Home / Kabar Kampung

Kamis, 3 Desember 2020 - 10:10 WIT

Dari Mana Kenari Makean Berasal ?

Selain  rempah cengkih dan pala, salah satu tanaman lokal Maluku Utara yang menghidupkan warga adalah pohon kenari. Buah dari pohon kenari  dapat diolah menjadi berbagai bahan pencampur kue. Tidak itu saja saat ini dikembangkan menjadi bahan obat dan minyak.  Kenari sebenarnya menjadi pohon kehidupan bagi warga yang mendiami Pulau Makean   Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Dari kenarilah biaya hidup sehari-hari  bisa tercukupi. Bahkan biaya pendidikan hingga ada yang ditabung untuk ongkos naik haji.  

Banyak warga di Pulau Makean meyakini kenari adalah pohon asli yang tumbuh dan berkembang di pulau Makean. Meski demikian berdasarkan beberapa catatan sejarah  kehadiran kenari di Pulau Makean punya kaitan erat dengan  sejarah cengkih di zaman kolonial.  

Dosen Sejarah  Universitas Khairun Ternate Irfan Ahmad menjelaskan,  sejarah kenari  tidak terlepas  dari sejarah cengkih zansibar. Menurut dia, berdasarkan Histoy Das Maluccas   laporan Gubernur  Antonio Galvao,  sejak dahulu kualitas cengkih terbaik  berada di Pulau Makean.  Hal ini diakui para pedagang Eropa sebagaimana isi laporan Gubernur Antonio Galvao dalam “History Das Maluccas”. Karena  itu juga  pulau Makean selalu menjadi rebutan. Bahkan sempat memunculkan kemarahan Sultan Khairun di zamannya karena ada intervensi Portugis dalam melakukan transaksi dagang langsung ke pulau Makean.

Proses memisahkan kenari dari cangkangnya

Irfan  bilang,  ketika Belanda dengan perusahaan dagang (VOC) masuk di Ternate dan tidak mampu membendung lajunya perdagangan cengkih, maka muncul gagasan melakukan penebangan cengkih atau  dikanal dengan istilah  pelayaran hongi  atau hongitochten.   Pulau Makeang  menjadi  salah satu wilayah sasaran  program penebangan tersebut.  Pada 1652-1654 terjadi penebangan besar-besaran cengkih. Untuk menghindari konflik terbuka masyarakat Makean dengan VOC- Ternate maka dibuatlah cerita bahwa pembelian  harga akar dan batang cengkeh itu lebih mahal dari buahnya. Di saat yang sama  pihak VOC juga memperkenalkan jenis tanaman baru  yakni Kenari.

Tipu daya penjajah Belanda membeli batang hingga akar cengkih ini membuat masyarakat Makeang berlomba-lomba menjual akar dan batang cengkih dan diganti dengan menanam pohon kenari.  Pohon kenari ternyata memiliki banyak manfaat menjelang abad 19 karena pihak kolonial Belanda mengajarkan cara membuat minyak goreng mengunakan kenari jauh sebelum orang Makeang mengetahui minyak goreng dari kepala.

Hingga kini, kenari selain menjadi pelindung pulau, dia sudah menjadi pohon sumber kehidupan  warga  15 desa yang mendiami pulau ini. “Jadi kenari di Makeang  didatangkan Belanda dan khusus untuk orang Makean. Beda dengan kenari di tempat lain seperti Ambon, Seram dan Hitu yang juga menjadi sasaran “penebangan cengkih kala itu,” jelas Irfan.

Ada   referensi lain menyebutkan bahwa  pohon kenari berasal dari bagian timur wilayah Malesia, yaitu kawasan Indonesia, Papua Nugini, Filipina, hingga perbatasan Australia. Pendapat ini sejalan dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa tumbuhan kenari berasal dari Maluku hingga Vanuatu, serta ada pula yang menyatakannya dari Filipina. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh jenis tanaman kenari yang terdiri dari ratusan spesies yang masing-masing tumbuh di daerah tertentu. Misalnya di Indonesia ada dua spesies, yaitu Canarium vulgare dan Canariun indicum, sedangkan dari luar negeri yaitu Canarium ovatum, Canarium harveyi, dan C. Solomonense.

