Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
  • visibility 967

“Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  bisa menyaksikan semakin bertambahnya burung mamua. Tidak itu saja para ahli dan peneliti dari berbagai belahan dunia datang ke kampong ini meneliti mamua. Orang orang luar juga datang berwisata menyaksikan burung maleo dan indahnya hutan mangrove di sini bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat”  Safri Bubu

Ungkapan Safri Bubu lelaki (37) yang menggagas konservasi  gosong Maluku atau Bahasa local Maluku Utara menyebutnya dengan mamua ini sangat menyentuh. Safri yang sehari-hari berprofesi sebagai petani di Desa Simau Galela Halmahera Utara Maluku Utara  tidak seperti kebanyakan orang hyang hanya mau mengeksploitasi telur mamua. Dia mau  berpikir  merawat dan melindungi alam serta melestarikan sumber keanekaragaman hayati  yang ada  di desanya untuk generasi di masa depan. “Saya lakukan ini karena berpikir generasi,” katanya.

Safri Bubu (topi merah) bersama sjumlah pihak melakukan lepasliar gosong Maluku

Dia bilang  keanekeragaman hayati di kampongnya menjadi kekayaan desa yang tidak ternilai harganya. Pasalnya, karena burung ini  juga membuat banyak peneliti dan wisatawan datang ke Simau. Mereka  selain meneliti juga  ingin merasakan sensasi menunggu mamua bertelur di tengah malam  di tepi pantai.

Apa yang telah dilakukan Safri ini diceritakan juga  pada  peserta kunjungan belajar konservasi yang berasal  dari puluhan Komunitas Pecinta Alam (KPA)  di Maluku Utara Minggu (7/11) lalu. Kegiatan  yang diinisiasi oleh LSM Burung Indonesia itu ingin belajar apa yang dirintis Safri bersama komunitasnya yang bernama Salabia.

Kegiatan yang dirangkai dengan camping bersama    di pantai Simau Galela  ini,  dia  turut cerita  panjang lebar tentang  upayanya mendorong konservasi ini.

Sebelumnya,  saat  ditemui di arena camping  lelaki yang biasa disapa OM Gode ini bercerita,    jika gerakan konsrvasi mamua yang  dilakukannya  berawal dari kegiatannya di kampong Simau yang setiap saat mengawal   peneliti atau pengunjung yang datang meneliti burung bernama latin Elipoa Wallacea atau  Gosong Maluku itu.  Pria yang fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing itu   bercerita  jika dia menjalankan tugas dan peran ini,  karena  memiliki ketertarikan melindungi  dan berfikir mengembangkan. Caranya tentu harus dengan melakukan konservasi.

“Awalnya saya sendiri yang menjaga dan melakukan konservasi burung  mamua ini. Tidak ada biaya atau bantuan dari orang lain. Karena itu peneliti atau pengunjung yang datang dan ingin mencari tahu burung ini,  masyarakat selalu mengarahkan bertemu saya lalu  saya kawal mereka.  Tugas saya menjadi guide bagi para peneliti melakukan riset atau wisatawan  yang mau berwisata  menyaksikan burung mamua, terutama saat bertelur,” jelasnya.

Dia bilang lagi,  kala  itu  ada satu peneliti dari Amerika yang dia temani. “Saya menjelaskan banyak hal tentang burung mamua ini. Misalnya waktu bertelur, kebiasaannya hingga bagaimana membedakan   telur yang nanti jika menetas jantan dan betina.  Ketika mendengar berbagai penjelasan dan pengalaman yang saya sampaikan dia kemudian menyarankan dengan menyampaikan bahwa jika  mamua ini dilindungi dan dikembangbiakan,  hingga turun temurun dia tidak akan punah. Dari sini menginspirasi saya melakukan konservasi ini,” katanya.  

Dia bilang lagi, para peneliti yang datang rata rata memintanya menjaga dan  melindungi burung ini. Bahkan  menurut mereka jika dilindungi  akan menjadi asset bagi desa.  Ketika mendapatkan saran dari peneliti tersebut Safri mengaku kembali bertanya caranya. Namun   peneliti balik menyarankan ditanyakan kepada orang,  yang lebih tahu cara  pemeliharaan dan perlindungan burung ini.  

Penngkaran telur mamua yang dilakukan oleh komunitas Salabia Simau Galela

Akhirnya Safri memulai  gerakan pemeliharaan dan perlindungan  terutama  di lahan milik orang tuanya  di kawasan mangrove dekat pantai tepat di belakang kampong Simau.   

“Ternyata setelah saya tanya- tanya ke  orang tua tua di kampong  juga  mereka  tidak tahu bagaimana cara mengembangbiakan burung ini,” ujarnya.  Akhirnya  ketika mendapat pendampingan dari  LSM Burung Indonesia dan pihak Universitas Halmahera (UNIERA), barulah bisa diketahu dan dilakukan penangkaran semi alami seperti sekarang,” imbuhnya. Lewat pendampingan dan mencoba ke Haruku Maluku setrta berdasarkan pengalaman sehari hari akhirnya dilakukan penangkaran. Hingga kini  anakan mamua sudah  lepasliar    hamper 1000 ekor ke habitatnya.

