  Ini Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (1)

Takdir juga  jelaskan, masyarakat  prihatin karena air sungai Sagea ini tidak sekadar sumber makan dan minum  tetapi sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat secara turun temurun.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Halmahera Tegah Rivani Abdulrajak dihubungi via handphone 0822620048XXX belum memberi tanggapan. Daftar pertanyaan yang dikirim via aplikasi WA nya belum dibaca. Begitu pun Kepala DLH Provinsi Maluku Utara Fardudin Tukuboya  dikonfirmasi via hand phone nya juga  juga memberi tanggapan konfirmasi persoalan ini.

Dr Nurhalis Wahidin  peneliti bidang  kelautan dan perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate memberi tanggapan soal   peristiwa ini, dengan manyampaikan  bahwa ini termasuk soal serius.   

Peta kawasan sungai Sagea yang saat ini dikelilingi perusahaan tambang

Dihubungi Kabarpulau.co.id Selasa (15/8/2023) dia ungkapkan bahwa, melihat beberapa berita sejak kemarin tentang keruhnya badan air sungai Sagea, sudah dipastikan padatan sedimen (TSS) sangat tinggi yang menyebabkan warna sungai menjadi berubah atau keruh. Karena airnya mengalir sampai ke hilir di badan air laut maka akan menimbulkan beberapa dampak serius.

“Dampak pertama dan paling utama adalah kekeruhan yang menyebabkan cahaya matahari terhambat masuk ke badan air laut. Ini yang mengakibatkan proses pada produsen primer terhambat terutama fotosintesis  tidak berlangsung dan akan berpengaruh pada rantai makanan,”jelasnya.

Dampak  lain, dari partikel tersuspensi yang masuk ke badan air dalam  bentuk butiran tanah akan mengancam proses respirasi (pernapasan) dan perkembangan organisme dan ekosistem laut. Terutama untuk ikan karang, terumbu karang dan biota perairan lain. “Dipastikan mengalami gangguan mulai dari strees sampai mengalami kematian,”tambahnya  

Kedua, sebaiknya melalui analisis laboratorium  dengan pengambilan sampel air saat polutan masuk ke badan air laut. Terutama partikel terlarut atau Total Dissolve Solid  (TDS), jika mengandung/atau ikut terlarut bahan bahan berbahaya seperti ammonia (NH3) bahkan logam berat. Jika bahan berbahaya ini ada maka akan terakumulasi dari organisme laut sampai ke manusia apabila dikonsumsi.(*) 

Share :

Baca Juga

Lingkungan Hidup

CONSERVE, Kegiatan Pengarusutamaan Kehati Lintas Sektor

Kabar Kampung

Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

Lingkungan Hidup

Aksi Iklim BRI,akan Setop Danai Batu Bara

Lingkungan Hidup

Gurango Haga Pilihan Wisata Bawah Laut di Sail Tidore 2022 

Lingkungan Hidup

7 Tahun Gerakkan Panen Air Hujan, Dapat Kalpataru
Air laut yang kuning kecoklatan akibat terdampak kerukan tambang di Pulau Garaga Obi Halmahera Selatan foto DKP Halsel

Lingkungan Hidup

Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

Lingkungan Hidup

Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian
Pulau Widi di Maluku Utara

LAUT dan Pesisir

Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan