Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
  • visibility 340

Bagian dari Upaya Konservasi Ake Gaale

Selasa 22 Maret 2022 hari ini, menjadi momentum penting memperingati Hari Air Sedunia. Di berbagai belahan bumi, masyarakat  atau komunitas memperingati hari air dengan berbagai kegiatan, baik ceremony maupun aksi nyata.  

Di Ternate Maluku Utara  terutama masyarakat yang bermukim di sekitar sumber mata air Ake Gaale di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara,   menggelar berbagai  kegiatan untuk memperingatinya. Salah satunya dengan   kegiatan ritual Sigofi Ake   atau membersihkan air. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin 21  Maret pagi. Sebelumnya warga juga telah melaksanakan pembuatan sumur resapan, dan kampanye pentingya air tanah baik di media maupun   kepada siswa siswi di kota Ternate.   Sementara acara puncaknya pada 30 Maret nanti dengan menanam pohon sagu di kawasan Perumda Ake Gaale.    

Proses ritual Sou Ake

Untuk acara ritual sendiri,  sejak pagi  sekira pukul 06.30  WIT,  puluhan orang berbaju putih dan berpeci itu  sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi di atas  mulut air  Ake Gaale  Kelurahan Sangaji Kota Ternate. Kehadiran mereka di  tempat tersebut, untuk melaksanakan sebuah acara ritual atau baca doa, sebagai sebuah ikhtiar, permntaan pada sang pencipta untuk melindingi alam di mana warga tinggal dan memanfaatkan apa yang ada di dalamnya termasuk air. Mereka adalah pengurus masjid, tokoh masyarakat  dan tokoh agama. memanjatkan doa doa  bagi sang pencipta,  tujuannya agar kondisi air tanah Ake Gaale kembali seperti sedia kala. Sejumlah doa   dipanjatkan untuk keselamatan  air dan alam serta meminta keridhoan dari sang pencipta. 

Kehadiran mereka  itu, adalah  bagian dari sebuah agenda   ritual yang dikenal dengan Sigofi Ake atau  ritual membersihkan air.

Warga setempat khususnya masyarakat  adat Ternate meyakini ada kekuatan alam yang berada di luar kemampuan manusia yang perlu dimintai pertolongan yakni Allah.  Dalam ritual ini, selain doa doa yang dipanjatkan termasuk juga tahlil  dan puji-pujian kepada Allah, juga ada   prosesi berdasarkan adat dan tradisi yang sudah dilaksanakan turun temurun yakni diawali dengan mendatangi tempat atau menziarahi tempat yang dianggap keramat dan memiliki tuah. Setelah itu dibacakan doa doa. Prosesi doanya tiga kali dilaksanakan di tiga tempat. Pertama  di mulut  air atau hilir mata air ake Gaale, setelah itu di sumber mata air dan terakhir di kolam besar ake gaale saat ini.

Tokoh masyarakat Ake Gaale Abdul Muthalib Ma’bud menjelaskan  ritual ini adalah bagian dari cara masyarakat  meminta pertolongan kepada pemilik alam untuk menjaga dan melindungi alam termasuk  Ake Gaale ini.

“Doa doa yang dipanjatkan itu meminta kepada pemilik  rahmat  dan rezeki  dari alam  baik di darat dan laut. Lalu ada doa selamat pujia-pujian kepada sang pencipta,”kataya.    

Menurutnya untuk menyelamatkan air ini tidak hanya proses secara ilmiah  yakni tanam pohon, buat  sumur resapan dan berbagai kegiatan konservasi lainnya. Tetapi  juga ada kearifan lokal milik masyarakat juga turut dilakukan sehingga ikut menjaga dan melindungi air Ake Gaale yang  menghidupi masyarakat Kota Ternate  ini.   

Ketua  Komunitas Save Ake Gaale Alwan M Arif bilang  soal air ini fokusnya pada bagaimana pemanfaatnya. Jika dimanfaatkan maka akan berdampak.  Maka   ada tiga hal yang dilakukan  berhubungan dengan air bawah tanah. Pertama Pemanfatan Kedua Pelestarian  dan Pengendalian.  Guna air  atau pemanfaatanya yang saat ini dilakukan Perumda Air Minum Ake Gaale, Kedua   masalah pelestarian. Proses pelestarian  lebih banyak dilakukan masyarakat.

“Apa yang dilakukan oleh masyarakat atau warga termasuk ritual ini adalah bagian dari pelestarian atau konservasi. Proses pembuatan sumur resapan biopori dan yang dilakukan oleh warga Ake Gaale dengan ritual Sigofi Ake ini adalah bagian dari pelestarian air,” jelasnya. Sementara untuk pengendalian   terhadap daya rusak air    baik fisik maupun kimia karena ada pencemaran maka ada tugas pemerintah dan ilmuan untuk menyelesaikannya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seni dan Tradisi Togal Tergerus Zaman?

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 1.001
    • 0Komentar

    Ditinggal Muda-mudi, Digandrungi Kaum Tua      Ibu-ibu berkebaya memakai sarung dan selendang  itu usianya sudah di atas 50 tahun. Mereka duduk berbaris di bawah tenda, sambil menunggu bapak-bapak yang datang dan ikut  pesta ronggeng togal. Ini adalah cara warga Desa Samo di Halmahera Selatan meramaikan  Festival Kampung Pulau dan Pesisir yang diinisiasi perkumpulan PakaTiva bersama […]

  • BMKG: Waspadai Angin Kencang dan Gelombang

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 346
    • 2Komentar

    ilustrasi: kondisi gelombang besar yang menghantam pantai sulamadaha.foto wawan ilyas

  • Warga Diimbau Jaga Pola Hidup Bersih

    • calendar_month Sen, 14 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 336
    • 0Komentar

    Penyuluhan kesehatan yang digelar Pakativa dan Mayana di kawasan Jembatan Jiko Cobo Tidore

  • Soal Sungai Sagea, Ini Hasil dari Tim Udara dan Darat

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 471
    • 1Komentar

    Ahli Geologi Sarankan Tunggu Uji Lab Kimia Air Komunitas Save Sagea yang mengawal bencana tercemarnya sungai Sagea menjelaskan bahwa  setelah tim investigas lakukan tugasnya,  di mana tim yang merupakan gabungan masyarakat pemerintah  yang turun lapangan belum punya kesimpulan apa pun. Baik yang lakukan pemantauan melalui udara dengan  heli maupun melalui perjalanan darat. Adlun Fikri Juru […]

  • Ternate, Tidore  dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah  

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah saat mengunjungi Benteng Oranye Ternate

  • Gempa dengan Magnitudo 7,0 Terasa hingga Morotai

    • calendar_month Jum, 22 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Basirun (36) warga Daruba Morotai dihubungi kabarpulau.co.id/ dari Ternate Kamis (21/1) pukul 23.00 WIT  mengaku, peristiwa gempa yang berpusat di  Kota Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud sangat terasa di  Pulau  Morotai Provinsi Maluku Utara. Dia mengaku  karena kuatnya gempa itu turut membuat panic warga. “Sangat terasa goyangan gempa malam ini. Memang pusat gempa di Talaud tetapi […]

expand_less