Proses penangkaran sendiri sebenarnya dilakukan sejak 2016.  Ketika ada pendampingan tersebut 2019 barulah dikembangkan penangkarannya hingga ratusan telur dengan dibentuk komunitas.  Setelah dilakukan penangakaran  secara mandiri dan ada pendampingan  itu barulah dibuat gerakan bersama dengan dibentuknya komunitas Salabia Simau.  Tujuannya bersama  melakukan penangkaran semi alami selanjutnya lepas liar ke alam  atau habtatnya.  Disebut semi alami karena  telur yang ada ditanam  di alat penangkaran alami di sekitar tempat bertelurnya, kemudian dirawat sebentar dikandang pemeliharaan lalu lepas liar.  

Kini setelah 5 tahun berlalu didukung dengan pendirian komunitas dan  dia sebagai koordinatornya, penangkaran sudah mulai berjalan baik meski   belum ada dukungan pemerintah.

Lalu apa  suka duka   merintis konservasi mamua ini? Soal itu Safri mengaku menghadapi tantangan luar biasa. Pertama ketika melakukan pendekatan kepada mereka yang memiliki lahan dimana mamua bertelur tidak diterima. Kedua memberikan pemahaman soal pentingnnya konservasi  yang ujungnya untuk warisan anak cucu di kemudian hari, kadang sulit diterima. Meski demikian katanya, dengan berbagai pendekatan kepada  empat pemilik lahan  akhirnya semua bersepakat mendukung gerakan  menjaga dan melindungi burung ini. Caranya ketika mereka memanen atau menggali  telur- telur mamua itu akan disisakan telur atau diantar telur- telur itu ke komunitas  Salabia untuk ditetaskan di kandang   penangkaran. 

“Sangat bersyukur karena ternyata warga Simau juga  banyak yang belum tahu bagaimana mengembangbiakan  burung ini termasuk melihat anakan burung ini secara langsung. Karena itu ketika kita tanam telur telur itu di pasir dan menetas lalu   lepasliar,   warga datang beramai ramai  menonton  dari dekat   sekaligus  menjadi pengetahuan bagi mereka lebih menjaga dan melindungi kekayaan ini.   

alat penangkaran alami yang dibuat oleh komunitas Salabia dan sarana belajar sejumlah KPA di Malut

Hasilnya juga sudah bisa dirasakan sekarang.  Saat ini burung mamua  yang  bertelur di kawasan pantai Simau sudah semakin banyak. Setahun belakangan, ketika masuk musim bertelur mereka bisa panen telur hingga ratusan butir per hari.  Ini berbeda dari sebelumnya  yang hanya beberapa puluh telur di saat musim bertelur sehari,” jelasnya. Sekadar diketahui burung mamua ini bertelur selama 6 bulan dalam setahun, 6 bulan berikutnya masa istrahat. Kalaupun dia bertelur hanya satu dua ekor saja.(*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 734
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

  • Bekali Aktivis Mahasiswa dan NGO dengan Pengorganisasian Masyarakat

    • calendar_month Sen, 20 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 634
    • 0Komentar

    Forum Studi Halmahera (Foshal) Maluku Utara menggelar Pelatihan Pengorganisasian Masyarakat Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di kantor Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)  Maluku utara  yang digelar  Sabtu (18/10/2025)  dan Jumat (19/10/2025). Pelatihan ini melibatkan  mahasiswa dan anggota lembaga   Walhi. Pelatihan   ini bertujuan memberikan penguatan kepada para aktivis mahasiswa dan anggota lembaga WALHI  memahami […]

  • Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 1.171
    • 0Komentar

    WALHI: 2019 Malut Kehilangan 7.041 Ha Hutan Primer Maluku Utara terdiri dari pulau-pulau. Ada yang menyebut jumlahnya 805, dimana  berpenghuni  85 pulau  dan tak berpenghuni  723 pulau. Ada  juga data yang menyebutkan  jumlah pulau di Maluku Utara  ada1474. Dari jumlah itu 89 berpenghuni dan 1385 tidak berpenghuni.  Terlepas dari data jumlah pulau yang masih diperdebatkan, […]

  • Kayu Besi di Hutan Halmahera yang Terancam  

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 1.397
    • 0Komentar

    Merbau atau ipil adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae). Karena kekerasannya, di wilayah Maluku, Maluku Utara  dan Papua barat  juga dinamai  kayu besi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menerbitkan peraturan yang dikhawatirkan mengancam keanekaragaman hayati dan ekologi hutan. Melalui Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 106 tahun 2018 […]

  • Gorengan Tak Baik untuk Buka Puasa

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 625
    • 3Komentar

    Gorengan menjadi menu favorit bagi sebagian besar orang sebagai santapan berbuka puasa. Dikutip dari (https://www.ugm.ac.id/id/berita/23594-  Dietisien FKKMK UGM, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD  tidak menyarankan gorengan dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Pakar-UGM itu  mengungkapkan,  alasannya bahwa  gorengan-tak-baik-untuk-buka-puasa sehingga sangat tidak direkomendasikan untuk berbuka. Hal ini  karena komposisinya dominan karbohidrat dan lemak tidak sehat.   […]

  • Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    • calendar_month Sab, 25 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus   Muhammad Sofyan Ansar, atau  biasa disapa Opan Jacky,  adalah seorang videographer sudah malang melintang  di bidang ini dengan membuat berbagai  film pendek maupun. Kali ini sebagai  orang yang berlatar belakang, kehutanan  dia mengabadikan aktivitas videografinya  dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan  […]

expand_less