Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
  • visibility 495

Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah

Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada  kayu bahkan batang pohon dan berbagai alat rumah tangga.  

Di laut   sejumlah pulau  saat ini, mengapung  bahkan ada yang sudah terdampar berbagai jenis sampah. Sebagian  bahkan telah terdampar dan  menutupi kawasan pantai. Di Ternate sendiri bisa disaksikan setiap saat di kala selepas hujan lebat air dari kali mati dan selokan yang menuju ke laut dipenuhi beragam jenis sampah. Begitu juga di pulau sekitarnya seperti Tidore, Maitara, Mare  Moti Makean dan masih banyak pulau lainnya. Sampah laut ini menjadi masalah paling pelik.

Terbaru terjadi di Pulau Morotai Kabupaten Pulau Morotai. Beberapa waktu belakangan ini kawasan pesisir pantai   Desa Juanga, di Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), ditutupi berbagai jens sampah dari  plastic, kayu bahkan alat rumah tangga.  Jenis  sampah organik dan non organik itu, berserakan di  kawasan pantai berpasir putih yang dulunya (2014,red) bersih karena dijadikan  lokasi  Sail Morotai.Tumpukan sampah tak hanya di kawasan pelabuhan fery, sampah juga bertebaran  hingga ke pesisir Pantai  Army Dock.

Anak anak ikut menyaksikan tumpukan sampah di pesisir Morotai, foto HPost

Diduga kuat  sampah yang  bertebaran di pantai dan perairan itu merupakan kiriman  dari laut pasifik dan laut Halmahera. Pasalnya, sampah ini muncul di kala gelombang tinggi dan  musim hujan.

Beberapa warga Juanga terlihat mengais dan mengumpulkan sejumlah sampah plastic bekas    yang masih bisa dimanfaatkan.  Hawania salah satu warga Juanga ditemui Kamis (17/11/2022) siang   mengaku fenomena membludaknya sampah  ini  Ia baru saksikan dan ikut  mengumpulkan  sampah yang masih bisa dimanfaatkan itu.

“Kita dapatkan sampah yang didominasi plastic ini terdampar  pada pagi hari.   Sampah ini tersebar  dari Kampung Juanga hingga kawasan Pelabuhan Feri,” kata Hawania.

Dia mengaku, baru kali ini  melihat banyaknya sampah berserakan  di pesisir pantai Morotai ini.  

“Kami kaget juga melihat sampah yang terdampar begini banyak. Sampah  ini dilihat saat  pagi ini,” ujar dia.

Soal banyaknya sampah plastic yang bertebaran di laut Morotai ini, menurut akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Morotai Muhammad Reza Kusman  sebenarnya karena kurang perhatian dari pemerintah. Terutama terkait sampah plastic yang dibuang ke laut.  

Dosen Prodi Teknik Lingkungan itu menjelaskan,   fenomena sampah organik dan anorganik  yang banyak mengapung dan terdampar ini sering menjadi  masalah di perairan.  Baik laut maupun sungai. Menurut dia, biasanya masalah sampah yang muncul  seperti saat ini  adalah sampah kiriman dari pulau terdekat, atau tempat usaha   atau   sampah domestic.  Nah dalam persoalan ini, pengelolaan sampah sebenarnya  dasarnya  pada kesadaran   serta  kebiasaan  orang membuang sampah. Jika warga atau masyarakat membuang sampah ke pantai maka akhirnya sampah itu terbawa ke laut dan kemudian kembali lagi  dan  didaptakan orang lain. “Sampah kiriman itu seperti bom waktu,” katanya.

Dia bilang,  cuaca di wilayah Morotai  yang ekstrim beberapa hari terakhir,  di mana sering turun hujan  lebat ditambah kondisi angin  dan pasang surut  air laut,  ikut membawa sampah yang dibuang ke laut di berbagai tempat  terdampar di daerah Juanga ini.

Dia lalu  usulkan  dalam kasus ini harus ada riset menyangkut problem lingkungan yang dihadapi saat ini terutama masalah sampah plastic yang masuk ke laut. Riset itu dilakukan Pemerintah Daerah melibatkan tokoh masyarakat, LSM dan akademisi agar  hasilnya bisa ditindaklanjuti dengan program   yang nyata dan bermanfaat.

Petugas kebersihan mengangkat sampah di pesisir pantai Ternate foto M Ichi

“Perlu memanfaatkan fasilitas Pemerintah untuk peduli pada soal lingkungan. Selain itu  harus ada perencanaan yang matang karena menjaga lingkungan bukan angan- angan tapi tindakan,”kata

Muhammad Reza.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Morotai Siti Samiun Maruapey S.Hut mengatakan, belum lama ini  DKP  sudah melakukan pembersihan.   Namun dengan munculnya sampah yang kembali memenuhi pantai ini mereka akan  kembali membersikan. “Kami segera turun untuk membersihkan tepi pantai  yang   dipenuhi sampah tersebut. Akan menjadi agenda  kegiatan bersih bersih di lokasi eks-Sail. Untuk  warga  dan stakholder yang mau  gabung dipersilakan,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

    • calendar_month Ming, 5 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 497
    • 1Komentar

    Aksi nekat seorang anak muda yang menantang ombak ketika terjadi terjangan ombak di kawasan pantai Falajawa

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

  • Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 611
    • 0Komentar

    Kuliah Bersama Masyarakat (Kubermas) tahap I Universitas Khairun Ternate  di Desa Sebelei Kecamatan  Makean Barat, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara selama satu bulan (Agustus 2023) telah tuntas. Program kerja mereka,salah satunya membuat Tugu Kenari sebagai salah satu ikon Desa Sebelei.    Sekadar diketahui, tugu ini memiliki makna filosofis mendalam. Pohon kenari  disebut- sebut sebagai  salah […]

  • Maluku Utara Alami Kemarau yang Tetap Basah

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) Republik Indonesia,  pada  April  hingga September biasanya terjadi musim kemarau. Meskipun  saat ini Indonesia  memasuki musim kemarau, namun hamper setiap hari diwarnai oleh hujan  ringan sampai lebat. BMKG Stasiun Meteorologi  Ternate misalnya,   bahkan memberi warning  kepada masyarakat di sejumlah wilayah di Maluku Utara untuk tetap waspada dengan adanya […]

  • Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

    • calendar_month Sen, 8 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 482
    • 0Komentar

    Sejak dulu kampung-kampun g di Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara memiliki banyak kebun sagu. Salah satu desa yang menjadi pusat sagu adalah Sagea dan Kiya di Weda Utara. Karena potensi itu, pemerintah daerah kemudian berpikir melindunginya setelah massivenya industri tambang masuk ke wilayah ini. Pemkab Halmahera Tengah  kemudian membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi pohon […]

  • Pulau Moor di Halmahera Tengah  Mau Dierjualbelikan?

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 928
    • 0Komentar

    Yusuf Haruna:   Langgar Konstitusi dan Hak-hak Warga Lokal Pulau Moor  yang terletak di Wilayah Kecamatan Patani Kabupaten  Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, merupakan pulau kecil seluas sekitar 3 km² yang saat ini dihuni sebagian petani kelapa, nelayan dan dimanfaatkan oleh masyarakat   tujuh desa Patani  dan  sekitarnya. Rencana penjualan pulau Mour  kepada pihak swasta, yaitu pengusaha […]

expand_less