Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 21 Feb 2019
  • visibility 375

Bantu Suami Menjaring Ikan dan Menanam Rumput Laut   

Fajar baru menyingsing di ufuk Timur Pulau Kolorai. Pulau kecil berpasir putih seluas 8 hektar  dengan laut tosqoea   subuh itu disapu angin  timur  yang dinginya  menusuk   hingga ke tulang- tulang.  Sepagi  itu, dalam suasana gelap dan dingin, ada seorang  perempuan berusia sekitar 38 tahun, tetap bangun pagi  membantu suaminya  turun ke laut  menangkap ikan.      

Pagi di akhir Oktober 2018, meski baru sekira pukul 05.00 WIT, Nurhayati Bahdar atau Yati biasa  disapa,  tak mau berlama- lama  tidur. Dinginnya laut dan udara pagi  dianggap sudah biasa.  Bersama suaminya Bahdar (50) turun ke laut, mencari ikan untuk dijual jika ada hasil lebih  dan  sebagian untuk dimakan.

Hari itu tak lama memang, Nurhayati bersama suaminya  turun ke laut menjaring ikan pelagis yang setiap saat ada di sekitar laut  Kolorai dan Dodola. Hanya  butuh waktu kurang lebih 3,5 jam   ikan yang biasa bermain setiap pagi di atas laut yang tidak terlalu dalam di bagian utara Kolorai itu berhasil masuk jaring mereka. Memang, dalam beberapa kali melempar jaring tidak ada hasilnya. Namun   lumayan mereka dapatkan  hasilnya setelah  memasang jaring  keempat kalinya. Mereka  mendapatkan ikan setengah ember besar.  Ikan  jenis barakuda yang masih kecil.  Warga Kolorai menyebutnya  ikan suo. 

Ketika matahari  mulai meninggi dan waktu menunjukan sekira pukul 8.30 WIT  pasangan suami istri yang telah dikaruniai dua anak ini pulang. Wajah  sumringah,    tidak   ada rasa  lelah.   Yati bergegas melemparkan   sauh   ke laut tanda perahu telah sandar.  Perahu fiber bermesin 25 PK (power horse)  saat sandar di pantai yang tak jauh dari tambatan perahu desa Kolorai itu, langsung dikerubuti warga  yang akan membeli ikan. Ikan yang didapat laris terjual Rp200 ribu. Sekira  tiga jam  mereka sudah mendapatkan uang  sebanyak  itu dan  ikan   makan siang hari itu.

“Seperti inilah pekerjaan kami membantu suami  bersama turun ke laut karena bagian dari mencari uang. Jika ada hasilnya menjadi uang belanja sehari-hari. Sudah jadi kebiasaan ibu-ibu di sini (Kolorai,red) jika mau mendapatkan uang cepat  ikut membantu suami menjaring ikan atau mengail,” ujar Yati usai ikannya laris terjual.   

Apa yang dilakoni  perempuan Kolorai seperti  Nurhayati ini,  adalah bagian dari cara hidup yang sudah berlangsung turun temurun. Cara ini dilakukan karena hidup di pulau sekecil Kolorai  dengan keterbatasan sumberdaya dan pekerjaan hanya sebagai nelayan,  memaksa  mereka harus gesit dan lincah melihat   peluang.  

Pekerjaan ini hampir setiap saat dilakoni. Tak sekadar  membantu suami mencari nafkah. Lebih dari itu menjadi sebuah pekerjaan yang  bermanfaat  juga bagi  mereka.  “Torang nikmati karena  karena torang  juga dapa doi (uang,red) ,” ujarnya lagi.   Yati   adalah satu diantara banyak perempuan di pulau Kolorai Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, yang selalu membantu suami turun ke laut mencari ikan.

Lain   pula cerita Maryani  Muhammad. Perempuan  yang   satu-satunya  mengolah  ikan asin sebagai mata pencaharian utamanya itu mengaku juga melakukan hal yang sama yakni turun ke laut membantu suaminya  menjaring ikan jika  stok ikan untuk bahan ikan  asin habis. 

Di temui di Minggu siang di akhir Oktober akhir 2018  lalu, Maryani   tidur- tiduran di bawah pohon ketapang tepi pantai di depan rumahnya. Dia  mengaku, siang itu sedang menuggu suaminya   turun  menjaring ikan tak jauh dari pulau Kolorai. Perahu milik suaminya yang   menjaring ikan, juga masih kelihatan  dari  tempat Maryani  beristrahat.  Hari itu Maryani mengaku tak  mengolah ikan   asin  karena sedang kehabisan bahan baku. “ Sudah beberapa hari ini torang (kami,red) belum bikin ikan asin karena kehabisan stok. Sementara menunggu suami saya pulang menjaring ikan. Jika ada hasil   akan dibuat ikan  asin” katanya.

Maryani menjadi satu- satunya warga Kolorai yang masih tetap mengolah ikan  asin. Saat ini sebagian besar pengrajin ikan asin telah beralih usaha. Kalaupun masih bertahan sebagian besar   membuat kelompok pengrajin ikan asin.

