Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

Ini Cara Bangun Kesadaran Isu Climate Change

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
  • visibility 528

Pengaruhi Pengambil Kebijakan hingga Kampanye untuk Kaum Mileneal

Maluku Utara dengan ribuan pulaunya memiliki potensi sekaligus masalah. Terutama ancaman bencana perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim sebenarnya sudah sangat serius.    Tidak hanya banjir akibat bencana hydromterologi, tetapi juga kecelakaan laut (lakalaut) yang terjadi hamper setiap saat  akibat cuaca buruk. Banjir dan lakalaut  jadi masalah yang menghiasi Maluku Utara hamper sepanjang tahun. Tak hanya korban material, puluhan nyawa ikut melayang akibat rententan  peristiwa tersebut.  

Lakalaut sepanjang 2021  sesuai data Basarnas Ternate ada 30 kejadian  dengan korban 782 orang  di mana  1  warga  meninggal  dan 14 orang hilang. Terbaru adalah peristiwa kecelakaan kapal KM Cahaya Arafah di perairan Gane Barat Halmahera Selatan dengan korban 77 penumpang di mana 66 orang selamat 10 orang meninggal dan 1 orang dinyatakan hilang. Belum lagi bencana banjir yang  kejadiannya sudah ratusan kali diberbagai tempat di Maluku Utara dengan korban harta bahkan nyawa. Itu masalah yang nyata di depan mata.

Bagaimana dengan dampak lain bagi petani dan nelayan? Pendapatan petani di Maluku Utara sangat tergantung  dengan hasil perkebunan. Ambil contoh petani cengkih, sudah tiga tahun ini mereka merana. Pasalnya, akibat dampak musim hujan dan kemarau yang tak teratur membuat cengkih juga tak berbuah. Rempah yang jaya di masa lalu ini memiliki ketergantungan dengan kondisi hujan dan panas yang harus teratur.

Kampanye soal sampah dan dampaknya bagi lingkungan di kota Ternate, foto PakaTiva

Musim panen cengkih  misalnya, dilakukan  sejak tahun 2019 lalu. Artinya sudah  tiga tahun  ini cengkih belum berbuah lagi.  Para petani cengkih di Kalaodi Pulau Tidore misalnya, mengatakan  persoalan ini lebih karena  adanya kondisi iklim tidak teratur seperti sebelumnya.  “Cengkih so tara babuah so tiga tahun ini. Bisa torang tau sandiri ini karena musim hujan dan panas yang sudah tidak lagi menentu,” komentar Samsudin Ali petani cengkih dan tokoh masyarakat Kelurahan Kalaodi Tidore Kepulauan.  

Begitu juga dengan nelayan di Ternate. Waktu menangkap ikan mereka juga sangat tergantung dengan cuaca harian. Beberapa bulan belakangan ini kondisi cuaca sangat tidak menentu sehingga memengaruhi hasil tangkapan mereka. Di  2022 ini  turun melaut sudah sangat terganggu. “Kadang istrahat hingga hamper dua minggu, karena menyesuaikan kondisi laut,”keluh Icu Jou salah satu nelayan tradisional Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara Ternate Maluku Utara.  

Apa yang diungkapkan  warga   Ternate dan Tidore di atas adalah setidaknya mewakili petani dan nelayan sekaligus bagian dari fakta  ancaman perubahan iklim    yang nyata dampaknya bagi kehidupan masyarakat petani dan nelayan saat ini. 

Masalah ini yang mendasari lembaga swadaya masyarakat  PakaTiva  Maluku Utara yang kemudian dalam  tiga tahun terakhir melakukan berbagai upaya mendorong isyu  perubaha iklim  menjadi perhatian semua pihak.  Apa yang dilakukan itu menyasar berbagai kelompok masyarakat   serta para pihak yang diharapkan bisa berkontribusi dalam kebijakan pembangunan yang ramah terhadap isu perubahan iklim. Aksi nyata juga menyasar kaum milineal untuk lebih concern dengan kampanye  melalui aksi- aksi.

Direktur PakaTiva Nursyahid Musa menjelaskan, wilayah pulau-pulau kecil dan pesisir laut di Timur Indonesia, terutama Maluku Utara  rentan terhadap dampak krisis iklim global. Perubahan pola cuaca ekstrem dan kenaikan suhu rata-rata dalam waktu yang cukup panjang—seperti apa yang dilaporkan Stasiun Metereologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate per 2020—berdampak langsung terhadap sektor produktifitas masyarakat tempatan, pertanian dan perikanan. Tentu saja katanya dalam konteks  kebencanaan perlu dipikirkan secara serius   apa pendekatan strategi mitigasi adaptasi sebuah wilayah dengan karakter dan pola produksi pemukim yang hidup di pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dia lantas membeber sejumlah masalah yang perlu dipikirkan solusinya  menyikapi problem perubahan iklim tersebut. Menurutnya, perlu dipikirkan implementasi pembangunan rendah  karbon dan ketahanan terhadap perubahan iklim melalui restorasi, pengelolaan dan pemulihan ekosistem pesisir. Rehabilitasi hutan dan lahan serta pengurangan laju deforestasi. Selain itu perlu mengubah arah pengelolaan hutan yang semula berfokus pada pengelolaan kayu ke arah pengelolaan berdasarkan ekosistem sumber daya hutan dan berbasis masyarakat yang memiliki landbase yang berkelanjutan.

