Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
  • visibility 304

Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa.

Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak Gunung Pulau Mare. Kini, rusa tak lagi terlihat. Rusa kini hanya menjadi cerita dari orang tua pada anak-anak Mare.

“Kami sudah jarang bahkan tak lagi mendengar warga bercerita melihat tanda kaki rusa,” kata Hatta Hamzah, tokoh pemuda Mare Gam.

Dia meyakini, rusa langka, bahkan punah di Mare, penyebab utama perburuan liar.

Berdasarkan data Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate-Tidore luas hutan lindung Pulau Mare adalah 31,31 hektar, areal penggunaan lain 67,72 hektar dan hutan produksi Dikonversi 153,98 hektar.

Di pulau ini taka da lagi hutan perawan dengan pepohonan besar. Yang ada kebun warga dengan beragam tanaman kelapa dan pala.

Di puncak didominasi perdu dan ilalang. Di Bilarung Makota didominasi ilalang dengan jambulang (Syzygium cumini).

Jambulang adalah sejenis pohon buah dari suku jambu- jambuan dengan buah sepat masam. Dalam bahasa lokal Ternate dan beberapa daerah lain di Maluku Utara disebut jambula.

Data Kementerian Kementerian Kelautan dan Perikanan, terkait pulau-pulau kecil menunjukkan, Mare adalah pulau berbatu yang sebagian hutan berubah jadi perkebunan. Sedang daerah landai untuk perkampungan.

Kala saya mendatangi kawasan ini, dari Mare Gam sekitar 1,5 kilometer juga tak melihat rusa.

Perjalanan ini agak terhibur karena dari Puncak Mare pemandangan begitu indah. Kala memalingkan muka ke bagian timur terlihat laut indah dan Gunung Kie Matubu Tidore.

Agak ke utara akan menyaksikan berjejer Pulau Maitara dan Ternate. Begitupun ke selatan , bisa melihat Halmahera memanjang dari utara dan selatan.

Kala memandang ke barat bisa menyaksikan gugusan Pulau Moti Makian dan Kayoa seperti terapung- apung dari kejauhan.

Cerita tentang Mare dan rusa kuat dalam ingatan warga terutama mereka yang berusia lebih 30 tahun. Pasalnya, waktu masih kanak- kanak rusa liar banyak bahkan kadang masuk kampung.

Kini, cerita warga mengejar rusa liar saat turun ke pantai juga tak ada lagi. “Dulu, kalau ada yang cerita melihat rusa turun ke pinggir pantai, warga 20 sampai 25 orang berjejer dan mengepung lokasi itu,” kata Udin Hadi, warga Mare Kofo.

Udin bilang, memasuki tahun 2000-an, di pulau ini masih ada rusa. Sekitar 2010 sampai kini tak ada lagi.

Syukur Hadi warga Mare Gam, mengatakan, semasa kecil hampir setiap saat melihat rusa turun dari gunung dan bermain di belakang rumah mereka.

“Dulu, malam hari rusa turun sampai belakang rumah,” katanya.

Memasuki 2005, rusa masih tersia satu dua. Bahkan jika mereka ke kebun masih melihat bekas pijakan kaki. Setelah tahun itu, katanya, tak lagi terlihat.

Dulu, setiap sore di ujung kampung bagian selatan Desa Mare Gam, ada bukit yang menjadi tempat rusa turun ke tepi pantai untuk minum air.

Ahmad Syarif, tokoh masyarakat Mare Gam mengatakan, perburuan rusa di pulau kecil ini cukup lama. Ada warga dari Tidore berburu rusa pakai anjing.

“Warga Tidore membawa puluhan ekor anjing untuk memburu rusa di pulau ini. Aktivitas hingga 2000-an. Sebelum mereka berburu, terlebih dahulu meminta izin kepada tetua kampung membuat semacam ritual dengan mendatangi gubuk atau rumah yang disebut rumah obat.”

Rumah obat diyakini menjadi tempat leluhur. Rumah itu memiliki beragam fungsi untuk permintaan apa saja sepertii pengobatan keluarga sakit atau permintaan lain seperti berburu rusa.

