Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
  • visibility 402

“Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  bisa menyaksikan semakin bertambahnya burung mamua. Tidak itu saja para ahli dan peneliti dari berbagai belahan dunia datang ke kampong ini meneliti mamua. Orang orang luar juga datang berwisata menyaksikan burung maleo dan indahnya hutan mangrove di sini bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat”  Safri Bubu

Ungkapan Safri Bubu lelaki (37) yang menggagas konservasi  gosong Maluku atau Bahasa local Maluku Utara menyebutnya dengan mamua ini sangat menyentuh. Safri yang sehari-hari berprofesi sebagai petani di Desa Simau Galela Halmahera Utara Maluku Utara  tidak seperti kebanyakan orang hyang hanya mau mengeksploitasi telur mamua. Dia mau  berpikir  merawat dan melindungi alam serta melestarikan sumber keanekaragaman hayati  yang ada  di desanya untuk generasi di masa depan. “Saya lakukan ini karena berpikir generasi,” katanya.

Safri Bubu (topi merah) bersama sjumlah pihak melakukan lepasliar gosong Maluku

Dia bilang  keanekeragaman hayati di kampongnya menjadi kekayaan desa yang tidak ternilai harganya. Pasalnya, karena burung ini  juga membuat banyak peneliti dan wisatawan datang ke Simau. Mereka  selain meneliti juga  ingin merasakan sensasi menunggu mamua bertelur di tengah malam  di tepi pantai.

Apa yang telah dilakukan Safri ini diceritakan juga  pada  peserta kunjungan belajar konservasi yang berasal  dari puluhan Komunitas Pecinta Alam (KPA)  di Maluku Utara Minggu (7/11) lalu. Kegiatan  yang diinisiasi oleh LSM Burung Indonesia itu ingin belajar apa yang dirintis Safri bersama komunitasnya yang bernama Salabia.

Kegiatan yang dirangkai dengan camping bersama    di pantai Simau Galela  ini,  dia  turut cerita  panjang lebar tentang  upayanya mendorong konservasi ini.

Sebelumnya,  saat  ditemui di arena camping  lelaki yang biasa disapa OM Gode ini bercerita,    jika gerakan konsrvasi mamua yang  dilakukannya  berawal dari kegiatannya di kampong Simau yang setiap saat mengawal   peneliti atau pengunjung yang datang meneliti burung bernama latin Elipoa Wallacea atau  Gosong Maluku itu.  Pria yang fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing itu   bercerita  jika dia menjalankan tugas dan peran ini,  karena  memiliki ketertarikan melindungi  dan berfikir mengembangkan. Caranya tentu harus dengan melakukan konservasi.

“Awalnya saya sendiri yang menjaga dan melakukan konservasi burung  mamua ini. Tidak ada biaya atau bantuan dari orang lain. Karena itu peneliti atau pengunjung yang datang dan ingin mencari tahu burung ini,  masyarakat selalu mengarahkan bertemu saya lalu  saya kawal mereka.  Tugas saya menjadi guide bagi para peneliti melakukan riset atau wisatawan  yang mau berwisata  menyaksikan burung mamua, terutama saat bertelur,” jelasnya.

Dia bilang lagi,  kala  itu  ada satu peneliti dari Amerika yang dia temani. “Saya menjelaskan banyak hal tentang burung mamua ini. Misalnya waktu bertelur, kebiasaannya hingga bagaimana membedakan   telur yang nanti jika menetas jantan dan betina.  Ketika mendengar berbagai penjelasan dan pengalaman yang saya sampaikan dia kemudian menyarankan dengan menyampaikan bahwa jika  mamua ini dilindungi dan dikembangbiakan,  hingga turun temurun dia tidak akan punah. Dari sini menginspirasi saya melakukan konservasi ini,” katanya.  

Dia bilang lagi, para peneliti yang datang rata rata memintanya menjaga dan  melindungi burung ini. Bahkan  menurut mereka jika dilindungi  akan menjadi asset bagi desa.  Ketika mendapatkan saran dari peneliti tersebut Safri mengaku kembali bertanya caranya. Namun   peneliti balik menyarankan ditanyakan kepada orang,  yang lebih tahu cara  pemeliharaan dan perlindungan burung ini.  

Penngkaran telur mamua yang dilakukan oleh komunitas Salabia Simau Galela

Akhirnya Safri memulai  gerakan pemeliharaan dan perlindungan  terutama  di lahan milik orang tuanya  di kawasan mangrove dekat pantai tepat di belakang kampong Simau.   

“Ternyata setelah saya tanya- tanya ke  orang tua tua di kampong  juga  mereka  tidak tahu bagaimana cara mengembangbiakan burung ini,” ujarnya.  Akhirnya  ketika mendapat pendampingan dari  LSM Burung Indonesia dan pihak Universitas Halmahera (UNIERA), barulah bisa diketahu dan dilakukan penangkaran semi alami seperti sekarang,” imbuhnya. Lewat pendampingan dan mencoba ke Haruku Maluku setrta berdasarkan pengalaman sehari hari akhirnya dilakukan penangkaran. Hingga kini  anakan mamua sudah  lepasliar    hamper 1000 ekor ke habitatnya.

