Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Lebah Raksasa Kembali Ditemukan di TNAL Resort Tayawi

Lebah Raksasa Kembali Ditemukan di TNAL Resort Tayawi

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 21 Okt 2020
  • visibility 470

Lebah raksasa (Megachile Pluto) kembali ditemukan di hutan Halmahera. Penemuan ini tepatnya di dalam kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Resort Tayawi Kota Tidore Kepulauan Jumat  (16/10)  lalu.

Sebelumnya, setelah dianggap punah jenis ini  ditemukan kembali pada  Januari 2019 oleh peneliti dari Amerika dan Australia, bersama  fotografer satwa liar didampingi warga di hutan Halmahera Timur. Lebah ini terakhir dilihat pada 1981.  Penelusuran empat peneliti ke lokasi hidup lebah  waktu itu, berdasarkan data dalam jurnal yang pernah ditulis peneliti sebelumnya Adam Meser pada 1981. Dari penelusuran itu mereka  menemukan kembali lebah raksasa  yang pertama kali diidentifikasi Alfred Russel Wallacea itu.

Sementara penemuan pekan lalu, oleh seorang warga Tobelo Dalam yang saat ini  bersama keluarganya bermukim di hutan  kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Resort Tayawi.

Pria  yang biasa disapa  Antonius “Tayawi” Jumati itu  secara tidak sengaja menemukan sarang lebah ini tak jauh dari Resort Tayawi.  

Dihubungi kabarpulau.co.id/ via hand phone Selasa (20/10), Antonius menceritakan bahwa serangga ini dia temukan saat  menuju  kawasan hutan  Tayawi untuk mencari getah damar.  “Saya berjalan menyusuri kawasan hutan Tayawi belum terlalu jauh, baru sekira 1,5 kilometer. Saya lihat ada sarang lebah besar yang tergantung di pohon,” ceritanya.  

Lebah raksasa yang keluar dari sarangnya foto Clay Bot

Antonius mengaku,  tertarik ketika  melihat sarang lebah ini karena sebelumnya ada petugas dari TNAL yang  juga  menemukan lebah sejenis  dalam kawasan taman nasional  dan mengabadikan  dalam bentuk foto.  Foto itu juga diperlihatkan kepadanya. Ini  menjadi dasar ketika menemukan sarang lebah itu, dia berinisiatif melihat lebih dekat untuk memastikan,  apakah lebah raksasa atau bukan.

“Setelah saya liat sarangnya saya tunggu lama untuk pastikan apakah lebah raksasa atau bukan. Sekira 30 menit, muncul satu ekor lebah.  Kemudian muncul lagi pasangannya,” ceritanya. 

Serangga langka yang menjadi incaran para  ahli  biologi  dunia itu, saat ditemukan sarangnya berada di atas pohon yang tingginya sekira tiga meter.   Dia  bilang  seperti sarang rayap  terletak tak jauh di atas pohon. Dia lalu melihat dari dekat sarang itu. Ternyata benda itu mirip dengan foto yang pernah ditunjukan Sukardi salah satu staf teknis di resort Tayawi.

“Saya duduk diam, lalu memperhatikan sarang lebah tersebut. Tak lama kemudian, seekor lebah besar berwarna hitam keluar dari lubang. Saya terkejut melihat  lebah  ini, mirip  foto  staf TNAL itu. Akhirnya saya  ambil hp (hand phone,red) dan berusaha mengabadikan beberapa foto yang berjarak kurang lebih dua meter dari sarang,”  cerita  Anton.  

Sofyan Ansar dari Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata yang juga salah satu petugas polisi   kehutanan di resort  mendampingi Om Anton saat dihubungi dari Ternate mengungkapkan,  Temuan “Megaachile pluto” di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara  ini  membuktikan, bahwa di dalam kawasan konservasi ini  banyak menyimpan keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna endemik Maluku Utara. Salah satunya  spesies serangga yang paling langka dan banyak dicari  peneliti di dunia ini.

Untuk itu,  tidak bisa ditawar-tawar dan hukumnya wajib  tetap menjaga dan melestarikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai jantung dan benteng terahir Pulau Halmahera. Dia bilang di kawasan TNAL sendiri sudah ada dua lokasi  ditemukannya lebah raksasa ini.

“Kita sudah mengidentifikasi ada dua tempat  ditemukanya  lebah  raksasa ini. Karena setelah temuan  empat ilmuan 2019 lalu,  ada staf TNAL juga menemukan satu lokasi sebagai tempat hidup serangga ini. Ke depan  dua titik ini segera dibatasi pengunjung dan dilindungi.   Penemuan ini juga bertepatan dengan momentum hari jadi Taman Nasional Aketajawe Lolobata ke 16  19 Oktober 2020.  Ini  menjadi kabar gembira bagi kami karena   kembali menemukan sarang lebah raksasa Wallace  “Megaachile pluto” di Resort Tayawi, Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.

