Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Cerita Miris Desa Terang di Pulau Kecil

Cerita Miris Desa Terang di Pulau Kecil

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 8 Jan 2022
  • visibility 398

Dari Nyala Genset Hanya Enam Jam hingga 2 Tahun Proyek Solar Cell yang  Mangkrak  

Maluku Utara dengan julukan negeri seribu pulau, memiliki masalah cukup serius dalam pemenuhan kebutuhan energi.  Salah satunya di Kabupaten Halmahera Selatan dengan pulau-pulau kecil yang tersebar, juga memiliki problem yang sama seriusnya. Terutama  penyediaan energy untuk penerangan  maupun kebutuhan lainnya.

Kebanyakan pulau kecil  di daerah ini berada terpencil  dan terisolir, membuat perusahaan listrik negara (PLN,red) yang memiliki kewajiban menyediakan listrik bagi warga  juga belum sepenuhnya  bisa dipenuhi. 

Halmahera Selatan adalah salah satu wilayah yang memiliki pulau-pulau kecil paling banyak. Ada 6 pulau besar dengan ditambah pulau pulau kecil yang mengelilinginya. Dengan luas wilayah daratan 8.779,32 km,  hanya 22 persen dari total luas wilayahnya  yaitu 40.263,72 km2.  Pulau besar di Halmahera Selatan itu  adalah  Pulau Obi, Pulau Bacan, Pulau Makian, Pulau Kayoa, Pulau Kasiruta, dan Pulau Mandioli. Dua pulau terluas yaitu Pulau Obi   3.111 km 2 dan Pulau Bacan 2053 km 2. Selain itu, Kabupaten Halmahera Selatan juga terdiri dari pulau-pulau kecil lain. Misalnya di dekat daratan Halmahera  memiliki  kawasan  Kepulauan Joronga. Begitu juga pulau-pulau kecil yang tersebar di Obi dan Kayoa.(https://www.halmaheraselatankab.go.id/page/geografi-dan-topologi).

Mayoritas  pulau pulau kecil berpenduduk  minim dengan akses terbatas, tidak bisa memenuhi kebutuhan pasokan listrik secara penuh sehingga butuh energy alternative  melalui program energi terbarukan.  Sayang proyek tenaga surya yang turun ke desa desa di Halmahera Selatan juga tidak semanis “desa terang” seperti digaungkan selama ini. Sejumlah desa di Halmahera Selatan  yang  dapat   proyek ini  ada yang belum tuntas hingga saat ini.      

Dikutip dari (https://www.liputan6.com/bisnis/read/3972243/5-desa-di- halmahera-selatan-kini-terang-benderang),  PT PLN (Persero) terus berupaya meningkatkan Rasio Elektrifikasi di Maluku dan Maluku Utara dengan terus melistriki desa-desa yang belum berlistrik.  Saat ini di Halmahera Selatan masih ada 36 desa  belum memperoleh listrik dari  PLN.

Disebutkan ratio elektrifikasi PLN di Provinsi Maluku Utara  telah mencapai 88,16 persen dengan target 90,89   

Dalam melistriki desa-desa, PLN memiliki dua misi yang sangat penting, yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan  mendorong perekonomian masyarakat.

Asis warga Laigoma menunjuk proyek tenaga surya yang mangkrak di kampung mereka (foto M Ichi

PLN juga memiliki cita-cita meningkatkan Rasio Elektrifikasi hingga tahun 2020-2021, namun terdapat beberapa kendala di lapangan yang belum memadai seperti infrastruktur yang belum siap, terutama jalan dan pelabuhan. Peningkatan rasio eletrifikasi kebanyakan dilakukan di daerah yang jauh dan minim infrastruktur.   

Ikatan Mahasiswa Kasiruta Timur(IMKT) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) pernah memprotes mirisnya listrik di daerah mereka ke pemerintah provisni pertengahan 2021 lalu. Kala itu mereka  protes    dengan belum  adanya listrik sebagaimana program Indonesia Terang yang digadang- gadang pemerintah.

Para mahasiswa itu,  menyuarakan masyarakat setempat  mengalami kesulitan listrik. Mereka hanya bertahan dengan genset  pribadi dan  mengandalkan tenaga surya yang juga terbatas kapasitasnya.

