Mengagumkan jika terdapat kampung atau pemukiman di tengah kaldera gunung berapi. Baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak lagi. Benar saja ternyata kampung di tegah kaldera itu ada.
Di Pulau Tidore Maluku Utara ada kampung bernama Talaga, berada di tengah kaldera gunung api yang tidak aktif lagi. Sementara di Negeri Sakura Jepang, terdapat di tengah gunung berapi aktif, bernama Aogashima di Pulau Aogashima. Baik Indonesia maupun Jepang merupakan negara yang berada di kawasan cincin api Pasifik sehingga banyak gunung berapi aktif.
Lalu apa yang membuat mereka bertahan turun temurun bertahan di situ? Di Talaga misalnya warga beralasan karena memiliki kebun cengkih dan pala yang dinikmati turun temurun menjalani kehidupan.
“Orang tua kami, sampai anak-anaknya yang sudah berkeluarga memilih bertahan hidup di kampung ini karena ada lahan pertanian untuk berkebun menanam pala dan cengkih serta sayur mayur untuk dijual ke Kota Tidore. Kalau kami turun (Tidore,red) jangankan lahan kebun, kapling rumah saja sulit kami punyai,” kata Madjid Abdullah, Ketua RT Talaga. Itu alasan umum warga Lingkungan Talaga Tidore Timur yang berkampung dalam Kaldera Gunung Kie Matubu Tidore Kepulauan Maluku Utara.
Kampung ini terisolir, bahkan, nyaris ditutup pemerintah Halmahera Tengah, sebelum pemekaran 2000 lalu. Meski ada ancaman ditutup, warga bergeming. Mereka bertahan di tengah kesulitan itu. Bagi mereka, pilihan paling bahagia berada di tempat yang jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota.
Sesuai namanya, kampung mungil ini terletak dalam cerukan raksasa dan berdekatan dengan sebuah telaga. Selama bertahun-tahun, Talaga jadi salah satu daerah penghasil utama pala dan cengkih serta pemasok sayur-mayur di Tidore.
Kampung Talaga memiliki sejarah cukup panjang. Warga yang mendiami kampung ini sebenarnya gabungan dari dua desa yang ditempatkan kesultanan ke Puncak Gunung Kie Matubu.
Untuk menjangkau Talaga, harus menjadi “pendaki.” Akses jalan masuk sampai Talaga cukup sulit. Naik dari Kelurahan Maftutu. Jalanan mendaki itu, sudah dibuka tujuh tahun lalu hanya belum beraspal hingga kini. Kondisi rusak karena terkikis air maupun longsor. Tersisa seperti jalan setapak yang setiap hari dilalui warga.
Untuk sampai ke Talaga, ada dua jalan. Melalui rute Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara, atau melalui Mafututu, Kecamatan Tidore Timur. Lewat rute Rum, jarak harus ditempuh sekitar tujuh kilometer, melalui jalan kebun penuh batuan. Kalau lewat Mafututu, hanya 3,5 kilometer. Kala itu saya memilih jalur Mafututu.
Meski hanya 3,5 kilometer, pendakian memakan waktu nyaris dua jam. Jalan dengan tanah terjal menanjak-menurun, amat merepotkan pendaki amatir seperti saya. Beruntung, semilir angin sepanjang perjalanan sangat membantu. selama mendaki. Pemandangan pulau-pulau di sekitar Tidore juga terlihat menawan. Dari kejauhan, Ternate, Halmahera, Maitara, dan Hiri seakan berada di bawah saya.
Begitu tiba di tepi kaldera, perjalanan masih harus dilanjutkan menuju Kampung Talaga. Kaldera Talaga sudah lama mengering, menyisakan lahan nan subur. Sumber air di dalam cerukan raksasa itu adalah sebuah rawa yang dipenuhi tanaman sagu.
