Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • visibility 413

Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun

Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang kadang berubah tiba-tiba saat mereka di laut.  Dia bilang kadang saat keluar dari rumah laut  teduh tetapi saat di tengah laut cuaca berubah bahkan menjadi ancaman bagi nelayan. “Kondisi  cuaca saat ini sangat beresiko  dengan cuaca yang berubah ubah tidak menentu,”kata Gafur yang juga Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisonal (KNTI) Maluku Utara itu.

Dia bilang, nelayan kecil  gunakan alat tangkap sederhana  dengan armada tangkap 1,5 sampai 2 GT. Mereka merasakan dampak  serius akibat cuaca yang berubah-ubah secara radikal di laut. Dia menyebutkan, nelayan di kampungnya belum ada yang alami kecelakaan atau peristiwa naas di laut karena  perubahan cuaca yang sulit diprediksi tersebut. Tetapi nelayan di kelurahan  lain  di Ternate tak hanya korban perahu tenggelam dihantam gelombang,   korban jiwa    dan   hilang   tidak ditemukan juga terjadi tiap  saat.

Seorang nelayan kelurahan Jambula menurunkan alat pancing dan hasil tangkapannya usai melaut, foto Ikram

Data yang dihimpun melalui laporan berbagai media sepanjang 2025, korban nelayan Kota Ternate dan sekitarnya akibat  cuaca buruk tinggi.  Februari 2025 dua nelayan asal Ternate dinyatakan hilang akibat cuaca buruk. Setelah terombang ambing selama dua  hari di tengah laut akhirnya ditemukan selamat. Perahu mereka  rusak dihantam gelombang. Sudarwin Hasrat (43) dan Udin Rope (60) warga Mangga Dua, Kota Ternate akhirnya bisa diselamatkan tim  Basarnas.

Pada 5 Agustus 2025 seorang nelayan asal Tidore bernama Rustam Abas (40) tahun  ditemukan meninggal dunia setelah jatuh akibat perahunya dihantam gelombang. Jasad korban  ditemukan  setelah 4 hari dilakukan pencarian.  Terbaru  kecelakaan nelayan di perairan Batang Dua, Kota Ternate  terjadi Rabu (3/12) sekira pukul 08.00 WIT. Perahu mereka terbalik dihantam gelombang saat memancing di sekitar rumpon.  Beruntung  korban  berenang  menyelamatkan di di rumpon terdekat. Selanjutnya  ada nelayan    sekitar rumpon berusaha menghubungi pihak Basarnas  meminta  pertolongan. Dua nelayan akhirnya bisa diselamatkan   tim  Basarnas.Keduanya  adalah Wahab Samad (60 tahun), dan Bobi (16)   warga Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara.Kasus-kasus ini hanya untuk kejadian di laut  sekitar Ternate dan Tidore. Belum termasuk di wilayah kabupaten lainnya.

Gelombang tinggi disertai angin kencang yang mengancam nelayan tidak hanya  saat mereka di laut. Di wilayah pesisir, juga  perahu milik nelayan jadi korban. Seperti peristiwa di Kota Ternate dan sekitarnya Selasa (7/10/2025).  Puluhan perahu milik nelayan di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan rusak parah. Tidak  itu saja, penahan ombak di pesisir juga hancur berantakan. Tembok yang dibangun untuk melindungi perahu nelayan di pantai Jambula  hancur. Akibat peristiwa ini nelayan dan warga Kelurahan Jambula mendesak Pemerintah Kota Ternate dan  Provinsi Malut  segera  mengatasi dampak bencana tersebut.

Pemerintah dianggap lamban merespons kondisi yang dialami para nelayan. Karena  keluhan itu warga bersama nelayan menggelar aksi dan menutup akses jalan utama di kelurahan dengan perahu nelayan yang rusak. Tujuannya, mendesak pemerintah mengambil langkah mengatasi dampak bencana perubahan iklim yang terjadi.

Desakan melalui aksi massa nelayan dan warga ini, membuat pemerintah menjanjikan segera membangun infrastrutur yang mereka butuhkan pada 2026 mendatang.  “Kita akan bangun talud penahan ombak. Untuk fasilitas alat tangkap berupa perahu dan mesin yang rusak akibat akibat bencana gelombang pasang, kita ganti segera,”janji Gubernur Malut Sherly Tjoanda saat datang mendengar tuntutan warga Jambula waktu itu.

