Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau-pulau Rentan Akibat Industri Ekstraktif

Pulau-pulau Rentan Akibat Industri Ekstraktif

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
  • visibility 560

Ancaman Rusaknya Pesisir Laut Maluku Utara

Pesisir dan Pulau pulau kecil di Maluku Utara    rentan dari ancaman industry tambang dan sawit. Tidak hanya di kawasan pesisir ancamanya  sampai  bawah lautnya. Hal ini mengemuka dalam workshop Telaah Kebijakan Pembangunan Industri Berbasis  Kawasan dalam Upaya Adaptasi  Ancaman Perubahan Iklim  dan Bencana Ekologi di Maluku Utara yang digelar WALHI Maluku Utara Kamis (16/6/2022). Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara yang diikuti lembaga anggota WALHI Maluku Utara.

Dr Adityawan Ahmad membedah pembangunan pesisir dan pulau pulau kecil di Maluku Utara. Adityawan dalam pemaparanya menjelaskan, kerusakan yang terjadi  di alam terutama kawasan pesisir dan pulau pulau kecil  karena adanya aktivitas manusia. Hadirnya beberapa regulasi berupa Undang undang nomor 26 tahun 2007 dan Undang undang nomor 27 2007 untuk mengatur adanya penataan ruang serta Undang- undang tentang pengelolaan Pesisir dan Pulau pulau kecil. Regulasi ini ada untuk mengatur kawasan budidaya, kawasan konservasi atau perlindungan. Banyaknya aktivitas tersebut maka perlu diatur  dengan undang –undang.

Dia bilang  yang dimaksud dengan pesisir adalah daerah peralihan darat laut. Berdasarkan defenisi  pesisir maka wilayah Maluku Utara  semua termasuk pesisir.

Dia bilang di kawasan pesisir itu ada 3 ekosistem di dalamnya  ekosistem  mangrove,  lamun atau orang Malut mengenalnya dengan gusungi serta terumbu karang.

Terumbu karang misalnya, sangat rentan dengan adanya dampak sedimentasi akibat aktivitas tambang.Selain itu dampak perubahan iklim juga rentan  merusak terumbu karang  akibat  adanya bleaching.     

Dia bilang lagi,  bicara pulau kecil itu  bicara soal daya dukung.  Persoalan industry pertambangan, perkebunan monokultur serta pembangunan tambak yang menghilangkan hutan mangrove secara massive adalah  sebuah persoalan yang serius menyangkut pesisir dan pulau pulau kecil. Orang menghitung tambang lebih menguntungkan secara ekonomi karena  dampak secara langsung sementara  bicara   ekologi itu dampak secara tidak langsung. Ini yang jadi perdebatan dan sulit didapatkan titik temunya.Seringkali keuntungan secara ekologi itu  diabaikan.  

Dedy Abdul Kadir Arief yang juga ahli Geologi Maluku Utara memberi gambaran tentang kondisi geologi Maluku Utara dan kerentanannya dengan  bencana. Baik  akibat  eksploitasi  tambang maupun dampak  perubahan iklim.

 Menurut Dedy konsep pulau di Maluku Utara terbangun sejak awal pembentukannya yakni zaman jura  atau dari carbon ke jura 145 juta tahun yang lalu. Hal ini mempengaruhi mitigasi daerah  daerah maritime seperti sekarang.

Awalnya bumi Maluku Utara ini satu daratan dengan Australia, India dan Cina namun karena ada aktivitas tektonik  dan memunculkan  proses vulkanik.  Proses carbon ke jura menyebabkan terjadinya proses  tektonik dan vulkanik yang sangat luar biasa.

“Proses vulkanik terjadi karena ada aktivitas tektonik. Sisa jura ditemukan dalam  penyusunan bumi Sula dan Obi saat ini,” jelasnya.

Dia contohkan garis Wallacea misalnya mengikuti garis proses tektonis  yang pernah terjadi.  

Halmahera kata dua dibentuk oleh tiga lempengan yang bergerak simultan  secara bersamaan.  Halmahera juga  memiliki sejarah tsunami yang  sangat hebat.   

Karena itu kata dia Maluku Utara dari sisi kebencanaan sangat komplit, baik bencana geologi, hydrometerologi dan perubahn iklim.   Bumi Maluku Utara dalam support aktivitas magma itu sangat kuat. “Maluku Utara itu berada di tepi lempeng  dan berada di belakang busur  vulkanik.  Jadi kalau dianalogikan Malut tidur di atas bara api. Hidup di mana saja di Maluku Utara ini tetap berada di daerah vulkanis. Ambil contoh saat riset gempa swarm di Gunung Jailolo ditemukan magmanya berada di kedalaman sekira 10 kilometer. Semakin lama magmanya semakin dekat kurang lebih 7 sampai 8 kilometer.  

Dari semua proses alam dan dampaknya, yang perlu dilakukan adalah mengintervensi  kebijakan yang berpihak pada mitigasi bencana. Baik tektonik, aktivitas vulkanis maupun bencana hydrometeorolgi dan dampak perubahan iklim. (*)  

Sementara menurut WALHI Maluku Utara yang merupakan Provinsi Kepulauan, memiliki 837 pulau besar dan kecil (KKP, 2022) dengan 89 pulau yang telah dihuni manusia sementara sisanya belum berpenduduk  merupakan gugusan kepulauan dengan rasio daratan dan perairan 24 : 76, atau luas lautan ± 100.731,83 km2 .

