Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
  • visibility 1.367

Penulis: Jamal Adam.

Animal Keeper Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Halmahera

Pulau Halmahera di Maluku Utara tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan sejarah panjang masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Salah satu   yang menarik untuk ditelusuri adalah perjalanan suku Togutil, yang kini dikenal sebagai suku Tobelo Dalam.
Mereka bukan sekadar masyarakat pedalaman, tetapi juga bagian dari mozaik sejarah yang telah mewarnai perjalanan Kesultanan Tidore di masa lalu.

Jejak Awal di Masa Kesultanan Tidore

Sejarah mencatat bahwa pada masa kejayaan Kesultanan Tidore, wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Halmahera, termasuk daerah pedalaman di mana suku Togutil hidup.

Walaupun mereka hidup jauh dari pusat pemerintahan, suku Togutil memiliki peran penting sebagai penjaga wilayah darat dan hutan-hutan strategis di pedalaman Halmahera.
Sumber lisan dan catatan budaya lokal menyebutkan bahwa kelompok-kelompok Togutil dulu dikenal sebagai orang yang hidup di hutan yang tunduk pada aturan kesultanan, meski tidak terlibat langsung dalam birokrasi atau sistem perdagangan. Mereka sering dianggap sebagai penyambung pesan, penunjuk jalan, sekaligus pelindung jalur darat yang menghubungkan wilayah Halmahera bagian timur dan barat, terutama saat masa-masa peperangan antara Tidore dan Ternate.

Masyarakat adat Tobelo Dalam di hutan Halmahera, foto Opan Jacky

 

Dalam pandangan Kesultanan Tidore, masyarakat Togutil dihormati sebagai “orang gunung” yang menjaga wilayah-wilayah sakral dan sumber air. Beberapa kisah bahkan menyebut mereka sebagai penjaga hutan keramat atau tempat peristirahatan leluhur para bangsawan. Hubungan itu bersifat resiprokal: pihak kesultanan menghormati eksistensi Togutil, sementara Togutil menunjukkan loyalitas simbolik melalui hasil hutan seperti damar, madu, dan rotan yang diserahkan dalam ritual adat tertentu.

Masa Peralihan dan Keterisolasian
Namun, ketika pengaruh kolonial mulai masuk ke Maluku Utara pada abad ke-17 hingga 19, struktur sosial Kesultanan Tidore mengalami perubahan besar.
Wilayah pedalaman semakin terpinggirkan, dan masyarakat Togutil perlahan terputus dari sistem sosial dan ekonomi luar.
Banyak dari mereka memilih kembali lebih dalam ke hutan untuk menghindari kontak dengan kolonial, sehingga kehidupan mereka menjadi semakin tertutup.
Keterisolasian inilah yang kemudian membuat masyarakat luar memberi label “Togutil”, yang dalam konteks lokal sering diartikan sebagai “orang yang bersembunyi di hutan”.
Sayangnya, seiring waktu, istilah ini mendapat konotasi negatif — seakan menggambarkan mereka sebagai kelompok primitif atau tertinggal. Padahal, di balik itu tersimpan kearifan ekologis dan filosofi hidup yang mendalam tentang keseimbangan dengan alam karena mereka ( Suku ini ) adalah pemilik konservasi sejati.

Transformasi Identitas: Dari “Togutil” ke “Tobelo Dalam”
Memasuki masa kemerdekaan dan pembangunan nasional, perhatian pemerintah terhadap masyarakat pedalaman semakin meningkat.
Peneliti antropologi dan lembaga konservasi yang bekerja di kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata mulai mengkaji ulang istilah “Togutil”. Mereka menemukan bahwa masyarakat ini sebenarnya merupakan bagian dari rumpun Tobelo, hanya saja hidup di pedalaman hutan. Oleh karena itu, untuk menghapus stigma dan menghormati identitas budaya, istilah “Togutil” mulai diganti dengan “Tobelo Dalam”, yang berarti “masyarakat Tobelo yang hidup di dalam (hutan)”.
Perubahan istilah ini secara resmi mulai digunakan oleh pemerintah daerah Maluku Utara dan Kementerian Sosial melalui program Komunitas Adat Terpencil (KAT) sejak awal tahun 2000-an.

 

Kehidupan Modern dan Upaya Pelestarian
Kini, sebagian kelompok Tobelo Dalam mulai berinteraksi dengan dunia luar. Mereka mengikuti pendidikan dasar, menerima layanan kesehatan, dan terlibat dalam kegiatan konservasi di taman nasional.
Namun, sebagian lainnya masih memilih untuk tetap hidup dengan cara lama: berburu, meramu, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sesuai siklus alam.
Pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata berupaya melakukan pendekatan budaya, bukan paksaan. Tujuannya agar Tobelo Dalam bisa menikmati manfaat pembangunan tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokal mereka. Program seperti pemberdayaan berbasis adat, pelatihan konservasi, dan perlindungan lahan tradisional menjadi bagian penting dari langkah ini.

