Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 13 Feb 2023
  • visibility 711

Gane Timur adalah salah satu wilayah di Pulau Halmahera bagian selatan. Daerah ini menjadi produsen kopra dengan memiliki topografi datar. Ketika memasuki wilayah ini melalui jalan darat, tidak merasakan jalanan  mendaki atau berbukit. Dari perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan yakni desa Foya Tobaru hingga masuk ke Matuting di wilayah Gane Timur Tengah hingga  ke selatan,  jalanan melewati tepi pantai yang rata.

Ketika  kabarpulau.co.id/  menyusuri perjalanan darat dari Sofofi ibukota provinsi Maluku Utara menuju daerah itu, akhir Januari 2023 lalu ikut  merasakan perjalanan darat yang memukau. Kendaraan meluncur mulus di atas   jalanan yang licin  tak  ada ‘bopeng’ hingga ke desa Fida. Setelahnya melewati desa   Botonam merasakan jalanan   seperti gelombang karena rusak sana sini.  

Ketika memasuki perbatasan Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan memotong jalan sebuah sungai yang oleh warga sekitar mengenalnya dengan nama  Kluting. Sungai ini menurut pengakuan warga  Desa Foya Tobaru Gane Timur  jadi salah satu sumber banjir di desa mereka di kala datang musim hujan. Kondisi akan lebih parah jika di laut juga terjadi pasang naik. Air sungai meluber masuk kampung tak  terbendung.   

“Sungai yang berada tak jauh dari batas Halmahera Tengah dan Halsel ini menenggelamkan kampung  hampir setiap saat hujan. Apalagi jika datang pasang naik maka kampung tergenang hingga setinggi lutut,” jelas Roy Katedu tokoh masyarakat Desa Foya Tobaru.

Dia bercerita pada 2020 lalu kampung mereka tengelam  kurang lebih satu minggu. “Waktu itu BPBD Halsel juga turun mengambil gambar dan mengukur  panjang  talud penahan banjir kurang lebih 500 meter. Tapi sayang sampai saat ini tidak jelas kapan dibangun,” ujarnya.

Soal banjir  sudah menjadi  langganan warga ketika datang musim hujan. Karena kondisi wilayah yang datar ketika air di beberapa sungai di kawasan Gane Timur  meluap kampung menjadi tenggelam.

Apalagi di Desa Maffa ibukota kecamatan dan Kebun  Raja,  di bagian belakang kampung ini terdapat banyak sungai yang  melubar ke dua kampung tersebut jika terjadi banjir. 

Pada  2020  lalu  puluhan rumah dan beberapa objek vital di Desa Maffa dan Kebun Raja terendam banjir.

 Kala itu  banjir hingga setinggi lutut orang dewasa.  Hujan terjadi sekitar pukul 08.00 WIT. Air irigasi dan sungai Ake Taba meluap dan menggenangi jalan poros Desa Maffa dan Desa Kebun Raja. Selain jalan raya, air juga menggenangi  rumah warga.

Kondisi desa Foya Tobaru hujan sebentar saja kampung menjadi tergenang foto M Ichi

Kala itu objek vital seperti PLN, sekolah dan perkantoran juga terendam banjir. Akibat  banjir tersebut buah kelapa yang selesai panen  dan sudah terkumpul juga hanyut dibawa air.  

“Ini pengalaman yang terjadi berulang kali dan untuk mengatasinya perlu segera dibangun talud penahan banjir di daerah ini untuk mengatasi persoalan banjir,” kata Sulfi Kader tokoh masyarakat Desa Kebun Raja belum lama ini.  

Taha M Kasim tokoh masyarakat  Kebun Raja mengaku usulan  membangun talud penahan banjir ini sudah diasuarakan. Bahkan saat kejadian banjir 2020 lalu pemerintah provinsi melalui Dinas PU sudah turun melakukan pengecekan lokasi dan pengukuran bantaran sungai yang akan dibangun. Hanya saja sampai saat ini tindaklanjutnya belum juga jelas sampai sekarang.

Saat dilakukan pengukuran panjang  talud penahan banjir yang akan dibangun  di perbatasan desa Mafa dan Kebun Raja  sekira 500 meter.