Tumbuhan kenari mulai dari kawasan Malesia timur yang beriklim tropis seperti Papua, Indonesia, Filipina, Pulau Solomon, dan Vanuatu (kepulauan Pasifik). Karena memiliki nilai ekonomi dan peluang budidaya yang menjanjikan, kemudian tanaman penghasil buah kenari ini menjadi salah satu tanaman budidaya yang dikembangkan.( https://rimbakita.com/pohon-kenari/)

Batang pohon kenari yang besar menjadi pelindung tanah di hutan Pulau Makean

Dikutip dari Situs Pusat Penelitian Pengembangan Perkebunan Kementerian Pertanian,  menyebutkan bahwa,  kenari  umumnya ada di Indonesia, tetapi tumbuhan ini juga  ada di beberapa negara lain seperti Afrika, Nigeria Selatan, Madagaskar, Cina Selatan, India, Filipina, dan Bagian Selatan Asia.  Terdapat sekira 30 spesies kenari, terbanyak  di Indonesia antara lain Canarium amboinense Hoch. Buah pohon kenari berisi biji yang terbungkus cangkang (endokarp) yang keras dengan isi “daging” yang mengandung lemak dan protein tinggi. Bagian dalam cangkang  seringkali dipakai sebagai pengganti amandel (almond) untuk menghias kue. Minyak bijinya, bisa diekstrak menjadi minyak.

Baca Juga  Ini Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (1)

Klasifikasi ilmiah kenari adalah Kingdom: Plantae (Tumbuhan); Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh); Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji); Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga); Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil); Sub Kelas: Rosidae; Ordo: Sapindales; Famili: Burseraceae; Genus: Canarium; Spesies: Canarium amboinense Hoch.   

Kenari juga tumbuh di hutan primer, pada tanah berkapur, tanah berpasir maupun tanah liat, dari ketinggian rendah sampai 1500 meter di atas permukaan laut. Tinggi pohon kenari sampai 45 meter, sedangkan tinggi banir sampai 3 meter dan lebarnya 1,5 meter. Kayunya dapat digunakan sebagai kayu konstruksi yang ringan. Pohon ini juga akan mengeluarkan resin apabila pepagannya dipotong atau diiris. Minyak resin ini memiliki bau harum, shingga sering digunakan untuk minyak wangi atau parfum.  Bijinya banyak mengandung lemak manis. Biji yang kering akan mengandung 65 % minyak lemak ( = ester , asam stearine , palminine , oleine , dan minyak wijen ).  

Kenari  Tanaman Kehidupan Warga Pulau Makean

Sebagian warga di Pulau Makean menganggap pohon kenari adalah  sumber  pendapatan  dan kehidupan mereka.  Karena itu di setiap kebun warga selalu  ditanam pohon kenari.  Di Desa Samsuma Makean misalnya  dari tepi pantai sampai  kawasan  pegunungan  diisi  pohon kenari.  Pohon-pohon kenari itu  ada yang bahkan sudah berusia  sudah ratusan tahun. Meski sudah ratusan tahun, pohon kenari masih tetap berbuah  dan memberi penghasilan bagi pemiliknya.

“Biasanya lima sampai tujuh tahun umurnya, sudah mulai berbuah meskipun tidak banyak,” jelas Usman Hi Hamadi tokoh masyarakat  Samsuma.  Tanaman kenari berbuah dua kali setahun Mulai berbunga sampai matang dan jatuh itu sekira 6 bulan. Meski demkian dalam satu kebun ada kenari berbuah tidak seragam seperti musim cengkih. Setahun dua kali berbuah. Karena itu panenanya juga berulang kali.

