Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 11 Okt 2020
  • visibility 841

Ocean Eye merupakan aplikasi teknologi keuangan (fintech) inovatif yang dapat digunakan oleh industri pariwisata bahari. Khususnya operator selam dan wisatawan, untuk melaporkan keberadaan spesies karismatik di area KKP serta kawasan serupa lainnya.

Rilis yang dikirimkan pengelola program USAID SEA Maluku Utara diterima kabarpulau.co.id/ menyebutkan,  teknologi ini akan menginformasikan keberadaan spesies karismatik  yang nanti akan menjadi dasar dalam menentukan jumlah donasi kecil untuk masyarakat. Donas ini  sebagai kontribusi dari wisatawan yang berwisata ke daerah pesisir, guna  mendorong perlindungan biota ini.

 Dana ini dapat menjadi pendapatan alternatif dari ekstraksi sumberdaya laut secara langsung, aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk menerima sumber pendapatan dari upaya konservasi yang dilakukan .

“Prototipe pertama Ocean Eye dapat digunakan dan diuji coba lapangan pada triwulan akhir 2020 di Morotai. Morotai adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang terkenal dengan lokasi menyelam bersama hiu,” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

 Dia bilang dengan adanya Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang baru dibentuk di Morotai pada tahun 2020 ini, Ocean Eye ingin memberdayakan dan menyediakan insentif kepada masyarakat sekitar dan operator pariwisata untuk mendukung upaya konservasi jangka panjang di daerah tersebut.

Infografis Karang Kokoya Morotai

KKP Rao-Tanjung Dehegila yang baru dibentuk di Morotai ini merupakan salah satu KKP yang di dukung pengembangannya oleh Proyek USAID SEA (2016-2021) yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam merencanakan lokasi dan zona, melakukan survei dasar dan membantu pembuatan rencana pengelolaan KKP.

“ “Kawasan Konservasi Perairan akan mendapat banyak manfaat dari penerapan Ocean Eye” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

Di Morotai sendiri saat ini memiliki   tiga operator selam  yaitu Shark Diving Indonesia, Dive Morotai dan GOMO yang telah setuju untuk menggunakan dan mencoba aplikasi Ocean Eye. Selain itu ada juga   tiga komunitas masyarakat lokal yang berada di pulau-pulau kecil di tengah KKP dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya, akan menjadi penerima dana jasa ekosistem yang dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung. Dia bilang berdasarkan pemodelan dan proyeksi yang dilakukan, serta data pengamatan  yang dikumpulkan selama survei daya dukung pada 2019, dana pembayaran dari pertemuan dengan spesies yang diharapkan ini akan memberikan pendapatan ke masyarakat mencapai US $ 400.000 pada tahun ke-6.

Infografis Keanekragaman Hayati Dodola Kecil

Pada basis harian per penyelam, dana yang dikumpulkan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat pada periode berbeda, dari US $4,50 di tahun pertama menjadi US $10,20 di tahun ke-6, mencerminkan peningkatan pertemuan dengan populasi spesies yang pulih dan lebih banyak wisatawan yang mengunjungi Morotai.

Di bawah ini adalah ringkasan rencana penggunaan dana yang akan diterima oleh masyarakat dari dana jasa ekosistem melalui Ocean Eye

Desa Ngele-Ngele berencana untuk menjalankan program konservasi seperti restorasi terumbu karang dan melakukan kegiatan pendidikan dan edukasi peduli lingkungan di sekolah setempat.

 Desa Galo-Galo berencana untuk mendukung kelompok usaha wanita dalam meningkatkan keterampilan, pemasaran dan produksi

Desa Kolorai berencana untuk melakukan pemantauan rutin di Kawasan Konservasi Perairan untuk menjaga wisata bahari tetap lestari dalam upaya mendukung upaya konservasi dan mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Kolorai seperti penguatan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS).

Meskipun pandemi melanda, Morotai tetap menerima beberapa turis penyelam domestik saat ini yang memungkinkan pengumpulan data frekuensi pengamatan berbagai hewan serta menetapkan harga ideal per penglihatan per spesies. Penyaluran dana untuk masyarakat akan menggunakan uang tunai untuk saat ini, tetapi pada percobaan ini,akan pula mengidentifikasi mekanisme transfer digital berbiaya rendah yang paling sesuai untuk daerah tersebut.

Infografis kekayaan bawah laut Galo galo

 Sari Tolvanen CEO Ocean Eye menjelaskan,  setelah uji coba pada triwulan akhir 2020, Ocean Eye akan siap untuk meningkatkan skala global dan membantu mengarahkan upaya konservasi di dunia pariwisata pasca pandemi. “Pandemi telah menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa masyarakat tidak memiliki insentif jangka panjang untuk konservasi, di banyak daerah perburuan satwa liar telah marak terjadi. Ocean Eye kini dapat membantu memastikan bahwa dengan situasi pandemi, tidak harus mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati” kata Sari Tolvanen.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • O Hongana Manyawa Penjaga Bumi Halmahera

    • calendar_month Rab, 15 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 1.028
    • 0Komentar

    O Hongana Manyawa di Sungai Ake Jira foto AMAN Malut

  • Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar Masif

    • calendar_month Jum, 8 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 844
    • 0Komentar

    Pintuk Masuk Keluar Malut, Perlu Pengawasan  Ketat Perburuan dan perdagangan  satwa  liar   di Maluku Utara terbilang massive. Terutama jenis burung  paruh bengkok  Karena itu  butuh upaya pencegahan dan penanganan  dengan  melibatkan semua pihak terkait.     Hal ini yang mendasari Balai Koservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Maluku didukung Non Government Organisation  (NGO)  yang concern terhadap isyu ini […]

  • Abrasi, Jalan Raya di Laiwui Obi Nyaris Putus  

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 802
    • 1Komentar

    Desa pesisir di sejumlah pulau di Maluku Utara menghadapi masalah serius. Masalah diakibatkan oleh  adanya kenaikan permulaan air laut. Penulusuran kabarpulau.co.id/ di sejumlah pulau di Maluku Utara, menemukan  berbagai fasilitas rusak akibat adanya abrasi pantai.  Di Pulau Obi misalnya,  fasilitas seperti  tanggul penahan ombak  patah. Bahkan jalan raya yang berada di tepi pantai juga  hancur […]

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 943
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

  • Mangrove di Maluku Utara Makin Terdesak

    • calendar_month Sel, 1 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 871
    • 0Komentar

    Butuh Kolaborasi Multi Pihak Selamatkan Mangrove Berdasakan data terbaru one map mangrove yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Maluku Utara memiliki hutan mangrove  mencapai 41.228,7 hektar. Dari luasan itu, kondisinya semakin hari semakin terdesak. Baik oleh pemukiman, industri ekstraktif, perkebunan, tambak bahkan perluasan kota. Mangrove juga menjadi sumber bahan bakar  sebagian masyarakat  di […]

  • Aksi Hari Tani, Desak Wujudkan Reforma Agraria

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 792
    • 1Komentar

    Peringatan Hari Tani yang diperingati setiap  24 September  diperingati juga oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara bersama sejumlah organisasi gerakan mahasiswa  di Maluku Utara. Perayaan Hari Tani 2023 yang bertepatan dengan 63 tahun kelahiran UU Nomor 5/1960 tentang Undang–undang pokok Agraria (UUPA) itu, para aktivis turut menyuarakan  berbagai ketimpangan terkait persoalan agraria di daerah […]

expand_less