Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 45

Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy

(Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate)

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrim yang diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari kedepan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai potensi hujan lebat serta bencana hidrometeorologi.

Menyelisik kembali bencana banjir bandang pernah terjadi

Berkaca kembali pada kejadian banjir bandang di sungai Tugurara Kelurahan Tubo pada tahun 2012, kita dapat memahami bahwa bencana multi-bahaya ini terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi dan berlangsung selama beberapa hari.  Aliran air yang mengalir disertai aliran lumpur pekat yang terbentuk dari campuran air, partikel, bongkahan batu, dan lumpur yang bersumber dari bahan piroklastik akibat letusan gunung Gamalaman sebelumnya telah berdampak pada 272 kepala keluarga dan kerusakan sejumlah rumah dan infratsruktur.

Selanjutnya, kejadian banjir bandang di kelurahan Rua di tahun 2024. Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan sebesar 75 mm yang berlangsung dari tanggal 24-25 Agustus 2024 dengan puncak curah hujan tertinggi terjadi antara jam 03.00 – 05.00 WIT telah menyebabkan bencana tersebut terjadi. Kejadian berlangsung pada malam hari dimana masyarakat masih terlelap sehingga menimbulkan kerusakan signifikan dan korban jiwa. Berdasarkan data BPBD, tercatat 39 kepala keluarga atau 139 jiwa yang menjadi korban banjir dengan dampak kerusakan 25 unit rumah rusak berat, 1 unit musallah, dan infrastruk jalan.

Interaksi yang kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia

Pemicu utama ancaman multi-bahaya tersebut adalah curah hujan yang ekstrim, morfologi lereng yang curam, struktur tanah vulkanik yang rentan, serta kerusakan lingkungan akibat tata guna lahan.

Kondisi cuaca dimana curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang terjadi dalam waktu lama berimplikasi membuat tanah vulkanik di lereng gunung Gamalama menjadi jenuh air. Kondisi ini menyebabkan kekuatan tanah akan menurun drastis sehingga dapat memicu pergerakan massa tanah. Akibatnya kemungkinan ancaman multi-bahaya hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor dapat terjadi secara simultan dan menaikkan risiko bencana semakin tinggi.

Kondisi geomorfologi pulau Ternate dengan kelerengan yang curam dan garis kontur yang rapat menunjukan bentuk relief permukaan yang bergelombang dengan elevasi hingga ke puncak gunung Gamalama. Relief dan elevasi bentuk lahan merupakan salah satu faktor pemicu longsor. Kawasan longsor pada umumnya terjadi pada perbukitan curam dan daerah gunung api dengan material endapan piroklastik yang tebal dan mudah lapuk. Endapan ini umumnya membentuk bongkahan material yang besar hingga jika terjadi longsor maka akan menimbulkan daya rusak yang tinggi pula.

Alih fungsi lahan juga menjadi salah satu komponen pemicu kerusakan lingkungan yang berdampak pada potensi muti-bahaya tersebut. Adanya alih fungsi kawasan resapan air dan hutan di beberapa titik di pulau Ternate menjadi lahan permukiman telah mempercepat laju erosi dan mengurangi kestabilan lereng. Akibatnya aliran air akan langsung mengalir ke dataran rendah.

Mitigasi saat ini dan akan datang

Mengingat curah hujan yang masih tinggi serta komponen-komponen pemicu yang cukup besar serta untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, maka Langkah mitigasi saat ini yang dapat masyarakat dan pemerintah adalah dengan melakukan pemantauan perkembangan aliran air di sungai (barangka) dan bahan rombakan hingga hulu untuk mengetahui kondisi sumber aliran bahan rombakan.

Selanjutnya, pemerintah dan semua pemangku kepentingan diminta untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang menetap di wilayah rawan bencana untuk mewaspadai potensi bahaya tersebut. Sehingga masyarakat lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi sejak dini.

Pemerintah dalam hal ini Badan Penaggulangan Bencana Daerah Kota Ternate harus memasang system peringatan dini, menyediakan jalur dan rambu evakuasi serta tempat pengungsian sementara untuk setiap wilayah rawan.

Sebagai langkah singkat juga, pemerintah dan masyarakat harus memanfaatkan semua media informasi baik sosial media, media elektronik, maupun media cetak untuk terus menyebarkan himbauan kewaspadaan ini, sehingga semua pihak bisa mengambil langkah antisipasi lebih awal.

