Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • visibility 225

Banjir dan Longsor  Berulang  hingga Nelayan Terus  jadi Korban di Laut

Hari jelang sore di Rabu (17/9/2025) itu, Salma M Arif dan suaminya Ongen Ramli warga Kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, berada di dalam rumah. Mereka  baru saja pulang ke rumah setelah  aktivitas di luar. Sore itu, berawan mesti seharian  tidak terjadi hujan. Tiba-tiba mereka dikejutkan  teriakan warga agar segera keluar dari rumah mengungsi menjauhi area barangka atau kalimati. Warga sekitar kuatir tiba-tiba banjir turun dari daerah gunung mengikuti,  barangka  yang dulunya  jalan lahar.

“Memang di kampong tidak terjadi hujan tetapi ada kemungkinan di puncak  hujan lebat membuat air masuk barangka sangat banyak kemudian turun membawa material   batu pasir,”kata Ongen.

Bagi Salma dan Ongen kejadian ini sangat menghkawatirkan karena  rumah mereka di atas bukit  tak jauh dari sebuah kali mati kecil yang berjarak kurang lebih 15 meter. Karena  kuatir terdampak air meluap  dari  kali mati  di samping rumah jadi mereka ikut panik. Hanya saja  memilih belum keluar rumah.

“Teriakan warga  itu Torang (kami,red) panic. Memang trauma karena kejadian hujan dan banjir di kelurahan Rua ini sudah berulang kali bahkan menimbulkan korban jiwa tidak sedikit seperti pada 20204 lalu,”kata Salma ditemua di rumahnya  akhir Oktober lalu.

Tidak hanya Salma dan suaminya, cerita Rifandi B Lutfi warga Kelurahan Rua di RT 02 juga sama. Dia bilang sore itu, sedang menjaga kiosnya di tepi jalan raya pulau Ternate. Dia dan warga sekitar  tak menyangka banjir datang  tiba- tiba. Padahal di kampong  tidak terjadi hujan.

Proses pencarian korban yang tertimbun material saat banjir bandang di Rua Ternate 2024 Foto BNPB

Rumah Rifandi  berjarak kurang lebih 20 meter dari  kali mati terlihat sudah banjir dengan suara air dan material batu pasir yang terbawa, membuat dia dan keluargnya  panik. Dia terpaksa ikut mengungsi ke tempat yang dianggap aman di kelurahan Rua  untuk  hindari hal-hal yang tidak diinginkan.

”Trauma warga kelurahan Rua ini luar biasa. Jadi kalau sudah hujan semua  bersiap-siap menghindari  kemungkinan banjir yang terjadi,” katanya  akhir Oktber lalu.

Fandi ia biasa disapa, sangat kuatir karena kondisi rumahnya  berada tidak jauh dari kali mati. Dia bilang kejadian itu berulang. Banjir 17 September 2025 kemudian  terulang lagi pada 19 September.  Saat banjir turun  dari gunung volume air besar dan ada bau belerang. Artinya ada material dari gunung Gamalama yang kemungkinan ikut terbawa dalam banjir tersebut.

Topografi kelurahan Rua memang sangat rawan banjir dan longsor di saat hujan. Kampung ini rumah- rumahnya berada di perbukitan. Sementara di kawasan puncak  belakang kampong ada jalan lahar yang membentuk kali mati dan masuk ke kampong. Di belakang  kampong Rua  menurut Rifandi ada kali mati besar yang turun dari kelurahan Foramadiahi di kawasan puncak,sampai belakang Kampung Rua. Jalan lahar besar terbagi menjadi 8 kalimati  tanpa air yang membelah Rua. Banyaknya sungai tanpa air itu saat hujan seperti sekarang membuat, warga  selalu awas dan waspada  banjir selalu mengintai.

Banjir yang tiba tiba turun dari gunung saat hujan lebat di puncak Kelurahann Rua pada 19 September 2025 lalu, foto membuat panik warga hingga sebagian mengungsi, foto Rifandi

“Cukup banyak kali mati dari gunung turun ke Kelurahan Rua. Kalau kami hitung dari yang besar hingga yang kecil ada 8 dan itu bersebelahan dengan rumah-rumah warga,” jelas Rifandi.

