Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 29 Jan 2021
  • visibility 828

Cerita dari Kampong Tongole Pulau Ternate

Suasana siang jelang sore di awal Januari, tepatnya Minggu (10/1/2021) itu agak terik. Hari itu masih terasa gerah ketika dalam perjalanan untuk sebuah acara dari pusat kota menuju kawasan ekowisata Cengkih Afo di puncak Pulau Ternate.  Begitu  memasuki Lingkungan Tongole/Ake Tege tege, Marikurubu Ternate Tengah, rasa gerah berangsur sejuk. Rerimbunan hutan cengkih, pala dan bambu di sisi kiri kanan  jalan menjadi  sumber penyejuk ketika memasuki kampong ini.  

Berada 600 meter di atas permukaan laut, untuk menjangkaunya dari pusat kota tak cukup 20 menit. Kampung di lereng Gamalama ini menghadap ke timur Pulau Ternate. Rumah-rumah warga   dibangun  berjejer mengikuti lereng.   

Cengkih afo tertua yang mati tahun 2000 an lalu

Kawasan ini masuk  dalam situs penting berhubungan dengan sejarah masa lalu kejayaan rempah, khususnya cengkih. Cengkih tertua di dunia ditemukan tumbuh di kampong ini.  

Tongole tak hanya  menjadi pusat awal berkembang biaknya cengkih. Di Maluku Utara, kampong ini juga terkenal dengan bambu tutul atau bamboo loreng-nya. Bambu yang awalnya tumbuh liar, saat ini telah dibudidayakan. Bahkan telah menjadi ikon Kampong Tongole. Dari sini para perajin memproduksi kursi bambu tutul atau loreng dan berbagai alat rumah tangga  lainnya.  Tak salah ketika memasuki kawasan ekowisata Cengkih Afo seluruh fasilitasnys dibuat dari bambu loreng. Dari pagar hingga material bangunan dan alat makan.  

Cengkih Afo di kampong yang asri dan sejuk ini,  ada dan timbuh sudah tiga generasi. Sekadar diketahui, Cengkih Afo pertama dan turunan kedua ketiga berada tak berjauhan di satu lokasi tepat di puncak kampong Tongole.

Cengkih afo generasi ke dua

Cengkih Afo pertama yang dikenal sebagai cengkih tertua berumur sekira 416 tahun.  Tingginya mencapai 36,6 meter dengan diameter 1,98 meter. Cengkih tertua ini sekali musim berbuah dan dipanen sampai selesai, mencapai 600 kilogram.  Cengkih ini telah mati sekira tahun 2000 lalu.  Cengkih afo turunan kedua, berusia 250 tahun  memiliki diameter 3,97 meter. Dalam satu musim berbuah dan panen hasilnya mencapai 340 kilogram. Pohon cengkih afo kedua ini juga telah mati di tahun 2000- an lalu.  Saat ini yang masih ada adalah cengkih afo turunan ketiga  yang telah dilindungi.Meski kondisi percabanganya juga sudah ada   yang mati, masih coba dirawat. Cengkih afo turunan ketiga ini  lingkar tengah batang 3,90 meter. Berumur kurang lebih 200 tahun dengan  hasil panen setiap musim berbuah mencapai 250 kilogram.   

Sebagai sebuah situs alam bersejarah, di mana cengkih memiliki hubungan dengan perdagangan masa lalu, maka dibuatlah kawasan ekowisata di mana cengkih afo  berada.  

Cengkih Afo Generasi ke tiga

Wisata cengkih afo yang dikemas bergaya alam memadukan tradisi lokal Ternate, menawarkan kepada pengunjung tak hanya menikmati tempat yang asri dan sejuk, tetapi kembali ke alam sambil menghirup   udara  dengan bau harum bunga  cengkih dan pala.

Adalah Kris Samsudin, orang yang berada di balik  ini, menginisiasi dibuatnya kawasan wisata Cengkeh Afo.  ‘

Dia bilang,  Cengkih Afo adalah cerita yang menarik  menjadi asset wisata penting. Menarik karena memiliki sejarah masa lalu yang epic.  Bahwa negeri dan bangsa ini  dijajah karena hubungannya dengan rempah-rempah  terutama cengkih.

Sementara jika orang datang ke Ternate hanya mendengar cerita bahwa negeri ini sumber cengkih berasal. “Bagi saya yang ada orang hanya mendengar cerita. Lalu di mana cengkihnya?. Ekowisata ini tak hanya menjadi icon cengkih yang diburu bangsa Eropa, China dan Arab di zamannya. Perlu wisatawan  menyaksikan   langsung pohonnya dan jika musim panen orang bisa mencium langsung  bau harum cengkih itu,” katanya.

alat mnum dari batok kelapa

Sementara jika pengunjung atau  ada wisatawan datang ke tempat ini,  manfaatnya  dirasakan masyarakat sekitar secara langsung  

Karena itu dia mencoba mulai dari nol menginisiasi pembuatan kawasan ekowisata ini. Berkat dukungan berbagai pihak tempat ini kini menjadi destinasi ekowisata di Ternate dengan  luas mencapai 4 hektar.  

