Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
  • visibility 804

LIPI Temukan Empat Spesies Baru Kumbang

Hutan dan alam pulau-pulau di Maluku Utara benar benar kaya sumberdaya hayati. Terbaru sesuia hasil publikasi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  ada  temuan  empat speies baru jenis kumbang. Atas  temuan ini semakin mengukuhkan bahwa hutan dan alam  di Maluku Utara kaya dan menjadi laboratorium   riset untuk pengembangan  ilmu pengetahuan di masa depan.   

Dikutip dari LIPI.go.id empat spesies baru kumbang Chafer (Coleoptera: Scarabaeidae) dari genus Epholcis ditemukan di Maluku Utara oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti yang mempublikasikan temuannya itu adalah, Raden Pramesa Narakusumo bersama Michael Balke dari Zoologische Staatssammlung München, Jerman.

Keempat spesies baru tersebut adalah Epholcis acutus, Epholcis arcuatus, Epholcis cakalele, dan Epholcis obiensis. Selanjutnya satu lectotipe yaitu Maechidius moluccanus Moser, dipertelakan kembali dan dipindahkan (synonymy) ke marga  Epholcis  sebagai  Epholcis moluccanus (Moser). Publikasi temuan ini juga   dimuat dalam Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu.

Hingga saat ini tercatat sudah sepuluh spesies Epholcis yang berhasil ditemukan. Enam diantaranya teridentifikasi tahun 1957 oleh Britton di New Queensland dan New South Wales, Australia. Sedangkan empat spesies baru yang ditemukan ini merupakan catatan baru di wilayah Indonesia dan berasal dari Kepulauan Maluku Utara yaitu, Halmahera, Obi, dan Ternate. “Dari bukti ini terlihat kesenjangan utama spesies Epholcis di wilayah Papua karena belum pernah ada laporan sebelumnya. Kemungkinan  karena pendeskripsian beberapa spesies Epholcis  sebagai  Maechidius masih kurang seksama, adanya kemiripan kedua kumbang tersebut dan kurangnya pengumpulan spesimen,” ujar Pramesa.

Pramesa menjelaskan, kumbang  Epholcis merupakan serangga malam (nocturnal) yang memakan daun pohon Eucalyptus di Australia dan juga bunga cengkeh (Syzigium sp.). “Sedangkan di Maluku, keduanya memakan tumbuhan dari familia Myrtaceae  atau jambu jambuan,” jelasnya.

Dikutip dari  jurnal  Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu  dalam riset berjudul Four  New Species  of Waterhouse , 1875  (Coleoptera  : Scarabaeidae: Melolonthinae: Maechindiini ) From  The Moluccas  Indonesia  oleh  Raden Pramesa Narakusumo   and Michael Balke,  menyebutkan bahwa  Suku kumbang chafer Maechidiini (Coleoptera: Melolonthinae) berisi  tujuh yakni genus: Epholcis Waterhouse, 1875, Harpechys Britton, 1957, Maechidius Macleay, 1819, Microcoenus Britton, 1957, Microthopus Burmeister, 1855,  Paramaechidius Frey, 1969 dan Termitophilus Britton, 1957.  Kumbang ini tersebar dari Australia hingga pulau-pulau di sebelah timur Garis Weber, Nugini dan Kepulauan Maluku (Moser, 1920; Moser, 1926; Britton, 1957, 1959; Frey, 1969; Prokofiev, 2018; Weir et al., 2019).

Tiga spesies Maechidiini telah direkam dari Wallacea: yakni Maechidius peregrinus Lansberge, 1886, di Sulawesi Selatan, Maechidius moluccanus Moser, 1920, dari pulau Gorom dan Paramaechidius agnellus Prokofiev, 2018, dari pulau Seram (Prokofiev, 2018). Ada lima spesies Epholcis yang diketahui dari Australia (Britton, 1957), tetapi sampai saat ini tidak ada catatan tentang genus ini dari New Guinea atau Wallacea.