“Masyarakat di Kasiruta Timur belum merasakan  listrik negara. Mereka hanya mengandalkan mesin listrik pribadi dan listrik tenaga surya,“ teriak Iskandar Muhammad salah satu orator mahasiswa Kasiruta Timur saat aksi di kantor gubernur pertengahan 2021 lalu.  Mereka meminta pemerintah provinsi  melihat kondisi di daerah mereka.  

Iskandar  bilang,  listrik tenaga  surya yang menjadi sumber energi listrik  di Kasiruta Timur tak mampu mememnuhi  keseluruhan kebutuhan warga. Apalagi jika memasuki musim  penghujan.   Imbasnya warga kesulitan listrik.

“Masyarakat Kecamatan Kasiruta Timur  sebagian besar mengandalkan Panel Surya serta mesin pribadi. Hanya saja   tidak cukup.  Di ibu kota kecamatan  telah terpasang tiang dan jaringan listrik namun  hanya jadi pajangan  bertahun tahun,” katanya. Sejauh ini sebagian Kecamatan di Halsel termasuk Kasiruta Timur belum menikmati listrik dari negara.  Di Kasiruta Timur sudah dua kali tiang PLN diganti karena rusak tetapi listrik negara tidak juga  dinikmati masyarakat.  

Lalu bagaimana dengan kondisi pulau pulau kecil  yang tersebar di kawasan Kayoa dan Obi?.

Sebuah fakta miris  bisa disaksikan  di  Kayoa. Pulau pulau yang jauh dari akses PLN itu, suplai energy listriknya  sangat minim.  Di pulau Siko, Gahi. Laigoma, Gunange dan Talimau yang masuk gugusan pulau pulau Gura Ici   punya problem yang sama. Semua berharap mesin genset. Dinyalakan hanya sampai pukul 24.00 WIT.  Selebihnya  menggunakan lampu teplok atau loga loga, atau jika ada panel surya mereka andalkan tenaga surya yang  kapasitasnya  hanya beberapa watt saja. 

Proyek Solar Cell yang mangkrak di pulau Laigoma

Listrik dari tenaga   surya  juga belum seluruhnya diperoleh masyarakat di pulau -pulau ini. Padahal kebutuhan energi untuk mereka  sangatlah urgen. 

“Di sini lampu genset hanya menyala sampai pukul 24.00 WIT. Itu  jika ada bahan bakar solar. Jika tidak ada maka masih ada panel surya. Namun tidak semua warga  memilikinya,” ujar Asis warga Laigoma.

Kata dia, saat ini harapan satu- satunya  adalah peningkatan kapasitas tenaga surya  karena  PLN masuk  ke pulau kecil seperti di kampungnya itu  terasa sangat sulit.    

Proyek Tenaga Surya 2 Tahun Terbengkalai

Di Pulau Laigoma  sudah ada program pengadaan listrik tenaga surya  yang dibangun  pemerintah kabupaten Halmahera Selatan. Namun sayang setelah infrastrukturnya dibangun, malah dibiarkan terbengkalai dalam  dua tahun belakangan ini. 

Proyek ini dibangun akhir 2019 masuk 2020  namun hingga kini   belum juga bisa dimanfaatkan masyarakat. Fasilitas pendukung   didatangakan ke  Laigoma sejak 2020   dan sudah dipasang, tapi hingga kini  mangkrak, bahkan beberapa fasilitasnya  juga sudah mulai rusak.

Saat mengunjungi pulau ini Oktberi 2021 lalu,  kabarpulau.co,id menemukan beberapa fasilitas daro proyek  ini tak terurus.

Mubin  salah satu warga Laigoma yang mengantar langsung ke lokasi  melihat dari dekat proyek ini menjelaskan,  proyek ini dibangun sejak akhir 2019 dan hingga kini belum juga  bisa digunakan. Di lokasi fasilitas panel surya ditempatkan sudah ditumbuhi semak semak yang menutupi hamper semua panel tenaga surya. Beberapa alat juga terlihat sudah mengalami korosi akibat diterpa panas dan hujan. Meski  jaringan kabel sudah ditarik masuk ke dalam kampung dan rumah warga, hingga kini belum juga bisa dinyalakan. Padahal sebagai masyarakat  di pulau pulau kecil seperti ini,  adanya listrik  melalui tenaga surya ini sangat dibutuhkan.   

