Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau

Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 24 Okt 2020
  • visibility 610

Kolaborasi Jaga Adat dan Budaya untuk Alam Lestari

Sebuah kolaborasi digagas dua lembaga, EcoNusa Indonesia dan Perkumpulan PakaTiva. Lembaga  yang berbasis di Papua, Papua Barat Maluku dan Maluku Utara itu,  menggelar Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau.  Mengusung tema besar Menjaga Adat dan Budaya Membangun Alam yang Lestari. Ekspedisinya telah dimulai dari Papua Barat sejak  22 Oktober dan berakhir 15 November dengan  waktu 25- 30 hari.      

Ekspedisinya meliputi  tiga provinsi, yaitu Papua Barat, Maluku Utara dan Maluku. Untuk ekspedisinya  mengangkat tema Beradat Jaga Hutan Beradat Jaga Laut Bakudukung Jaga Alam Maluku. Sementara untuk Festival Kampung Mengangkat Tema Jaga Adat dan Budaya untuk Alam yang Lestari.

Untuk ekspedisinya  melalui  3 rute perjalanan yaitu: rute1, 22 October–3 Nov (13 hari): Sorong sampai Ternate. Rute II dari 3- 6 November (3 Hari): Transit Ternate-Tulehu. Rute III, 6-18 November (12 Hari) : Tulehu- Kepualauan Banda.

Di Maluku Utara, ekspedisi menggunakan kapal finisi  bernama Kurabesi itu, menyinggahi Gane Dalam Gane Barat Selatan, Pulau Sali, Samo, Posi-posi dan Gumira Gane Barat Utara. Selanjutnya   menuju Pasir Putih Kayoa, Samsuma Pulau  Makian, Pulau Tidore  dan berakhir di Ternate.  

Kegiatan bakar sagu kasbi/singkong di Paasir Putih Kayoa persiapan festival kampung pulau/foto Alken

“Ada beberapa kampong yang disinggahi  tim ekspedisi ini,  turut menggelar  Festival Kampong   Pulau,  yakni  Gane Dalam, Samo, Posi- posi, Gumira dan Pasir Putih Kayoa.  Di sana akan digelar berbagai atraksi budaya dan tradisi. Mulai  dari menanam dan mengolah pangan hingga adat dan tradisi  menjaga alam.

“Semua desa yang disinggahi tim ekspedisi  selain  gelar festival kampong juga  dibuat penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis,” jelas Penanggung jawab Festival Kampung  Pulau  Zavira Daeng Barang. Kegiatan ini  turut melibatkan media dari Jakarta dan Maluku Utara.

Di Pulau Tidore tim ekspedisi akan dijamu oleh pihak Kesultanan Tidore dengan suguhan  kuliner tradisional Kedaton Kesultanan Tidore.  Tim juga akan mengunjungi kampong ekologi di Kalaodi Tidore Timur. Di sana  mereka akan  menggelar penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis. Usai kegiatan itu, tim ekspedisi akan diterima oleh struktur adat Kalaodi sambil menikmati keindahan alam pegunungan Tidore.

Sementara di Ternate, tim ekspedisi akan mengikuti kegiatan jelajah pusaka Ternate sebagai  bagian dari cara tim ekspedisi menelusuri sejarah rempah di Ternate.  Tim  akan disuguhi berbagai  kuliner khas Ternate, dilanjutkan  jelajah benteng  yang berakhir di Benteng Kastela. Setelah dua hari di Ternate,  tim ekspedisi selanjutnya menuju Tulehu dan Banda di Maluku.

Aktivitas menjahit daun rumbia/atap sagu yang mulai ditinggalkan persiapan sambut Festival Kampung Pulau/foto Ata

Direktur Eksutif Econusa Bustar Maitar yang ikut serta dalam ekspedisi ini menjelaskan, dia bersama Tim EcoNusa telah memulai perjalanan kedua menjangkau kampung- kampung terpencil di pesisir dan pulau-pulau kecil di Papua Barat.

“Perjalanan pertama telah kami lakukan  September lalu. Menyusuri kampung- kampung pesisir dan pulau di Sorong dan Raja Ampat selama 15 Hari. Misi   perjalanan ini adalah saling memberikan dukungan dan semangat bersama masyarakat akibat dampak COVID-19.

COVID-19 bukan saja tentang virus  yang menakutkan itu, tetapi ada dampak lain yang ditimbulkan. Terutama ekonomi dan ancaman ketahanan pangan,” jelasnya.

Dia bilang, misi perjalanan kedua ini akan lebih banyak terfokus di Maluku Utara dan Maluku dengan pulau-pulau kecil. Sebagian dari kampung-kampung ini  terpencil yang mungkin paling terpencil di wilayah ini.  Sebagian di antaranya kampung-kampung yang  wilayah hutannya paling terancam karena ekspansi pembukaan perkebunan skala besar dan tambang.  Seluruhnya adalah kampung- kampung yang  minim fasilitas kesehatan  atau bahkan tidak ada sama sekali.

