Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
  • visibility 811

“Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  bisa menyaksikan semakin bertambahnya burung mamua. Tidak itu saja para ahli dan peneliti dari berbagai belahan dunia datang ke kampong ini meneliti mamua. Orang orang luar juga datang berwisata menyaksikan burung maleo dan indahnya hutan mangrove di sini bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat”  Safri Bubu

Ungkapan Safri Bubu lelaki (37) yang menggagas konservasi  gosong Maluku atau Bahasa local Maluku Utara menyebutnya dengan mamua ini sangat menyentuh. Safri yang sehari-hari berprofesi sebagai petani di Desa Simau Galela Halmahera Utara Maluku Utara  tidak seperti kebanyakan orang hyang hanya mau mengeksploitasi telur mamua. Dia mau  berpikir  merawat dan melindungi alam serta melestarikan sumber keanekaragaman hayati  yang ada  di desanya untuk generasi di masa depan. “Saya lakukan ini karena berpikir generasi,” katanya.

Safri Bubu (topi merah) bersama sjumlah pihak melakukan lepasliar gosong Maluku

Dia bilang  keanekeragaman hayati di kampongnya menjadi kekayaan desa yang tidak ternilai harganya. Pasalnya, karena burung ini  juga membuat banyak peneliti dan wisatawan datang ke Simau. Mereka  selain meneliti juga  ingin merasakan sensasi menunggu mamua bertelur di tengah malam  di tepi pantai.

Apa yang telah dilakukan Safri ini diceritakan juga  pada  peserta kunjungan belajar konservasi yang berasal  dari puluhan Komunitas Pecinta Alam (KPA)  di Maluku Utara Minggu (7/11) lalu. Kegiatan  yang diinisiasi oleh LSM Burung Indonesia itu ingin belajar apa yang dirintis Safri bersama komunitasnya yang bernama Salabia.

Kegiatan yang dirangkai dengan camping bersama    di pantai Simau Galela  ini,  dia  turut cerita  panjang lebar tentang  upayanya mendorong konservasi ini.

Sebelumnya,  saat  ditemui di arena camping  lelaki yang biasa disapa OM Gode ini bercerita,    jika gerakan konsrvasi mamua yang  dilakukannya  berawal dari kegiatannya di kampong Simau yang setiap saat mengawal   peneliti atau pengunjung yang datang meneliti burung bernama latin Elipoa Wallacea atau  Gosong Maluku itu.  Pria yang fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing itu   bercerita  jika dia menjalankan tugas dan peran ini,  karena  memiliki ketertarikan melindungi  dan berfikir mengembangkan. Caranya tentu harus dengan melakukan konservasi.

“Awalnya saya sendiri yang menjaga dan melakukan konservasi burung  mamua ini. Tidak ada biaya atau bantuan dari orang lain. Karena itu peneliti atau pengunjung yang datang dan ingin mencari tahu burung ini,  masyarakat selalu mengarahkan bertemu saya lalu  saya kawal mereka.  Tugas saya menjadi guide bagi para peneliti melakukan riset atau wisatawan  yang mau berwisata  menyaksikan burung mamua, terutama saat bertelur,” jelasnya.

Dia bilang lagi,  kala  itu  ada satu peneliti dari Amerika yang dia temani. “Saya menjelaskan banyak hal tentang burung mamua ini. Misalnya waktu bertelur, kebiasaannya hingga bagaimana membedakan   telur yang nanti jika menetas jantan dan betina.  Ketika mendengar berbagai penjelasan dan pengalaman yang saya sampaikan dia kemudian menyarankan dengan menyampaikan bahwa jika  mamua ini dilindungi dan dikembangbiakan,  hingga turun temurun dia tidak akan punah. Dari sini menginspirasi saya melakukan konservasi ini,” katanya.  

Dia bilang lagi, para peneliti yang datang rata rata memintanya menjaga dan  melindungi burung ini. Bahkan  menurut mereka jika dilindungi  akan menjadi asset bagi desa.  Ketika mendapatkan saran dari peneliti tersebut Safri mengaku kembali bertanya caranya. Namun   peneliti balik menyarankan ditanyakan kepada orang,  yang lebih tahu cara  pemeliharaan dan perlindungan burung ini.  

Penngkaran telur mamua yang dilakukan oleh komunitas Salabia Simau Galela

Akhirnya Safri memulai  gerakan pemeliharaan dan perlindungan  terutama  di lahan milik orang tuanya  di kawasan mangrove dekat pantai tepat di belakang kampong Simau.   

“Ternyata setelah saya tanya- tanya ke  orang tua tua di kampong  juga  mereka  tidak tahu bagaimana cara mengembangbiakan burung ini,” ujarnya.  Akhirnya  ketika mendapat pendampingan dari  LSM Burung Indonesia dan pihak Universitas Halmahera (UNIERA), barulah bisa diketahu dan dilakukan penangkaran semi alami seperti sekarang,” imbuhnya. Lewat pendampingan dan mencoba ke Haruku Maluku setrta berdasarkan pengalaman sehari hari akhirnya dilakukan penangkaran. Hingga kini  anakan mamua sudah  lepasliar    hamper 1000 ekor ke habitatnya.

