Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
  • visibility 585

Hari masih sangat pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 0.7.00 WIT. Kawasan  Ruang Terbuka Hijau  (RTH) Taman Nukila di  Kelurahan Gamalama Ternate Minggu (28/2) sudah sangat ramai. Ratusan Ibu-ibu dan anak-anak  sudah berkumpul di kawasan itu, untuk  sekadar bermain dan  menggelar senam.

Sementara beberapa anak muda yang tergabung dalam Komunitas Halmahera Wildlife Photografi (HWP) sibuk menyiapkan berbagai sarana kampanye  berupa  buku-buku konservasi, sarana swa foto bagi pengunjung dengan latarbelakang  kampanye perlindungan  burung paruh bengkok maupun sarana kampanye lainnya. 

Anak  muda yang tergabung dalam komunitas ini  adalah beberapa aktivis yang tidak hanya pecinta fotografi, tetapi berasal dari ragam komunitas     di Sofifi ibukota Provinsi Maluku Utara. Kegiatan kali ini adalah bagian dari  kampanye perlindungan  terhadap burung paruh bengkok yang saat ini terancam punah karena banyak ditangkap dan diperjualbelikan.

Penasehat HWP Akhmad sedang memberi arahan bagi para anggota komunitas

Berlabel kampanye dan cerita satwa liar,   tujuannya mengkampanyekan keaneka ragaman hayati di Provinsi Maluku Utara.  Kesempatan ini anak-anak muda ini berkampanye tentang satwa liar dengan membuka lomba foto  dan caption di Instagram dengan menandai akun milik HWP dalam postingan.

Selain itu,  dilakukan pembagian poster jenis-jenis burung di Maluku Utara   termasuk  satwa liar yang dilindungi. Mereka juga membagi pengalaman antar komunitas lingkungan dan satwa liar di Maluku Utara. 

Kegiatan kali ini dihadiri juga Kelompok Pecinta Satwa Liar (KPSL) Akejiri, dan Rimpal Sofifi. Turut disupport  juga oleh Balitbangda Provinsi Maluku Utara, Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Burung Indonesia.  

Komunitas yang didirkan pada Maret 2020 ini sebenarnya  ingin  menumbuhkan rasa cinta satwa di daerah sendiri. Kehadiran komunitas ini  karena   yang dirasakan selama ini banyak dokumentasi  kehidupan liar termasuk burung-burung malah didapatkan dari orang luar.  Karena itu didoronglah pembentukan    komunitas   ini untuk mengajak anak-anak   local termasuk yang mencintai fotogafi mendokumentasikan sendiri  satwa liar yang ada. “Ini adalah kampanye dalam   bentuk foto  sebagai bagian dari cara memperkenalkan kepada public,” jelas Akhmad David Pembina HWP. 

Salah satu ibu yang senam sambil melihat ke arah pamflet kampanye HWP

Karena itu HWP juga membangun kolaborasi dengan  beberapa komunitas di Sofifi dan Ternate.    Komunitas HWP   ini berisi  anak-anak  local   berjumlah 15 orang.

Akhmad David  bilang kampanye ini merupakan kegiatan kedua. Sebelumnya   telah digelar kegiatan   Torang Camp, dengan menghadirkan beberapa komunitas di Sofifi  dan sekitarnya.  Ada banyak anak muda sebagai bibit-bibit komunitas pencinta kehidupan liar ikut bergabung. Misalnya dengan terbentuk Kelompok Pecinta Satwa Liar (KPSL) di Kampus Unkhair. Selain itu  digelar juga kegiatan kedua yakni pameran  foto flora fauna dan keanekaragaman hayati endemic yang dilaksanakan di Sofifi.  Sementara kegiatan ketiga kampanye satwa liar  terutama burung dengan baner- baner, foto selfi, maupun pembagian stiker dan brosur perlindungan burung dan satwa liar yang digelar di Ternate ini.   

“Focusnya kampanye di beberapa tempat sementara  ada dua tempat sofifi dan Ternate,” jelas Akhmad David.     

Ketua HWP Risno Adanan Menunjukan literatur penting satwa burung di Malut

Ketua HWP Risno Adnan menjelaskan, sebelum  keiatan ini komunitas  HWP telah melakukan beberapa kali pengamatan untuk melihat burung-burung local dan migran  yang ada di Sofifi.