Kondisi Sungai Wale Halmahera Tengah yang tercemar kerukan tambang nikel pada akhie 2019 lalu

Artinya lebih besar dari luas daratan yang hanya ± 45.087,27 km2 dari total luas wilayah yang

mencapai ± 145.819,1 km2.

Namun, dalam proses pemanfaatan pulau-pulau kecil, masih banyak pihak yang kurang bijak hingga melanggar peraturan yang mengakibatkan kerusakan ekosistem pada pulau tersebut. Sebagai contoh penambangan, perubahan alih fungsi lahan, pemanfaatan berlebihan dan lain

sebagainya. Hal tersebut tidak hanya merugikan negara dan lingkungan namun juga masyarakat yang biasanya secara langsung merasakan dampak dari kegiatan tersebut. Misalnya berkurangnya penghasilan hingga kehilangan mata pencaharian.

Tercatat ada 124 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang bercokol di Maluku Utara dengan luas konsesi mencapai satu juta hektar. Masifnya konsesi pertambangan tersebut tidak hanya berada di pulau besar Halmahera, namun juga mengekspansi hingga ke pulau-pulau kecil seperti Pulau Pakal, Mabuli, dan Gee di Halmahera Timur, Gebe di Halmahera Tengah, Kepulauan Sula, Taliabu, dan Pulau Obi di Halmahera Selatan.

Selain izin pertambangan, Maluku Utara tengah berhadapan dengan ekspansi industri perkebunan monokultur sawit di Gane, Halmahera Selatan, yaitu Korindo Group melalui anak usahanya PT. GMM. Belasan Hak Penguasaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman

Industri (HTI) juga giat meratakan hutan di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Halmahera Selatan, dan Pulau Obi.

“Keberadaan industri tambang, sawit, dan konsesi hutan telah berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan di Maluku Utara. Di Kabupaten Halmahera Timur sejak tahun

2004-2018 terjadi penurunan profesi nelayan dari 8.587 orang menjadi 3.532 orang. Ke korporasi  tidak terlepas dari   “karpet merah” pemerintah, menghendaki ragam kisah pilu tentang perampasan lahan di ruang produksi warga, pencemaran air/tanah, intimidasi, kriminalisasi, dan mempercepat laju deforestasi hutan, menjadi kian terasa dewasa ini,” jelas Dirktur WALHI Maluku Utara Faisal Ratuela. Dia bilang lagi  dalam jangka panjang, pulau-pulau  bisa lenyap. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2011 menyebutkan sebanyak 28 pulau kecil di Indonesia telah tenggelam dan 24 pulau kecil lainnya terancam. Kajian riset asal Inggris, Verisk Maplecroft, soal dampak perubahan iklim memperkirakan 1.500 pulau kecil di Indonesia akan tenggelam pada 2050 seiring dengan naiknya permukaan air laut.Sementara  saat ini juga tengah diperhadapkan dengan ancaman regulasi, khususnya UU Cipta Kerja dan UU Minerba, reklamasi pantai, industri ekstraktif pertambangan, serta minimnya

alokasi ruang nelayan dalam RZWP3K. Alokasi ruang pemukiman untuk nelayan hanya 168,50 hektar sebagaimana tercatat dalam dalam RZWP3K Maluku Utara. Luasan ini tidak sebanding dengan jumlah nelayan di Maluku Utara sebanyak 26 ribu jiwa. (*)    

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Penjelasan Masyarakat Speleologi Indonesia Soal Bokimoruru

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 675
    • 1Komentar

    Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI) yang memiliki spesifikasi keilmuan mempelajari gua termasuk  proses pembuatan dan lingkungannya   melihat kasus di Sungai Sagea dan Goa Bokimoruru  penting diberitanggapan. Melalui rilis MSI yang diterima kabarpulau.co.id/ Kamis (7/9/2023) menyampaikan  bahwa Gua Bokimoruru adalah Salah Satu Sistem Gua Sungai Bawah Tanah Terpanjang  di Indonesia. Gua  di Pulau Halmahera itu  saat ini tercemar  diduga […]

  • Ini Rencana Pesta Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Malut

    • calendar_month Jum, 16 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 582
    • 0Komentar

    Digelar di Kalaodi  dan  Kayoa  17  hingga 19 November Sebuah  pesta  berbasis  lingkungan   segera digelar  Wahana Lingkungan  Hidup (WALHI) Maluku Utara. Pekan lingkungan ini akan  digelar  di  Kalaodi  puncak Kota Tidore Kepualuan  dan Kayoa Halmahera Selatan.  Bertitel Pekan Lingkungan Hidup Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil  akan   digelar sejumlah  acara.  Mulai dari  seminar lingkungan hidup  dan […]

  • Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    Setahun Prabowo–Gibran: Reformasi Hukum Mandek, Perjalanan Demokrasi Masih Tersendat

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Setahun perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto Gibran Rakabuming Raka, diwarnai pasang surut   reformasi huku dan tersendatnya perjalanan demokrasi.  Bagi Kurawal sebuah yayasan yang bekerja untuk memperkuat praktik, lembaga, dan nilai-nilai demokrasi di Indonesia  dan kawasan Global South,serta mendorong persemaian ide baru dan eksperimentasi bagi terwujudnya tatanan demokrasi yang bermartabat dan bermaslahat bagi seluruh warga Negara, meihat […]

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 731
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 712
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

  • Doho-doho Kemerdekaan  

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Ironi Negeri El Dorado dan El Picente Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga […]

expand_less