Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 11 Okt 2020
  • visibility 705

Ocean Eye merupakan aplikasi teknologi keuangan (fintech) inovatif yang dapat digunakan oleh industri pariwisata bahari. Khususnya operator selam dan wisatawan, untuk melaporkan keberadaan spesies karismatik di area KKP serta kawasan serupa lainnya.

Rilis yang dikirimkan pengelola program USAID SEA Maluku Utara diterima kabarpulau.co.id/ menyebutkan,  teknologi ini akan menginformasikan keberadaan spesies karismatik  yang nanti akan menjadi dasar dalam menentukan jumlah donasi kecil untuk masyarakat. Donas ini  sebagai kontribusi dari wisatawan yang berwisata ke daerah pesisir, guna  mendorong perlindungan biota ini.

 Dana ini dapat menjadi pendapatan alternatif dari ekstraksi sumberdaya laut secara langsung, aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk menerima sumber pendapatan dari upaya konservasi yang dilakukan .

“Prototipe pertama Ocean Eye dapat digunakan dan diuji coba lapangan pada triwulan akhir 2020 di Morotai. Morotai adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang terkenal dengan lokasi menyelam bersama hiu,” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

 Dia bilang dengan adanya Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang baru dibentuk di Morotai pada tahun 2020 ini, Ocean Eye ingin memberdayakan dan menyediakan insentif kepada masyarakat sekitar dan operator pariwisata untuk mendukung upaya konservasi jangka panjang di daerah tersebut.

Infografis Karang Kokoya Morotai

KKP Rao-Tanjung Dehegila yang baru dibentuk di Morotai ini merupakan salah satu KKP yang di dukung pengembangannya oleh Proyek USAID SEA (2016-2021) yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam merencanakan lokasi dan zona, melakukan survei dasar dan membantu pembuatan rencana pengelolaan KKP.

Kawasan Konservasi Perairan akan mendapat banyak manfaat dari penerapan Ocean Eye” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

Di Morotai sendiri saat ini memiliki   tiga operator selam  yaitu Shark Diving Indonesia, Dive Morotai dan GOMO yang telah setuju untuk menggunakan dan mencoba aplikasi Ocean Eye. Selain itu ada juga   tiga komunitas masyarakat lokal yang berada di pulau-pulau kecil di tengah KKP dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya, akan menjadi penerima dana jasa ekosistem yang dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung. Dia bilang berdasarkan pemodelan dan proyeksi yang dilakukan, serta data pengamatan  yang dikumpulkan selama survei daya dukung pada 2019, dana pembayaran dari pertemuan dengan spesies yang diharapkan ini akan memberikan pendapatan ke masyarakat mencapai US $ 400.000 pada tahun ke-6.

Infografis Keanekragaman Hayati Dodola Kecil

Pada basis harian per penyelam, dana yang dikumpulkan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat pada periode berbeda, dari US $4,50 di tahun pertama menjadi US $10,20 di tahun ke-6, mencerminkan peningkatan pertemuan dengan populasi spesies yang pulih dan lebih banyak wisatawan yang mengunjungi Morotai.

Di bawah ini adalah ringkasan rencana penggunaan dana yang akan diterima oleh masyarakat dari dana jasa ekosistem melalui Ocean Eye

Desa Ngele-Ngele berencana untuk menjalankan program konservasi seperti restorasi terumbu karang dan melakukan kegiatan pendidikan dan edukasi peduli lingkungan di sekolah setempat.

 Desa Galo-Galo berencana untuk mendukung kelompok usaha wanita dalam meningkatkan keterampilan, pemasaran dan produksi

Desa Kolorai berencana untuk melakukan pemantauan rutin di Kawasan Konservasi Perairan untuk menjaga wisata bahari tetap lestari dalam upaya mendukung upaya konservasi dan mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Kolorai seperti penguatan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS).

Meskipun pandemi melanda, Morotai tetap menerima beberapa turis penyelam domestik saat ini yang memungkinkan pengumpulan data frekuensi pengamatan berbagai hewan serta menetapkan harga ideal per penglihatan per spesies. Penyaluran dana untuk masyarakat akan menggunakan uang tunai untuk saat ini, tetapi pada percobaan ini,akan pula mengidentifikasi mekanisme transfer digital berbiaya rendah yang paling sesuai untuk daerah tersebut.

Infografis kekayaan bawah laut Galo galo

 Sari Tolvanen CEO Ocean Eye menjelaskan,  setelah uji coba pada triwulan akhir 2020, Ocean Eye akan siap untuk meningkatkan skala global dan membantu mengarahkan upaya konservasi di dunia pariwisata pasca pandemi. “Pandemi telah menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa masyarakat tidak memiliki insentif jangka panjang untuk konservasi, di banyak daerah perburuan satwa liar telah marak terjadi. Ocean Eye kini dapat membantu memastikan bahwa dengan situasi pandemi, tidak harus mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati” kata Sari Tolvanen.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

    • calendar_month Kam, 21 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.271
    • 0Komentar

    Bantu Suami Menjaring Ikan dan Menanam Rumput Laut    Fajar baru menyingsing di ufuk Timur Pulau Kolorai. Pulau kecil berpasir putih seluas 8 hektar  dengan laut tosqoea   subuh itu disapu angin  timur  yang dinginya  menusuk   hingga ke tulang- tulang.  Sepagi  itu, dalam suasana gelap dan dingin, ada seorang  perempuan berusia sekitar 38 tahun, tetap bangun pagi  membantu […]

  • Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

    • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 679
    • 0Komentar

    Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu […]

  • Empat Lembaga Bongkar Bobrok PT Korido di Gane

    • calendar_month Sen, 12 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Diduga Lakukan  Pembalakan Liar hingga Pelanggaran HAM Investasi perkebunan sawit di Gane Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara hampir 11 tahun ini, meninggalkan penderitaan luar biasa bagi warga. Mereka tidak hanya kehilangan ruang kelola seperti kebun, tetapi juga menderita secara sosial dan ekonomi. Aktivitas perusahaan raksasa dari Korea bernama Korea Indonesia (Korindo) itu  bahkan diduga  […]

  • Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Pasal PSN UU Cipta Kerja

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 706
    • 0Komentar

    Delapan organisasi masyarakat sipil bersama sejumlah individu terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN) resmi mengajukan permohonan judicial review terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.  Gugatan tersebut diajukan ke Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia pada Jumat (4/7/2025). Sejumlah organisasi masyarakat sipil tersebut yaitu, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Wahana Lingkungan […]

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.060
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Kondisi Bumi Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 658
    • 2Komentar

    Bencana Akibat Perubahan Iklim Makin Mangancam Bumi Rabu 23 Maret 2023 hari ini bertepatan dengan Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-73. Sebagai informasi, peringatan HMD yang jatuh pada 23 Maret merupakan tanggal yang mengacu pada konvensi meteorologi 23 maret 1950. Konvensi tersebut merupakan rangkaian panjang dari berdirinya badan cuaca di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Organisasi […]

expand_less