Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • visibility 255

Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun

Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang kadang berubah tiba-tiba saat mereka di laut.  Dia bilang kadang saat keluar dari rumah laut  teduh tetapi saat di tengah laut cuaca berubah bahkan menjadi ancaman bagi nelayan. “Kondisi  cuaca saat ini sangat beresiko  dengan cuaca yang berubah ubah tidak menentu,”kata Gafur yang juga Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisonal (KNTI) Maluku Utara itu.

Dia bilang, nelayan kecil  gunakan alat tangkap sederhana  dengan armada tangkap 1,5 sampai 2 GT. Mereka merasakan dampak  serius akibat cuaca yang berubah-ubah secara radikal di laut. Dia menyebutkan, nelayan di kampungnya belum ada yang alami kecelakaan atau peristiwa naas di laut karena  perubahan cuaca yang sulit diprediksi tersebut. Tetapi nelayan di kelurahan  lain  di Ternate tak hanya korban perahu tenggelam dihantam gelombang,   korban jiwa    dan   hilang   tidak ditemukan juga terjadi tiap  saat.

Seorang nelayan kelurahan Jambula menurunkan alat pancing dan hasil tangkapannya usai melaut, foto Ikram

Data yang dihimpun melalui laporan berbagai media sepanjang 2025, korban nelayan Kota Ternate dan sekitarnya akibat  cuaca buruk tinggi.  Februari 2025 dua nelayan asal Ternate dinyatakan hilang akibat cuaca buruk. Setelah terombang ambing selama dua  hari di tengah laut akhirnya ditemukan selamat. Perahu mereka  rusak dihantam gelombang. Sudarwin Hasrat (43) dan Udin Rope (60) warga Mangga Dua, Kota Ternate akhirnya bisa diselamatkan tim  Basarnas.

Pada 5 Agustus 2025 seorang nelayan asal Tidore bernama Rustam Abas (40) tahun  ditemukan meninggal dunia setelah jatuh akibat perahunya dihantam gelombang. Jasad korban  ditemukan  setelah 4 hari dilakukan pencarian.  Terbaru  kecelakaan nelayan di perairan Batang Dua, Kota Ternate  terjadi Rabu (3/12) sekira pukul 08.00 WIT. Perahu mereka terbalik dihantam gelombang saat memancing di sekitar rumpon.  Beruntung  korban  berenang  menyelamatkan di di rumpon terdekat. Selanjutnya  ada nelayan    sekitar rumpon berusaha menghubungi pihak Basarnas  meminta  pertolongan. Dua nelayan akhirnya bisa diselamatkan   tim  Basarnas.Keduanya  adalah Wahab Samad (60 tahun), dan Bobi (16)   warga Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara.Kasus-kasus ini hanya untuk kejadian di laut  sekitar Ternate dan Tidore. Belum termasuk di wilayah kabupaten lainnya.

Gelombang tinggi disertai angin kencang yang mengancam nelayan tidak hanya  saat mereka di laut. Di wilayah pesisir, juga  perahu milik nelayan jadi korban. Seperti peristiwa di Kota Ternate dan sekitarnya Selasa (7/10/2025).  Puluhan perahu milik nelayan di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan rusak parah. Tidak  itu saja, penahan ombak di pesisir juga hancur berantakan. Tembok yang dibangun untuk melindungi perahu nelayan di pantai Jambula  hancur. Akibat peristiwa ini nelayan dan warga Kelurahan Jambula mendesak Pemerintah Kota Ternate dan  Provinsi Malut  segera  mengatasi dampak bencana tersebut.

Pemerintah dianggap lamban merespons kondisi yang dialami para nelayan. Karena  keluhan itu warga bersama nelayan menggelar aksi dan menutup akses jalan utama di kelurahan dengan perahu nelayan yang rusak. Tujuannya, mendesak pemerintah mengambil langkah mengatasi dampak bencana perubahan iklim yang terjadi.

Desakan melalui aksi massa nelayan dan warga ini, membuat pemerintah menjanjikan segera membangun infrastrutur yang mereka butuhkan pada 2026 mendatang.  “Kita akan bangun talud penahan ombak. Untuk fasilitas alat tangkap berupa perahu dan mesin yang rusak akibat akibat bencana gelombang pasang, kita ganti segera,”janji Gubernur Malut Sherly Tjoanda saat datang mendengar tuntutan warga Jambula waktu itu.

