Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

  • account_circle Mahmud Ici
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
  • visibility 342

Di masyarakat pesisir kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, memiliki  satu  tradisi  menangkap ikan.  Namanya  Vauf.  Vauf adalah nama jorang yang dipakai dari batang bambu atau batang pelepah sagu. Orang Maluku Utara umumnya mengenal dengan huhati.

Vauf dimakani sebagai memancing ikan menggunakan jorang dari bambu atau pelepah sagu. Hal ini  dilakukan mama-mama saat menangkap ikan di waktu senggang.

Alat tangkap Vauf konstruksinya sama seperti jorang  umumnya. Batang bambu atau pelepah sagu, nilon dan mata kail. Ukuran nilon disesuaikan  ukuran jorang.

Budaya Vauf memiliki nilai penting karena mencerminkan praktik penangkapan ikan tradisional yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan.

Kali ini  dibuat dalam bentuk lomba yang  focus untuk ibu-ibu di pesisir Patani Utara.

Adapun tujuan utama Lomba Vauf ini adalah melestarikan Budaya Vauf sebagai kearifan lokal masyarakat pesisir. Menguatkan peran perempuan pesisir dalam pelestarian budaya bahari. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik penangkapan ikan ramah lingkungan. Mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir. Mendukung pengembangan wisata bahari berbasis budaya lokal di Kecamatan Patani Utara.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara Minggu, (17/5/ 2026) di Pantai Yeisowo, Desa Bilifitu, Kecamatan Patani Utara, Halmahera Tengah.

Peserta  lomba  berasal dari  perempuan pesisir   Desa Bilifitu, Gemia, Woyobibil yang diikuti 26 peserta. Dari Desa Bilifitu 10 orang, Woyobibil 10 orang, Desa Gemia 4 orang, dan Desa Santosa 2 orang.

Dibuka  oleh Kepala Desa Gemia,  Alfian Faruk, dihadiri Kepala Desa Bilifitu, tokoh masyarakat, dan masyarakat sekitar yang ikut meramaikan kegiatan.

Para Peserta lomba foto bersama sebelum turun arena menangkap ikan menggunakan Vauf, foto SEMANK

Alfian Faruk saat membuka lomba menyampaikan bahwa, Vauf adalah tradisi mama-mama  sejak dulu. Dilakukan saat waktu senggang. Biasanya  2 atau 3 orang dengan durasi waktu 2 hingga  3 jam.

“Semua tempat di pesisir desa, yang ada ikan dan tidak ada ikan sudah diketahui,” katanya.

Ibu-ibu menggunakan kegiatan untuk merefresh diri atas  permasalah yang mereka hadapi sehari-hari.

Mama Alwiyah, salah satu peserta lombah Vauf menyampaikan, kegiatan ini dilakukan tidak setiap saat.

“Bukan hanya cari ikan tapi juga tempat bacarita apa saja yang kitorang hadapi baik dalam rumah tangga maupun masalah pekerjaan di tengah masyarakat,” ujar Mama Alwiyah. Melalui kegiatan itu  mereka  juga bisa tukar pikiran  antar teman.

Kegiatan ini juga melibatkan pemuda-pemudi yang masuk sebagai panitia. Mereka menjadi bagian dari mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir ini.

Sri Endah Widiyanti dari Yayasan SEMANK yang menyelenggarakan lomba menyampaikan bahwa tingginya antusiasme masyarakat, menunjukkan   budaya pesisir masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari pelestarian budaya bahari, penguatan identitas masyarakat pesisir, serta pengembangan wisata bahari berbasis kearifan lokal di Halmahera Tengah.

Melalui lomba Vauf masyarakat diajak kembali memahami pentingnya menjaga laut dari praktik penangkapan yang bersifat destruktif serta meningkatkan kesadaran mengenai pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk merawat tradisi, menguatkan peran perempuan pesisir dan mendorong wisata bahari berbasis kearifan local,”ujar Sri Endah

Dijelaskan,  lomba Vauf merupakan bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat pesisir yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan pesisir di Kecamatan Patani Utara.

Dia bilang  lomba ini adalah bentuk dukungan pelestarian budaya pesisir dan penguatan peran perempuan dalam pengelolaan sumberdaya perairan secara berkelanjutan

“Ini langkah mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, menjaga habitat perairan, serta memperhatikan ukuran ikan layak tangkap,” katanya.

Selain itu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan untuk generasi mendatang.(aji)

 

 

  • Penulis: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nasib Miris PLTS di Halmahera Selatan (2) Habis

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 733
    • 0Komentar

    Tak Cuma Bangun, Butuh Perawatan untuk Keberlanjutan Provinsi Maluku Utara dengan 805 pulau memiliki banyak desa di pulau kecil. Dari total desa, 898 ada di tepi laut  sementara bukan di tepi laut  ada 305  desa. Mayoritas desa di pesisir dan pulau, memikul beban  ketersediaan energi listriknya. Di pulau kecil yang memiliki penghuni belum semua tersedia […]

  • Kepastian Ake Sagea “Tercemar” Tunggu GAKKUM KLHK

    • calendar_month Rab, 20 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 570
    • 1Komentar

    Direkotrat Jenderal (Ditjen) Penegakan Hukum (GAK-KUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat dengan beberapa pihak dari Maluku Utara membahas persoalan Sungai Sagea pada Selasa (19/9/2023). Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Pengaduan, Pengawasan dan Sanksi Administrasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPSA-LHK) Ditjen. Gakkum KLHK Ardyanto Nugroho. Agenda ini sendiri merupakan tindak lanjut aspirasi dari […]

  • Menyaksikan Burung Tohoko dari Lembah Buku Bendera (2)

    • calendar_month Kam, 7 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 818
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Menguak Kekayaan Tersembunyi Pulau  Ternate   Penulis Mahmud Ichi dan Junaidi Hanafiah Pulau Ternate berdasarkan data BPS Maluku Utara  luasnya  hanya  111,80  kilometer. Meski hanya sebuah pulau kecil dengan luasan terbatas, pulau  ini menyimpan beragam kekayaan sumberdaya hayati. Terutama jenis satwa burung. Bahkan  jenis burung endemic  juga ada di sini yakni burung Tohoko […]

  • Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 597
    • 0Komentar

    Talaga Rano Halbar salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara

  • Kawasan Konservasi di Malut Terancam Industri Tambang?

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 836
    • 1Komentar

    Kawasan konservasi dikuatirkan dimasuki  kegiatan tambang. Banyaknya izin tambang yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi yang telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) di Kabupaten Halmahera Tengah itu. resisten dimasuki tambang. Merujuk revisi RTRW Kabupaten Halmahera Tengah 2012 -2032 yang disampaikan Kepala Badan Perencanan Penelitian Pembangunan (Bappelitbang) Kabupaten Halmahera Tengah Salim Kamaluddin di […]

  • Dampak Industri Ekstraktif di Malut Sangat Serius

    • calendar_month Jum, 23 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 894
    • 0Komentar

    BRIN: Kelestarian dan Kelangsungan Ekosistem Pulau-pulau Makin Terancam   Dampak industry ekstraktif bagi kelestarian dan kelangsungan ekosistem  terutama di pulau pulau kecil seperti di Maluku Utara sangat serius. Kehadiran industry padat modal  terutama pertambangan mineral diberbagai tempat termasuk di Maluku Utara disebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  mengancam lingkungan, biodiversitas dan manusia di dalamnya. […]

expand_less