Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

  • account_circle Mahmud Ici
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 89

Di masyarakat pesisir kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, memiliki  satu  tradisi  menangkap ikan.  Namanya  Vauf.  Vauf adalah nama jorang yang dipakai dari batang bambu atau batang pelepah sagu. Orang Maluku Utara umumnya mengenal dengan huhati.

Vauf dimakani sebagai memancing ikan menggunakan jorang dari bambu atau pelepah sagu. Hal ini  dilakukan mama-mama saat menangkap ikan di waktu senggang.

Alat tangkap Vauf konstruksinya sama seperti jorang  umumnya. Batang bambu atau pelepah sagu, nilon dan mata kail. Ukuran nilon disesuaikan  ukuran jorang.

Budaya Vauf memiliki nilai penting karena mencerminkan praktik penangkapan ikan tradisional yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan.

Kali ini  dibuat dalam bentuk lomba yang  focus untuk ibu-ibu di pesisir Patani Utara.

Adapun tujuan utama Lomba Vauf ini adalah melestarikan Budaya Vauf sebagai kearifan lokal masyarakat pesisir. Menguatkan peran perempuan pesisir dalam pelestarian budaya bahari. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik penangkapan ikan ramah lingkungan. Mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir. Mendukung pengembangan wisata bahari berbasis budaya lokal di Kecamatan Patani Utara.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara Minggu, (17/5/ 2026) di Pantai Yeisowo, Desa Bilifitu, Kecamatan Patani Utara, Halmahera Tengah.

Peserta  lomba  berasal dari  perempuan pesisir   Desa Bilifitu, Gemia, Woyobibil yang diikuti 26 peserta. Dari Desa Bilifitu 10 orang, Woyobibil 10 orang, Desa Gemia 4 orang, dan Desa Santosa 2 orang.

Dibuka  oleh Kepala Desa Gemia,  Alfian Faruk, dihadiri Kepala Desa Bilifitu, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar yang ikut meramaikan kegiatan.

Para Peserta lomba foto bersama sebelum turun arena menangkap ikan menggunakan Vauf, foto SEMANK

Alfian Faruk saat membuka lomba menyampaikan bahwa, Vauf adalah tradisi mama-mama  sejak dulu. Dilakukan saat waktu senggang. Biasanya  2 atau 3 orang dengan durasi waktu 2 hingga  3 jam.

“Semua tempat di pesisir desa, yang ada ikan dan tidak ada ikan sudah diketahui,” katanya.

Ibu-ibu menggunakan kegiatan untuk merefresh diri atas  permasalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Mama Alwiyah, salah satu peserta lombah Vauf menyampaikan, kegiatan ini dilakukan tidak setiap saat.

“Bukan hanya cari ikan tapi juga tempat bacarita apa saja yang kitorang hadapi baik dalam rumah tangga maupun masalah pekerjaan di tengah masyarakat,” ujar Mama Alwiyah. Melalui kegiatan itu  mereka  juga bisa tukar pikiran  antar teman.

Kegiatan ini juga melibatkan pemuda-pemudi yang masuk sebagai panitia. Mereka menjadi bagian dari mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir ini.

Sri Endah Widiyanti dari Yayasan SEMANK yang menyelenggarakan lomba menyampaikan bahwa tingginya antusiasme masyarakat, menunjukkan   budaya pesisir masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian budaya bahari, penguatan identitas masyarakat pesisir, serta pengembangan wisata bahari berbasis kearifan lokal di Halmahera Tengah.

Melalui lomba Vauf masyarakat diajak kembali memahami pentingnya menjaga laut dari praktik penangkapan yang bersifat destruktif serta meningkatkan kesadaran mengenai pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk merawat tradisi, menguatkan peran perempuan pesisir dan mendorong wisata bahari berbasis kearifan local,”ujar Sri Endah

Dijelaskan,  lomba Vauf merupakan bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat pesisir yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan pesisir di Kecamatan Patani Utara.

Dia bilang  lomba ini adalah bentuk dukungan pelestarian budaya pesisir dan penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumberdaya perairan secara berkelanjutan

“Ini langkah mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, menjaga habitat perairan, serta memperhatikan ukuran ikan layak tangkap,” katanya.

Selain itu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan untuk generasi mendatang.(aji)

 

 

  • Penulis: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • SYUKURAN WISUDA

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 701
    • 0Komentar

    Wisuda sarjana yang dilaksanakan Universitas Khairun Ternate pada 18/3/2023

  • Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    Mari Saksikan Konser Hutan Merdeka

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Sekira 50,1% dari total daratan di wilayah Indonesia merupakan bentangan hutan. Berbagai hewan dan tumbuhan endemik tinggal di hutan-hutan Indonesia, membuat negara kita dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.Hutan adalah sumber kehidupan yang menyediakan oksigen, air, menyimpan cadangan karbon, penyeimbang iklim dan sumber penghidupan bagi masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya. […]

  • Ini Rekomendasi untuk Selamatkan Pulau Hiri

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 717
    • 0Komentar

    Embung Hiri Perlu Dievaluasi Sebelum Muncul Masalah Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Moloku Kie Raha (FKDAS-MKR) Provinsi Maluku Utara merekomendasikan kepada pemerintah daerah Kota Ternate  dan pihak terkait perlu mengevaluasi embung air hujan yang  sudah dibangun di Pulau Hiri. Embung Hiri adalah salah satu poin penting dari 10 rekomendasi yang dikeluarkan FORDAS MKR untuk […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 806
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Bencana Perubahan Iklim Terus Meningkat    

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 670
    • 0Komentar

    Sepanjang 2023 -2024 Ada 5000 Lebih Kejadian Ada kurang lebih 5000 kejadian  bencana   tercatat disebabkan oleh  perubahan iklim dalam satu tahun ini.  Bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan iklim (hidrometereologis) terus meningkat tajam. Sementara isu perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan serius   baik dari masyarakat dan pemerintah dalam negeri, maupun dari masyarakat global. […]

  • Pulau Kecil Bisa Dikuasai 70 Persen Pemodal

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Data resmi jumlah pulau di Maluku Utara mencapai 1080. Pengaturan pemanfaatan pulau-pulau kecil di daerah ini masih terbilang serampangan. Misalnya pulau kecil yang sebenarnya  rentan  tetapi  dieksploitasi tak tersisa. Kasus di pulau Ge Halmahera Timur dan beberapa pulau kecil lainnya adalah contoh nyata pulau kecil dikuasai  dan dibabat habis. Kementerian  KKP  berjanji  memperketat  aturan main […]

expand_less