Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera (1)
- account_circle Mahmud Ici
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 39

Muddin Hasan (69) menyiangi tanaman padi ladang di kebunnya pertengahan Maret 20206 lalu, foto M Ichi
Pukul 10.30 WIT jelang siang itu, matahari belum begitu terik. Muddin Hasan (69) beristrihat sejenak di sebuah jojaga-rumah kebun, setelah sejak pagi menyiangi padi yang ditumpangsarikan dengan jagung, cabe, terong dan kangkung.
Hari itu meski suasana Idul Fitri belum sepenuhnya berakhir, dia tetap ke kebun merawat tanaman di kebunnya. “Torang pe karja bakobong ini sudah. Hidup itu dari kobong (kerja kami berkebun dan hidup dari berkebun),” katanya.
Muddin adalah salah satu petani di desa Samo Gane Barat Utara Kabupaten Halmahaera Selatan yang masih konsisten berkebun. Meskipun tanaman kelapa dan pala miliknya telah berbuah dan sudah memberi penghasilan tetap. Dia masih menanam padi ladang.
Menuju kebun Muddin, butuh waktu kurang lebih 1 jam dengan jalan kaki. Melintasi sungai dan bekas jalan logging. Di atas lahan kurang lebih 40×60 meter telah tumbuh padi yang kini makin jarang ditanam petani. Mereka kini lebih mengandalkan tanaman perkebunan kelapa, pala dan cengkih sebagai sumber pendapatan utama.
Padahal dulu, padi ladang menjadi salah satu tanaman pangan penting. Selain dipanen dalam 6 bulan sekali, menjadi buffer stok warga untuk 6 bulan berikutnya. “Dulu di tiap rumah kebun pasti punya petak -lumbung padi yang terisi setelah panen.Kini tidak lagi,” kata Saleh Muhammad tokoh masyarakat Desa Samo.
Beberapa dekade sebelumnya, padi ladang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir Halmahera seperti di Samo.
“Dulu ketika datang musim tanam padi semua orang buka kebun untuk tanam padi. Kini tidak lagi,”ujarnya.
Hilangnya tradisi menanam padi ladang, sebenarnya karena banyak hal saling mengkait. Dari pergeseran pemanfaatan lahan untuk tanaman perkebunan, semakin berkurangnya anak muda berkebun hingga ketiadaan benih karena makin jarang petani menanam padi ladang.
“Saya sudah tidak konsisten tanam seperti dulu karena ketiadaan benih,”ujar Muddin.
Padi tidak hanya dipandang sebagai sumber makanan, melainkan bagian dari pengetahuan hidup masyarakat. Waktu tanam ditentukan berdasarkan posisi bulan. Benih dipilih secara khusus. Bahkan cara menyimpan bibit dilakukan dengan teknik tradisional agar tahan bertahun-tahun.
Muddin masih mengingat sejumlah varietas lokal yang dahulu banyak ditanam: ratumandar, dara mangam, goloba maahi, bira pako, taraudu, hingga pulororiha. Kini nama-nama itu nyaris tinggal ingatan.
“Sudah sulit dapat fin atau benihnya,” katanya.

