Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » 91,3 Persen Nelayan Tuna Maluku Utara Kerap Alami Kelangkaan BBM

91,3 Persen Nelayan Tuna Maluku Utara Kerap Alami Kelangkaan BBM

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 17 Agu 2026
  • visibility 209

KPBP Bahas Perbaikan Tata Kelola Subsidi dan Rumpon    

Sebanyak 91,3 persen nelayan skala kecil di Maluku Utara mengaku kerap mengalami kelangkaan stok BBM bersubsidi, sementara 63,7 persen terpaksa membeli BBM melalui supplier atau pengecer dengan harga lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan biaya operasional melaut dan berdampak pada menurunnya pendapatan nelayan.

Temuan tersebut merupakan hasil riset “Analisis Distribusi, Efektivitas Pembelian dan Produktivitas Ekonomi BBM Subsidi Nelayan Skala Kecil Maluku Utara” yang dilakukan Universitas Khairun bersama Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) terhadap 300 nelayan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja tata kelola BBM bersubsidi di Maluku Utara masih berada pada kategori moderat dengan skor komposit efisiensi distribusi, efektivitas penyaluran, dan produktivitas ekonomi (E-E-P) sebesar 51,22 dari skala 100.

Riset tersebut juga mencatat bahwa nelayan rata-rata melaut 15 hari setiap bulan, menempuh jarak sekitar 33 mil, dan membutuhkan 111,87 liter BBM untuk setiap perjalanan melaut. Kondisi ini menunjukkan bahwa BBM merupakan faktor produksi utama yang menentukan kemampuan nelayan untuk melaut, hasil tangkapan, hingga pendapatan keluarga. Selain persoalan kelangkaan stok, sebanyak 73,3 persen nelayan mengaku kesulitan memperoleh informasi ketersediaan BBM, 61,7 persen mengalami keterlambatan pasokan, dan 55 persen menilai kuota BBM belum sesuai kebutuhan operasional. Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan BBM nelayan juga dipengaruhi oleh semakin jauhnya daerah penangkapan ikan.

Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya rumpon yang belum tertata, sehingga memengaruhi akses nelayan skala kecil terhadap wilayah tangkap tuna. Karena itu, perbaikan tata kelola BBM tidak dapat dipisahkan dari penguatan tata kelola dan pengawasan rumpon.

Kedua isu tersebut menjadi fokus utama Pertemuan Reguler Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) – Tuna Provinsi Maluku Utara Ke-XIV Tahun 2026 yang digelar di Bela Hotel, Ternate, Selasa (4/8) belum lama ini.

Forum ini mempertemukan pemerintah, nelayan, pelaku usaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyusun rencana aksi bersama dalam memperbaiki distribusi BBM bersubsidi sekaligus memperkuat tata kelola rumpon demi mendukung perikanan tuna yang berkelanjutan.

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan KPBP Tuna Provinsi Maluku Utara Ke-XIV Tahun 2026 (Selasa, 4 Agustus 2024).

“Dalam aspek logistik, ketersediaan BBM bersubsidi merupakan komponen operasional yang paling mendasar. Namun implementasinya masih memerlukan penyempurnaan, mulai dari optimalisasi kuota, sinkronisasi masa berlaku dokumen administrasi, hingga konsistensi pasokan di lembaga penyalur resmi agar nelayan kecil dapat mengaksesnya secara langsung tanpa beban biaya tambahan,” ujar Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, saat membuka kegiatan.

Selain isu BBM bersubsidi, forum KPBP juga membahas tata kelola dan pengawasan rumpon. Kedua isu tersebut dipilih berdasarkan survei terhadap para pemangku kepentingan sebagai persoalan paling mendesak dalam pengelolaan perikanan tuna di Maluku Utara. Peserta menyusun berbagai usulan perbaikan, mulai dari penyempurnaan implementasi sistem X-Star, peningkatan kepastian pasokan BBM di SPBU dan SPBUN, transparansi kuota, hingga penguatan pengawasan dan penataan rumpon agar nelayan tidak perlu melaut lebih jauh yang berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM.

Pemaparan hasil riset “Analisis Distribusi, Efektivitas Pembelian dan Produktivitas Ekonomi BBM Subsidi Nelayan Skala Kecil Maluku Utara” oleh Dr. Ir. Mutmainnah, S.Pi.,M.Si secara daring.

Bagi nelayan skala kecil, kedua persoalan tersebut dirasakan secara langsung. Supriyanto Ali, nelayan tuna asal Desa Sangowo, Kabupaten Pulau Morotai, berharap forum ini mampu menghasilkan solusi atas berkurangnya kuota BBM bersubsidi yang memengaruhi kegiatan melaut.

Sementara Khairudin, nelayan tuna dari Sanana, Kepulauan Sula, berharap adanya penyederhanaan administrasi agar akses terhadap BBM bersubsidi menjadi lebih mudah serta adanya ketegasan dalam aturan penempatan rumpon.

