Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
  • visibility 922

Ketua Panitia: Semua Kesiapan  Sudah Maksimal, Siap  Digelar Oktober  

Pihak  Kesultanan Ternate  akan   menyelenggarakan Festival Legu Tara No Ate 2025. Kegiatan ini rencana dilaksanakan  pada  16  hingga 18 Oktober 2025. Acara ini akan dipusatkan di Lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate.

Legu Tara No Ate 2025 ini sendiri merupakan Iven festival  budaya pertama yang terselenggara atas kerjasama  pihak kesultanan Ternate  dan warga kelurahan Mangga Dua, Toboko dan Bastiong. Acara ini  mengusung tema “Menjalin Rasa, Merawat Warisan di Tanah Leluhur”,

Ketua Panitia Festival Legu Tara No Ate 2025, Syarif Abdullah, kepada Halmaherapedia.com menjelaskan, festival ini akan menjadi ruang kolaborasi budaya, edukasi, dan kebersamaan masyarakat Ternate.    Festival ini  rencana dibuka oleh Menteri Kebudayaan, Fadly Zon, bersama Ibu Gubernur Maluku Utara, Serly Laos, sebagai penanda  dimulainya rangkaian kegiatan budaya terbesar di Maluku Utara tahun ini.

Kedaton Kesultanan Ternate,foto Opan

Dijelaskan ada beberapa agenda   utama festival.  yakni, Pawai Obor bersama ribuan warga Kota Ternate dari berbagai kalangan yang akan membawa obor berkeliling kota.  Aksi ini merupakan simbol persatuan dan doa untuk keselamatan bersama. Ada juga Ritual “Sou Gam”. Ritual ini adalah  ritual adat khas Ternate, yakni Fere Kie, Kolokie Kie, dan Ziarah Kutub, sebagai bentuk syukur kepada Sang Kuasa dan penghormatan pada leluhur.

Ada juga   Oho Ngogu Rimo merupakan  acara jamuan makam malam dengan para tamu kehormatan yang di gelar secara terbuka di kedaton kesultanan Ternate.  “Yang unik dari jamuan makan malam ini adalah terdapat  menu makanan yang disajikan berupa makanan  tradisional khas Ternate dan tidak menggunakan peralatan makan  modern namun menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Syarif.

Selain itu ada juga  Dapur Rempah Kie Raha  yang merupakan  kompetisi atau lomba memasak makanan khas berbahan rempah yang mengangkat kekayaan tradisi kuliner dari empat kerajaan besar di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo (Kie Raha). Sajian kuliner berbasis rempah, menegaskan identitas  Ternate sebagai  negeri rempah dunia. Selain sarat   kegiatan pelestarian budaya dan tradisi, Legu Tara No Ate juga mengampanyekan   pentingnya menjaga dan  melestarikan lingkungan sekitar serta aksi nyata  “Gerakan Bumi Lestari”.  “Gerakan ini adalah Kampanye lingkungan untuk mendorong kesadaran akan  pentingnya menjaga bumi dari kerusakan.

Syarif Abdullah   bilang seluruh persiapan telah dilakukan secara matang, melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah daerah, hingga komunitas.  “Kami bersama tim panitia sudah bekerja keras sejak beberapa bulan terakhir untuk memastikan Festival Legu Tara No Ate 2025 berjalan sukses. Seluruh rangkaian kegiatan disusun bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai media edukasi, spiritual, dan pelestarian warisan leluhur. Kami ingin festival ini menjadi kebanggaan masyarakat Ternate sekaligus daya tarik wisata budaya nasional,” ujar Syarif Abdullah.

Ia menambahkan, keterlibatan aktif masyarakat akan menjadi kunci suksesnya festival ini. “Mulai dari Pawai Obor hingga ritual Sou Gam, semua menghadirkan partisipasi masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang membuat Legu Tara No Ate berbeda dan selalu dirindukan .

Festival Legu Tara No Ate tidak hanya berfungsi sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai upaya memperkuat sektor pariwisata di Maluku Utara. Dengan kombinasi ritual adat, seni pertunjukan, kuliner, hingga ruang edukasi. Festival ini diharapkan menarik ribuan pengunjung, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Sultan Hidayatullah Sjah

Sementara   Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, dalam pernyataannya   menyampaikan  pentingnya menjaga keberlanjutan festival.  “Legu Tara No Ate adalah ikhtiar merawat warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan dengan zaman. Ini momentum   memperkuat persaudaraan, mempererat silaturrahmi dan memupuk kebersamaan kita semua khususnya masyarakat Moloku Kieraha. Festival ini menjadi ruang generasi muda untuk belajar, berbangga, sekaligus menjaga identitas budaya kita,” ujarnya.

Sultan yang juga  sebagai anggota DPD RI itu, mengajak  seluruh masyarakat  berpartisipasi aktif dan ambil bagian  dalam   festival ini. Dikatakan   kegiatan ini  milik warga Maluku KieRaha yang menjadi cermin kekayaan budaya daerah yang harus terus  dilestarikan dan kembangkan.  “Legu Tara No Ate bukan hanya wadah  pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga momentum  memperkuat persaudaraan, mempererat  jati diri Moloku Kieraha, serta menginspirasi generasi muda agar bangga pada warisan leluhur,” tutup Sultan.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Apa, Kecelakaan Nelayan Selalu Berulang?  

    • calendar_month Ming, 4 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 868
    • 0Komentar

    Sebulan Tiga Orang  Jatuh dan Tewas  di Laut Tingkat kecelakaan nelayan makin mengkhawatirkan. Para nelayan  dengan perahu  kecil saat mencari ikan berulangkali  alami kecelakaan.  Terbaru  nelayan  Morotai yang keluar melaut selama tiga hari belum kunjung pulang. Laporan  yang diterima pihak Basarnas  nelayan bernama Kasmin Bangunan (45) asal Desa Tanjung Saleh Kabupaten  Pulau Morotai, Maluku Utara […]

  • SYUKURAN WISUDA

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 1.025
    • 0Komentar

    Wisuda sarjana yang dilaksanakan Universitas Khairun Ternate pada 18/3/2023

  • Maluku Utara Masuk Habitat Dugong di Indonesia Timur

    • calendar_month Ming, 12 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.732
    • 0Komentar

    Dugong yang ditemukan mati di Desa Cendana Morotai beberapa waktu lalu foto M Ichi

  • Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 724
    • 0Komentar

    Meremas pokok sagu yang dipukul atau orang kampung menyebutnya dengan Oro untuk mendapatkan tepung sagu/foto hiar

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 726
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

  • UGM Riset Kosmopolis Rempah di Malut

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 734
    • 1Komentar

    Sudah Jalin Kerjasama dengan Pemkab Halut Wilayah Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai penghasil  rempah pala dan cengkeh.  Tak salah di Kota Ternate misalnya saat ini membangun icon kotanya dengan sebutan   Kota Rempah. Karena itu juga  Maluku Utara patut menyandang The Spicy Island  karena menjadi penghasil rempah yang merupakan sebuah warisan masa lalu Upaya mengembalikan kejayaan […]

expand_less