Demplot untuk percontohan menyiapkan pangan warga persiapan sambut festival kampung pulau/foto Ata

“Kami berangkat dari Sorong Papua Barat menggunakan kapal kayu tradisional (Kurabesi,red) yang memiliki fasilitas memadai untuk mendukung misi kami. Tim kami terdiri dari sukarelawan yang direkrut sebanyak 22 orang  terdiri dari 2  dokter, 2  perawat, 4  ahli pertanian, 4  ahli dokumentasi, 8 orang relawan logistik dan 2   pendukung administrasi.  Kami juga dibantu 11 crew kapal yang professional,” jelasnya.

Dia mengaku sangat bangga dengan  keberanian para relawan muda yang bersama. Baik  dalam perjalanan pertama maupun yang kedua saat ini.

“Di saat orang lain sibuk bekerja dari rumah, atau sibuk seminar online juga dari rumah dan hal-hal sejenisnya, Anak-anak muda ini dengan berani terjun dalam resiko terpapar COVID-19, virus yang paling ditakuti saat ini,” imbuhnya.

Dia bilang, bagi  para relawan,  ada banyak orang di luar sana, terutama yang jauh dari fasilitas kesehatan atau  fasilitas pendukung lainnya  membutuhkan  sentuhan. Mereka adalah kelompok rentan yang perlu mendapatkan dukungan. Walaupan jauh dari “kerumunan virus” tetapi sekali mareka terpapar taruhannya adalah nyawa sekampung karena minimnya fasilitas. Saat ini selain Virus Corona, ekonomi juga terdampak signifikan, mereka tidak bisa dengan leluasa lagi menjual hasil-hasil produksi mareka. Bahkan di beberapa tempat aktivitas penghancuran hutan oleh perusahaan besar terus berlangsung.

“Salah satu relawan kami menyampaikan bahwa COVID-19 bukan lagi sebuah resiko, COVID-19 adalah sebuah “kenyataan hidup” saat ini yang harus kita hadapi. COVID-19 akan ada terus bersama kita sampai dalam waktu yang sangat lama atau bahkan seterusnya,” ujar Bustar.

 CORONA tidak seharusnya menghentikan manusia untuk saling bantu, terutama masyarakat yang tidak punya “kemewahan” fasilitas pendukung seperti  di perkotaan. Yang harus dilakukan adalah terus meningkatkan daya tahan tubuh  (imun) dan menjalani protokol kesehatan yang ketat.

Perjalanan pertama dan kedua ini juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Semua tim yang ikut serta harus melakukan SWAB sebelum ikut serta dan   menjalankan protokol sangat ketat ketika berinteraksi sesama tim dan masyarakat. Secara reguler melakukan tes untuk semua anggota tim, kapal  juga secara reguler setiap hari dibersihkan dan dilakukan disinfektan. Resiko terpapar COVID tetap selalu ada dan untuk itu protokol  penanganan kasus. Jika terjadi juga telah dibuat dan dijalankan dengan ketat baik selama perjalanan maupun  beraktifitas dengan masyarakat.

“Kami juga membawa  kurang lebih 8 ton barang  sarana produksi pertanian, obat-obatan, masker kain yang sebagain diproduksi oleh kelompok ibu-ibu di Maluku dan Papua, alat pelindung diri lengkap untuk tenaga medis yang akan diberikan kepada Puskesmas, materi sosialisasi terkait COVID-19 dan Alat tes cepat COVID-19. Semua barang-barang ini adalah donasi masyarakat umum dan organisasi baik di Indonesia maupun dari luar negeri termasuk dari Anda semua,” imbuhnya.

Selain memberikan dukungan kepada masyarakat terkait dampak COVID-19, memperkuat ketahanan pangan dan  pemulihan ekonomi masyarakat lokal.  Yakni melakukan pemantauan terhadap situasi hutan. Karena itu bersama masyarakat di berarapa tempat  akan melakukan pembersihan pantai yang  untuk meningkatkan kesadaran semua bahwa jika tidak berhenti menggunakan plastik sekali pakai,  pada  2050  akan lebih banyak plastik dari pada ikan.  Ini tentu membahayakan. “Kami juga akan mendokumentasikan bagaimana kearifan masyarakat,  hidup berdampaingan dengan alam tanpa saling merusak  baik terkait hutan maupun laut.

ibu ibu desa Gumira juga sudah mulai mengembangkan pembuatan minyak kelapa, sebagai produk lokal foto/mubalik

Perjalanan ini kata Bustar, akan menjadi salah satu perjanalan panjang lintas pulau.  Selama kurang lebih 28 hari, akan menyinggahi 25 kampung di dalam tujuh kabupaten dan tiga provinsi yaitu Papua Barat, Maluku Utara dan Maluku. Akan melintasi jalur laut sepanjang kurang lebih 2000 kilometer.