Baca Juga  KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

Usman menyebutkan kenari di Pulau Makean selain usianya yang sudah  ratusan tahun secara rasa berbeda dengan seperti ditanam di daerah lain. Warga sendiri mengaku tidak tahu mengapa  sampai seperti itu. “Yang jelas rasa kenari Makean itu berbeda  dengan yang ditanam di Pulau Halmahera atau di pulau lainnya di Maluku Utara. 

Buah kenari yang diolah menjadi halua kenari/ foto mahmud Ichi

Hasil kenari sebenarnya melimpah di Pulau Makean. Sayangnya sampai saat ini  pemasarannya belum se-massive kopra, cengkih dan pala. Karena itu harganya juga sering fluktuatif. Kebutuhanya  naik hanya   saat   hari raya untuk  kebutuhan pembuatan kue. Sementara di bulan lainnya terbilang sepi. “Saat ini harga kenari  antara Rp60 ribu  sampai Rp70 ribu per kilo gram. Dia naik harga sampai Rp90 ribu jika jelang lebaran,” ujar Usman. Karena itu dia meminta agar produksi kenari ini juga perlu  perhatian pemerintah membantu terutama memikirkan pasar yang memberi kepastian pada para petani kenari. Selama ini petani sering dipermainkan karena mereka tidak memiliki standar harga pasar layaknya cengkih, pala  dan kopra.  Paling tidak  ada perhatian pemerintah untuk mengembangkannya. Tidak hanya menjadi bahan kue. Mungkin bisa dikembangkan menjadi minyak kenari yang  harganya bisa lebih mahal dan menguntungkan petani kenari.  “Mungkin menjadi produk yang lebih bernilai tinggi agar petani kenari juga bisa menggenjot pendapatan mereka,” harapnya.    Hasil kenari saat ini selain dijual partai ke Ternate sebagian besar warga mengolahnya menjadi halua kenari.  

Tradisi  Bebas  Pungut  Buah Kenari  untuk Orang Tak Mampu

Kenari  ternyata memiliki makna social bagi masyarakat terutama mereka yang berada di Desa Suma Makean. Pasalnya setiap buah kenari yang telah matang dan jatuh ke tanah bisa menjadi milik komunal terutama ibu-ibu. Buah yang jatuh itu tidak saja menjadi pemilik kebun tetapi bisa  jadi milik semua orang.  Di Kampung Suma Makeang hak istimewa ini  dikhususkan  kepada ibu- ibu yang berstatus janda dan tidak memiliki  pendapatam  tetap. Mereka diberi kebebasan memungut buah kenari yang telah jatuh ke tanah,  diambil untuk dijual   menambah pendapatan mereka. “Ini sebuah tradisi yang turun temurun yang penting mereka tidak memanjat dan memanen buah kenari  di pohon,” jelas Usman. “Kalau sehari  dia bisa dapat satu saloi  (alat angkut hasil kebun untuk  perempuan di Malut,red) maka satu hari ibu janda ini sudah bisa mendapatkan uang Rp100 ribu,” cerita Usman. Kenari yang dipungut ibu-ibu ini selanjutnya dipisahkan dari cangkangnya lalu dijual mentah di kampong Suma. Hal ini dilakukan ketika ada kapal  penumpang sandar di pelabuhan desa Suma. Dimana per bungkus berisi sekira 20 kenari, dijual dengan  harga Rp10 ribu  sebagai cemilan  di atas kapal. (*)   

Share :

Baca Juga

Pantai Pulau Pagama yang masuk dalam kawasan konservasi kepulauan Sula

Kabar Kampung

KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

Kabar Kampung

Ini Kondisi Jalan Sayoang -Yaba Pulau Bacan

Kabar Kampung

Dulu Tebang, Sekarang Tanam

Kabar Kampung

Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

Kabar Kampung

Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

Kabar Kampung

Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

Kabar Kampung

Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

Kabar Kampung

Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma