Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Tiga Isu Fokus ICMI untuk Masa Depan Malut

Tiga Isu Fokus ICMI untuk Masa Depan Malut

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 24 Okt 2023
  • visibility 839

Ada banyak persoalan di bidang lingkungan yang menghantui dunia saat ini. Beberapa di antaranya  adalah dampak perubahan iklim (climate change) dan problem pangan. Sementara kepedulian public terhadap dua persoalan ini masih masih terbilang minim. Karena itulah  Organisasi Wilayah (ORWIL) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara menjadikan dua isyu ini    didorong  ke tengah masyarakat dan pemerintah  agar diperhatian sekaligus menjadi core ketika membuat kebijakan.  Setidaknya hal ini, menjadi tema pembicaraan ketika Pengurus ICMI Malut bertandang ke Kedaton Kesultanan Tidore  dan bertemu langsung Sultan Tidore Husain Sjah pada Selasa (17/10/2023) lalu.

Ketua Orwil ICMI Malut Dr Kasman Ahmad bersama sekretaris Dr Herman Oesman dan beberapa pengurus saat  diskusi terbatas dengan Sultan di pendopo kedaton kesultanan Tidore, sebelum menghadiri pelantikan ICMI Kota Tidore Kepulauan,  menyampaikan bahwa  ada  sejumlah soal besar  terutama di bidang lingkungan sepertinya luput dari perhatian  para pihak. Karena itu ICMI  menjadikan masalah  tersebut sebagai konsen penting.

Bertepatan dengan kegiatan  ICMI Annual Meeting yang rencana dilaksanakan di Ternate  pada  26 sampai 28 November  nanti  dan dihadiri Orwil ICMI di seluruh Indonesia hal ini menjadi tema utama.   “Ada sejumlah isu besar tetapi kami fokuskan pada isyu lingkungan secara umum, isu perbahan iklim dan persoalan pangan. Ini  menjadi isyu utama didorong untuk dibahas dalam ICMI Annual Meeting nanti,” jelas Kasman.

Menurut dia, persoalan ini begitu serius terutama di Maluku Utara yang mayoritas berada di pulau pulau kecil. Sejumlah persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat di Halmahera, Obi dan pulau lainnya karena adanya eksploitasi tambang. Ini mesti menjadi perhatian serius semua pihak terutama ICMI yang berisikan insane intelektual.

Dia bilang, ada ancaman serius yang dihadapi masyarakat terutama soal air, kesehatan maupun social ekonomi yang akan semakin dirasakan.  Hal ini di masa depan akan semakin berat.  Karena itu perlu mendapat perhatian.  

Tidak itu saja, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dampak perubahan iklim yang begitu nyata terjadi. Bahkan sudah dirasakan masyarakat di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. “Masalah  ini nyata di tengah tengah kita,” ujarnya.  

Masalah perubahan iklim yang dihadapi masyarakat di Pulau kecil cukup nyata. Gelombang yang menghantam berbulan bulan menyulitkan warga di Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua ini kadang sulit bepergian dengan kapal. foto M Ichi

Ketiga yang tidak kalah penting dihadapi Indonesia dan dunia saat adalah persoalan pangan. Hari hari ini karena persoalan pangan, misalnya  beras mahal lalu pemerintah meminta masyarakat mengkonsumsi pisang, sagu maupun pangan lainnya.

“Ini adalah fakta yang hari ini tidak bisa  kita nafikan. Karena itulah sudah saatnya semua pihak perlu didorong agar lebih peduli pada soal ini.  Maluku Utara yang wilayahnya berada di pulau pulau kecil menghadapi tiga problem itu sekaligus.  Keterancamannya cukup serius,” jelasnya.

Soal pangan misalnya, pulau pulau tidak punya cadangan pangan cukup saat menghadapi peristiwa ekstrem. Harapannya Halmahera tetapi ketika lahan lahan produktif petani sudah dikuasai tambang   maka harapan agar petani bisa menanam tidak bisa lagi.

Di tempat yang sama Sultan  Husain Sjah, berbicara soal penyelamatan lingkungan di Maluku Utara. Dia sedikit menyentil soal nasib Halmahera di masa depan. Terutama dampak tambang terhadap masyarakat dan lingkungan  yang mereka tinggali. Dia bilang, ada masalah strategis terkait lingkungan di Halmahera dan beberapa pulau lainnya yang perlu diberi perhatian. Dia juga  menyentil soal suara suara untuk kembali memekarkan Halmahera menjadi provinsi. “Silakan itu hak semua orang tetapi perlu memperhatikan persoalan stratagis lingkungan di Pulau Halmahera. Per hari hari ini persoalan tanah, air dan banyak masalah social dihadapi masyarakat. Saya tantang mereka yang teriak teriak itu apa tidak punya izin-izin tambang,” katanya.

Diskusi yang berlangsung kurang lebih satu jam itu turut membahas politik electoral terutama Pemilu 2024  yang semakin dekat. Usai diskusi tersebut kegiatan ICMI dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus ICMI Kota Tidore Kepulauan yang dipimpin Orwil ICMI Maluku Utara. ICMI Kota Tidore Kepulauan dinakhodai oleh Yusuf Kamis yang juga dosen ISIPOL di Unversitas Nuku Tidore. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • AIR

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 814
    • 1Komentar

    Sungai Tayawi di Taman Nasional Ake Tajawe Sofyan Ansar

  • Riset SIEJ:Suara Masyarakat Adat Minim Tampil di Media

    Riset SIEJ:Suara Masyarakat Adat Minim Tampil di Media

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Didominasi  DPR dan Masyarakat Sipil     The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat menyelenggarakan Green Editor Forum: Membaca RUU Masyarakat Adat dalam Pemberitaan Media Massa. Forum ini mempertemukan editor media, organisasi masyarakat sipil, anggota DPR RI, akademisi, dan perwakilan masyarakat adat untuk memperkuat […]

  • Dua Masalah di Tiga Pulau Halmahera Selatan   

    • calendar_month Jum, 11 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 1.145
    • 3Komentar

    Transportasi Tak  Aman, Energi Terbarukan Tak Terurus Jika Anda berangkat menuju  bagian Selatan Halmahera Maluku Utara, menuju  gugusan pulau Guraici,  Moari dan Kasiruta maka akan menyinggahi kampong- kampong di pulau tersebut.  Akhir Juli 2023 tepatnya 25 hingga 1 Agustus lalu kabarpulau.co.id/  mendatangi  beberapa pulau di kawasan itu, dalam satu tugas liputan mengenai pemanfaatan sumberdaya energy […]

  • DOB Pulau Obi Harus Digaungkan Lagi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 995
    • 0Komentar

    Pulau Obi atau bisa disebut juga Pulau Obira menjadi perhatian berbagai kalangan. Merupakan pulau terbesar yang terletak di gugusan Kepulauan Obi, dikelilingi banyak pulau- pulau kecil di antaranya Pulau Obilatu, Pulau Bisa, Pulau Gata-gata, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini. Data Halmahera Selatan Dalam Angka 2018  menunjukan luas Obi mencapai 1.073,15 km², dengan jumlah penduduk mencapai 2020 berjumlah 16.628 jiwa. Pulau Obi […]

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 748
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 1.046
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

expand_less