Dari generasi cengkih afo yang tumbuh di  ekowisata ini, masih tersisa generasi ketiga. Di sini juga  telah dibangun berbagai fasilitas ekowisata. Ada sawung atau rumah-rumah kecil di bawah rerimbunan cengkih dan pala. Ada juga semacam gazebo dan aula untuk kegiatan pertemuan. Pengunjung bisa menikmati makan dan ngopi  atau bersantai sambil dalam suasana alam  perkebunan cengkih dan pala. Jika mau menuju  ke lokasi cengkih afo pertama  juga sudah dibuat tracking sekira 300 meter ke lokasi tersebut.

 Ekowisata Cengkih Afo berada di sebuah bukit di seberang kanan jalan,  menuju kawasan wisata ini,  agak mendaki. Meski demikian  telah dibuat tangga.  Di kiri kanannya dibuatkan pagar dari bambu dihiasi  dekorasi lampu dari bambu yang menarik. Semua  bahan yang  dipakai  dari serba alam.  Bangunannya  dari kayu dan bambu, atapnya juga dari bambu,  tempat makan dan minum juga dari bambu serta batok kelapa. Sementara makanan hingga minuman hangat yang disajikan semua  serba tradisonal. Menu yang disajikan  sumbernya  dari alam sekitar.   Ada makanan kobong (pangan local)  yang diolah dan disajikan warga. Makanannya khas Ternate dibuat dan dikonsumsi masyarakat   turun temurun.

jalan masuk kawasan cengkeh avo

“Ekowisata ini kita kelola berbasis masyarakat. Jadi tidak tidak hanya wisatwan datang menikmati alam dan rempah. Masyarakat sekitar juga diberdayakan.  Tujuannya cengkih afo ini memiliki manfaat lebih bagi komunitas  masyarakat setempat,” katanya.

Kris mengaku menghimpun dan memberdayakan warga setempat guna menghidupkan kawasan ekowisata Cengkeh Afo ini. “Untuk mengembangkan ekowisata ini    dikenal luas butuh kolaborasi termasuk mempebaiki sumberdaya pengelolanya,” katanya. 

Dosen ilmu sejarah Universitas Khairun Ternate Irvan Ahmad bilang, untuk wisata sejarah yang menjadi kekayaan Ternate, sejauh ini belum dikelola baik. Benteng tersebar memenuhi kota Ternate, sebenarnya punya kaitan dengan cerita cengkeh afo.  Apalagi  saat ini telah diresmikan hari rempah di mana Maluku Utara menjadi titik tolak penetapan hari rempah itu. Rempah dan benteng ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.  

“Wisatawan jauh-jauh  datang itu mau melihat jejak nenek moyang mereka di masa lalu. Karena itu narasi tentang rempah dan benteng benteng itu harus diperkuat,” katanya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 568
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

  • Seriusnya Siswa SD Belajar Buat  Eco Enzyme

    • calendar_month Jum, 17 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Sebanyak 30 siswa Kelas 6 SD Negeri 10 Kota Ternate didampingi Kepala sekolahnya mengunjungi Sanggar Eco Enzyme.  Kunjungan mereka ini untuk belajar   membuat larutan eco enzyme untuk mengisi praktikum. “Karena mereka akan menghadapi Ujian, praktek pembuatan Eco Enzyme  ini bagian dari ujian praktikum, ” jelas, Rohani Hutumoy Kepala Sekolah SD Negeri 10 Ternate Kamis (16/3/2023). […]

  • Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

    • calendar_month Sen, 8 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 812
    • 0Komentar

    Sejak dulu kampung-kampun g di Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara memiliki banyak kebun sagu. Salah satu desa yang menjadi pusat sagu adalah Sagea dan Kiya di Weda Utara. Karena potensi itu, pemerintah daerah kemudian berpikir melindunginya setelah massivenya industri tambang masuk ke wilayah ini. Pemkab Halmahera Tengah  kemudian membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi pohon […]

  • Lebah Raksasa Kembali Ditemukan di TNAL Resort Tayawi

    • calendar_month Rab, 21 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 830
    • 0Komentar

    Sarang dan lebah yang ditemukan Anton di TNAL Resort Tayawi Kota Tidore Kepulauan/foto Anton

  • Perkici dada-merah Sangat Terancam

    • calendar_month Kam, 29 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 634
    • 0Komentar

    Nuri Ternate yang dilepasliarkan setelah di tempatkan di kandang transit Ternte

  • 65 Ekor Paruh Bengkok Pulang ke Habitatnya

    • calendar_month Jum, 2 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Bersiap siap untuk kegiatan lepasliaran. Berbagai pihak yang hadir bersiap melepas burung tersebut ke alam liar. Foto Seksi KSDA Wilayah Ternate

expand_less