Soal banjir di Kelurahan Rua memiliki sejarah panjang. Data tujuh tahun terakhir menunjukan kejadian berulang. Sejak 2017 lalu hingga 2025 ini banjir masih tetap terjadi.  Pada 23 September 2017 terjadi banjir di  yang disebabkan meluapnya air kali mati Akemalako  di RT 4. Dalam kejadian  itu  rumah yang terdampak  banjir  ada  52 unit, termasuk satu sekolah dasar, kantor kelurahan dan Gedung Waserda. Pada 01 juli 2020 terjadi lagi banjir di lokasi yang sama  akibat hujan deras  selama dua jam lebih mengakibatkan puluhan rumah terendam air. Kejadian paling memilukan terjadi Minggu (25/8/2024) sekira pukul  03.30 WIT.

Banjir bandang yang memakan banyak korban karena terjadi pagi subuh  ketika warga terlelap tidur. Ini setelah  Sabtu (24/8/2024) hingga Minggu (25/8/2024) pagi terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Data yang dikumpulkan dari Stasiun Meteorologi Sultan Baabullah Ternate waktu itu, menunjukan intensitas curah hujan  diperkirakan 75 mm. Namun ada intensitas yang mencapai 50 mm/jam pada saat puncaknya. Kondisi ini juga sama dengan rilis Stasiun Meteorologi Sultan Baabullah–Ternate  bahwa  ada potensi cuaca ekstrim di wilayah Maluku Utara periode 22 Agustus – 27 Agustus 2024.

Kejadian ini melanda RT 01-RW 01 Kelurahan Rua,  Kecamatan Ternate Pulau yang diapit dua barangka (kali mati,red) yakni Ake Rua 1 dan Ake Rua 2. Paling parah di kali Ake Rua 1 karena seluruh material yang turun dari daerah puncak berupa tanah, lumpur bercampur pasir dan batu masuk kali kemudian meluber keluar dan menghantam rumah di bantaran kali. Material  berasal dari puncak gunung Gamalama yang dikenal masih aktif .

Akibatnya, jejeran rumah di tepi kali mati hancur. Rumah yang berjarak agak jauh dari kali mati  juga ikut terdampak. Sebagian besar rumah tertutup lumpur  tebal yang dibawa banjir. Kurang lebih  seratus meter ke arah barat dari jalan raya di kelurahan itu, lumpur bercampur material batu menutup rumah mencapai satu meter.  Kejadian  ini  menyebabkan 19 warga tewas. Hal inilah yang menimbulkan trauma mandalam di masyarakat  Kelurahan Rua dan sekitarnya. “Warga  selalu waspada  jika hujan terjadi,”ujar Rifandi.

Peta kali mati yang-terhubung ke puncak Gamalama foto-IAGI

Ketua Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara Abdul Kadir Arif menjelaskan, terkait banjir  di Rua Ternate, memiliki hubungan erat dengan kondisi geologinya. Hal ini karena di daerah hulu tidak ada bukaan lahan yang massif untuk pemukiman.

Secara geologi daerah Rua itu masuk fase gunung aktif Gamalama tua. Artinya di tahun-tahun yang lalu pernah menjadi salah satu lokasi yang mendapatkan material vulkanik hasil letusan gunung berapi. “Kalau kita lihat lagi kejadian di Rua, yang pertama memang ketika hujan  sedang dengan durasi  lama ada material sedimen hasil vulkanik di hulu terbawa  turun ke bawah sehingga memicu  banjir bandang,” katanya.

Satu hal yang digarisbawahi, tidak ada perubahan lanskap penggunaan lahan yang massif. Artinya ini betul-betul menjadi  fenomena secara geologi  di mana  ada curah hujan tinggi  dan  material  sedimen di hulu  sudah tidak mampu menampung materialnya, secara perlahan bergerak turun sampai  titik kejadian seperti terjadi pada  2024  lalu.

Daerah Rawan Bencana di Kota Ternate Sesuai RTRW

Jika menilik lebih jauh kejadian bencana banjir yang berulang baik kasus Tubo dan Rua beberapa waktu lalu, sebenarnya sudah diatur dalam dokumen pembangunan  pemerintah  yakni Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Ternate sebagai kawasan rawan bencana.

