Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Sampah Plastik di Laut Malut Menghawatirkan

Sampah Plastik di Laut Malut Menghawatirkan

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 16 Nov 2020
  • visibility 299

Sampah plastik yang masuk ke laut sudah sangat memprihatinkan. Ketika datang musim hujan berton- ton sampah termasuk plastik  masuk ke laut. Sampah  yang berasal dari barangka (kali mati,red) dan saluran drainase menuju laut terbilang sangat banyak.

Jumat (30/10/2020) pagi lalu misalnya, ketika   hujan di daerah hulu  sekira 30 menit, sampah sudah memenuhi kawasan laut Pelabuhan Bastiong. Sampah sampah itu turun ke laut  dibawa banjir, dicurigai berasal dari rumah- rumah warga yang berada tidak jauh dari kali mati dan barangka di daerah hulu. 

Hamparan sampah yang menghiasi laut Halmahera foto/m ichi

Wartawan media ini melihat langsung sampah yang masuk ke laut pagi itu. Saat hendak ke Pulau Makian  Halmahera Selatan  untuk tugas liputan,  dan  saat itu menunggu kapal  berangkat, tiba-tiba  banjir sampah datang  memenuhi   kawasan laut tersebut.  Banyak penumpang  kapal melihat kejadian ini turut prihatin dan angkat bicara. Mereka, menganggap  kesadaran warga kota masih rendah  dalam  penanganan sampah.  “Tidak sadar dorang ini (mereka,rd)  yang tinggal di pinggir barangka (kali mati, red). Mereka buang sampah ke barangka ahirnya ketika datang hujan, sampah dibawa banjir dan mengotori laut,” komentar Mahmud Tawari  penumpang kapal Lola Jaya asal Tahane Makean Pulau. Dia bilang kesadaran yang rendah  membuat laut dan darat dipenuhi sampah.

Selasa (9/11/2020) pekan  lalu ketika dalam perjalanan dari Gane Barat  ke Ternate dengan kapal menyaksikan   laut di depan pulau Tidore dan  Halmahera  sepanjang mata memandang terlihat sampah plastic terhampar menghiasi laut. Sampah-sampah itu terhampar seluas dua kali lapangan sepak bola.  Diduga kuat sampah-sampah ini   kiriman dari Ternate dan Tidore  usai banjir.

Mirisnya, kondisi sampah plastic di laut Ternate dan Tidore ini belum menjadi perhatian semua pihak untuk diperangi. Hingga kini sampah masih bebas dibuang di barangka dan masuk ke saluran drainase.

Pemerintah Kota Ternate melalui Kabid Persampahan Dinas Lingkuhan Hidup Kota Ternate, Yus Karim  mengaku dari 80 ton sampah yang diproduksi  warga kota, setiap hari, sekira 20 ton tidak terangkut. Akhirnya masuk ke  barangka dan saluran air atau drainase.  Produksi sampah tiap saat terus meningkat karena penduduk Kota Ternate  terus bertambah. Volume sampah  2017- 2019 mencapai 60-65 Ton per hari dan pada 2020 meningkat 80  ton per hari.

Sampah di laut kawasan Pelabuhan Bastiong usai banjir

Kategori sampah bervariasi, antara lain sampah rumah tangga, sampah tak terduga, sampah daur ulang dan lainya. Pengangkutan sampah memang dalam satu hari dilakukan rutin dua kali pengangkutan. Dalam satu minggu bisa 12 kali.  Meski demikian tidak bisa teratasi secara keseluruhan.  

Produksi   sampah semakin banyak, sementara dari sisi  armada  terbatas. Mobil angkut yang melayani  hanya ada 6 unit mobil armroll, 18 unit dump truk , dan 6 unit pick up jenis L300.  Artinya  fasilitas yang dibutuhkan masih sangat minim.

Soal sampah yang masuk ke laut ini menjadi masalah tersendiri. Yang paling dirasakan dampaknya adalah alat transportasi laut terutama speedboat dan kapal.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara  Armin Zakaria belum lama ini di Sofifi mengaku, ikut gerah dengan sampah plastic di laut ini. Sebenarnya ini persoalan serius dihadapi Maluku Utara. Dia bilang sampah plastik   tersebar di tepi pantai  dan bantaran kali mati. Sampahnya  sangat banyak. Karena itu ketika turun hujan  dan terjadi banjir, langsung dibawa ke laut sehingga ikut mengancam transportasi laut. “Kita perlu mencontoh daerah lain seperti Labuan Bajo Pulau Komodo, sampah plastik itu didaur ulang. Ada perusahaan air mineral danone  membeli botol botol bekas yang digunakan  para wisatawan untuk minum  langsung diolah kembali,”katanya.