Ekonomi Nelayan Juga Terancam Perubahan Iklim

Dampak yang ditimbulkan perubahan iklim tidak hanya bencana. Bagi nelayan persoalan ini juga jadi ancaman serius  ekonomi  mereka. Dampak yang dirasakan ketika gelombang tinggi dan  tidak bisa melaut  maka nelayan harus memutar otak.  “Kalau melaut bisa hidup  jika tidak melaut  tidak bisa makan,” kata Ico  Djiko nelayan Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara. Karena itu jika  akibat cuaca  buruk akan sangat menganggu ekonomi  mereka. JIka tidak bisa melaut  seminggu  saja nelayan seperti dirinya  susah ekonominya. Apalagi sebagai nelayan kecil dengan alat tangkap dan armada sederhana. Jika tak ada hasil tangkapan maka  tidak bisa mendapatkan uang. Jika datang hujan disertai angin dan gelombang kadang selama sepekan  tidak bisa melaut.

Senada dengan Ico, Gafur Kaboli nelayan Jambula yang juga Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Maluku Utara menuturkan hal yang sama. Menurut  Gafur  dampak perubahan iklim bagi nelayan tidak semata-mata soal bencana tetapi menyangkut hasil tangkapan dan wilayah tangkapan yang semakin jauh. Sebagai nelayan kecil yang setiap hari menangkap ikan tuna, persolan ini makin menyusahkan.

Dia bilang dampak perubahan iklim sangat dirasakan  nelayan seperti dirinya. Hal ini karena sulit memprediksi kondisi cuaca setiap hari. Jika dulu orang bisa memprediksi kondisi cuaca. 6 bulan angin selatan  jalan dan 6 bulan angina utara. Sekarang tidak bisa lagi. Perubahan iklim ini katanya isyu global yang dampaknya dirasakan  langsung  nelayan seperti dirinya.

Dia bilang dampaknya luar biasa. Hasil tangkapan menurun dan wilayah tangkapan makin jauh.  Di bawah  2017  masih bisa memancing tuna di sekitar pulau Ternate dan Maitara. Sekarang sudah tidak lagi, ikan sudah sangat menjauh.

“Saya memancing sudah di atas 60 mil laut, dengan sekali memancing ongkos seperti BBM dan es untuk

Perahu nelayan Kelurahan Jambula yang diparkir belum melaut, menunggu laut teduh, foto Ikram

mengawetkan ikan sudah Rp 1,5 juta bahkan sampai Rp 2juta. Dulu sehari memancing sudah bisa balik. Sekarang  kadang sampai 3 hari di laut, jika hasil tangkapan belum  bisa menutupi ongkos yang kita keluarkan,”keluhnya. Karena itu katanya  masalah global ini berdampak luar biasa bagi nelayan. Tidak hanya ancaman keselamatan di laut tetapi juga ancaman ekonomi nelayan.

Terkait apa yang sedang dihadapi nelayan saat ini, menurut  Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Perikanan (KIARA) Susan Herawaty Selasa, (3/12/2025), menjelaskan,  fenomena   peningkatan hujan dan banjir, pulau yang semakin tenggelam, nelayan yang semakin sulit melaut karena cuaca buruk, perlu dipahami bahwa itu dampak perubahan iklim.  Hal ini  terjadi, sebenarnya karena aktivitas manusia itu sendiri. Paling berdampak itu misalnya industry ekstraktif  dan kegiatan  eksploitatif yang tersebar di pesisir laut dan pulau- pulau kecil. Menurut dia, pemerintah juga harusnya  melihat   bencana yang terjadi terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil akibat dari dampak perubahan iklim.

“Ada satu fenomena yang diabaikan pemerintah seperti bencana banjir rob. Tidak pernah ditetapkan sebagai sebuah kasus bencana nasional.  Tidak menganggapnya sebagai sebuah dampak  perubahan iklim,  pemerintah tidak mau bicara perubahan  iklim. Ini yang  mengubah bobot  bencana yang terjadi meskipun berdampak  serius bagi masyarakat  di wilayah pesisir. Padahal itu juga kewajiban yang harus dilakukan Negara. Jika ditetapkan sebagai bencana nasional, pemerintah wajib bertanggung jawab  mengurusnya,”katanya.

Paling nyata kasus banjir sebesar kejadian di Sumatera, pemerintah lamban menetapkan peristiwa itu menjadi bencana nasional. Sama seperti kasus-kasus banjir rob yang menimpa masyarakat  pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia.