Kepala Desa Laigoma Makbul Hi Saleh ditemui di Desa Laigoma Oktober akhir 2021 lalu,  menceritakan  jika proyek   di desanya itu mangkrak sejak 2020 lalu. Pasalnya sejak akhir 2019 proyek didatangkan ke kampungnya.  Panel surya maupun alat alat pendukung lainnya juga ikut dipasang. “Mereka datang dan pasang tapi sudah hamper 2 tahun ini tidak kembali untuk tambah alat dan nyalakan.  Proyek ini menurutnya nilainya miliaran rupiah.  Antara Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar. Itu kata salah satu anggota dewan yang datang ke Laigoma,” ceritanya.

Dia bilang  kurang tahu pasti karena  tidak ada papan nama proyek yang dipasang saat pengerjaan.   Sekarang kabel sudah dipasang mesin dan alat juga sudah  tetapi   tidak menyala bahkan sebagian alat mungkin sudah rusak,” kesalnya.

Di  desa ini ada 63 KK   sangat butuh listrik tenaga surya ini.  “Bagi kami ini sangat penting.  Karena selain penerangan juga membantu jika warga yang mayoritas nelayan ini bisa membuat es batu bisa dimanfaatkan untuk mengawetkan ikan nelayan,” ujar Mubin lagi.  

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Kabupaten Halmahera Selatan Ali Dano Hasan dikonfirmasi via hand phonenya Sabtu (8/1/2022) tidak menampik adanya proyek yang mangkrak tersebut. Dia  hanya mengatakan segera akan menyelesaikan proyek ini dalam waktu dekat. Dia segera menurunkan  tim untuk segera menyelesaikan proyek yang bermasalah ini.

“Saya sedang di Kayoa. Besok tim kami  menuju Pulau Laigoma  untuk penyelesaian proyek ini. Kemarin saya sudah janjikan kepala desa Laigoma Desember lalu sudah dinyalakan tetapi karena persoalan alam kurang bersahabat sehingga tertunda. Dalam waktu dekat sudah bisa digunakan karena   bulan puasa juga sudah dekat sehingga harus diselesaikan,” kilahnya.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Situs Terumbu Karang Terkaya Ada di Malut, Ini Hasil Kajianya

    • calendar_month Sen, 8 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Beragam jenis ikan karang yang ditemukan bermain di terumbu karang KKP Mare, foto Abdul Khalis

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

  • Mtu Mya Halteng, Destinasi Eksotis yang Terancam Abrasi

    • calendar_month Ming, 17 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Hamparan pasir putih menghiasi pulau kecil berukuran sekira 70  meter  persegi itu. Di kiri kanannya terlihat  laut biru tosque dan terumbu karang yang sebagian sudah mulai mulai mati. Pulau tersebut tak lagi berpohon. Pohon yang dulu rindang dan tumbuh lebat di ekosistem pantai ini, telah mati. Baru ada beberapa pohon ditanam kembali oleh warga dan […]

  • Ini Cara Mendorong Warga Memetakkan Wilayah Adatnya

    • calendar_month Kam, 26 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 250
    • 0Komentar

    AMAN- Burung Indonesia dan CEPF Latih Masyarakat Adat Warga terutama kelompok masyarakat adat perlu didorong melakukan pemetaan wilayah kelolanya, termasuk  agar mereka bisa mengetahu klaim wilayah adatnya. Upaya ini memerlukan pelatihan atau training  pemetaan wilayah kelola mereka,    Dengan pemetaan itu juga masyarakat adat  bisa melakukan  proses penyatuan, mencatat dan mengesahkan pengetahuan tradisional yang  sudah tumbuh dalam […]

  • Demokrasi, Sebuah Ontologi Kecil

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Catatan dari Timur Nusantara untuk Indonesia Sir WinstonChurchill sekali dalam pidatonya mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem buruk diantara yang terburuk yang harus kita pilih karena tidak ada sistem lain yang lebih baik lagi. Padahal dalam sejarahnya banyak sekali bentuk-bentuk pemerintah maupun negara yang telah dipraktekkan sejak zaman Yunani kuno.Termasuk demokrasi sendiri berasal dari era Yunani […]

expand_less