Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Buku Adalah Subversif ?

Buku Adalah Subversif ?

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 30 Nov 2020
  • visibility 662

Penulis: Syaiful Bahri Ruray

Putra Wayabula

A room without books

is like body without soul

(Cicero).

Ditengah hiruk pikuk pandemik yang belum juga selesai, tiba-tiba saja jagad maya kita dikagetkan dengan tarik menarik soal buku. Dan itu berawal ketika ada postingan Anis Baswedan yang berkain sarung, sedang membaca How Democracies Die, buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, dua orang ilmuan Harvard. Lalu sebuah memesatiris pun muncul dengan menampilkan presiden sedang membaca komik. Juga komentar Ketua KPK bahwa ia telah membaca buku tersebut sejak 2002 walau buku tersebut baru diterbitkan pada 2018. Maka ramailah pro dan kontra atas buku. Buku, sesungguhnya soal terpenting dalam sebuah peradaban. Sejarah mengajarkan kita bahwa tidak ada peradaban dapat maju tanpa buku. Mengutip filsuf Cicero: if you have a garden and a library, you have everything you need– jika engkau memiliki sebuah taman dan sebuah perpustakaan maka engkau telah memiliki segala yang kau butuhkan. Sayangnya bagi kita Indonesia, persoalan budaya literasi masih jauh dibawah harapan. Dalam riset UNESCO atas 72 negara dunia tentang budaya membaca, World’s Literate Nations menempatkan Indonesia adalah terendah kedua setelah Bostwana, Afrika. Artinya buku, belum menjadi sebuah kebutuhan apalagi tradisi. Kita bisa bandingkan negara tetangga seperti Singapore yang menerbitkan bukunya sangat banyak diantara 10 negara ASEAN. Bangsa Jepang, dalam kendaraan umum, seperti bis kota maupun kereta api, penumpangnya jarang sekali berisik, apalagi bergosip, karena rata-rata penumpang sibuk membaca buku masing-masing. Pertama kali berkunjung ke Tokyo, saya disampaikan bahwa sangat mudah mengenali orang Indonesia di kendaraan umum, karena cukup melihat siapa yang suka berkerumunan dan sibuk berbicara dengan suara lantang, dapat dipastikan itulah orang Indonesia. Karena hanya kita yang tidak membaca dalam perjalanan. Kita kadang lupa, bahwa negara ini dibangun oleh the founding fathers, karena buku. Soekarno, Syahrir, Tan Malaka, Bung Hatta, Mr. Mohamad Yamin, adalah kutu buku sejak muda. Bahkan Hatta membawa sekian banyak peti berisi buku-buku bacaannya, ketika di penjara oleh Kolonial Belanda, dari Banda hingga Boven Digoel. Soekanro telah melahap karya Lothrop Stoddard: The New World of Islam, dan Rising Tide of Color, yang terbit 1920 tersebut. Ia juga membaca dengan tekun karya Otto Bauer hingga Ernest Renan. Dari situlah konsep kebangsaan dirumuskan sejak 1926 (lihat: Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1). Tan Malaka bahkan ditengah pelariannya dari kejaran pemerintah kolonial Belanda, ia menulis sedemikian judul buku, untuk kepentingan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebutlah saja Madilog, Aksi Massa dan Menuju Republik Indonesia. Ia bahkan dihormati ketika melarikan diri ke Filipina dan membantu gerakan kemerdekaan Filipina. Ia disebut sebagai Joze Rizal nya Indonesia. Hatta dari tengah rawa-rawa Boven Digoel yang penuh sarang malaria sebagai penjara alam terkejam, malah menulis Alam Pikiran Yunani, sebuah karya yang luar biasa. Buku tersebut menjadi mahar pada saat Bung Hatta menikahi Ibu Rahmi Hatta. Mas kawinnya adalah sebuah buku dari penjara alam terkejam, Boven Digoel tersebut. Boven Digoel, adalah Gulag Archipelago, penjara kolonial Belanda untuk meredam hasrat merdeka bangsa Indonesia. Mr. Mohamad Yamin menulis Tata Negara Majapahit. Ternyata penjara tidak dapat menghentikan pikiran, dan itu berawal dari buku.

