Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
  • visibility 596

Bagian dari Upaya Konservasi Ake Gaale

Selasa 22 Maret 2022 hari ini, menjadi momentum penting memperingati Hari Air Sedunia. Di berbagai belahan bumi, masyarakat  atau komunitas memperingati hari air dengan berbagai kegiatan, baik ceremony maupun aksi nyata.  

Di Ternate Maluku Utara  terutama masyarakat yang bermukim di sekitar sumber mata air Ake Gaale di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara,   menggelar berbagai  kegiatan untuk memperingatinya. Salah satunya dengan   kegiatan ritual Sigofi Ake   atau membersihkan air. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin 21  Maret pagi. Sebelumnya warga juga telah melaksanakan pembuatan sumur resapan, dan kampanye pentingya air tanah baik di media maupun   kepada siswa siswi di kota Ternate.   Sementara acara puncaknya pada 30 Maret nanti dengan menanam pohon sagu di kawasan Perumda Ake Gaale.    

Proses ritual Sou Ake

Untuk acara ritual sendiri,  sejak pagi  sekira pukul 06.30  WIT,  puluhan orang berbaju putih dan berpeci itu  sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi di atas  mulut air  Ake Gaale  Kelurahan Sangaji Kota Ternate. Kehadiran mereka di  tempat tersebut, untuk melaksanakan sebuah acara ritual atau baca doa, sebagai sebuah ikhtiar, permntaan pada sang pencipta untuk melindingi alam di mana warga tinggal dan memanfaatkan apa yang ada di dalamnya termasuk air. Mereka adalah pengurus masjid, tokoh masyarakat  dan tokoh agama. memanjatkan doa doa  bagi sang pencipta,  tujuannya agar kondisi air tanah Ake Gaale kembali seperti sedia kala. Sejumlah doa   dipanjatkan untuk keselamatan  air dan alam serta meminta keridhoan dari sang pencipta. 

Kehadiran mereka  itu, adalah  bagian dari sebuah agenda   ritual yang dikenal dengan Sigofi Ake atau  ritual membersihkan air.

Warga setempat khususnya masyarakat  adat Ternate meyakini ada kekuatan alam yang berada di luar kemampuan manusia yang perlu dimintai pertolongan yakni Allah.  Dalam ritual ini, selain doa doa yang dipanjatkan termasuk juga tahlil  dan puji-pujian kepada Allah, juga ada   prosesi berdasarkan adat dan tradisi yang sudah dilaksanakan turun temurun yakni diawali dengan mendatangi tempat atau menziarahi tempat yang dianggap keramat dan memiliki tuah. Setelah itu dibacakan doa doa. Prosesi doanya tiga kali dilaksanakan di tiga tempat. Pertama  di mulut  air atau hilir mata air ake Gaale, setelah itu di sumber mata air dan terakhir di kolam besar ake gaale saat ini.

Tokoh masyarakat Ake Gaale Abdul Muthalib Ma’bud menjelaskan  ritual ini adalah bagian dari cara masyarakat  meminta pertolongan kepada pemilik alam untuk menjaga dan melindungi alam termasuk  Ake Gaale ini.

“Doa doa yang dipanjatkan itu meminta kepada pemilik  rahmat  dan rezeki  dari alam  baik di darat dan laut. Lalu ada doa selamat pujia-pujian kepada sang pencipta,”kataya.    

Menurutnya untuk menyelamatkan air ini tidak hanya proses secara ilmiah  yakni tanam pohon, buat  sumur resapan dan berbagai kegiatan konservasi lainnya. Tetapi  juga ada kearifan lokal milik masyarakat juga turut dilakukan sehingga ikut menjaga dan melindungi air Ake Gaale yang  menghidupi masyarakat Kota Ternate  ini.   

Ketua  Komunitas Save Ake Gaale Alwan M Arif bilang  soal air ini fokusnya pada bagaimana pemanfaatnya. Jika dimanfaatkan maka akan berdampak.  Maka   ada tiga hal yang dilakukan  berhubungan dengan air bawah tanah. Pertama Pemanfatan Kedua Pelestarian  dan Pengendalian.  Guna air  atau pemanfaatanya yang saat ini dilakukan Perumda Air Minum Ake Gaale, Kedua   masalah pelestarian. Proses pelestarian  lebih banyak dilakukan masyarakat.

“Apa yang dilakukan oleh masyarakat atau warga termasuk ritual ini adalah bagian dari pelestarian atau konservasi. Proses pembuatan sumur resapan biopori dan yang dilakukan oleh warga Ake Gaale dengan ritual Sigofi Ake ini adalah bagian dari pelestarian air,” jelasnya. Sementara untuk pengendalian   terhadap daya rusak air    baik fisik maupun kimia karena ada pencemaran maka ada tugas pemerintah dan ilmuan untuk menyelesaikannya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stadion Gelora Kie Raha

    Stadion Gelora Kie Raha

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 635
    • 0Komentar

    Stadion Gelora Kie Raha yang telah direnovasi di Ternate, Maluku Utara, Minggu (24/11/2024).Stadion yang berkapasitas 15 ribu penonton itu sudah mulai digunakan Klub Malut United FC untuk latihan dan pertandingan liga satu, menyusul telah rampungnya renovasi stadion pada akhir Oktober 2024 oleh PT. Mineral Trobos.FOtO/ADEX  

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 723
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

  • Hemiscyllium halmahera Terancam, Perlukah Perlindungan?  

    • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 878
    • 0Komentar

    Hemyscillium-halmahera yang-ditemukan-di-laut-Ternate-foto-Nasijaha-Dive Center

  • BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Angin Kencang di Maluku Utara  Masih Terjadi  Direktorat  Meteorologi   Publik  Badan Meteorlogi  Klimatologi  dan Geofisika  (BMKG)  menyampaikan   hasil pemantauan  pada  dasarian II Juli  2026,  menunjukkan   musim kemarau  terus meluas dan kondisi  kering  semakin mendominasi wilayah Indonesia. Curah hujan kategori  rendah tercatat  mencakup  92,93% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 6,63%  dan  kategori  tinggi hanya 0,45%.  Kondisi […]

  • Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

    • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 958
    • 2Komentar

    Tepung sagu yang telah diisi kedalam tumang atau wadah tepung sagu foto Rusdiyanti/KPH Tidore

  • YLBHI:  Bermotif Kepentingan Tambang, Hakim Vonis 11 Warga Adat Maba Sangaji Bersalah

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Suasana  haru penuh  amarah menyelimuti ruang persidangan, kala hakim pengadilan Negeri Soasio Tidore Kepulauan memvonis   11 warga  adat Maba Sangaji Halmahera Timur (Haltim) bersalah, pada Kamis (16/10) siang. Hakim mengetuk palu dan menyatakan 11 pejuang lingkungan iti bersalah lantaran menghalangi aktivitas pertambangan PT Position. Para terdakwa  disebutkan hakim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah […]

expand_less