Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
  • visibility 182

Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif.

Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia.

“Menguatnya militerisme tercermin dari pembentukan Satuan Tugas (Satgas) di sektor SDA. Satgas itu jelas menarik persoalan SDA ke ranah pertahanan (sekuritisasi SDA),” kata lulusan Manajemen Sains Sumberdaya Lingkungan IPB, Rabu (22/4/2026).

Lebih jauh, Firdaus mengungkapkan sekuritisasi SDA akan mengesampingkan dialog dengan para pihak dan lebih mengutamakan garis komando. Menurut dia, sekuritisasi SDA akan menyingkirkan masyarakat lokal dan masyarakat adat sejak tahap perencanaan pembangunan.

“Dampak dari ditariknya pengelolaan SDA ke ranah pertahanan adalah setiap kritik dan penolakan masyarakat di lapangan rentan dihadapi dengan kekuatan senjata,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Firdaus, kebijakan pembangunan saat ini juga masih mengarusutamakan ekonomi ekstraktif, yakni pengambilan sumber daya alam secara masif untuk swasembada energi dan pangan. Menurut Firdaus, pengarusutamaan model pembangunan ekstraktif telah memicu kerusakan lingkungan yang luar biasa, “Berdasarkan laporan Auriga Nusantara tahun 2026, angka deforestasi di Indonesia melonjak drastis sebesar 66 persen pada 2025, dengan hilangnya 433.751 hektare hutan. Angka deforestasi itu merupakan indikasi bahwa perpaduan militerisme dan ekstraktivisme telah menyebabkan kerusakan alam,” katanya.

Firdaus mengatakan, dalam momentum Hari Bumi, masyarakat sipil mendesak pemerintah melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki pengelolaan SDA.

Desakan itu antara lain Pertama, pemerintah harus menghentikan kecenderungan militerisme dalam pengelolaan sumber daya alam dan mengembalikan mandat pengelolaan kepada institusi sipil yang transparan serta akuntabel.

Kedua, pemerintah perlu mengutamakan dialog dengan masyarakat adat dan lokal sebagai pemilik wilayah kelola, bukan menghadapinya dengan pendekatan keamanan.

Ketiga, pemerintah harus mengevaluasi kebijakan ekonomi ekstraktif yang memicu deforestasi ugal-ugalan dan kerusakan alam lainnya di Indonesia.

“Menghentikan militerisme di ranah politik harus dimulai dengan menghentikan militerisme dalam pengelolaan sumber daya alam. Jika kita menormalisasi ini, kita sedang memberi pijakan bagi lahirnya junta militer yang akan mengorbankan petani dan rakyat kecil. Hari Bumi seharusnya menjadi pengingat bahwa alam adalah sumber kehidupan yang harus dijaga, bukan komoditas pertahanan yang dikelola dengan moncong senjata,” katanya.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerakan Tanam Pohon Serentak, 760 Batang Ditanam di Domato Halbar

    • calendar_month Jum, 5 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 668
    • 1Komentar

    Program menanam pohon serentak di Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga dilaksanakan di Maluku Utara. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Domato Kecamatan Jailolo Selatan  Kabupaten Halmahera Barat pada Jumat (30/12/2023). Kegiatan  ini dipimpin oleh Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Subjek Politik Kebangsaan dan Sumber Daya Alam, Bpk. Ariyanto, dihadiri kurang lebih 166 peserta […]

  • PIT Diklaim Mampu Berantas IUU Fishing

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 523
    • 3Komentar

    Seekor ikan tuna yang didaratkan di Perlabuhan Perikanan Dufa dufa Ternate Maluku Utara foto M Ichi

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 1.203
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

  • Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.201
    • 1Komentar

    Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.    Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar […]

  • Ingin Tegakkan Prinsip Politik Hijau, PHI Terbentuk

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 621
    • 1Komentar

    Kongres Online Partai Hiua Indonesia

  • Menikmati Ekowisata Bukit Lona Pulau Tidore

    • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 899
    • 0Komentar

    Pemandangan yang menawan dari kawasan ekowisata Bukit Lona/foto Andy Taufik

expand_less