Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Doho-doho Kemerdekaan  

Doho-doho Kemerdekaan  

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
  • visibility 866

Ironi Negeri El Dorado dan El Picente

Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga yang ditulis di Jamaika 7 Juli 1503).  

Isi surat yang saya kutip dari buku Jack Turner Sejarah  Rempah dari Erotisme Sampai Imprealisme ini, sebenarnya ingin memotret Maluku Utara.   Di sini tidak bermaksud menggambarkan perulangan sejarah pencarian Columbus pada Hindia yang kaya raya akan sumberdaya alam. Sebab apa yang Columbus  cari seperti dalam suratnya, ternyata dia temukan benua Amerika  bukan Hindia dalam misi pencarian El Dorado (emas,red) dan El Picente (rempah-rempah,red). Laporan Columbus  itu dimentahkan para penjelajah lain yang tidak menemukan jenis rempah apa pun. Columbus pun disebut sebut menuliskan sesuatu yang sifatnya hayali bahkan melakukan genocide di benua Amerika.

Terlepas dari itu, apa yang digambarkan dalam suratnya tentang  hasil bumi emas, mutiara dan rempah adalah sebuah kenyataan yang hari-hari ini jadi sumber berita yang mengisi ruang diskursus  tentang  negeri hindia yang kaya raya tersebut.

Terlalu  banyak catatan sejarah telah menulis  perjuangan, mempertahankan kekayaan alam yang direbut bangsa  bangsa Eropa zaman itu.

Lalu apa saja yang menghipnotis mereka,  hingga berlayar dari negeri yang jauh mendatangi pulau pulau terpencil dan tak tertera di peta dunia itu? Jawabannya sumber daya alam biji cengkih dan pala.

Giles Milton menulis dalam Pulau Run,Magnet Rempah rempah Nusantara  yang Ditukar dengan Manhattan, (2015), menyebut biji Pala adalah kemewahan paling diidamkan di Eropa abad ke 17.

Pala  misalnya adalah satu jenis rempah yang memiliki khasiat luar biasa untuk pengobatan. Sehingga itu orang orang mempertaruhkan nyawa mereka mendapatkannya.

Begitu juga pohon cengkih yang menghasilkan biji cengkih, begitu mahalnya, hingga ketika mencium baunya dijuluki aroma surgawi. 

Negara yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris  memiliki alasan  beragam. Mulanya,  ingin membeli dan bertukar barang, tetapi akhirnya menjajah lalu menguasai sumber daya alam dan hasil bumi lainnya. Maluku Utara sebagai bagian dari sebutan Hindia  zaman itu, menyimpan kekayaan yang tergambarkan seperti surga dunia. Dikejar dan diimpikan semua bangsa.  

Akan halnya hari hari terakhir ini, Eldorado di wilayah ini tidak hanya emas. Ada nikel,  biji besi dan beragam hasil  tambang lainnya.  Eldorado adalah sumberdaya alam yang terus diperebutkan. Sementara El picente redup karena tidak menjadi komoditas Negara yang dijadikan proyek strategis nasional (PSN). Elpicente yang lebih menjadi  komoditas rakyat bawah,  mesti diurus dan diperjuangkan sendiri agar bisa hidup dan menghidupkan.

El-dorado, hari hari ini meski menjadi sumber pemiskinkan dan menderitakan rakyat,  tetap dilindungi dan dijadikan obyek vital negara. Benar benar kemerdekaan yang terkekang. Merdeka karena  bebas mengakui bumi Indonesia dan segala isinya dikuasai Negara dan dipergunakan  sebesar besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Sebagaimana diamanahkan Pasal 33 UUD 45.

Tetapi di sisi lain, terkekang karena seluruh asset itu menjadi hak pemilik modal mengelola dan menghisapnya.  

Padahal, kalau menilik lebih jauh kata merdeka, menurut  Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional Terbitan Jakarta tahun 2012,  menyebutkan bahwa Merdeka artinya bebas. Baik dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya.

Merdeka juga memiliki makna  berdiri sendiri. Tidak terkena atau lepas dari  tuntutan, tidak terikat, tidak tergantung  kepada orang atau pihak tertentu.