Untuk langkah kedepannya, pemerintah harus melakukan mitigasi struktural seperti pengaturan keairan dan penahan material melalui normalisasi sungai dan perbaikan keairan terutama kondisi keairan pada hulu sungai (lereng atas dan dataran tinggi).

Pemerintah harus mempertegas pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana dalam perencanaan pembangunan salah satunya melalui Rencana Tata Ruang Wilayah berbasis mitigasi bencana. Selain itu, pemerintah memperkuat tata kelola kebencanaan yang lebih baik dengan menyiapkan kajian risiko bencana, rencana penaggulangan bencana, standart operasional prosedur kedaruratan bencana serta dikumen pendukung lainnya.

Latihan evakuasi yang rutin di lingkungan kelurahan dan tempat kerja serta diseminasi hasil riset kebencnaan merupakan mitigasi non-struktural yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dalam meningkatkan kesispsiagaan.

Pada akhirnya, semua pihak termasuk masyarakat, akademisi, LSM, dunia usaha, media dan pemerintah harus berperan aktif meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas menghadapi bencana. Hal ini untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan kehilangan harta benda.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Obi Kaya Keanekaragaman Hayati

    • calendar_month Sen, 7 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 543
    • 0Komentar

    Ditemukan Cecak Jarilengkung  Jenis  Baru  Diberi Nama Papeda Pulau-pulau di Maluku Utara ternyata kaya berbagai  keanekaragaman hayati. Di hutan- hutan pulau tersebut ditemukan beragam jenis flora dan fauna. Terbaru  ditemukannya cicak jarilengkung yang diberi nama cicak papeda. Cecak ini ditemukan di Pulau Obi  di  daerah Kawasi yang saat ini hutannya gencar dieksploitasi  tambang nikel. Cerita […]

  • Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Meremas pokok sagu yang dipukul atau orang kampung menyebutnya dengan Oro untuk mendapatkan tepung sagu/foto hiar

  • Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 554
    • 0Komentar

    Setahun perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto Gibran Rakabuming Raka, diwarnai pasang surut   reformasi huku dan tersendatnya perjalanan demokrasi.  Bagi Kurawal sebuah yayasan yang bekerja untuk memperkuat praktik, lembaga, dan nilai-nilai demokrasi di Indonesia  dan kawasan Global South,serta mendorong persemaian ide baru dan eksperimentasi bagi terwujudnya tatanan demokrasi yang bermartabat dan bermaslahat bagi seluruh warga Negara, meihat […]

  • SMART Patrol Tools Perlindungan dan Pemantauan Biodiversitas

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 605
    • 0Komentar

    Sesuai Dokumen Rencana Aksi dan Strategi Biodiversitas Indonesia 2015-2020,  Indonesia  memiliki keunikan geologi dan ekosistem. Hal ini yang menyebabkan endemisitas satwa liar menjadi tinggi. Endemisitas jenis satwa liar ini tertinggi di dunia untuk kelas burung, mamalia, reptil dan amfibi. Satwa liar endemis Indonesia diperkirakan berjumlah masing-masing 270 jenis mamalia, 386 jenis burung, 328 jenis reptil […]

  • Didukung AMSI  Redaksi Kabarpulau.co.id Belajar Manfaatkan Teknologi AI

    Didukung AMSI Redaksi Kabarpulau.co.id Belajar Manfaatkan Teknologi AI

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Asosiasi  Media Siber Indonesia (AMSI) mendorong media -media yang  menjadi anggotanya untuk  menggunakan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses produksi jurnalistiknya. Kabarpulau.co.id sebagai sebagai salah satu media konstituen AMSI turut melaksaksanakan pelatihan yang didukung oleh AMSI pada Selasa (11/2/2026) malam yang digelar di kafe Kofia kawasan Sabia Ternate Utara. Dalam pelatihan ini  para […]

  • Kebun Sagu Dijual, Cadangan Pangan Warga Sagea Hilang (1)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 706
    • 0Komentar

    Rintik hujan pada Minggu (26/11/2023) sekira pukul 17.00 WIT itu, tak menyurutkan semangat Abdurahman Jabir (50) dan Anwar Ismail (67). Keduanya bahu membahu dengan kedua tangan, mengangkat tepung sagu yang telah mengendap di dalam perahu–wadah penampung perasan pokok sagu.  Tepung terisi dalam tiga karung besar hasil perasan  empulur setengah batang pohon sagu, yang panjangnya kurang […]

expand_less