Karena itu sebagai petugas di lapangan dia   berharap, temuan kembali  ini menjadi informasi  penting kepada para peneliti maupun   ahli ekologi untuk bisa mengembangkan penelitiannya soal  lebah terbesar ini di TNAL dan hutan Halmahera. Terutama bagaimana  kehidupan  serangga ini.

Sekadar diketahui, referensi yang dikumpulkan  kabarpulau.co.id/ dari berbagai sumber    menyebutkan, temuan empat peneliti sebelumnya sempat menghebohkan  jagat ilmu pengetahuan dunia. Mereka mendeskripsikan bahwa spesies lebah ini soliter  dengan membentuk sarang komunal di dalam sarang rayap, menggunakan rahangnya untuk mengumpulkan dan memberikan resin pohon ke dinding bagian dalam sarangnya.  Megachile Pluto memiliki ciri morfologi, betina dengan panjang 3,8 centimeter, bentang sayap 6,35 centimeter, dan digolongkan dalam lebah terbesar di dunia. 

Perbaidngan lebah madu dan lebah raksasa dari hutan Halmahera foto AFP

Spesies itu ditemukan pertama kali oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada 1859, kemudian dia berikan kepada kawannya seorang ahli serangga Frederick Smith. Oleh Smith serangga itu dinyatakan spesies baru dan diberi nama Megachile Pluto pada 1860 dan di umumkan setahun kemudian. Setelah dideskripsi dan diberi nama, lebah yang juga disebut Wallace’s Giant Bee itu tidak pernah dijumpai lagi.

Lebah ini masuk daftar pencarian spesies yang hilang di Dunia oleh Global Wildlife Conservation (GWC). Pernah dijual dengan harga cukup mahal. Salah satu koleksi spesimen lebah betina yang berasal dari Pulau Bacan  dijual pada Februari 2018 dengan harga 127 juta. Pada 24 Maret 2018 ditawarkan kembali dengan harga US$ 39 ribu setara Rp 546 juta melalui penawaran  online yang sama,” ujar ahli entomologist LIPI Rosichon Ubaidillah seperti ditulis  Tempo, Selasa, 26 Februari 2019 lalu. Lebah raksasa ini adalah endemik di lokasi yang sangat sempit yaitu di Maluku utara yaitu di Pulau Bacan, Halmahera dan Tidore menurut Messer pada 1984. Lebah ini juga rentan kepunahan, serta perburuan yang akan terus meningkat . (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.738
    • 1Komentar

    Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya  Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  […]

  • Belajar dari  Masyarakat Aru Maluku Jaga Pulau dan Alam

    • calendar_month Jum, 4 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 568
    • 0Komentar

    Serukan Pengakuan Masyarakat Adat dari Pulau- pulau Kecil   Kuat dan massive-nya  eksploitasi sumberdaya alam di pulau kecil turut mengancam manusia dan keaneragaman hayati di dalamnya.  Namun demikian di balik gelombang eksploitasi sumber daya alam  oleh korporasi dan tarik-menarik kepentingan negara atas nama pembangunan, masyarakat adat di Kepulauan Aru Provinsi Maluku membuktikan bahwa penjaga terbaik […]

  • O Hongana Manyawa Penjaga Bumi Halmahera

    • calendar_month Rab, 15 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 491
    • 0Komentar

    O Hongana Manyawa di Sungai Ake Jira foto AMAN Malut

  • Percepat Pengakuan Hutan Adat, Pemerintah Daerah Harus Proaktif

    • calendar_month Sel, 13 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Pengakuan  dan perlindungan hak-hak masyarakat adat masih minim di negeri ini. Dalam dua tahun terakhir, kurang dari 50.000 hektar hutan adat mendapatkan penetapan dari 9,3 juta hektar pemetaan partisiatif yang diserahkan Badan Registrasi Wilayah Adat. Untuk itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota diminta lebih aktif demi percepatan ini.  Di Provinsi Maluku Utara sendiri saat ini diusulkan […]

  • Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    • calendar_month Ming, 15 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Untuk menggagas model pembangunan ekonomi dan pengelolaan sumberdaya alam secara partisipatif  dan berbasis lingkungan, diperlukan semua pihak duduk bersama..  Dalam  upaya itu,  direncanakan  akan  digelar kegiatan  bertajuk Sarasehan dan Rembuk Rakyat Morotai yang rencana  dilaksanakan 18 hingga  9 Agustus 2018  mendatang di public space Taman Kota Daruba Morotai. Kegiatan yang  rencana dilaksanakan selama 2 hari […]

  • Ini Dampaknya Bagi Malut, Jika Judicial Review UU Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Diakomodir   

    • calendar_month Sab, 20 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Jumlah pulau di Maluku Utara sesuai data terbaru dari pemerintah provinsi Maluku Utara berjumlah 1008 pulau. Termasuk  Halmahera, Morotai, Obi dan Taliabu yang tidak tergolong pulau kecil. Selebihnya masuk kriteria pulau kecil yang terbilang rentan. Saat ini saja, dari pulau yang ada sebagian sudah ditambang bahkan ada yang telah dikeluarkan izin untuk ditambang. Sebut saja […]

expand_less