Bahkan perang modern, selalu diawali dengan menghancurkan buku. Genosida bangsa Bosnia dalam Perang Balkan pada 1992, diawali dengan serbuantembakan mortir Pasukan Serbia terhadap Perpustakaan Pusat Bosnia Herzegovina. Karena buku dapat menghapus memori, menghilangkan identitas sebuah bangsa, bahkan menghancurkan national pride- kebanggaan nasional sebuah bangsa. Fernado Baez, seorang penulis Venezuela, menulis Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2013) melukisan librisida atau bibliosida, sebuah tindakan pembunuhan buku, dimana buku dihancurkan dan dilarang karena motif politik dan lainnya. Baez mencatat praktek penghancuran buku sejak zaman Sumeria kuno (4100-3300 SM) di Kuil Uruk, yang ditemukan oleh arkeolog, hingga yang termodern seperti Bosnia, yang menghancurkan 2 juta lebih dokumen penting dan buku peninggalan Kekaisaran Turki-Ottoman dan Austro-Hongaria, juga pembakaran perpustakaan Baghdad, Irak pada saat penggulingan Saddam Husein antara 9-10 April 2003. Lebih dari satu juta koleksi hilang, belum termasuk yang musnah terbakar di Museum Arkeologi, Arsip Nasional, dan kantor-kantor kementerian. Baez sendiri sedang berada di Baghdad ketika kota itu diserang.

Indonesia pun pernah mengalami hal yang sama, sejak masa kolonial ada pelarangan buku seperti Student Hidjo  karya Mas Marco Kartodikromo dan penangkapan sejumlah aktivis pergerakan karena tulisan-tulisan mereka. Sejak kemerdekaan, Mochtar Lubis juga dilarang beredar bukunya, termasuk gempuran PKI untuk melarang buku karya Buya HAMKA, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang dicap plagiat. Memang hitam putihnya dunia sangat ditentukan. Sebutlah ideologi komunisme diawali oleh Das Kapital(1867) karya Karl Marx. Perang Dunia II karena amuk fasismeJerman, berawal dari karya Adolf Hitler yang ditulis daridalam penjara, Mein Kampf(1925).Hitler memiliki perpustakaan pribadi di Berschtesgaden yang berisi 16,000 judul buku. 1.200 judul buku Hitler ini, dibawa tentara Amerika dan dikirim ke Library of Congress pada 1952. Dampak buku ini, cukup tragis, karena menciptakan tragedi kemanusian, anti semitisme, yang menyebabkan terbantainya 6 juta penduduk Yahudi di seantero Eropa. Pemboman Kota London oleh Luftwaffe Jerman pada 1940, sasarannya strategisnya adalahHolland House of Library di kota London, untuk menghancurkan perpustakaan terbesar Inggris tersebut. Perang Dunia II ini berakhir dengan dijatuhkannya bom atom dari pesawat Boeing B-29 Enola Gay pada 6 Agustus 1945, jam 8.15 pagi, di kota Nagasaki Jepang. Pusat buku Jepang di Nagasaki, termasuk naskah-naskah dari Cina sejak abad 19, tersapu bersih dari muka bumi.