“Rumah obat ini perantara meminta petunjuk yang maha kuasa. Para leluhur meneruskan permintaan kita,” ujar Ahmad.

Setelah selesai ritual, mereka masuk hutan buat berburu. Saat ini, katanya, sisa anjing buruan masih hidup liar di Mare Gam. “Warga Mare ini tak memelihara anjing. Yang banyak itu anjing liar hidup di kampung ini karena ditinggalkan pemilik usai berburu.”

Dia bilang berburu dengan anjing, hasil buruan tak terlalu banyak kadang satu dua ekor saja. Yang membuat rusa habis, katanya, berburu pakai senjata.

Ahmad menceritakan, awal 2000 an ada warga dari Ternate, berburu di Pulau Mare pakai senjata. Dia menembak 15 rusa dan dibawa ke Ternate.

Ada juga warga memasang jerat buat menangkap rusa. Berbagai aktivitas ini, katanya, membuat rusa di Mare, punah.

Ibrahim Tuhateru, Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate-Tidore, mengaku baru tahu kalau rusa punah di Mare.

Dia bilang, belum mempelajari terlalu jauh karena lembaga mereka baru terbentuk seiring kewenangan Dinas Kehutanan kabupaten/kota ke provinsi. Rusa punah ini, katanya, persoalan serius.

“Kita akan membuat imbauan atau memasang pengumuman melarang penangkapan atau perburuan satwa di pulau-pulau kecil di wilayah kerja kita,” katanya.

Wilayah kerja KPH Ternate–Tidore meliputi, Pulau Ternate, Pulau Moti, Pulau Hiri, Pulau Batang Dua, Pulau Tidore, Pulau Mare, Pulau Maitara dan Pulau Filonga. “Pulau- pulau ini masuk kawasan lindung. Otomotis sesuai UU Kehutanan mengatur tak hanya hutann juga satwa di dalamnya.”

Dia mengakui, belum bisa berbuat banyak karena sebagai lembaga baru belum memiliki dokumen perencanaan baik jangka pendek maupun panjang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bencana Perubahan Iklim Terus Meningkat    

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Sepanjang 2023 -2024 Ada 5000 Lebih Kejadian Ada kurang lebih 5000 kejadian  bencana   tercatat disebabkan oleh  perubahan iklim dalam satu tahun ini.  Bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan iklim (hidrometereologis) terus meningkat tajam. Sementara isu perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan serius   baik dari masyarakat dan pemerintah dalam negeri, maupun dari masyarakat global. […]

  • Hutan dan Laut  Malut Makin Terancam

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2022
    • account_circle
    • visibility 320
    • 1Komentar

    Salah satu peserta aksi Hari Bumi yang membawa Pamflet berisi pesan Jaga Laut Maluku Utara foto M Ichi

  • Titik Nol Jalur Rempah adalah Soal Geopolitik (3)

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 382
    • 1Komentar

    Untuk menentukan Titik Nol Rempah, bukan lagi sekedar soal romantisme sejarah masa lalu, namun ia adalah soal identitas, nasionalisme, dan soal geopolitik global, untuk menentukan pada titik manakah Indonesia harus memainkan peranannya dalam percaturan global dewasa ini. Jika menoleh apa yang dilakukan China sepeninggalnya Mao Tze Tung, Deng Xiao Ping telah berani mengangkat identitas masa […]

  • Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

    • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Banjir yang pernah melanda MAffa dan Kebun Raja, foto Sahril S

  • Indonesia Mencari Pemimpin Pro Lingkungan

    • calendar_month Jum, 27 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 299
    • 1Komentar

    Kepastian capres dan cawapres yang akan bertanding di pilpres 2024 memunculkan satu pertanyaan penting. Apakah para kontestan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan? Krisis iklim yang sedang terjadi dan menjadi permasalahan semua negara termasuk Indonesia membutuhkan komitmen besama untuk menanganinya. Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menahan laju pemanasan global, dengan mengedepankan pembangunan rendah karbon yang […]

  • Warga Suarakan Rusaknya Jalan Obi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 301
    • 1Komentar

    Jalan-Anggai-Aer-Aer-Mangga-seperti-sungai-saat-musim-hujan-foto-M-Ichi.jpeg

expand_less