Beragam sampah yang menghiasi laut Halmahera foto/michi

Dia bilang, banyak dampak sampah plastik. Baik terhadap transportasi maupun biota laut.  Sudah banyak sekali kejadian akibat sampah. Misalnya karung plastic yang melingkari mesin speedboat. Ini sangat membahayakan keselamatan.  Masalah ini jika terus dibiarkan  akan mengancam  masa depan laut ini. Masalah ini kata dia bagi orang kebanyakan mungkin dianggap biasa saja. Padahal dampaknya  sangat mengkhawatirkan, terutama untuk transportasi laut dan  biota yang memakan sampah plastik.  Karena masalah ini dia meminta mereka yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah agar tidak lupa memasukan isu ini,  sebagai salah satu program yang mesti ikut didorong.  Dia bilang, sampah- sampah ini memang sumber utamanya dari warga Kota di Pulau Ternate  kemudian itu dikirim ke laut  dan terdampar ke mana-mana. Akhirnya  pulau lain di Maluku Utara juga ikut terkena imbas. Dia berharap ada perhatian serius dari pemerintah kota menyangkut persoalan ini. Jika tidak dan dibiarkan terus menerus, maka  sampah plastik dan ancamannya terhadap laut semakin mengkhawatirkan. “Kita perlu gerakan yang massif  mengatasi masalah ini, didukung dengan regulasi berupa Perda mengatur  sampah plastik ini,” katanya.

Maluku Utara yang juga daerah kepulauan didorong pariwisatanya. Sementara banyak wisatwan datang mengeluhkan banyaknya sampah plastic di laut. Karena kondisi ini  dia lantas mengimbau pemilik transportasi kapal  menyiapkan tempat sampah di atas kapal. Terutama  transportasi antar pulau.

 “Kami segera membuat imbauan untuk pemilik speedboat dan kapal antarpulau menyiapkan tempat sampah  di kapal mereka,”jelas Armin. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulihkan Ekonomi Warga dari Covid-19 dengan Tanam Mangrove

    • calendar_month Sel, 6 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Pandemic Covid 19 benar-benar berdampak buruk bagi seluruh sendi kehidupan.   Hal ini juga ikut berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat terutama masyarakat kecil yang berada di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Secara nasional kondisi ini ikut  menekan pertumbuhan ekonomi.  Data resmi Badan Statitistik  5 Agustus 2020, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2018-2020 relatif menurun, hingga triwulan […]

  • Joko Nugroho Kembangkan Batatas  Aksesi Lokal, Jadi Sumber Ekonomi Penting

    Joko Nugroho Kembangkan Batatas Aksesi Lokal, Jadi Sumber Ekonomi Penting

    • calendar_month Rab, 10 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 349
    • 1Komentar

    Minggu (21/8/2025) lalu, sejak pagi hingga jelang siang,Joko Nugroho  (55) mengawasi  dua pekerja bersama istri dan satu anak perempuan nya  panen batatas atau  umbi jalar,  di kebun miliknya. Di lahan seluas  50X50 meter persegi di desa  Sidodi Goal Sahu Timur Halmahera Barat itu, Joko mengembangkan batatas yang tidak sekadar  dimakan tetapi  juga  jadi  pangan lokal […]

  • Di Musyawarah IKAPERIK, Bahas Perikanan Malut dan Tantangan Era 4.0

    • calendar_month Ming, 24 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Farid Terpilih Secara Aklamasi Ikatan Alumni Perikanan dan Kelautan (IKAPERIK) Universitas Khairun Ternate menggelar musyawarah memilih pengurus baru untuk masa jabatan 4 tahun ke depan Sabtu (22/1) kemarin.  Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gamalama Hotel Sahid  itu, turut diisi dengan seminar bertema   “Perikanan Maluku Utara dan Tantangan Industri era 4.0” Beberapa pemateri penting turut hadir yakni […]

  • Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 334
    • 0Komentar

    Sarade Kasim 50 (tahun) dan istrinya Nurima (45 tahun) sibuk membangun sebuah rumah papan di lahan kebun mereka. Bahan rumah  dari papan serta kayu olahan lainnya, diangkut dari hutan tak jauh dari situ. Rumah itu berdiri kurang lebih 1,5 kilometer dari desa Bicoli Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Provinsi Maluku Utara. Tepatnya di bagian […]

  • Dokumen RTRW Halmahera Tengah Memihak Industri (1)

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 2.060
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah pada 5 September 2024 lalu telah mengesahkan perubahan Peraturan Daerah  Kabupaten Halmahera Tengah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Halmahera Tengah 2012-2032 menjadi Perda nomor 3 Tahun 2024. Masa berlaku Perda Perubahan tersebut hingga 2043 mendatang. Dokumen setebal 241 halaman dengan lampiran-lampirannya itu, telah dinyatakan berlaku sejak […]

  • Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
    • account_circle
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat […]

expand_less