Dia bilang, harunya  melihat krisis iklim ini tidak dalam konteks hanya seperti pemadam kabakaran. Misalnya bicara dampak yang ditimbulkan  kenaikan muka air laut, tidak sekadar bangun tanggul atau menanam mangrove. Tetapi mitigasnya harus dilakukan  secara holistic. Contoh riilnya bagaimana negara dan pemerintah membagi pengelolaan ruang darat dan laut di Indonesia. Ruang terbuka hijau, hutan  termasuk hutan mangrovenya hilang. Bahkan laut ikut dikapling.

Proses evakuasi dua orang nelayan asal Tidore yang jatuh dari perahunya mancing karena dihantam gelombang pada 3 Desember 2025, foto Basarnas

“Menurut saya kita bicara mitigasi iklim ini sulit karena semua sudah hancur dirusak  investasi, yang urusannya bicara lebih  pada Pendapatan Negara bukan Pajak. Tidak bisa kita mau  lakukan mitigasi  perubahan iklim secara parsial,” jelasnya .

Mitigasi perubahan iklim dengan melakukan marine prtocted area, menanam mangrove dan lain-lain tetapi di lain sisi, izin-izin tambang  diberikan secara massive lalu  juga diminta membangun pelabuhan secara besar-besaran. Ini menunjukan kekacauan berpikir. Hal ini tidak sejalan dengan semangat semua orang bicara  mitigasi perubahan iklim.  Yang terjadi malah menjadikan krisis iklim  sebagai proyek. Hal ini yang membuat berat Indonesia hari ini. Tidak heran ketika pemerintah membangun solusi palsu perubahan iklim akhirnya dimana- mana masyarakat termasuk di pulau-pulau kecil teriak-teriak karena merasakan dampak yang luar biasa.

“Coba dicek berapa banyak masyarakat  di pulau-pulau kecil  alih profesi karena dampak perubahan iklim yang dirasakan. Belum lagi bicara dampaknya bagi anak-anak maupun  perempuan bisa hidup sehat. Semua sudah tercerabut,”tutupnya. (*)

Penulis:Mahmud Ici

Tulisan ini didukung oleh Masyarakat  Jurnalis Lingkungan (SIEJ) dalam  fellowship Road to COP 30. Liputan ini focus menulis tentang dampak-dampak perubahan iklim yang dirasakan public di tingkat tapak

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Isyu Lingkungan dan Perubahan Iklim Salah Satu Poin Rekomendasi ICMI

    • calendar_month Kam, 30 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang menggelar pertemuan tahunan (Annual Meeting) ICMI se-Indonesia di Sahid Bella Hotel Senin, (27/11/2023) lalu menghasilkan sejumlah poin rekomendasi yang ditujukan kepada ICMI Pusat untuk digodok dan diteruskan ke pemerintah.    Pertemuan yang digelar pertama kali di Ternate  melahirkan setidaknya ada tujuh point. Rekomendasi yang disusun tim perumus dipimpin  Dr. […]

  • Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Hari Primata Indonesia (HPI) yang diperingati setiap  30 Januari   dirayakan juga di Maluku Utara dengan beragam  kegiatan. Seperti yang dilaksanakan ProFauna Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Tidore dan Ternate dalam dua hari ini. Dalam peringatan itu turut dilaksankaan kampanye  sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat terutama siswa  agar bisa paham  tentang upaya perlindungan primate di […]

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 361
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • Dua Masalah di Tiga Pulau Halmahera Selatan   

    • calendar_month Jum, 11 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 539
    • 3Komentar

    Transportasi Tak  Aman, Energi Terbarukan Tak Terurus Jika Anda berangkat menuju  bagian Selatan Halmahera Maluku Utara, menuju  gugusan pulau Guraici,  Moari dan Kasiruta maka akan menyinggahi kampong- kampong di pulau tersebut.  Akhir Juli 2023 tepatnya 25 hingga 1 Agustus lalu kabarpulau.co.id/  mendatangi  beberapa pulau di kawasan itu, dalam satu tugas liputan mengenai pemanfaatan sumberdaya energy […]

  • Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 318
    • 0Komentar

    Bagaimana Melakukannya di Komunitas? Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, yang […]

  • Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 396
    • 2Komentar

    Sabtu (17/12/2023) siang sekira pukul 12.30 WIT itu terasa menyengat.  Suasana Suaka Paruh Bengkok (SPB) di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Desa Koli Oba Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara itu juga, terlihat hanya ada 3 pengunjung. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan tambang yang datang selain berwisata juga menyerahkan seekor kakatua jambul kuning (cacatua […]

expand_less