Dokumen itu  sudah mencantumkan jelas wilayah-wilayah mana yang tingkat kerentanan bencananya sangat tinggi, sedang hingga rendah sehingga perlu mendapatkan perhatian, awas  dan bahaya.

Dalam Paragraf 6 RTRW  mengatur tentang Kawasan Rawan Bencana Alam. Dalam pasal 20 huruf f, terdiri atas : a. Kawasan rawan bencana gempa; b. Kawasan rawan tanah longsor; c. Kawasan rawan gelombang pasang dan tsunami;  d. Kawasan rawan banjir; dan e. Kawasan rawan bencana gunung api.

Kawasan rawan bencana gempa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  huruf a, terdapat di seluruh wilayah Kota Ternate yaitu Kecamatan Ternate Utara, Kecamatan Ternate Tengah, Kecamatan Ternate Selatan, Kecamatan Pulau Ternate, Kecamatan Pulau Hiri, Kecamatan Moti dan Kecamatan Pulau Batang Dua.

Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Pulau Ternate dengan luas total 40,58 Ha yaitu di Kelurahan Afetaduma, Dorpedu, Togafu, Kalumata, Ngade, Dufa-dufa, Akehuda  (4) Tobona. Untuk Pulau Hiri dengan luas total 6,4 Ha di Kelurahan Tafraka, Mado, Faudu dan Kelurahan Tomajiko.

Kawasan rawan gelombang pasang dan tsunami sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di Kecamatan Ternate Utara, Kecamatan Ternate Tengah, Kecamatan Ternate Selatan,  Kecamatan Pulau Ternate, Kecamatan Pulau Hiri, Kecamatan Moti dan Kecamatan Pulau Batang Dua.

Peta koneksivitas jalur sungai besar kecil terhadap kelurahan di Kota Ternate-foto-IAGI

Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdapat di Kelurahan Mangga Dua yaitu jalan raya Mangga Dua kurang lebih 0,11 Ha, Kelurahan Bastiong Talangame yaitu Kawasan Terminal dan Pasar Bastiong kurang lebih 0,21 Ha, Kelurahan Bastiong Karance yaitu jalan Raya Bastiong dan jalan Pelabuhan Fery kurang lebih 0,45 Ha, Kelurahan Gamalama yaitu jalan Pahlawan Revolusi dan jalan Boesori kurang lebih 1,25 Ha, Kelurahan Jati yaitu jalan depan Hotel Bela kurang lebih 0,24 Ha, Kelurahan Santiong yaitu di kawasan Kuburan Cina kurang lebih 0,12 Ha dan Kelurahan Mangga Dua kurang lebih 0,04 Ha.

Kawasan rawan bencana gunung api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, terdiri atas :  a. Kawasan rawan bencana gunung berapi meliputi daerah rawan Tipe I, rawan Tipe II dan rawan Tipe III; Kawasan rawan bencana gunung berapi kategori rawan I dengan luas total 1028,29 Ha  terdapat  di  Kelurahan Dufa-dufa, Tabam, Tubo dan Togafo, di kawasan aliran Barangka/kali mati di Kelurahan Kulaba, Bula, Tobololo, Takome, Loto, Taduma, Dorpedu, Kastela dan Toboko serta kawasan pada radius 4,5 Km dari kawah Gunung Gamalama;

Kawasan rawan bencana gunung berapi kategori rawan II dengan total luas 1525,18  Ha  terdapat  di  sungai/barangka   tepatnya  di   Kelurahan  Sulamadaha,  Sungai  Togorara,  Sungai   Kulaba, Sungai Sosoma, Sungai Ruba, Sungai Telawa, Sungai Toreba, Sugai Piatoe, Sungai Taduma dan Sungai Kastela, Kelurahan Tubo, Tafure, Kulaba, Tobololo, Takome, Loto, Foramadiahi, Marikurubu (lingkungan air tegetege dan Tongole) dan Buku Bendera Kelurahan Moya, serta kawasan pada radius 3,5 Km dari kawah Gunung Gamalama. Kawasan rawan bencana gunung berapi kategori rawan III  dengan total luas kurang lebih 1121,58 Ha terdapat di sebagian sungai Fitu, sungai Piatoe, Sungai Toreba, Sungai Takome, sungai Sosoma, Sungai Ruba, Sungai Kulaba, sungai Togorara serta kawasan pada radius 2,5 Km dari kawah Gunung Gamalama.