Makna Historis dan Sosial

Perjalanan dari Togutil hingga menjadi Tobelo Dalam adalah simbol transformasi yang sarat makna.
Dari masa Kesultanan Tidore hingga era modern, mereka tetap menjadi penjaga hutan dan nilai-nilai leluhur Halmahera.  Meski banyak hal berubah di dunia luar, kehidupan masyarakat Tobelo Dalam tetap berpegang pada prinsip harmoni dengan alam — warisan yang telah mereka jaga sejak masa para Sultan Tidore.
Bagi masyarakat Maluku Utara masa kini, mengenal Tobelo Dalam berarti juga menghargai akar sejarah yang menghubungkan adat, kesultanan, dan konservasi alam dalam satu benang merah.
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata,Iwan Efendi,S.Pi.,M.Sc., “Selama hutan masih berdiri, semangat Suku Tobelo Dalam (MTD) tetap hidup.”

Sumber:
1. Mongabay Indonesia. (2023). Tobelo Dalam, Menjaga Tradisi di Tengah Hutan Halmahera.
2. Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. (2022). Laporan Pemberdayaan Masyarakat Tobelo Dalam.
3. Kementerian Sosial RI. (2021). Data Komunitas Adat Terpencil (KAT) Provinsi Maluku Utara.
4.Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Suku Togutil.
5. Lembaga Kebudayaan Tidore. (2020). Catatan Adat dan Masyarakat Pegunungan Halmahera Timur.

 

 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Tetapkan Hiu Berjalan Dilindungi Penuh

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 602
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan perlindungan populasi ikan hiu berjalan (hemyscillium spp) dengan status perlindungan penuh. Penetapan status tersebut bertujuan menjaga dan menjamin keberadaan,ketersediaan dan kesinambungan spesies tersebut yang cenderung mengalami penurunan populasi dalam beberapa tahun terakhir. Rilis resmi KKP pada Rabu (22/2/2023) menyempaikan bahwa Keputusan Menteri Keluatan dan Perikanan telah mengeluarkan keputusan nomor […]

  • Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 630
    • 1Komentar

    Air bersih menjadi kebutuhan paling urgen. Mulai dari makan minum hingga  mandi, cuci dan kakus (MCK). Setidaknya, hal ini juga sedang dialami warga  Desa Aer Mangga Kecamatan Obi Pulau Obi Halmahera Selatan. Saat kabarpulau co.id mengunjungi Desa itu Senin (6/2/2023) pekan lalu, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat menyuarakan  keluhannya terkait masalah yang mereka hadapi […]

  • Miris, RPJMD Kabupaten Ini Tanpa KLHS

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 665
    • 1Komentar

    Peta Kabupaten Pulau Taliabu

  • Bawa Program Konservasi Air Tanah dan Energi, BesaMacahaya Hadir di City Sanitation Summit 

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 713
    • 1Komentar

    City Sanitation Summit  (CSS) merupakan agenda nasional tahunan yang diselenggarakan Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI). Tahun ini merupakan yang ke-23, sementara  penyelenggaraannya dilakukan oleh Pemerintah Kota Ternate. CSS XXIII  bertema Sanitasi berkelanjutan melalui partisipasi dan inovasi pengelolaan sampah berbasis kota pulau itu turut digelar beberapa kegiatan. Salah satunya rangkaian kegiatan   Festival Sanitasi, Budaya dan UMKM yang berlangsung di Benteng Oranje 29-hingga […]

  • Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 563
    • 0Komentar

    Pemetaan kondisi terkini kawasan ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia diharapkan sudah ada pada 2019 mendatang. Proses mengungkap data terbaru itu, akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). (Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/07/19/indonesia-petakan-kembali-mangrove-untuk-karbon-biru/) Kebutuhan pemetaan data terbaru itu, menurut Deputi IV Bidang SDM, Iptek, dan […]

  • Aksi Hari Tani, Desak Wujudkan Reforma Agraria

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 638
    • 1Komentar

    Peringatan Hari Tani yang diperingati setiap  24 September  diperingati juga oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara bersama sejumlah organisasi gerakan mahasiswa  di Maluku Utara. Perayaan Hari Tani 2023 yang bertepatan dengan 63 tahun kelahiran UU Nomor 5/1960 tentang Undang–undang pokok Agraria (UUPA) itu, para aktivis turut menyuarakan  berbagai ketimpangan terkait persoalan agraria di daerah […]

expand_less