Ekonomi Nelayan Juga Terancam Perubahan Iklim

Dampak yang ditimbulkan perubahan iklim tidak hanya bencana. Bagi nelayan persoalan ini juga jadi ancaman serius  ekonomi  mereka. Dampak yang dirasakan ketika gelombang tinggi dan  tidak bisa melaut  maka nelayan harus memutar otak.  “Kalau melaut bisa hidup  jika tidak melaut  tidak bisa makan,” kata Ico  Djiko nelayan Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara. Karena itu jika  akibat cuaca  buruk akan sangat menganggu ekonomi  mereka. JIka tidak bisa melaut  seminggu  saja nelayan seperti dirinya  susah ekonominya. Apalagi sebagai nelayan kecil dengan alat tangkap dan armada sederhana. Jika tak ada hasil tangkapan maka  tidak bisa mendapatkan uang. Jika datang hujan disertai angin dan gelombang kadang selama sepekan  tidak bisa melaut.

Senada dengan Ico, Gafur Kaboli nelayan Jambula yang juga Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Maluku Utara menuturkan hal yang sama. Menurut  Gafur  dampak perubahan iklim bagi nelayan tidak semata-mata soal bencana tetapi menyangkut hasil tangkapan dan wilayah tangkapan yang semakin jauh. Sebagai nelayan kecil yang setiap hari menangkap ikan tuna, persolan ini makin menyusahkan.

Dia bilang dampak perubahan iklim sangat dirasakan  nelayan seperti dirinya. Hal ini karena sulit memprediksi kondisi cuaca setiap hari. Jika dulu orang bisa memprediksi kondisi cuaca. 6 bulan angin selatan  jalan dan 6 bulan angina utara. Sekarang tidak bisa lagi. Perubahan iklim ini katanya isyu global yang dampaknya dirasakan  langsung  nelayan seperti dirinya.

Dia bilang dampaknya luar biasa. Hasil tangkapan menurun dan wilayah tangkapan makin jauh.  Di bawah  2017  masih bisa memancing tuna di sekitar pulau Ternate dan Maitara. Sekarang sudah tidak lagi, ikan sudah sangat menjauh.

“Saya memancing sudah di atas 60 mil laut, dengan sekali memancing ongkos seperti BBM dan es untuk

Perahu nelayan Kelurahan Jambula yang diparkir belum melaut, menunggu laut teduh, foto Ikram

mengawetkan ikan sudah Rp 1,5 juta bahkan sampai Rp 2juta. Dulu sehari memancing sudah bisa balik. Sekarang  kadang sampai 3 hari di laut, jika hasil tangkapan belum  bisa menutupi ongkos yang kita keluarkan,”keluhnya. Karena itu katanya  masalah global ini berdampak luar biasa bagi nelayan. Tidak hanya ancaman keselamatan di laut tetapi juga ancaman ekonomi nelayan.

Terkait apa yang sedang dihadapi nelayan saat ini, menurut  Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Perikanan (KIARA) Susan Herawaty Selasa, (3/12/2025), menjelaskan,  fenomena   peningkatan hujan dan banjir, pulau yang semakin tenggelam, nelayan yang semakin sulit melaut karena cuaca buruk, perlu dipahami bahwa itu dampak perubahan iklim.  Hal ini  terjadi, sebenarnya karena aktivitas manusia itu sendiri. Paling berdampak itu misalnya industry ekstraktif  dan kegiatan  eksploitatif yang tersebar di pesisir laut dan pulau- pulau kecil. Menurut dia, pemerintah juga harusnya  melihat   bencana yang terjadi terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil akibat dari dampak perubahan iklim.

“Ada satu fenomena yang diabaikan pemerintah seperti bencana banjir rob. Tidak pernah ditetapkan sebagai sebuah kasus bencana nasional.  Tidak menganggapnya sebagai sebuah dampak  perubahan iklim,  pemerintah tidak mau bicara perubahan  iklim. Ini yang  mengubah bobot  bencana yang terjadi meskipun berdampak  serius bagi masyarakat  di wilayah pesisir. Padahal itu juga kewajiban yang harus dilakukan Negara. Jika ditetapkan sebagai bencana nasional, pemerintah wajib bertanggung jawab  mengurusnya,”katanya.

Paling nyata kasus banjir sebesar kejadian di Sumatera, pemerintah lamban menetapkan peristiwa itu menjadi bencana nasional. Sama seperti kasus-kasus banjir rob yang menimpa masyarakat  pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia.

