Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
  • visibility 524

LIPI Temukan Empat Spesies Baru Kumbang

Hutan dan alam pulau-pulau di Maluku Utara benar benar kaya sumberdaya hayati. Terbaru sesuia hasil publikasi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  ada  temuan  empat speies baru jenis kumbang. Atas  temuan ini semakin mengukuhkan bahwa hutan dan alam  di Maluku Utara kaya dan menjadi laboratorium   riset untuk pengembangan  ilmu pengetahuan di masa depan.   

Dikutip dari LIPI.go.id empat spesies baru kumbang Chafer (Coleoptera: Scarabaeidae) dari genus Epholcis ditemukan di Maluku Utara oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti yang mempublikasikan temuannya itu adalah, Raden Pramesa Narakusumo bersama Michael Balke dari Zoologische Staatssammlung München, Jerman.

Keempat spesies baru tersebut adalah Epholcis acutus, Epholcis arcuatus, Epholcis cakalele, dan Epholcis obiensis. Selanjutnya satu lectotipe yaitu Maechidius moluccanus Moser, dipertelakan kembali dan dipindahkan (synonymy) ke marga  Epholcis  sebagai  Epholcis moluccanus (Moser). Publikasi temuan ini juga   dimuat dalam Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu.

Hingga saat ini tercatat sudah sepuluh spesies Epholcis yang berhasil ditemukan. Enam diantaranya teridentifikasi tahun 1957 oleh Britton di New Queensland dan New South Wales, Australia. Sedangkan empat spesies baru yang ditemukan ini merupakan catatan baru di wilayah Indonesia dan berasal dari Kepulauan Maluku Utara yaitu, Halmahera, Obi, dan Ternate. “Dari bukti ini terlihat kesenjangan utama spesies Epholcis di wilayah Papua karena belum pernah ada laporan sebelumnya. Kemungkinan  karena pendeskripsian beberapa spesies Epholcis  sebagai  Maechidius masih kurang seksama, adanya kemiripan kedua kumbang tersebut dan kurangnya pengumpulan spesimen,” ujar Pramesa.

Pramesa menjelaskan, kumbang  Epholcis merupakan serangga malam (nocturnal) yang memakan daun pohon Eucalyptus di Australia dan juga bunga cengkeh (Syzigium sp.). “Sedangkan di Maluku, keduanya memakan tumbuhan dari familia Myrtaceae  atau jambu jambuan,” jelasnya.

Dikutip dari  jurnal  Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu  dalam riset berjudul Four  New Species  of Waterhouse , 1875  (Coleoptera  : Scarabaeidae: Melolonthinae: Maechindiini ) From  The Moluccas  Indonesia  oleh  Raden Pramesa Narakusumo   and Michael Balke,  menyebutkan bahwa  Suku kumbang chafer Maechidiini (Coleoptera: Melolonthinae) berisi  tujuh yakni genus: Epholcis Waterhouse, 1875, Harpechys Britton, 1957, Maechidius Macleay, 1819, Microcoenus Britton, 1957, Microthopus Burmeister, 1855,  Paramaechidius Frey, 1969 dan Termitophilus Britton, 1957.  Kumbang ini tersebar dari Australia hingga pulau-pulau di sebelah timur Garis Weber, Nugini dan Kepulauan Maluku (Moser, 1920; Moser, 1926; Britton, 1957, 1959; Frey, 1969; Prokofiev, 2018; Weir et al., 2019).

Tiga spesies Maechidiini telah direkam dari Wallacea: yakni Maechidius peregrinus Lansberge, 1886, di Sulawesi Selatan, Maechidius moluccanus Moser, 1920, dari pulau Gorom dan Paramaechidius agnellus Prokofiev, 2018, dari pulau Seram (Prokofiev, 2018). Ada lima spesies Epholcis yang diketahui dari Australia (Britton, 1957), tetapi sampai saat ini tidak ada catatan tentang genus ini dari New Guinea atau Wallacea.

Hutan Pulau Halmahera kekayaan sumberdayahayati tak terkira, foto opan jacky

Dalam koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Leiden (RMNH), ditemukan empat spesies Maechidiini yang belum terdeskripsikan dari Kepulauan  Maluku Utara  yang  ditetapkan ke dalam genus Epholcis.

“Kami juga mendeskripsikan ulang Maechidius moluccanus Moser, 1920 berdasarkan lektotipe yang ditunjuk di sini dan mentransfernya ke Epholcis,” jelasPrames lagi. 

Genus Epholcis dan Maechidius mirip satu sama lain, tetapi Britton (1957) menggunakan karakter diagnostik dari hipomera pronotal diperpanjang yang membentuk kantong untuk penerimaan antena untuk membedakan Maechidius dari Epholcis. Di Maechidius moluccanus,  tidak ditemukan tepi bebas hipomera pronotal untuk membentuk kantong khusus. Oleh karena itu,  dipindahkan spesies ini ke Epholcis.  “Kami menggambarkan empat spesies baru dari koleksi MZB dan RMNH setelah meneliti karakter morfologi, terutama alat kelamin laki-laki, dan membandingkannya  dengan Maechidiini lainnya dalam koleksi BMNH, NHMB dan ZMB,” jelasnya  dalam dokumen riset tersebut.

Sebaran Epholcis di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara adalah Ternate, Halmahera, Obi, dan Pulau Gorom. Mereka dapat ditemukan dari permukaan laut hingga 700 m.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 599
    • 0Komentar

    Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah? Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.     Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao […]

  • Jalan Pendek

    • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
    • account_circle
    • visibility 667
    • 1Komentar

    Sketsa Kehidupan di Pulau Hiri Siang itu saya dan dua kawan jalan-jalan ke Pulau Hiri. Pulau kecil yang letaknya dekat dengan pulau Ternate. Hanya 20 menit menyeberangi pulau itu menggunakan perahu motor. Pulau Hiri masih terjaga, tradisi dan budayanya. Meskipun struktur geografis di pulau tersebut tidak jauh beda dengan pulau-pulau lain di Maluku Utara, namun […]

  • Potensi Geothermal Idamdehe Halmahera Barat  

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 838
    • 1Komentar

    Bisakah Menjawab Masalah Listrik di Malut? Potensi Geothermal Idamdehe Jailolo Halmahera Barat   Menjawab Masalah Listrik  di  Malut? Provinsi Maluku Utara memiliki luas wilayah mencapai 145.801,10 km² terdiri dari lautan 113.796,53 km² (69,08 persen) dan luas daratan 32.004,57 km² (30,92 persen). Provinsi   ini memiliki 10 Kota/Kabupaten yaitu Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Barat, […]

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 590
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Tambang Hadir, Kebun Hilang, Pangan Sulit 

    • calendar_month Rab, 1 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 961
    • 0Komentar

    Cerita dari Sagea dan Kiya Weda Utara Halmahera Tengah Ketika mobil yang saya tumpangi tiba di Desa Lukulamo Weda Halmahera Tengah Maluku Utara pada Selasa (10/10/20230) siang, mulai terasa memasuki kawasan industri tambang nikel yang sibuk. Kendaraan terlihat lalu lalang tak henti melewati jalan nasional poros Weda-Patani. Debu mengepul membungkus jalanan. Mobil menutup kaca jendela […]

  • Mempertegas Otonomi Kampong (1)

    • calendar_month Kam, 31 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Ibu Marta si seorang ibu dari Desa Tosoa Ibu Halmahera Barat membersihkan lahan kebunnya, foto M Ichi Desember 2021

expand_less