Maryani dan suaminya Muhammad memilih tak ikut membuat kelompok .”Kami usahakan sendiri saja, Saya selalu membantu suami  untuk membuat ikan asin. Buatan saya dan  suami masih  diminati. Nyatanya setiap ada tamu atau  berbagai kepentingan buah tangan,  pemerintah desa selalu mengambil ikan asin buatan kami,” katanya.  Aktivitas Maryani  juga  nyaris sama  dengan perempuan umumnya di Kolorai. Pasalnya  tidak hanya membuat ikan asin tetapi   turun langsung  menjaring atau mengail ikan bersama suaminya.

Keseharian perempuan- perempuan di Kolorai terbilang  tangguh. Menjalani hidup di tengah keberbatasan sumberdaya di darat maka jalan hidup yang ditempuh adalah menggantungkan seluruh   harapan itu dari laut.  

Mereka  tidak hanya mencari ikan,  tetapi juga menggerakan usaha  lainya di bidang perikanan   yang  memiliki nilai  tambah lebih untuk  pendapatan. Contoh paling konkrit adalah pulau Kolorai dulunya  adalah sebuah pulai penghasil rumput laut   terkenal di Maluku  Utara. Rumput laut dari pulau ini tidak hanya dijual di tingkat local Morotai dan Maluku Utara tetapi melalui beberapa pengusaha   Manado Sulawesi Utara, berton-ton  rumput laut dijual ke Sulut. 

Cerita sukses tentang rumput laut di pulau ini memang mengalami pasang surut.  Warga Pulau ini mengalami masa jaya produksi rumput laut sekitar 1999 sampai 2003.  Sebelum   konflik horizontal   menghantam sejumlah wilayah di Maluku Utara, rumput laut Kolorai menjadi  sumber  pendapatan utama warga  setempat.   Seiring waktu karena serangan penyakit ice-ice yang luar biasa mereka tak bisa lagi  mengandalkan rumput laut sebagai sumber pendapatan. Tidak itu saja warga pulau ini benar-benar  tidak lagi mengusahakan rumput laut dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika kabarpulau menyambangi pulau ini akhir Oktber 2018 lalu, warga desa ini kembali mencoba dengan membuat percontohan menamam kembali rumput laut.  Mereka sedang giat-giatnya    menanam  rumput laut di kawasan  laut antara Kolorai dan Dodola.  Dibantu Balai  Latihan Masyarakat (BLM) Ambon yang memiliki wilayah kerja sampai ke Maluku Utara,   mereka mencoba kembali menanam rumput laut. Dalam kegiatan ini  lagi-lagi perempuan  menjadi tulang punggung. Puluhan perempuan  menyiapkan media tanam, mengikat bibit sampai ikut turun ke laut.  Dibantu beberapa suami, mereka  menyelam menurunkan ke dalam laut bibit-bibit itu.      

Upaya awal ini diharapkan mengulang kembali cerita sukses  pengelolaan rumput laut di pulau ini.  Pasalnya  kisah  tentang rumput laut waktu itu meninggalkan bukti berupa rumah-rumah beton    yang berdiri kokoh hingga kini. Rumput laut telah mengubah hidup mereka waktu  itu.  “Masa jaya rumput lautlah   membuat rumah- rumah warga Kolorai ini bagus. Waktu itu berton-ton rumput laut di Kolorai di jual ke luar termasuk ke Manado dan beberapa kota lainnya di Indonesia Timur,” ujar   Nurhayati.

Di akhir tahun 1999 menjadi salah satu orang yang ikut mengusahakan rumput laut di Kolorai. Tidak itu saja dari hasil rumput lain  menopang hidup mereka termasuk ikut membangun sebuah rumah beton  yang   mereka tinggali saat ini.  Cerita tentang rumput laut dan perempuan sebagai penggeraknya saat ini masih hidup. Ini terlihat dari kerja-kerja mereka yang cekatan dan telaten ketika  mengikat dan menempatkan bibit  rumput laut. 72 kilogram bibit rumput laut yang  dijadikan media percontohan   itu selesai tidak cukup sejam.” Ini aktivitas kami  jadi kami sudah lincah,”  kata Amina salah satu perempuan saat bersama rekan-rekannya mengikatkan bibit  dan beton yang menjadi pemberatnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 630
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 537
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

  • Kebijakan Donald Trump Berdampak ke Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 617
    • 0Komentar

    Program USAID BerIKAN Terancam Ditutup Terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru  Donald Trump  memberi dampak bagi  pemberian donor bagi sejumlah Negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan dampaknya sampai ke Maluku Utara.  Salah satu yang  ikut berdampak dari kebijakan Donald Trump itu adalah  closing program  Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau  yang dikenal dengan USAID.  Lembaga […]

  • Ternate Kaya Keanekaragaman Hayati Laut

    • calendar_month Ming, 28 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 559
    • 1Komentar

    Dari Terumbu Karang hingga Fauna Kharismatik   Laut Pulau Ternate memiliki kaneakaragaman hayati yang luar biasa. Tidak hanya  jenis terumbu karang dan ikan kecil, tetapi juga satwa laut kharismatik. Di kawasan laut ini juga ada  hewan laut endemic seperti  hiu berjalan. Di beberapa lokasi di laut pulau Ternate ditemukan beberapa jenis satwa kharismatik laut seperti […]

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 377
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

expand_less