Dia bilang, harunya  melihat krisis iklim ini tidak dalam konteks hanya seperti pemadam kabakaran. Misalnya bicara dampak yang ditimbulkan  kenaikan muka air laut, tidak sekadar bangun tanggul atau menanam mangrove. Tetapi mitigasnya harus dilakukan  secara holistic. Contoh riilnya bagaimana negara dan pemerintah membagi pengelolaan ruang darat dan laut di Indonesia. Ruang terbuka hijau, hutan  termasuk hutan mangrovenya hilang. Bahkan laut ikut dikapling.

Proses evakuasi dua orang nelayan asal Tidore yang jatuh dari perahunya mancing karena dihantam gelombang pada 3 Desember 2025, foto Basarnas

“Menurut saya kita bicara mitigasi iklim ini sulit karena semua sudah hancur dirusak  investasi, yang urusannya bicara lebih  pada Pendapatan Negara bukan Pajak. Tidak bisa kita mau  lakukan mitigasi  perubahan iklim secara parsial,” jelasnya .

Mitigasi perubahan iklim dengan melakukan marine prtocted area, menanam mangrove dan lain-lain tetapi di lain sisi, izin-izin tambang  diberikan secara massive lalu  juga diminta membangun pelabuhan secara besar-besaran. Ini menunjukan kekacauan berpikir. Hal ini tidak sejalan dengan semangat semua orang bicara  mitigasi perubahan iklim.  Yang terjadi malah menjadikan krisis iklim  sebagai proyek. Hal ini yang membuat berat Indonesia hari ini. Tidak heran ketika pemerintah membangun solusi palsu perubahan iklim akhirnya dimana- mana masyarakat termasuk di pulau-pulau kecil teriak-teriak karena merasakan dampak yang luar biasa.

“Coba dicek berapa banyak masyarakat  di pulau-pulau kecil  alih profesi karena dampak perubahan iklim yang dirasakan. Belum lagi bicara dampaknya bagi anak-anak maupun  perempuan bisa hidup sehat. Semua sudah tercerabut,”tutupnya. (*)

Penulis:Mahmud Ici

Tulisan ini didukung oleh Masyarakat  Jurnalis Lingkungan (SIEJ) dalam  fellowship Road to COP 30. Liputan ini focus menulis tentang dampak-dampak perubahan iklim yang dirasakan public di tingkat tapak

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Alami Kemarau yang Tetap Basah

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 558
    • 0Komentar

    Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) Republik Indonesia,  pada  April  hingga September biasanya terjadi musim kemarau. Meskipun  saat ini Indonesia  memasuki musim kemarau, namun hamper setiap hari diwarnai oleh hujan  ringan sampai lebat. BMKG Stasiun Meteorologi  Ternate misalnya,   bahkan memberi warning  kepada masyarakat di sejumlah wilayah di Maluku Utara untuk tetap waspada dengan adanya […]

  • Untuk Ikan Lestari, AS Dukung Hentikan Illegal Fishing

    • calendar_month Jum, 19 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Upaya  menjaga kelestarian sumberdaya alam laut Indonesia terutama bidang perikanan, menjadi sebuah keharusan. Dalam upaya itu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)yang  bekerjasama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dan the U.S. National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) bermitra menerapkan Perjanjian tentang Ketentuan Negara Pelabuhan (PSMA). Seperti rilis yang dikirimkan USAID […]

  • Sampah dan Krisis Air Masalah Serius Ternate

    • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 539
    • 0Komentar

    Sampah yang muncul di kawasan pelabuhan Bastiong usai hujan

  • Mangrove di Malut Menyusut 5.030,71 Hektar

    • calendar_month Sel, 6 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 761
    • 0Komentar

    Mangrove-di-kawasan-Logas-Guruapin Kayoa yang-masih-terjaga/foto mahmud Ichi

  • Titik Nol Jalur Rempah Dunia:(1)

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 652
    • 0Komentar

    Cengkih Afo cengkih tertua di dunia. Foto ini adalah gambar cengkoh afo generasi kedua yang sempat diabadikan gambarnya.

  • Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

    • calendar_month Ming, 5 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 646
    • 1Komentar

    Aksi nekat seorang anak muda yang menantang ombak ketika terjadi terjangan ombak di kawasan pantai Falajawa

expand_less