Muddin beristraat sejenak setelah sejak pagi membersihkan gulma yang tumbuh bersama padi ladang yang ditanam di kebunnya, foto M Ichi
Hilangnya tradisi menanam padi ternyata bukan hanya soal perubahan pola tanam. Yang ikut hilang adalah pengetahuan lokal. Dulu, usai panen, petani langsung memilih malai terbaik untuk disimpan sebagai bibit musim berikutnya. Ada yang menggantung padi di rumah kebun, ada pula yang menyimpan gabah dalam ruas bambu.
Tradisi itu membuat petani tidak bergantung pada bantuan benih dari luar.
Kini hampir semua berubah. Petani tidak lagi menyimpan benih sendiri karena semakin sedikit yang menanam. Ketika musim tanam tiba, mereka harus mencari bibit dari desa lain atau menunggu bantuan pemerintah.
“Kalau dulu tiap orang punya stok fin sendiri,” kata Muddin.
Perubahan itu menunjukkan bagaimana sistem pangan lokal perlahan runtuh. Yang hilang bukan sekadar padi, melainkan kemandirian. Tradisi padi ladang di Samo sebenarnya memiliki logika ekologis yang kuat. Petani tidak memakai pupuk kimia maupun pestisida. Mereka memanfaatkan bahan alami untuk mengusir hama.
Salah satunya kulit kayu bawa-bawa yang berbau tajam. Ketika kulit kayu itu ditebar di antara rumpun padi, hama menjauh. “Hamanya tidak mati, tapi pergi,” kata Muddin sambil tertawa kecil.
Cara-cara seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan pertanian yang adaptif terhadap lingkungan. Namun modernisasi ekonomi desa membuat praktik itu perlahan ditinggalkan.
Anak-anak muda semakin jarang mengenal tradisi bertani. Banyak yang lebih tertarik bekerja di sektor jasa, perdagangan, atau tambang.
Bertani dianggap pekerjaan berat dengan hasil yang tidak pasti. Padahal hilangnya tradisi pertanian lokal dapat membawa dampak serius. Ketika masyarakat tidak lagi menanam pangan sendiri, mereka menjadi sangat tergantung pada pasokan luar daerah.
Dalam konteks Maluku Utara yang merupakan wilayah kepulauan, ketergantungan itu sangat rentan. Jika distribusi terganggu akibat cuaca buruk atau kenaikan biaya logistik, harga pangan langsung melonjak.
Ironisnya, kondisi itu terjadi di tengah melimpahnya lahan pertanian. Di Desa Samo, sebagian besar lahan telah berubah menjadi kebun kelapa, pala, dan cengkih. Tanaman pangan tersisa dalam skala kecil.
Di Samo, orientasi ekonomi desa bergeser ke tanaman tahunan seperti kelapa dan pala. Data monografi desa menunjukkan luas perkebunan jauh lebih besar dibanding lahan pangan. Pilihan itu memang rasional secara ekonomi.
| Kelapa pala cengkih (ha) |
| 120 65,5 34,5 |
Sumber Monografi Desa Desa Samo
| Padi Jagung Kacang2an Singkong (Ha) |
| 5,7 3 3,3 1 |
Sumber:Monografi Desa Samo
Data BPS Provinsi Maluku Utara tahun 2025 menunjukan lahan padi di Kabupaten Halmahera Selatan hanya 77 hektar dengan produksi hanya mencapai 271 ton.
Luas lahan dan produksi padi di Halsel
| Luas (ha) Produktivitas ku/ha Produksi (ton) |
| 77 35,21 271 |
Sumber: BPS 2025
Data yang dirilis Pemprov Maluku Utara melalui Satudata Malutprov.go.id, Halmahera Selatan memiliki lahan perkebunan sangat besar.
| Perkebunan di Halmahera Selatan (ha) |
| Kelapa Kopi Kakao Pala Cengkih Sagu |
| 29739 2 3920 13709 4193 127 |
Satudata Malutprov.go.id

Padi milik Muddin Hasan yang sudah berusia 2 bulan lebih,foto M Ichi
Kopra, pala, dan cengkih memberi pendapatan tunai. Dari hasil itu warga bisa membeli beras, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga. Tetapi perubahan tersebut melahirkan ketergantungan baru. Desa yang dulu menghasilkan pangan sendiri kini menjadi konsumen. Warga semakin bergantung pada pasokan luar.
Perubahan orientasi itu memang memberi uang tunai lebih cepat. Tetapi di saat bersamaan, desa kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri.
Fenomena di Samo sesungguhnya mencerminkan krisis yang lebih luas di Maluku Utara. Daerah ini memiliki indeks ketahanan pangan rendah dan masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar. Artinya, ketika tradisi pangan lokal melemah, ketahanan masyarakat juga ikut rapuh.
Pertanyaannya kemudian: apakah tradisi menanam padi ladang masih mungkin dipertahankan?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana mengajak warga kembali ke kebun. Yang dibutuhkan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebijakan yang mampu membuat pertanian pangan kembali masuk akal secara ekonomi dan sosial.
Jika tidak, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal nama-nama varietas padi lokal sebagai cerita orang tua. Dan ketika pengetahuan itu hilang, yang hilang bukan cuma benih, tetapi juga ingatan kolektif tentang bagaimana sebuah desa pernah hidup mandiri.
“Dulu terbatas transportasi membuat masyarakat harus memproduksi sendiri,” kata Dr Erna Rusliana M. Saleh, Koordinator Program Studi Rekayasa Pangan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate.
Kini dengan kemudahan mengakses pasar karena adanya jaringan transportasi, masyarakat lebih memilih membeli dibandingkan menanam sendiri. Begitu juga dalam konteks kebijakan pangan nasional. Sejak masa orde baru, Indonesia mendorong beras sebagai makanan pokok utama, sehingga masyarakat mengalami perubahan pola konsumsi. Lebih memilih makan beras dari luar, dibanding pangan lokal sagu, ubi, jagung, pisang, dan lain- lain. (*)
Seri tulisan ini adalah hasil liputan fellowship dari kerjasama Celios Universitas Muhammadiyah Maluku Utara bersama kabarpulau.co.id melalui Program Bicara Maluku Utara
- Penulis: Mahmud Ici