“Sayang pembangunannya belum jalan. Padahal ini masalah paling strategis  berhubungan dengan hajat hidup orang banyak,” katanya. 

Lantas apa yang menyebabkan  banjir  berulangkali  di kawasan ini?

Warga setempat mencurigai banjir yang melanda desa mereka setiap ada hujan itu, karena eksploitasi hutan yang berlebihan di kawasan Gane Timur beberapa waktu lalu. Terutama hutan di daerah belakang kampung Mafa dan Kebun Raja yang sudah berlangsung lama.

“Kita tidak menyalahkan siapa siapa  tetapi kalau ada penebangan di daerah  hulu  pasti menimbulkan kerusakan dan dampaknya adalah banjir. Mereka eksploitasi hutan sudah berlangsung lama menyebabkan ada penggundulan di hulu,” kata Sulfi.

Mereka menyebut ada  beberapa perusahaan HPH yang mengeksploitasi hutan daerah Gane Timur    PT TW dan  SND yang setelah mengeksploitasi hutan,tapi tidak melakukan penanaman ulang dan menyebabkan penggundulan. “Akhirnya masyarakat yang jadi korban saat ini,” katanya.

Saat ini untuk menjawab kegelisahan warga  terkait bencana banjir berulang salah satunya harus segera mempercepat pembangunan talud penahan banjir di sungai yang ada di belakang desa tersebut.  “Kita tinggal  berharap pemerintah punya itikad baik untuk bangun talud. Jika tidak maka  hujan dan   banjir warga selalu menjadi korban,” harap  Sulfi.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tegas! Pulau Tak Boleh Diperjualbelikan

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 620
    • 0Komentar

    Maraknya  iklan dan pemberitaan penjualan pulau-pulau di Indonesia, membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan larangan tegas  adanya penjualan pulau. KKP memastikan tidak ada regulasi yang mengatur penjualan pulau maupun pulau kecil di Indonesia.  Di Maluku Utara beberapa waktu lalu sempat heboh adanya  isu penjualan gugusan kepualaun Widi Halmahera Selatan yang sempat ditawarkan melalui situs […]

  • Climate Right Internasional Desak Hentikan Sementara Tambang Nikel di Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 5 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 919
    • 1Komentar

    Pemerintah pusat harus merespons rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup atas pencemaran sungai  yang terjadi di Sagea Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara.  Demikian rilis resmi yang dikeluarkan Climate Rights International (CRI) akhir September lalu. Sekadar diketahui CRI adalah organisasi pemantauan dan advokasi iklim dan hak asasi manusia internasional yang didedikasikan untuk mencegah dan menangani pelanggaran hak asasi […]

  • Korban Lakalaut Tinggi, Butuh Kolaborasi Penanganan

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 673
    • 1Komentar

    Ketua POSSI dan SAR Ternate didampingi Danlanal Ternate menunjukan isi MoU yang telah ditandatantangani foto M Ichi

  • Eksplore Wisata Bawah Laut dengan Try Scuba

    • calendar_month Sen, 23 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 694
    • 0Komentar

    KNPI Ternate dan Dodoku Scuba Dive Centre Gelar Kerjasama Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara umumnya, memiliki keunikan  bawah laut yang belum dieksplore secara luas.   Keunikan ini bisa disaksikan  melalui  menyelam dan melihat langsung. Dalam menindaklanjutinya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Ternate bersama   Dodoku Dive Center  salah satu dive center di Kota Ternate,  menggelar  […]

  • Bersih Pantai, Monitoring Karang dan Tanam Mangrove

    • calendar_month Sab, 30 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 681
    • 0Komentar

    Aksi FPIK Unkhair di Hari Sumpah Pemuda   Salah satu persoalan yang cukup mengkhawatirkan di bidang lingkungan terutama di kawasan laut Pulau Ternate, adalah sampah. Lebih lebih untuk sampah plastik. Hasil  temuan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Khairun Ternate menunjukan, sampah plastik   yang diproduksi masyarakat Kota Ternate dan sekitarnya sudah sangat miris.    […]

  • Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

    • calendar_month Sel, 4 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 618
    • 0Komentar

    Ilustrasi kran yang airnya berjalan lancar

expand_less