“Kuota BBM bersubsidi kami berkurang pada tahun 2026. Padahal bagi nelayan tuna skala kecil, BBM sangat menentukan kelangsungan operasional. Kami berharap forum ini dapat menghasilkan solusi yang benar-benar menjawab persoalan di lapangan,” kata Supriyanto Ali.

Supriyanto Ali, nelayan tuna asal Desa Sangowo, Kabupaten Pulau Morotai, menyuarakan tuntutannya terkait kendala kuota BBM bersubsidi dan aturan penempatan rumpon (Selasa, 04 Agustus 2026).

Senada dengan itu, Khairudin, nelayan tuna dari Sanana, Kepulauan Sula, berharap adanya penyederhanaan administrasi untuk memperoleh BBM bersubsidi. “Kami berharap masa berlaku dokumen bisa diperpanjang. Saat kuota BBM tersedia, sering kali dokumen kami sudah kadaluarsa sehingga tidak bisa mengakses BBM bersubsidi,” ujar Khairudin. Pertemuan KPBP menargetkan tersusunnya rencana aksi bersama untuk memperbaiki tata kelola distribusi BBM bersubsidi bagi nelayan skala kecil serta pengendalian rumpon. Rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada Gubernur Maluku Utara dan instansi terkait sebagai masukan dalam penyempurnaan kebijakan pengelolaan perikanan tuna.

Foto Wagub serahkan bantuan

Nelayan skala kecil duduk setara bersama para pemangku kebijakan lainnnya dalam membahas dua isu utama pada forum (KPBP)-Tuna Maluku Utara ke-XIV Tahun 2026. (Selasa, 4 Agustus 2026).

“MDPI selalu berpihak pada kesejahteraan nelayan skala kecil. Melalui KPBP, kami mendorong ruang dialog antara pemerintah, nelayan, dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan rencana aksi nyata terkait akses BBM bersubsidi dan tata kelola rumpon. Kedua isu ini saling berkaitan karena semakin jauhnya wilayah tangkap akibat menjamurnya rumpon turut meningkatkan kebutuhan BBM nelayan,” kata Direktur MDPI, Yasmine Simbolon.

 

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, didampingi Direktur Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), Yasmine Simbolon, menyerahkan secara simbolis Sertifikat Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) kepada nelayan pancing ulur tuna Ternate, dokumen kapal (Pas Kecil dan E-BKP), Sertifikat Kecakapan Nelayan (SKN), serta bantuan mesin kapal pada pembukaan Pertemuan Reguler Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP)-Tuna Provinsi Maluku Utara Ke-XIV Tahun 2026 di Ternate, Selasa (4/8).

Melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, KPBP diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi dan langkah nyata agar subsidi BBM lebih tepat sasaran, meningkatkan produktivitas nelayan, sekaligus mendukung pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan di Maluku Utara melalui kebijakan transisi tata kelola yang adaptif.(rilis)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.104
    • 2Komentar

    Kondisi PUlau Pagama saat ini. foto Wandi

  • BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 617
    • 0Komentar

    Terjadi Merata, Termasuk di Laut Halmahera dan Laut Maluku    Laut Halmahera dan laut Maluku yang berada di wilayah laut Maluku Utara masuk dalam potensi cuaca laut ekstrem yang terjadi Desember ini,Januari hingga Februari mendatang. Setidaknya peringatan  kondisi ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kamis (4/11/2025). Dalam rilisnya  BMKG mengeluarkan peringatan cuaca laut […]

  • Rumpon Liar di Selat Obi Dibersihkan    

    • calendar_month Sen, 4 Jul 2022
    • account_circle
    • visibility 778
    • 2Komentar

    Nelayan: Selat Obi Diusul Jadi Wilayah Pemberdayaan  Nelayan  Kecil   Nelayan Obi yang selama ini mengeluhkan banyaknya rumpon liar di laut Obi, akhirnya bernapafas lega. Pasalnya,  Dinas  Perikanan Provinsi Maluku Utara Sabtu (02/07/2022) bersama masyarakat nelayan dan  instansi tekait memutus tali puluhan rumpon di Selat Obi Kabupaten Halmahera Selatan. “Pemutusan ini sekaligus menjawab aspirasi nelayan di Kecamatan […]

  • Waspada, Cuaca Buruk Landa Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 876
    • 2Komentar

    Angin kencang yang terjadi selasa (14/2/2023) malam pohon di kawasan Kasturian Ternate tumbang dan menutupi jalan di kawasan tak jauh dari Kantor Polsek Kota Ternate Utara tersebut. foto istimewa

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 1.046
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    • calendar_month Ming, 15 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 702
    • 0Komentar

    Untuk menggagas model pembangunan ekonomi dan pengelolaan sumberdaya alam secara partisipatif  dan berbasis lingkungan, diperlukan semua pihak duduk bersama..  Dalam  upaya itu,  direncanakan  akan  digelar kegiatan  bertajuk Sarasehan dan Rembuk Rakyat Morotai yang rencana  dilaksanakan 18 hingga  9 Agustus 2018  mendatang di public space Taman Kota Daruba Morotai. Kegiatan yang  rencana dilaksanakan selama 2 hari […]

expand_less