Untuk pemerintah, perlu dibangn persepsi dan respon daerah atas kebijakan pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan memberikan akses kelola hutan kepada masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan melalui perhutanan sosial dan kemitraan konservasi.

Perlu juga strategi pembangunan berkelanjutan mempertimbangkan pendekatan berbasis penyelesaian konflik yang terkait dengan kasus tenurial kehutanan, perikanan berkelanjutan, dan memberikan aset legal lahan bagi masyarakat.   “Sejauh mana proses internalisasi prinsip-prinsip daya dukung dan daya tampung  lingkungan diakomodir ke dalam penyusunan KLHS yang kemudian menjadi acuan revisi RTRW sebagai arahan spasial makro pembangunan kehutanan tahun 2011-2030 dari KLHK.  Bagaimana tindakan preventif daerah dalam konteks meminsimalisir kehilangan keanekaragaman hayati dan keruakan ekosistem melalui upaya-upaya konservasi kawasan serta perlindungan keanekaragaman hayati yang terancam punah baik di  darat maupun pesisir laut.  

Dampak serius perubahan iklim adalah ancaman terjadinya banjir ketika hujan foto Irawan D

Adakah kalkulasi skala risiko yang dihadapi ke depan ketika maraknya izin diberikan kepada industri pertambangan/smelting dalam satu kawasan berhutan di Maluku Utara. Selain itu  bagaimana strategi intervensi pengendalian emisi yang dihasilkan dari aktivitas industri padat karbon di daerah. “Ini pertanyaan -pertanyaan dalam hal kebijakan pemerintah   yang berkaitan dengan isyu perubahan iklim,” cecarnya.  

Selain ini dia juga mempertanyakan  bagaimana roadmap Kelautan dan Perikanan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil dalam konteks pembangunan berkelanjutan di daerah ini.   Berbagai persoalan kebijakan itu, dibutuhkan    penyadaran kepada berbagai kelompok masyarakat.

“PakaTiva telah melakukan beberapa kegiatan mulai dari FGD dengan pemerintah daerah terkait kebijakan pembangunan berkelanjutan di Maluku Utara, serta  kampanye membangun kesadaran  bahaya perubahan iklim yang mengancam alam dan manusia kini dan di masa depan. Kampanye itu dilakukan dengan mendatangi sekolah SMA untuk mengakampanyekan bahaya sampah plastic bagi alam. Tidak itu saja, dampaknya terhadap kondisi laut dan pulau-pulau kecil di Maluku Utara,” jelasnya.

Tidak hanya kampanye di sekolah, isu Ternate bebas sampah plastic melalui aksi  jalanan juga ikut digeber.  ”Ini semua adalah aksi nyata membangan kesadaran tentang dampak perubahan iklim bagi masyrakat,”jelasnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 732
    • 1Komentar

    “Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  […]

  • Kondisi Bumi Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 585
    • 2Komentar

    Bencana Akibat Perubahan Iklim Makin Mangancam Bumi Rabu 23 Maret 2023 hari ini bertepatan dengan Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-73. Sebagai informasi, peringatan HMD yang jatuh pada 23 Maret merupakan tanggal yang mengacu pada konvensi meteorologi 23 maret 1950. Konvensi tersebut merupakan rangkaian panjang dari berdirinya badan cuaca di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Organisasi […]

  • Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 732
    • 0Komentar

    Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada […]

  • Alokasi PS- TORA dan Pelepasan HPK-TP Perlu Kajian Mendalam

    • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 716
    • 0Komentar

    Aktivitas menanam KTH Ake Guraci yang memperoleh Izin seluas 100 hektar foto Juliaty penyuluh Ps

  • Bacarita Pangan Lokal Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 834
    • 0Komentar

    Catatan dari Diskusi  Bersama Stakeholder Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau ini memiliki keragaman  pangan lokal. Dari banyaknya pangan local  yang dimiliki baik sagu, ubi-ubian maupun jenis biji-bijian  memiliki sejarah panjang.  Potensi sumber daya pangan itu diikuti berbagai tradisi dan  budaya dalam menyiapkannya. Selain kekayaan pangan, Bumi Maluku Utara juga punya kekayaan yang luar […]

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 731
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

expand_less