Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Maluku Utara Masuk Wilayah Ancaman La Nina

Maluku Utara Masuk Wilayah Ancaman La Nina

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 14 Okt 2020
  • visibility 804

Desember- Januari  Curah Hujan Tinggi, Perlu Antisipasi Pemda

Hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina. Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020.

Rilis yang dikeluarkan BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Bulan Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.

Peristiwa Banjir Saolat Wasile/foto Munaadi Kilkoda

Pada Bulan Oktober ini beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki Musim Hujan, di antaranya: Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat. Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Rilis resmi BMKG    menyebutkan, 34,8 persen daerah di Indonesia diprakirakan sudah masuk awal musim hujan pada Oktober  BMKG  menginformasikan musim hujan di Indonesia akan dimulai secara bertahap di akhir Oktober, terutama  dari wilayah Indonesia Barat.

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Siswanto melalui keterangan tertulisnya kepada media  mengatakan, 34,8 persen daerah diprakirakan sudah masuk awal musim hujan pada Oktober. Daerah yang mulai memasuki musim hujan pada Oktober ini yaitu, – Sumatera: Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka, Lampung – Jawa: Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur – Kalimantan: Sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Kaltara. – Sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil NTB.

Sedangkan  puncak musim hujan umumnya akan terjadi pada Januari 2020, tetapi beberapa daerah akan mengalami puncak musim hujan pada November. Puncak musim hujan untuk beberapa daerah di Indonesia.

Puncak musim hujan di Sumatera diprakirakan terjadi mulai November 2020.  Puncak musim hujan di Kalimantan diprakirakan terjadi mulai Desember 2020 hingga Januari 2021. Puncak musim hujan di Jawa dan Bali umumnya diprakirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2021.  Puncak musim hujan di Sulawesi dan Maluku Utara diprakirakan terjadi mulai dari Januari dan April 2021. Puncak musim hujan di Maluku dan Papua diprakirakan terjadi mulai dari Januari dan Maret 2021. Pada musim hujan kali ini akan ada potensi peningkatan curah hujan sebagai dampak dari fenomena La Nina.  “Kondisi La Nina dapat berlangsung dengan durasi selama beberapa bulan hingga dua tahun dan berulang setiap beberapa tahun (siklus 2-8 tahun).  

Apa dampak La Nina?

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Herizal melalui keterangan tertulisnya mengatakan berdasar catatan historis, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya. Namun dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua. Pada Oktober ini beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim hujan, termasuk Maluku Utara.   

Data yang dikumpulkan kabarpulau.co.id/ menyebutkan  untuk Maluku Utara sejak awal 2020 hingga saat ini dampak akibat hujan sangat massive. Banjir  terjadi di mana mana. Hingga Agustus lalu banjir masih melanda  beberapa  tempat dan menyebabkan   kerugian harta benda. Misalnya di di Kao Halmahera Utara, Mangoli Kepulauan Sula, Weda Halmahera Tengah, Wasile Halmahera Timur dan Gane Halmahera Selatan, Ini adalah beberapa dampak yang terjadi di Maluku Utara.

Meski  ancaman La nina ini begitu serius, ternyata belum mendapat perhatian serius dari pemerintah  Provinsi maupun kabupaten/kota. BMKG Kota Ternate misalnya mengeluhnya slow respon dari pemerintah daerah. Kepala Bagian Data dan Informasi BMKG Kota Ternate Setyawan saat dikonfirmasi mengakui, soal ini sangat lambat direspon pemerintah. Padahal rilis resmi secara nasional  soal ancaman La nina telah disampaikan sejak 3 Oktober lalu.

Diakui memang  dampak La nina ini tidak terjadi di semua wilayah di Indonesia.  Menurut dia, wilayah Malut sesuai analisis klimatologis terhadap La Nina sebelumnya atau tahun kejadian,  diperoleh  ada dampak peningkatan  curah hujannya.

Banjir Saolat Haltim

Dia juga bilang  untuk penyampaian rilis mereka sudah lakukan. Misalnya ke BPBD, Dinas Pertanian, ketahanan pangan dan lain lain se-Maluku Utara. Namun masih kurang diperhatikn. “Rilis juga sudah kami sampaikn ke pemerintah provinsi  dan pemda. Kami akan  up date tiap bulannya,” kata Setyawan.  

Sekretaris Kota Ternate Yusuf Sunya misalnya, coba dikonfirmasi Rabu (14/10)  soal ini, mengaku tak tahu. Dia bilang tidak ada surat, misalnya menyangkut pemberitahuan atau rilis   soal  ini.  Dia bilang kalau  ada surat atau pemberitahuan masuk ke mejanya menyangkut tindak lanjut ancaman La Nina    pasti segera ditindaklanjuti.  Sebab kata dia sebenarnya  hal ini juga serius.  Apalagi Kota Ternate yang  saat ini kondisi kotanya  sangat rawan karena  kondisi lahan  yang sudah banyak dihiasi beton. Begitu juga soal saluran drainase yang kurang baik  maka  banjir akan sangat mengancam  warga kota.  Dia bilang kalau  ada peringatan seperti itu pasti ditindaklanjuti.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 2.340
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

  • Tiga Persen APBD Harus Dialokasikan Atasi Sampah

    • calendar_month Sen, 16 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.004
    • 0Komentar

    Gubernur/Bupati Wali Kota Didesak Buat Aksi Nyata Kepala Daerah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku Utara  dan Kabupaten/kota  didesak segera melakukan aksi nyata  atasi sampah yang  makin tidak bisa tertangani  saat ini. Aksi nyata  yang harus dilakukan kepala daerah  Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), […]

  • Harus Ada Kolaborasi Media Dorong Isu Lingkungan

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Masalah lingkungan sudah tak mungkin “tidak” menjadi isu utama. Krisis iklim misalnya yang terjadi sudah sangat berdampak pada kehidupan banyak orang. Karena kondisi ini bukan zamannya lagi media bekerja sendiri-sendiri tetapi harus berkolaborasi mendorong isu penting ini. Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)  Upi Asmaradana saat membuka pelatihan “Green Growth Journalism” di Makassar […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 957
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

  • Gorengan Tak Baik untuk Buka Puasa

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 625
    • 3Komentar

    Gorengan menjadi menu favorit bagi sebagian besar orang sebagai santapan berbuka puasa. Dikutip dari (https://www.ugm.ac.id/id/berita/23594-  Dietisien FKKMK UGM, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD  tidak menyarankan gorengan dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Pakar-UGM itu  mengungkapkan,  alasannya bahwa  gorengan-tak-baik-untuk-buka-puasa sehingga sangat tidak direkomendasikan untuk berbuka. Hal ini  karena komposisinya dominan karbohidrat dan lemak tidak sehat.   […]

  • Ini Hasil Kajian Climate Right Internasional

    • calendar_month Kam, 18 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 929
    • 1Komentar

    Proyek Nikel Raksasa di Halmahera Rusak  Lingkungan, Iklim dan  Pelanggaran HAM Hasil kajian yang dikeluarkan Climate Right Internasional di Jakarta pada Kamis 17 Januari 2024  menyebutkan  industri nikel raksasa bernilai milyaran dollar di Maluku Utara dan pertambangan nikel di sekitarnya telah melanggar hak asasi penduduk lokal, termasuk Masyarakat Adat, menyebabkan deforestasi yang signifikan, pencemaran udara […]

expand_less