Isi dokumen ini tidak banyak diketahui public luas.  Abdulkadir Arif menilai  scope Maluku Utara termasuk kota Ternate isu- isu kebencanaan dan lingkungan dalam dokumen perencanaan pemeritah sebenarnya  hanya jadi lembar pelengkap dalam sebuah dokumen. Perhatian mungkin diberikan ketika ada kejadian dengan dampak yang besar. Hal ini,  kemudian  dianggap menjadi  urgen. Padahal ketika disadari saat kejadian, korban sudah berjatuhan. Karena itu   ke depan perlu belajar dari kejadian  yang sudah dialami ini. Terutama cara berpikir dan membangun bisa berubah.

Dia menyarankan  BPBD sebagai leading sector  agar maksimal bekerja karena selama ini  seperti belum ada gerakan yang berarti. Dia berharap ada perhatian terhadap isu kebencanaan dan lingkungan tidak hanya saat kejadian tetapi juga tercermin dari program yang dijalankan terutama   yang sudah ditetapkan dalam dokumen perencanaan  dan telah disahkan.   “Dalam  dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Ternate saya juga turut boboti banyak menyangkut dengan kebencanaan ini,” katanya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Ternate Junaidi A Bahrudin menjelaskan memang Pemkot belum menerapkan kebijakan kebijakan  pembangunan yang responsif bencana. Di sisi lain informasi terkait daerah rawan bencana juga jarang diketahui masyarakat sehingga membangun rumah di kawasan-kawasan yang potensi bencananya tinggi juga marak. Sosialisasi regulasi ini dari pemerintah memang minim dilakukan. Ini sebenarnya jadi masalah serius,” katanya.

Peta Bencana yang terjadi di Kelurahan Rua pada Agustus 2024 lalu, foto FORDAS Kie Raha

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Fery Hamdani Wolley mengatakan dokumen risiko bencana sementara ini dibahas, jadi setelah itu baru disosialisasikan ke masyarakat.

Sementara menyangkut penataan tata ruang  yang diatur dalam RTRW menurutnya merupakan tupokok dan fungsi Dinas PUPR. Karena itu BPBD selalau berkoordinasi  untuk memberi edukasi ke masyarakat. “Edukasi selalu dilakukan terutama saat cuaca buruk seperti sekarang,” katanya. Dokumen kawasan rawan bencana sudah  pernah disusun tetapi sudah kedaluarsa. Saat ini dokumen   sedang di-review  dan mendapatkan asistensi dari BNPB.  

Penulis: Mahmud Ici

Tulisan ini didukung oleh Masyarakat Jurnalis Linkungan (SIEJ) dalam  fellowship Road to COP 30.  Liputan ini focus menulis tentang dampak- dampak perubahan iklim yang dirasakan public di tingkat tapak

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 360
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Pogram Perhutanan Sosial (PPS) Mati Suri

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 272
    • 2Komentar

    Hutan Halmahera

  • Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2019
    • account_circle
    • visibility 321
    • 0Komentar

    Penemuan kembali lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto Smith 1861) di Maluku Utara menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, terutama bidang zoologi. Rilis resmi yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI  (Vhttp://lipi.go.id/siaranpress/penemuan-kembali-lebah-megachile-pluto-di-maluku-utara/21545), menyebutkan,   bahwa  lebah dengan rahang bawah (mandibula) yang sangat besar ini dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace pada  1859 dan […]

  • Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

    • calendar_month Sel, 15 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 472
    • 0Komentar

    Rawan Banjir dan Berada di Daerah Pusat Gempa Ibu kota Provinsi Maluku Utara yang berada di Kota  Sofifi  Pulau Halmahera ternyata dibangun di atas Daerah Aliran  Sungai (DAS) yang kondisinya kritis. Karena itulah  DAS ini masuk dalam pemulihan. Ibukota Provinsi yang telah ditetapkan melalui Undang undang Pemekaran provinsi Maluku Utara no 46 Tahun 1999  itu, […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 432
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

  • Miris, RPJMD Kabupaten Ini Tanpa KLHS

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 365
    • 1Komentar

    Peta Kabupaten Pulau Taliabu

expand_less