Kisah Gurabesi/Kurabesi

Bustar turut berkisah tentang sejarah Gurabesi/Kurabesi sebagaimana nama kapal Phinisi yang digunakan dalam ekspedisi ini. Menurutnya, Tidore sebagai kerajaan berbasis maritim  di Maluku Utara, memiliki angkatan laut tersohor. Sekira abad ke-16 sampai 17 Panglima angkatan laut Tidore berasal dari Biak bernama Gurabesi/ Kurabesi.

Dalam tahun 1649, VOC berperang dengan Tidore. Datanglah  armada yang terdiri dari 24 perahu ke Tidore  membawa bahan makanan. Kapal-kapal kecil itu datang dari kepulauan Papua untuk membantu raja Tidore, di bawah perintah seorang yang bernama Gurabesi.”

Kisah Gurabesi berkaitan erat dengan sejarah Kepulauan Raja Ampat. Sebelum berlayar ke Tidore, Gurabesi dan pasukannya singgah di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Setelah bertahun-tahun menetap di Pulau ini, dan membangun pangkalan laut yang kuat, Gurabesi memimpin daerah ini dengan perkasa. Ia juga menjadikan Kepulauan Raja Ampat sampai Seram sebagai jalur perniagaan yang strategis.

Ketika Gurabesi berlayar ke Tidore dengan maksud berdagang, ia turut membantu Kesultanan Tidore menghadapi Kesultanan Jailolo dan Ternate. Atas kegemilangannya memimpin pertempuran laut, Gurabesi diangkat menjadi panglima perang angkatan laut Kesultanan Tidore.

Selain itu, sebagai imbalannya, Sultan Tidore mengizinkan anak perempuannya, Boki Tabai, menjadi istri Gurabesi.

Sebelum Gurabesi bersama istrinya berangkat kembali ke Raja Ampat, Sultan Tidore memberi mandat kepada Gurabesi untuk menjadi raja di Kepulauan Raja Ampat dan berpesan kepadanya bahwa kerajaan Tidore akan memberikan dukungan bantuan kepada Gurabesi untuk mendirikan kekuasannya. Selain itu, kerajaan Gurabesi tetap menjadi sekutu Tidore.

Mereka tiba di Pulau Waigeo dan menetap di pusat Pulau Waigeo. Dari Waigeo itulah kekuasaan Gurabesi berkembang ke pulau-pulau lainnya di Kepulauan Raja Ampat, seperti Misol, Salawati, Batanta.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • JustCOP Kritik Second NDC Indonesia: Minim Partisipasi, Lemah Substansi dan Komitmen terhadap Krisis Iklim

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 576
    • 0Komentar

    Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup menggelar Konsultasi Second Nationally Determined Contribution (SNDC) Indonesia, pada Kamis, 23  Oktober 2025 di Jakarta. Acara yang digelar tersebut lebih layak disebut sebagai sosialisasi SNDC Indonesia ketimbang konsultasi sebab publik tidak mempunyai  kesempatan yang adil dan bermakna dalam penyusunan SNDC yang akan disetorkan  menjelang perhelatan Conference of the Parties (COP)30- […]

  • Koalisi CSO dan Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat

    • calendar_month Kam, 10 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 613
    • 0Komentar

    Masyarakat Adat Tobelo Dalam di Hutan Halmahera Benteng Terakhir Hutan Halmahera foto Opan Jacky Polhut TNAL

  • Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 346
    • 0Komentar

    Halmaherapedia— Kepiting kenari atau birgus latro adalah salah satu sumber daya perikanan di Maluku Utara. Potensi ini berada di hamper semua pulau di Maluku Utara.salah satunya di  Desa Gemia Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Untuk mengelola secara berkelanjutan sumberdaya alam ini  agar tidak habis di alam, maka perlu dilakukan pembudidayaan. Selama ini masyarakat masih mengandalkan […]

  • Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

    • calendar_month Sel, 9 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 884
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk […]

  • Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 649
    • 1Komentar

    Air bersih menjadi kebutuhan paling urgen. Mulai dari makan minum hingga  mandi, cuci dan kakus (MCK). Setidaknya, hal ini juga sedang dialami warga  Desa Aer Mangga Kecamatan Obi Pulau Obi Halmahera Selatan. Saat kabarpulau co.id mengunjungi Desa itu Senin (6/2/2023) pekan lalu, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat menyuarakan  keluhannya terkait masalah yang mereka hadapi […]

  • Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR

    • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 667
    • 0Komentar

    Rumpon yang pernah dibersihkan di laut Obi karena tak berizin foto DKP Malut

expand_less