Tebing- tebing kaldera penuh kebun warga berisi pala, pinang, hingga sayur-mayur. Meski kebun-kebun itu terletak pada kontur bumi amat terjal, warga tampaknya begitu terbiasa. Kampung begitu sepi, karena sebagian besar penduduk di kebun. Talaga hanya berpenduduk 32 keluarga dengan jiwa berkisar 160 orang. Secara administratif, Talaga, masuk dalam RT/RW 10/03 Kelurahan Rum. ”Banyak warga kami sudah turun kampung. Sebagian masih punya kebun di sini, tapi tidak tinggal di sini lagi,” kata Madjid. Turun kampung berarti meninggalkan Talaga dan berpindah ke kampung lain di pesisir Tidore. Fenomena ini, katanya, marak terjadi pada 1980-an. Kala itu, pemerintah menutup satu-satunya sekolah dasar yang ada. Padahal dulu warga di sini mencapai 1.000 orang.
Penutupan sekolah membuat sebagian besar warga memilih pergi. Bukan tanpa alasan pula pemerintah menutup sekolah. Menurut cerita, kala itu ada gerakan terstruktur dan masif merelokasi warga Talaga. ”Tapi orangtua kami tetap bertahan hingga kini, kami yang meneruskan,” kata suami Sarifa Salama itu. Upaya penutupan membuat Talaga yang dulu ada dua kampong—Kampung Talaga Gamtufkange dan Talaga Mareku— kehilangan penduduk. Saat ini, hanya Talaga Mareku yang tersisa. ”Orang-orang Talaga Gamtufkange turun ke Lobi, Dowora,”
Mengapa Madjid dan penduduk lain memilih bertahan? Menurut ayah lima anak itu, pemerintah pernah “merayu” mereka pindah dengan iming-iming rumah. Madjid cs menolak lantaran Kaldera Talaga dipandang menyediakan lahan amat subur untuk berkebun.
Tak berlebihan jika lahan menjadi alasan bertahan. Tanah di kaldera amat subur. Tanaman tahunan semacam durian, pala, cengkih, pinang, kayu manis, dan sagu tumbuh subur di sana. Begitu pula sayur-mayur seperti tomat, cabai, pakis, dan sayur lilin. Talaga juga gudang sayur lilin (Setaria palmifolia). Para petani Talaga amat senang bertanam sayur ini, karena harga tergolong mahal di pasaran. Di rawa kaldera, hutan sagu masih terjaga subur. ”Sekarang sudah jarang bahalo (memangkur,red) sagu. Karena sudah ada beras,” kata Madjid terkekeh.
Belasan tahun lalu warga masih intens memangkur sagu sebagai makanan pokok. Beras, dianggap begitu mewah lantaran medan untuk membeli sangat berat, hanya dikonsumsi tiap Jumat. Seiring akses jalan, meski kondisi masih memprihatinkan, terjadi pergeseran pangan. ”Kini makanan pokok utama kami beras. Tiap hari makan nasi,” katanya.
Dari hasil bumi inilah warga Talaga menyekolahkan anak-anak mereka. Sebagian eks warga Talaga yang turun gunung juga masih memiliki kebun dalam kaldera. Pada musim panen, mereka kembali ke Talaga untuk memetik hasil. Pada waktu-waktu itu, kampung ramai. ”Mereka (eks warga,red) rata-rata rumah di Rum. Kalau musim panen, bangun rumah kebun di ujung kampung untuk tinggal sementara,” katanya.
Talaga kini telah memiliki SD dan pusat kesehatan. Aliran listrik sudah sampai ke situ sejak beberapa tahun lalu. Rumah-rumah warga rata-rata dari batubata. Untuk membangun rumah perlu perjuangan berat. ”Angkat semen dari bawah (Mafututu,red) berat. Satu sak semen biasa kami curah lalu diangkat empat perempuan, atau tiga laki-laki,” kata Wahab Ibrahim, warga Talaga.
Dalam pengelolaan lahan atau kebun, warga Talaga punya lahan berdasarkan warisan maupun kebun yang baru dibuka. Ada lahan kebun pala, cengkih maupun kebun bamboo, tanaman lain ikut menghiasi durian, kayu manis, pinang dan berbagai jenis tanaman lain.
Selain kebun perorangan, di kampung ini juga ada lahan milik bersama dikenal dengan kebun kampung. Kebun ini dua hektar ditanami pala dan cengkih. ”Lahan kebun milik bersama ini tanaman utama cengkih dan pala.”
Hasil kebun untuk pembangunan desa setempat. Ada beberapa infrastruktur desa ini, dibangun pakai uang hasil panen cengkih dan pala dari kebun kampong.