Merujuk makna yang  telah disebutkan dalam buku setebal 1700 halaman itu, dikontekskan dengan kekinian  Maluku Utara dan Indonesia, maka akan memunculkan diskursus “Belum Merdeka dari  Penjajahan akibat biji emas, biji besi, biji nikel dan lainnya. 

Penjajahan karena biji tambang saat ini tidak mengangkat senjata seperti di zaman penjajahan  karena biji cengkih,  pala,  lada  kopi  dan lain sebagainya.    Tetapi dampaknya lebih menyakitkan  karena akan berlangsung turun temurun.

Hutan Halmahera yang Menghijau kini mulai dkuras Foto kawasan taman nasional TNAL foto Opan Jacky

Penjajahan  karena  ada biji- bijian  dalam perut bumi itu  makin menjadi– jadi. Mengharu biru kelompok proletar dan marhean.  Membuat semua mulut tersumpal  dari  suara lantang.  

Menarik melihat kemerdekaan mengelola dan memanfaatkan  kekayaan tak tepermanai yang tersimpan di bumi Maluku Utara. Terutama yang ada  Hale–mahera (tanah induk, bahasa Tidore,red) dan kepulauan sekawasan (Taliabu, Sulabesi, Obi, Bacan, Kasiruta) bersama empat persekutuan kerajaan  (moti verbond, red) serta Morotai, .

Kekayaannya sejak lama telah menghipnotis bangsa kulit putih. Tercatat  bangsa barat silih berganti datang  menjajah sebelum Negara pulau ini diproklamirkan 17 Agustus 1945. (sumbernya elpicente,red).   

Kini penjajahan itu masih saja ada.  Kolaborasi ras dalam menjajah semakin menghidupkan semangat menghisap dan menghabiskan sumberdaya yang ada. Ras kuning bersama elit sawo matang bersatu menghabiskan sumberdaya titipan anak cucu yang ada di perut bumi (el dorado,red).

Lihatlah Hal- Mahera. Dalam bahasa Ternate Hal berarti persoalan. Sementara Mahera yang berarti induk (induk persoalan,red) telah mencatatkan selaksa masalah yang akan diwariskan generasi hari ini dan  anak cucu di 20, 30, 50  hingga 100 tahun ke depan.

Pulau Obi salah satu negeri yang menyimpan eldorado, foto M Ichi

Hutan yang dulu menghijau kini kerontang, bulldozer menggeruduk tanah, debu membungkus kampong. Sungai berair bening  kini kuning keemasan. Hilang suara nuri dan kakatua hingga karamat para moyang yang kini entah di mana. Di sana datang puluhan ribu orang  mencari nafkah, tetapi suatu saat entah kapan, akan meninggalkan “sampah” yang  dipungut anak cucu bumi Hal—Mahera. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ternate Masuk 10 Kota Berketahanan Iklim Inklusive

    • calendar_month Rab, 13 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 722
    • 1Komentar

    Pelatihan rencana aksi iklim yang digelar Senin (1/10/2021)

  • Nikmati Tiga Mata Air di Hutan Mangrove Gamtala

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 719
    • 1Komentar

    Para pengunjung menikmati kawasan wisata hutan mangrove Gamtala

  • Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

    • calendar_month Sab, 4 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 703
    • 0Komentar

    Tanggul penahan ombak di desa Gane Dalam yang kini telah patah dan tenggelam dihantam gempa. Saat ini belum juga diperbaiki dan warga dalam keadaan terancam foto M Ichi

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 673
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

  • Mangrove Makin Terancam, Butuh Pelibatan Masyarakat

    • calendar_month Jum, 12 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 554
    • 0Komentar

    Kondisi hutan mangrove yang masih llebat di Kao Halmahera Utara, foto M Ichi

  • Merekam Sunset di Oba Tengah Tikep

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 606
    • 1Komentar

    Momen matahari terbit dan terbenam memang menakjubkan. Apalagi, jika  berada di tepi pantai, atau puncak gunung. Tidak heran banyak orang mencoba mengabadikannya menjadi sebuah foto. Meski kelihatannya mudah, namun untuk dapat foto sunset  dan surise yang sempurna cukup sulit. Apalagi, kadang turunnya sunset cukup sulit diperhitungkan waktunya. Dibutuhkan momen yang tepat dan kesabaran menanti momentum. Memang  bukan fotografer handal, […]

expand_less