Proses penangkaran sendiri sebenarnya dilakukan sejak 2016.  Ketika ada pendampingan tersebut 2019 barulah dikembangkan penangkarannya hingga ratusan telur dengan dibentuk komunitas.  Setelah dilakukan penangakaran  secara mandiri dan ada pendampingan  itu barulah dibuat gerakan bersama dengan dibentuknya komunitas Salabia Simau.  Tujuannya bersama  melakukan penangkaran semi alami selanjutnya lepas liar ke alam  atau habtatnya.  Disebut semi alami karena  telur yang ada ditanam  di alat penangkaran alami di sekitar tempat bertelurnya, kemudian dirawat sebentar dikandang pemeliharaan lalu lepas liar.  

Kini setelah 5 tahun berlalu didukung dengan pendirian komunitas dan  dia sebagai koordinatornya, penangkaran sudah mulai berjalan baik meski   belum ada dukungan pemerintah.

Lalu apa  suka duka   merintis konservasi mamua ini? Soal itu Safri mengaku menghadapi tantangan luar biasa. Pertama ketika melakukan pendekatan kepada mereka yang memiliki lahan dimana mamua bertelur tidak diterima. Kedua memberikan pemahaman soal pentingnnya konservasi  yang ujungnya untuk warisan anak cucu di kemudian hari, kadang sulit diterima. Meski demikian katanya, dengan berbagai pendekatan kepada  empat pemilik lahan  akhirnya semua bersepakat mendukung gerakan  menjaga dan melindungi burung ini. Caranya ketika mereka memanen atau menggali  telur- telur mamua itu akan disisakan telur atau diantar telur- telur itu ke komunitas  Salabia untuk ditetaskan di kandang   penangkaran. 

“Sangat bersyukur karena ternyata warga Simau juga  banyak yang belum tahu bagaimana mengembangbiakan  burung ini termasuk melihat anakan burung ini secara langsung. Karena itu ketika kita tanam telur telur itu di pasir dan menetas lalu   lepasliar,   warga datang beramai ramai  menonton  dari dekat   sekaligus  menjadi pengetahuan bagi mereka lebih menjaga dan melindungi kekayaan ini.   

alat penangkaran alami yang dibuat oleh komunitas Salabia dan sarana belajar sejumlah KPA di Malut

Hasilnya juga sudah bisa dirasakan sekarang.  Saat ini burung mamua  yang  bertelur di kawasan pantai Simau sudah semakin banyak. Setahun belakangan, ketika masuk musim bertelur mereka bisa panen telur hingga ratusan butir per hari.  Ini berbeda dari sebelumnya  yang hanya beberapa puluh telur di saat musim bertelur sehari,” jelasnya. Sekadar diketahui burung mamua ini bertelur selama 6 bulan dalam setahun, 6 bulan berikutnya masa istrahat. Kalaupun dia bertelur hanya satu dua ekor saja.(*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Hasil Riset Scooping Nikel untuk Electric Vehicle (EV)

    • calendar_month Sen, 11 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 661
    • 1Komentar

    Indonesia Belum  Punya Roadmap Hulu-Hilir Maluku Utara adalah salah satu wilayah di Indonesia  yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam melimpah, salah satunya nikel. Hampir seluruh perut bumi  Halmahera dan pulau-pulau kecil lainya menyimpan kekayaan tambang nikel. Karena itu tidak salah terdapat tiga kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dijadikan pusat pengolahan nikel, termasuk salah satunya […]

  • Mengunjungi  Pantai Oma Moy Bacan yang Unik

    • calendar_month Jum, 10 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 848
    • 0Komentar

    Nikmati Laut dan Pantai Bening Bersih, hingga Batu Pipih Tersusun Rapi Angin laut bertiup perlahan. Keteduhan pepohonan pantai yang rimbun begitu menyejukkan. Meski siang terasa terik, kala tiba di pantai ini bagaikan berada di belantara hutan Gunung Sibela. Ya itulah suasana yang kami rasakan ketika mengunjungi pantai Oma Moy Dusun Oma Moy Panamboang Bacan Selatan […]

  • SYUKURAN WISUDA

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 848
    • 0Komentar

    Wisuda sarjana yang dilaksanakan Universitas Khairun Ternate pada 18/3/2023

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 579
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 605
    • 1Komentar

    Air bersih menjadi kebutuhan paling urgen. Mulai dari makan minum hingga  mandi, cuci dan kakus (MCK). Setidaknya, hal ini juga sedang dialami warga  Desa Aer Mangga Kecamatan Obi Pulau Obi Halmahera Selatan. Saat kabarpulau co.id mengunjungi Desa itu Senin (6/2/2023) pekan lalu, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat menyuarakan  keluhannya terkait masalah yang mereka hadapi […]

  • Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 720
    • 1Komentar

    Berdampak Terhadap Lingkungan Hidup dan Manusia    Program   “hilirisasi” mengemuka dalam debat keempat pemilihan presiden (Pilpres) 2024, untuk calon presiden wakil presiden (Cawapres)  pada  Ahad, 21 Januari 2024 di lalu Jakarta. Cawapres Gibran Rakabuming Raka dari pasangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengucapkan kata hilirisasi sebanyak 12 kali.    Tidak hanya pasangan   Capres dan Cawapres […]

expand_less