Beberapa waktu lalu mereka melakukan pengamatan  burung migran  yang hadir di Sungai Kali Oba. Dari pengamatan itu  menemukan ada beberapa jenis burung  migran  yang sering hadir di sana.  Begitu juga di Kawasan  Mangrove Guraping dan Bundaran Sofifi.  Padahal kalua dilihat  kawasan tersebut terbilang sangat ramai tetapi masih didatangi  burung migran. Burung-burung migran itu berasal dari Selatan  misalnya  Mongol,  Siberia dan China. Sampai saat ini ada  burung yang tertinggal satu dua, setelah singgah dari migrasinya.

Hasil identifikasi kurang lebih  20 jenis burung migran yang sering singgah di Sofifi.

Terkait komunitasnya sendiri  ternyata tidak hanya untuk mereka yang mencintai fotografi kehidupan liar. Komunitas ini untuk semua yang mencintai   kenakeragaman hayati bukan hanya dengan kamera foto tetapi  juga untuk  jaga alam,   hutan dan lindungi alam Malut   sebagai bagian dari  cara mengedukasi public.  

Seorang pengunjung sedang mengamati sarana kampanye perlindungan burung yang ditampilkan HWP

Karena ingin mengampanyekan  kepada public tentang pentingnya menjaga dan melindungi burung dan satwa liar sehingga kali ini kampanye dengan memilih tempat ramai. “Tujuan kita memberitahukan kepada masyarakat jaga  burung dengan kampanye di  titik keramaian. Kita  memberi tahu lindungi  satwa. Jangan bilang sayang kalua masih piara burung,” jelasnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 856
    • 2Komentar

    Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan. Beberapa    yang diidentifikasi […]

  • Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Apa itu?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Aksi tentang Perubahan Iklim yang Digelar WALHI Maluku Utara, foto Mahmud Ichi

  • Ternate Kaya Keanekaragaman Hayati Laut

    • calendar_month Ming, 28 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 834
    • 1Komentar

    Dari Terumbu Karang hingga Fauna Kharismatik   Laut Pulau Ternate memiliki kaneakaragaman hayati yang luar biasa. Tidak hanya  jenis terumbu karang dan ikan kecil, tetapi juga satwa laut kharismatik. Di kawasan laut ini juga ada  hewan laut endemic seperti  hiu berjalan. Di beberapa lokasi di laut pulau Ternate ditemukan beberapa jenis satwa kharismatik laut seperti […]

  • Setiap 12 Menit, Polusi Kendaraan Bunuh Satu Nyawa

    Setiap 12 Menit, Polusi Kendaraan Bunuh Satu Nyawa

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2026
    • account_circle Mahmud Ichi
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Kendaraan Nol Emisi Selamatkan 800.000 Jiwa hingga 2050 Laporan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) organisasi riset nirlaba independen yang didirikan untuk menyediakan penelitian serta analisis teknis dan ilmiah yang unggul, objektif, dan tepat waktu bagi regulator lingkungan hidup,  menemukan bahwa transisi cepat menuju kendaraan nol emisi dapat memangkas angka kematian dini akibat polusi […]

  • Ini 7 Mitigasi Awal Perubahan Iklim di Malut

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 620
    • 1Komentar

    Sebagai Upaya Mendukung Program FOLU Net Sink 2030 Setelah melalui proses panjang selama  dua hari Rabu (22/2/2023) dan Kamis (23/2/2023)  menggelar seminar dan diskus, i para pihak yang terlibat dalam workshop Penyusunan Rencana Kerja (Renja) Sub Nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di Provinsi Maluku Utara menetapkan sejumlah  poin simpulan  yang akan ditindaklanjuti. Salah satunya […]

  • Pelanggaran HAM Berat di Papua  Meningkat  Setelah  Indonesia  Jadi Presiden  Dewan  HAM PBB

    Pelanggaran HAM Berat di Papua  Meningkat  Setelah  Indonesia  Jadi Presiden  Dewan  HAM PBB

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 294
    • 0Komentar

    “Presiden Republik Indonesia Segera Menghentikan Seluruh Operasi Militer di Wilayah Papua Dan Membuka Ruang Dialog Untuk Menyelesaikan Persoalan Politik Antara Indonesia Dan Papua Yang Merupakan Akar Konflik Bersenjata Penyebab Pelanggaran HAM Di Papua Selama 60 Tahun Terakhir” Hasil riset Project Multatuli per-Desember 2025 menunjukkan  setidaknya ada 83.177 tentara dan polisi organik di tanah Papua saat […]

expand_less