Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
  • visibility 525

Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan.

Beberapa    yang diidentifikasi adalah  jenis ikan sembilan dan ikan baronang.  Ikan ikan ini mati dan bercampur dengan sampah di  pantai Sasa. Warga setempat mengaku baru tahu sekira pukul 09.00 WIT.

“Ikan mati ini baru ditemukan Minggu pagi ini. Saya ke sini sudah  lihat  ikan- ikan kecil mati berserakan,” kata Risno nelayan Kelurahan Sasa. Dia mengaku tak tahu penyebab ikan- ikan itu mati.

Akibat sampah juga ikan mati yang berserakan,   tercium aroma tidak sedap mengganggu kenyamanan warga yang rumahnya dekat dengan bibir pantai.  Haidir  (60 tahun) warga Sasa  mengaku, kejadian ini diketahui Minggu pagi. “Pagi tadi baru tahu, ada banyak ikan mati di pesisir pantai. Tapi, kita tidak tahu penyebabnya,”  katanya.  

Yunita juga warga Sasa menyampaikan bahwa selain ikan mati, sampah plastik yang terdampar di pesisir pantai ini  juga sangat mengganggu. Sampah diakui  berasal dari warga di ketinggian  yang membuang ke selokan atau saluran air lalu terbawa  dan menumpuk   serta mengotori  pesisir pantai Sasa. Dulunya pesisir pantai ini, menjadi tempat anak- anak  mandai di pantai. Tapi belakngan sejak banyak sampah mereka enggan  mandi di pantai lagi.

Ikan-mati-menumpuk-bersama-sampah-di-tepi-pantai-Sasa foto Cermat

Terkait kematian ikan, Yunita mengaku,kejadian seperti ini sudah beberapa kali, tapi tidak sebanyak sekarang. “Ikan yang mati sekarang ini sangat banyak,” katanya. Lalu apa penyebab kematian ikan ini?  

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mengaku sudah mengambil sampel.  Baik ikan maupun air lautnya. “Kita baru akan lakukan uji sampel untuk mengetahui sumber pencemar hingga ikan di pesisir pantai Kastela ini alami kematian massal. Sampel yang diambil  akan diuji di lab Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  (BTLPP) Manado,” jelas Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Ternate, Syarif Tjan.

Dikonfirmasi Minggu malam dia mengaku baru mengambil sampel. Dari sampel itu  ada lima parameter yang akan diuji yakni parameter fisik, kimia, biologi, logam terlarut dan radiologi  “Ini adalah data yang nanti dbutuhkan untuk mengetahui sumber pencemar matinya ikan di pesisir pantai Sasa ini,” jelasnya..    

Doktor Muhammad Aris Peneliti  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bilang, soal ini diperlukan analisis sampel di laboratorium. Namun katanya kalau melihat  kematian ikan secara massal seperti ini, merupakan karakteristik kematian ikan karena penyakit non pathogen.  Artinya disebabkan bahan pencemar yang masuk badan air.  “Nah ini  yang harus dideteksi lebih mendalam jenis bahan pencemarnya kira- kira apa.  Makanya perlu  dilakukan studi secepatnya,”katanya.

Dia contohkan blooming algae itu salah satu penyakit non patogen tapi lebih karena faktor kualitas air yang turun secara drastis. Dia bilang lagi,  kematian ikan massal  seperti ini faktor pemicunya kualitas air yg tercemar atau menurun secara tiba-tiba  sampai level letal/mematikan. “Air bersifat toxic atau mengandung bahan beracun,” tutupnya.   

Kawasan-Pantai-Kelurahan-Sasa-yang-kotor-sampah-dan-berlumpur. Foto Cermat

Sementara soal uji lab dan analisis sampel tidak bisa cepat  karena  tidak bisa dilakukan  di lab FPIK Unkhair. Alat di laboratoium  juga tidak ada. Karena itu sampel yang diambil mesti diuji di luar Maluku Utara. “Pengalaman saya uji sampel, dikirim ke Jakarta, Bogor atau Makassar,” katanya.

Senada, peneliti dari FPIK Unkhair lain  Doktor Nurkhalis Wahidin mengatakan, mesti ada kajian dan analisis karena perlu ada  pembuktian. Soal kematian ikan secara  massal itu, biasanya karena ada perubahan ekstrim di lingkungan laut. Diantaranya perubahan suhu yang cepat, terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kadar racun di badan air yang meningkat tinggi, atau kadar  oksigen yang menurun drastic.  Sumbernya dari banyak faktor.

“Saya belum bisa pastikan dari mana sumber penyebab perubahan lingkungan laut ekstrim, kalau sampah, ini bukan masalah baru, tapi tidak tau apakah ada unsure-unsur lain yang terikut di sampah di lokasi kejadian. “Itu   perlu ada kajian,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Rumpon Liar di Selat Obi Dibersihkan    

    • calendar_month Sen, 4 Jul 2022
    • account_circle
    • visibility 445
    • 2Komentar

    Nelayan: Selat Obi Diusul Jadi Wilayah Pemberdayaan  Nelayan  Kecil   Nelayan Obi yang selama ini mengeluhkan banyaknya rumpon liar di laut Obi, akhirnya bernapafas lega. Pasalnya,  Dinas  Perikanan Provinsi Maluku Utara Sabtu (02/07/2022) bersama masyarakat nelayan dan  instansi tekait memutus tali puluhan rumpon di Selat Obi Kabupaten Halmahera Selatan. “Pemutusan ini sekaligus menjawab aspirasi nelayan di Kecamatan […]

  • Titik Nol Jalur Rempah adalah Soal Geopolitik (3)

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 466
    • 1Komentar

    Untuk menentukan Titik Nol Rempah, bukan lagi sekedar soal romantisme sejarah masa lalu, namun ia adalah soal identitas, nasionalisme, dan soal geopolitik global, untuk menentukan pada titik manakah Indonesia harus memainkan peranannya dalam percaturan global dewasa ini. Jika menoleh apa yang dilakukan China sepeninggalnya Mao Tze Tung, Deng Xiao Ping telah berani mengangkat identitas masa […]

  • TNAL Miliki Aset Wisata Gua Menakjubkan

    • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 477
    • 1Komentar

    Lebatnya hutan Taman Nasional AkeTajawe Lolobata. Di dalam hutan ini tersimpan kekayaan flora dan fauna serta goa karst yang menakjubkan. Foto Sofyan Ansar TNAL

  • Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Ikrar Belém 4x akan Sia-Sia bila Hutan dan Masyarakat Adat terus Dieksploitasi Bersama lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN), Greenpeace menolak “Belém 4x Pledge,” inisiatif guna melipatgandakan produksi bahan bakar berkelanjutan (biofuel) hingga empat kali lipat dalam satu dekade mendatang. Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul […]

  • Perdagangan TSL Dilindungi di Malut Menurun    

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Eksploitasi, terutama penangkapan dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar (TSL)  dilindungi di Maluku Utara, mengalami penurunan drastis. Ini berbeda di bawah tahun 2020, kasus penjualan dan penangkapan hewan endemic seperti burung jenis paruh bengkok  sangat massive dan terjadi berulang kali. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) sejak 2022 dan 2023 ini belum mendapatkan laporan atau […]

expand_less