Revolusi Amerika juga, yang melahirkan bangsa Amerika, tidak dapat terlepas dari buku, Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe (1852). Dinasti Abbasiyah, dihancurkan Bangsa Mongol pada 1258, juga membakar buku-buku hingga membuat warna sungai Eufrat dan Tigris menjadi cokelat karena penuh dengan debu buku dalam penyerangan selama 12 hari tersebut. Peradaban besar Dinasti Umayyad selama 700 tahun lebih di Andalusia, Spanyol, adalah jembatan peradaban yang mempertemukan Islam dan Eropa. Namun Andalusia itu runtuh berawal dari buku. Ketika karya-karya intelektual mulai dilarang dan dibakar, sebutlah kasus Maimonides (Moses ibnu Maimon), seorang teolog unitaris Yahudi terkemuka, karya-karyanya dilarang. Tanpa jembatan peradaban ini, dunia modern tidakakan mengenal filsafat Yunani, negeri raksasa akal tersebut. Tak akanada renaissans (aufklarung) yang membuka peradaban modern hingga sekarang yang kita kenal. Indonesia, diperebutkan oleh Portugis dan Spanyol, lalu Inggris dan Belanda, berawal dari buku. Dunia mengenal thebattle of the books-pertempuran buku-buku, antara John Sheldon yang menulis Mare Clausum (Laut Tertutup), mewakili Inggris, melawan ilmuan Belanda Hugo de Groot (Grotius) yang menulis Mare Liberum (Laut Bebas), untuk memperebutkan kebebasan berlayar dan klaim pemilikan atas laut dalam mencari jalur-jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah Maluku dan Nusantara. Pertarungan buku-buku ini terjadi karena Colombus nyasar dalam dua kali ekspedisinya mencari Maluku. Ia malah menemukan Amerika sebagai benua baru pada 1492 tersebut. Sayangnya tidak ada cengkih dan pala yang ia temukan di Amerika. Hanya aroma tembakau yang di hisap penduduk Indian Amerika.

Jika melihat ramainya kita mencibir buku, karena dibaca, kita bagaikan memposisikan buku sebagai subversif, kata teman saya dosen sebuah perguruan tinggi terkemuka di negeri ini. Tanpa buku, peradaban akan terhenti, bahkan runtuh tak berbekas. Tak terbayangkan, sebuah bangsa hanya bersibuk ria dengan gadget dan medsos, namun ingkar akan pentingnya buku. Jika elit sebuah bangsa jauh dari buku, bahkan membencinya, maka kita secara sadar telah memasuki librisida atau bibliosida. Kita seakan terbalik fakta dengan elite bangsa para pendiri awal negara. Lihat saja keringnya debat-debat kandidat Pilkada menandai akan hal itu. Ternyata kita nekat mau menjadi elite tanpa buku.Sementara indikator keberhasilan pendidikan sebuah bangsa, justeru terlihat dari budaya literasi.

Markus Tullius Cicero berucap: a room without books is like a body without soul- sebuah ruangan tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa. Padahal agama pun berawal dari perintah tegas untuk iqra (membaca).

Nah, apakah kita masih layak disebut memiliki jiwa bahkan beragama ??

30 November 2020

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kelompok Tani Hutan di Tidore Kembangkan Minyak Kelapa

    • calendar_month Rab, 20 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 829
    • 0Komentar

    Tulisan Kiriman  Andy Taufik Marasabessy Dishut Malut Sumberdaya kelapa yang melimpah di bumi Maluku Utara menjadi berkah. Selain dibuat kopra juga diolah menjadi minyak kelapa kampong. Seperti yang dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH)   Balibunga Lestari Kelurahan Rum  Kota Tidore. Mereka mengolah buah kelapa menjadi minyak. Dari hasil olahannya   dijual ke pasar serta dikonsumsi. Untuk pengembangan […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 1.244
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 905
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  •  Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan  

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 606
    • 0Komentar

    Salah satu penyumbang emisi terbesar yang berdampak pada Krisis iklim adalah sektor energi, sementara komitmen untuk transisi energi menuju energi bersih dan terbarukan seolah berjalan lambat. Di sisi lain masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati listrik seperti yang dinikmati di daerah perkotaan. Untuk membedah masalah ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC […]

  • Doho-doho Kemerdekaan  

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 1.002
    • 0Komentar

    Ironi Negeri El Dorado dan El Picente Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga […]

  • Climate Right Internasional Desak Hentikan Sementara Tambang Nikel di Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 5 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 1.008
    • 1Komentar

    Pemerintah pusat harus merespons rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup atas pencemaran sungai  yang terjadi di Sagea Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara.  Demikian rilis resmi yang dikeluarkan Climate Rights International (CRI) akhir September lalu. Sekadar diketahui CRI adalah organisasi pemantauan dan advokasi iklim dan hak asasi manusia internasional yang didedikasikan untuk mencegah dan menangani pelanggaran hak asasi […]

expand_less