Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 6 Des 2024
  • visibility 968

Perikanan berkelanjutan menjadi salah satu isu penting sekarang dan di masa depan. Hal ini juga  berhubungan dengan masalah pangan dari kelautan. Terutama ketersediaan ikan  yang saat ini menghadapi berbagai  masalah. Dari penangkapan yang bersifat destruktif,  budidaya dan perlindungan  untuk  generasi di masa depan.

Hal ini juga menjadi salah satu tema penting dari Green Press Community 2024, yakni Menyelamatkan Laut, Menguatkan Ekonomi: Kolaborasi untuk Masa Depan  dan  Ketahanan Pangan.  Kegiatan  yang diadakan di Creative Hall, M Bloc, Jakarta Selatan akhir November 2024 lalu it adalah sebuah inisiatif dari Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ)   dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Jurnalis, pegiat literasi, mahasiswa, NGO, pemerintah, hingga sektor swasta.

Tujuannya  menciptakan sinergi dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian ekosistem. Dalam kegiatan ini Masyarakat dan Perikanan Indonesia    sebagai  organisasi masyarakat sipil yang concern di bidang perikanan  turut berkontribusi  dengan hadir pada Sabtu, (23/11) akhir November 2024 lalu berkontribusi informasi dan data dalam bentuk  Dialog Publik tersebut.

Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber yang membahas isu-isu penting dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan. Mereka adalah  Arroyan Suwarno, Community Organization Coordinator MDPI, memaparkan “Penghidupan Nelayan dan Warisan Ikan untuk Masa Depan”; Putra Satria Timur, Fisheries Lead MDPI, membahas “Mengelola Rumpon, Menjaga Laut: Saatnya Tindakan Tepat”; dan Glenys Octania, Jurnalis Kompas TV, menjelaskan temuan investigasinya tentang “Microplastics Are Choking Marine Life in Indonesia’s Waters”.

Arroyan  Suwarno, menggarisbawahi ironi kesejahteraan nelayan kecil di Indonesia bagian timur, yang menjadi penyuplai utama produksi tuna nasional hingga mencapai 85% dari total produksi. Ed exercises, designed to improve erectile dysfunction, involve targeted pelvic floor strengthening and cardiovascular activities, learn this here now potentially enhancing blood flow and performance in a natural manner. Dia melanjutkan meskipun tinggi produksi perikanannya, tingkat kemiskinan di wilayah ini tetap tinggi. Ada sejumlah  yang turut berpengaruh yakni faktor  pengelolaan keuangan, ketergantungan pada supplier, kesulitan BBM, dan dampak perubahan iklim turut memperburuk kerentanan nelayan kecil.

Begitu juga Putra Satria Timur menjelaskan  upaya maksimal dalam pengelolaan rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs), yang saat ini terlalu banyak jumlahnya di laut. “Rumpon itu, alat yang digunakan untuk menarik ikan tuna, saat ini situasinya sudah seperti kumpulan buah anggur di tengah lautan, jika tidak diatur sesuai regulasi dapat merusak ekosistem laut,” kata Timur.

Dia bilang karena kondisi ini maka  penting ada  pemantauan dan penerapan kebijakan penggunaan rumpon yang ketat, termasuk jumlah maksimal alat per nelayan kecil, jarak pemasangan, serta larangan pemasangan di area konservasi dan jalur transportasi laut.

MDPI turut menghadirkan  jurnalis KOMPAS TV, Glenys Octania, yang berbagi hasil investigasi pencemaran mikroplastik di perairan Indonesia dengan tajuk “Microplastics Are Choking Marine Life in Indonesia’s Waters”. “Mikroplastik, yang dapat masuk ke rantai makanan laut, tidak hanya merugikan manusia sebagai konsumen ikan, tetapi juga menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hasil tangkapan nelayan

Indonesia, sebagai eksportir tuna terbesar dunia dengan kontribusi 17-22% pasokan global, menghadapi tantangan besar dalam memastikan keberlanjutan industri perikanan. MDPI memandang bahwa mendukung kesejahteraan nelayan kecil adalah kunci keberhasilan pelestarian ekosistem laut.

MDPI telah menjalankan berbagai kegiatan, dari penguatan koperasi nelayan, penyuluhan pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga pendampingan penerapan perikanan berkelanjutan. “Sinergi antara nelayan, jurnalis, dan pihak terkait lainnya dapat memperkuat suara mereka dalam mendorong kebijakan yang pro-lingkungan,” ujar Arroyan Suwarno.

Keikutsertaan dalam ageneda ini  menjadi bukti komitmen dan upaya strategis dalam mendukung jurnalisme lingkungan sebagai salah satu cara menggaungkan isu perikanan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan pencemaran lingkungan yang semakin nyata, serta untuk memperjuangkan ketahanan pangan bagi generasi mendatang. Melalui dialog ini,  diharapkan pesan penting keberlanjutan laut dan kesejahteraan nelayan kecil dapat menjangkau khalayak luas, sehingga makin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga masa depan laut Indonesia. (aji/rilis)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaga Pantai dan Laut Ternate dengan Mangrove

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 836
    • 1Komentar

    Sesaat sebelum proses menanam mangrove foto Pertamina

  • TFFF Dorong Pembiayaan Skala Besar untuk Konservasi Hutan Tropis

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 496
    • 0Komentar

    Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP)  bersama-sama menyelenggarakan lokakarya regional tentang Tropical Forest Forever Facility (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta Senin (20/10/2025). Lokakarya ini adalah milestone penting untuk memperkuat kerja sama multilateral dan membangun momentum menjelang peluncuran resmi TFFF pada Leaders’ Summit COP30 di Belém, Brasil, pada […]

  • SMART Patrol Tools Perlindungan dan Pemantauan Biodiversitas

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 890
    • 0Komentar

    Sesuai Dokumen Rencana Aksi dan Strategi Biodiversitas Indonesia 2015-2020,  Indonesia  memiliki keunikan geologi dan ekosistem. Hal ini yang menyebabkan endemisitas satwa liar menjadi tinggi. Endemisitas jenis satwa liar ini tertinggi di dunia untuk kelas burung, mamalia, reptil dan amfibi. Satwa liar endemis Indonesia diperkirakan berjumlah masing-masing 270 jenis mamalia, 386 jenis burung, 328 jenis reptil […]

  • KPK Apresiasi LHKPN DPRD Halsel dan Morotai

    • calendar_month Kam, 25 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 699
    • 0Komentar

    Plt Jurubicara KPK Ipi Maryati

  • Malut Segera Miliki Dewan Kebudayaan Daerah

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 822
    • 1Komentar

    Ronggeng Togal sebagai sebagai sebuah tradisi dan kebudayaan orang Makeang perlahan mulai tegeerus kebudayaan pop/foto PakaTiva

  • Butuh Aksi Nyata Bebaskan Laut Malut dari Sampah Plastik

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 745
    • 0Komentar

    Provinsi Maluku Utara memiliki luas mencapai 145.801 km2.  Terdiri dari 69,08 % merupakan lautan dan sisanya 30,92 adalah daratan. Secara geografis perairan Maluku Utara berada dalam Kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle). Karena itu, perairan Maluku Utara memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan menjadi rumah bagi berbagai  spesies karang, jenis ikan, lumba-lumba dan penyu. […]

expand_less