Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera
- account_circle Redaksi
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 39

Aktivitas warga O,Hongana Manyawa saat berburu, foto Opan JAcky
Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus
Muhammad Sofyan Ansar, atau biasa disapa Opan Jacky, adalah seorang videographer sudah malang melintang di bidang ini dengan membuat berbagai film pendek maupun.
Kali ini sebagai orang yang berlatar belakang, kehutanan dia mengabadikan aktivitas videografinya dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan membuat sebuah film documenter yang bercerita tentang kehidupan orang O’hongana Manyawa di Halmahera. Atau para peneliti menyebutnya dengan orang Tobelo Dalam.
Film ini sebenarnya lahir dari kepedulian terhadap pentingnya menjaga warisan budaya masyarakat adat agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Melalui dukungan atau bantuan dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara Opan merekam dan mengabadikan kehidupan O’Hongana Manyawa yang kehidupan mereka saat ini semakin terdampak oleh industry tambang.

Baginya, ini bukan hanya tentang merekam kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa), tetapi menjadi sebuah upaya menghadirkan kisah mereka dengan penuh rasa hormat.
“Kami ingin tunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan hubungan yang sangat kuat dengan alam. Semoga film ini menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat luas dengan kearifan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus mengajak semua pihak bersama menjaga kelestarian hutan dan menghormati hak-hak masyarakat adat,”kata Sofyan.
Khusus film dokumenter ini Opan mulai menggarapnya sejak Mei hingga Juli ini untuk pengambilan gambar di lapangan. Sementara target ahir finish di akhir Juli hingga awal Agustus ini.
“Semoga Agustus film dokumnter itu sudah rampung. Saat ini kita (Juli 2026,red) film dokumenter tentang kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa) tengah digarap prosesnya diproduksinya.
Proses produksi dilakukan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan sejumlah wilayah adat di pedalaman Pulau Halmahera dengan mengedepankan prinsip penghormatan terhadap adat istiadat, budaya, dan ruang hidup masyarakat adat. Tim produksi bekerja melalui pendekatan partisipatif, membangun komunikasi dengan tokoh adat, masyarakat setempat, serta pihak-pihak terkait agar seluruh proses dokumentasi berlangsung secara etis dan menghormati hak-hak masyarakat adat.
Dokumenter ini akan menampilkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Tobelo Dalam. Dari pola hidup yang bergantung pada hutan, sistem pengetahuan lokal, tradisi berburu dan meramu, nilai gotong royong, hingga hubungan spiritual mereka dengan alam. Selain itu, juga merekam berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di tengah perubahan zaman, termasuk tekanan terhadap ruang hidup dan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan.
Melalui pendekatan sinematik yang humanis, dokumenter ini berupaya menghadirkan sudut pandang yang menghargai martabat masyarakat adat, bukan sekadar menampilkan keunikan budaya, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai universal tentang kehidupan, keberlanjutan, dan keharmonisan manusia dengan alam.
“Seluruh proses produksi dilakukan dengan mengedepankan etika dokumenter, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat adat, serta memastikan setiap proses pengambilan gambar menghormati adat istiadat, privasi, dan ruang hidup komunitas yang didokumentasikan,”tambahnya.
Karena itu dokumenter ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus sarana pelestarian warisan budaya Indonesia yang semakin langka. Apalagi istilah “Togutil” yang menjadi sebutan bagi O Hongana Manyawa masih sering digunakan di masyarakat. Padahal banyak dari anggota komunitas dan peneliti lebih memilih penyebutan Tobelo Dalam atau O’Hongana Manyawa.

“Kami percaya bahwa setiap budaya memiliki cerita yang layak didengar. Dokumenter ini adalah bentuk penghormatan kepada masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan Halmahera. Besar harapan kami, film ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya Indonesia dan ikut berperan dalam menjaga keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa,” harapnya.
Dokumenter ini rencana diputar dalam berbagai forum kebudayaan, lembaga pendidikan, festival film dokumenter, serta platform digital sebagai media pembelajaran dan promosi kebudayaan Indonesia.
“Melalui karya ini diharapkan semakin banyak masyarakat mengenal kehidupan O’Hongana Manyawa secara lebih utuh, menghargai hak-hak masyarakat adat, serta mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan demi keberlangsungan warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang,” harapnya.(*)
- Penulis: Redaksi