Impian warga memiliki jalan layak. Jalan bakal lebih memudahkan mereka mengangkut hasil panen ke pasar. ”Tentu saja kami butuh jalan. Tak berani minta (ke pemerintah,red). Kalau dikasih syukur, kalau belum ya tunggu.”
Ruas jalan bernama Tomadou Talaga ini, dibuka periode kedua kepemimpinan mantan Wali Kota Ahmad Mahifa sekitar 2010. Jalan sepanjang 3.5 kilo meter itu, sempat dilalui truk dan kendaraan roda dua. Lambat laun rusak. Bahkan tak bisa dilalui karena longsor dan hancur terkikis air. Kini, jalan sudah jadi jalan kebun, hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.
Dikutip dari (https://www.victorynews.id/dunia/3318391709/mengenal-aogashima-kota-kecil-yang-berada-di-tengah-gunung-berapi-aktif-di-jepang?page=2) di Jepang terdapat salah satu pulau yang penduduknya hidup berdampingan dengan gunung berapi. Pulau tersebut bernama Aogashima yang dapat dikategorikan sebagai salah satu pulau yang paling ekstrem untuk ditinggali.Merupakan salah satu pulau vulkanik di selatan Jepang yang jaraknya sekitar 358 kilometer dari selatan Tokyo dan merupakan bagian dari kepulauan Izu. Pulau berpenghuni paling selatan dan paling terisolasi itu secara politik dan administratif merupakan bagian dari Jepang. Secara biografis wilayah ini bukan bagian dari kepulauan Jepang. Aogashima berbatasan dengan Filipina Timur Laut dan terletak di utara kepulauan Bonin yang diperintah Jepang. Pulau ini dikelilingi tebing yang membuat bentuknya mirip dengan mangkuk besar. Jika dilihat dari atas bentuk pulau Aogashima mirip sebuah mangkuk besar yang dikelilingi tebing tinggi dan terjal.
Terbentuk oleh empat buah kaldera atau lubang besar seperti kuali yang saling tumpang tindih yang berarti terdapat kaldera di dalam kaldera. Topografi yang unik ini memiliki asal usul tersendiri yaitu pada tahun 1785 gunung ini mengalami letusan hebat yang membentuk kaldera. Akibatnya Aogashima tidak dihuni selama 50 tahun. Aogashima bukanlah pulau dengan gunung merapi akan tetapi, ia merupakan gunung berapi itu sendiri.
Kendati sangat terisolasi, dengan panjang 3,5 kilo meter dan lebar 2,5 kilometer pulau ini ditingal oleh sekitar 206 orang masyarakat yang sangat pemberani. Letusan terakhir di tahun 1785 menewaskan 140 yang atau setengah populasi pada masa itu tidak membuat mereka takut menjadikan pulau ini sebagai rumah mereka. Pulau Aogashima mungkin sudah tenang setelah letusan terakhirnya. Namun demikian ia adalah gunung berapi aktif yang hanya menunggu waktu sampai sekali lagi memamerkan letusannya yang sangat berbahaya.
Tetapi untungnya vulkanologi telah mengalami kemajuan sehingga mereka dapat memberikan peringatan dini tentang letusan berikutnya yang membuat masyarakat yang tinggal di Aogashima tidak perlu khawatir akan letusan gunung.
Sejarah pemukiman manusia di pulau Aogashima tidak diketahui secara pasti. Namun, sebagian besar orang di Aogashima adalah orang Jepang. Pulau ini disebutkan dalam catatan periode hedo yang disimpan di hajijojima yang mencatat aktivitas vulkanik pada 1652 dan dari tahun 1670 hingga tahun 1680.
Saat ini, Pulau Aogashima hanya memiliki satu toko satu kantor pos, dua bar, satu sekolah dasar dan satu sekolah menengah. Sementara untuk akomodasi, di pulau Aogashima terdapat beberapa penginapan kecil dan sederhana.Sebagian besar penduduk Aogashima tinggal di dinding kawa dan umumnya mereka hidup dari bertani meskipun ada beberapa di antara mereka yang hidup dengan menjadi pegawai pemerintah.(*)
CEO Kabar Pulau