Proses penangkaran sendiri sebenarnya dilakukan sejak 2016.  Ketika ada pendampingan tersebut 2019 barulah dikembangkan penangkarannya hingga ratusan telur dengan dibentuk komunitas.  Setelah dilakukan penangakaran  secara mandiri dan ada pendampingan  itu barulah dibuat gerakan bersama dengan dibentuknya komunitas Salabia Simau.  Tujuannya bersama  melakukan penangkaran semi alami selanjutnya lepas liar ke alam  atau habtatnya.  Disebut semi alami karena  telur yang ada ditanam  di alat penangkaran alami di sekitar tempat bertelurnya, kemudian dirawat sebentar dikandang pemeliharaan lalu lepas liar.  

Kini setelah 5 tahun berlalu didukung dengan pendirian komunitas dan  dia sebagai koordinatornya, penangkaran sudah mulai berjalan baik meski   belum ada dukungan pemerintah.

Lalu apa  suka duka   merintis konservasi mamua ini? Soal itu Safri mengaku menghadapi tantangan luar biasa. Pertama ketika melakukan pendekatan kepada mereka yang memiliki lahan dimana mamua bertelur tidak diterima. Kedua memberikan pemahaman soal pentingnnya konservasi  yang ujungnya untuk warisan anak cucu di kemudian hari, kadang sulit diterima. Meski demikian katanya, dengan berbagai pendekatan kepada  empat pemilik lahan  akhirnya semua bersepakat mendukung gerakan  menjaga dan melindungi burung ini. Caranya ketika mereka memanen atau menggali  telur- telur mamua itu akan disisakan telur atau diantar telur- telur itu ke komunitas  Salabia untuk ditetaskan di kandang   penangkaran. 

“Sangat bersyukur karena ternyata warga Simau juga  banyak yang belum tahu bagaimana mengembangbiakan  burung ini termasuk melihat anakan burung ini secara langsung. Karena itu ketika kita tanam telur telur itu di pasir dan menetas lalu   lepasliar,   warga datang beramai ramai  menonton  dari dekat   sekaligus  menjadi pengetahuan bagi mereka lebih menjaga dan melindungi kekayaan ini.   

alat penangkaran alami yang dibuat oleh komunitas Salabia dan sarana belajar sejumlah KPA di Malut

Hasilnya juga sudah bisa dirasakan sekarang.  Saat ini burung mamua  yang  bertelur di kawasan pantai Simau sudah semakin banyak. Setahun belakangan, ketika masuk musim bertelur mereka bisa panen telur hingga ratusan butir per hari.  Ini berbeda dari sebelumnya  yang hanya beberapa puluh telur di saat musim bertelur sehari,” jelasnya. Sekadar diketahui burung mamua ini bertelur selama 6 bulan dalam setahun, 6 bulan berikutnya masa istrahat. Kalaupun dia bertelur hanya satu dua ekor saja.(*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau-pulau Rentan Akibat Industri Ekstraktif

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 321
    • 1Komentar

    Tongkang-mengangkut-ore-dari-otoperusahaan- di Pulau Gebe Foto M Ichi

  • Maluku Utara Masuk Habitat Dugong di Indonesia Timur

    • calendar_month Ming, 12 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 864
    • 0Komentar

    Dugong yang ditemukan mati di Desa Cendana Morotai beberapa waktu lalu foto M Ichi

  • Ekspor Cengkih Tidore ke Eropa, Dasar Hari Rempah Nasional

    • calendar_month Sab, 12 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Negeri Moloku Kie Raha sebagai pusat rempah tidak diragukan lagi.Gugusan pulau-pulau di negeri para sultan ini memiliki tanaman khas cengkih dan pala sejak abad ke 16 sampai saat ini. Karena itu juga penetapan Hari Rempah Nasional  (HRN) yang jatuh pada 11 Desember lalu juga berdasarkan  ekspor  cengkih Tidore ke Eropa  sebanya 27,3 ton yang dilakukan  […]

  • Tersedia Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim

    • calendar_month Kam, 26 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 324
    • 1Komentar

    Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah membuka bursa karbon nasional di Bursa Efek Indonesia. Dalam rangka mengantisipasi minat masyarakat yang tinggi terhadap perdagangan karbon, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, meresmikan Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim dan Karbon (RK2IK) di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta (23/10) lalu dalam rangka mendukung pencapaian target Nationally […]

  • Merekam Sunset di Oba Tengah Tikep

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 280
    • 1Komentar

    Momen matahari terbit dan terbenam memang menakjubkan. Apalagi, jika  berada di tepi pantai, atau puncak gunung. Tidak heran banyak orang mencoba mengabadikannya menjadi sebuah foto. Meski kelihatannya mudah, namun untuk dapat foto sunset  dan surise yang sempurna cukup sulit. Apalagi, kadang turunnya sunset cukup sulit diperhitungkan waktunya. Dibutuhkan momen yang tepat dan kesabaran menanti momentum. Memang  bukan fotografer handal, […]

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 384
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

expand_less