Hutan Pulau Halmahera kekayaan sumberdayahayati tak terkira, foto opan jacky

Dalam koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Leiden (RMNH), ditemukan empat spesies Maechidiini yang belum terdeskripsikan dari Kepulauan  Maluku Utara  yang  ditetapkan ke dalam genus Epholcis.

“Kami juga mendeskripsikan ulang Maechidius moluccanus Moser, 1920 berdasarkan lektotipe yang ditunjuk di sini dan mentransfernya ke Epholcis,” jelasPrames lagi. 

Genus Epholcis dan Maechidius mirip satu sama lain, tetapi Britton (1957) menggunakan karakter diagnostik dari hipomera pronotal diperpanjang yang membentuk kantong untuk penerimaan antena untuk membedakan Maechidius dari Epholcis. Di Maechidius moluccanus,  tidak ditemukan tepi bebas hipomera pronotal untuk membentuk kantong khusus. Oleh karena itu,  dipindahkan spesies ini ke Epholcis.  “Kami menggambarkan empat spesies baru dari koleksi MZB dan RMNH setelah meneliti karakter morfologi, terutama alat kelamin laki-laki, dan membandingkannya  dengan Maechidiini lainnya dalam koleksi BMNH, NHMB dan ZMB,” jelasnya  dalam dokumen riset tersebut.

Sebaran Epholcis di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara adalah Ternate, Halmahera, Obi, dan Pulau Gorom. Mereka dapat ditemukan dari permukaan laut hingga 700 m.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Kaya Rempah, Minim Pangan Fungsional

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 3.048
    • 0Komentar

    Maluku Utara yang terhampar pulau-pulaunya,memiliki kekayaan pangan local dan rempah  Terutama  pala dan cengkih. Kekayaan ini bahkan tercatat dalam sejarah sebagai barang buruan bangsa Eropa di masa lalu.  Sejarawan Maluku Utara (alm) M Adnan Amal Tomagola dalam risetnya berjudul Portugis dan Spanyol di Maluku (2009) mengupas tentang kehadiran dua bangsa ini  berebut rempah. Mereka  datang […]

  • Perdagangan TSL Dilindungi di Malut Menurun    

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 669
    • 0Komentar

    Eksploitasi, terutama penangkapan dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar (TSL)  dilindungi di Maluku Utara, mengalami penurunan drastis. Ini berbeda di bawah tahun 2020, kasus penjualan dan penangkapan hewan endemic seperti burung jenis paruh bengkok  sangat massive dan terjadi berulang kali. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) sejak 2022 dan 2023 ini belum mendapatkan laporan atau […]

  • Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 723
    • 0Komentar

    Fenomena mudik kaum urban, terkadang memantik perdebatan panjang. Selain mengundang  keprihatinan, di mana mudiknya kaum urban ikut melibatkan negara dengan segala risiko,  mudik itu juga melibatkan jumlah yang demikian massif yang justru memang menimbulkan tantangan tersendiri, di mana emosi dan segala perhatian tertumpah di sana. Tak ada perhatian ekstra keras yang dilakukan pemerintah jelang hari-hari […]

  • Berapa Banyak Ikan yang Dicuri dari Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 1.169
    • 0Komentar

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang didominasi oleh lautan, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), pada tahun 2019, nilai hasil ekspor perikanan Indonesia mencapai Rp73.631.883.000 dan termasuk salah satu sektor yang sangat diandalkan untuk pembangunan nasional.   Namun,  kita sering mendengar […]

  • Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 5.693
    • 1Komentar

    Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya  Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  […]

  • Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.129
    • 0Komentar

     Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang tergabung dalam Koalisi Save Sagea kembali menggelar aksi protes  Senin, 13 Oktober 2025. Aksi ini  dilakukan berkaitan dengan  aktivitas tambang PT Mining Abadi Indonesia (PT MAI), kontraktor dari perusahaan tambang nikel PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT First Pacific Mining. Aktivitas penambangan […]

expand_less