Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 9 Jan 2018
  • visibility 317

Butuh Perlindungan Serius Berbagai Pihak 

Di seluruh  dunia, keragaman hayati semakin cepat musnah. Meski  demikian, persebaran keragaman hayati maupun ancamannya tidak merata. Karena itu organisasi konservasi perlu memusatkan kegiatan mereka pada tempat- tempat yang paling penting dan paling terancam punah. Salah satu caranya dengan melakukan identifikasi hotspot. Ini menjadi salah satu cara paling efektif menentukan prioritas pelaksanaan kegiatan konservasi di tempat yang paling membutuhkan perhatian.

Salah satu wilayah di Maluku Utara yang masuk kawasan terancam itu adalah Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur. Kawasan ini berdasarkan hasil riset yang dilakukan yayasan Studi Etnolgi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK), menemukan keragaman hayatinya terancam.  Kurangnya aksi-aksi konservasi di tingkat lokal serta pertumbuhan populasi penduduk yang makin pesat menyebabkan pemanfaatan sumber daya yang   tidak terkontrol. 

Helmi Manager Program Yayasan SEMANK menjelaskan, aktivitas itu menyebabkan rusaknya ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Penangkapan ikan menggunakan bom, obat bius, penangkapan ikan dengan menggunakan jaring di areal terumbu karang dan tambatan perahu serta pengambilan batu karang sebagai bahan bangunan.

“Aktivitas-aktivitas  ini terus berjalan dan tanpa kendali.Bila dibiarkan akan berakibat pada degradasi ekosistem yang lebih luas dan pada satu saat akan menyebabkan hilangnya spesies utama, termasuk ancaman dari aberasi dan risiko banjir bagi pemukiman sekitar sepadan sungai dan pesisir semakin nyata,” jelasnya. Selain aktifitas masyarakat, investasi ekstraktif di daerah teluk Buli ini juga ternyata menjadi momok tersendiri bagi keanekaragaman hayati di daerah ini. “Realitas ini kemudian mendapat perhatian  kami untuk berbuat dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan bersama masyarakat di Desa Gotowasi,” jelasnya.

Desa Gotowasi sendiri adalah salah satu desa di Kecamatan  Maba Selatan Kabupateb  Halmahera Timur. Desa ini adalah desa pesisir yang masyarakatnya dominan berprofesi sebagai petani sebanyak 50%, nelayan sebanyak 40% dan sisa 10% beragam profesi lainnya dengan jumlah KK sebanyak 334.Secara geogerafis desa ini sebagian besar berada dalam kawasan  ekosistem mangrove. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil  di Kecamatan Maba Selatan termasuk wilayah Desa Gotowasi ini adalah kawasan yang telah direncanakan  Pemerintah  Kabupaten Haltim sebagai zona konservasi, perikanan skala kecil dan kegiatan pariwisata. “Desa Gotowasi adalah salah satu desa yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati,  seperti terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun. Dalam catatan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Burung Indonesia, teluk Buli merupakan salah satu daerah penting bagi keragaman hayati  (Key Biodiversity Areas/KBA).

Berdasarkan data  tersebut  satu lokasi ditetapkan sebagai KBA jika diduga memiliki populasi spesies terancam punah secara global, populasi spesies endemic yang signifikan secara global, atau spesies yang sangat tergantung pada konservasi daerah tersebut.

“Sudah 7 bulan kami melaksanakan pendampingan di desa ini, terhitung sejak Juni 2017  Tujuan  kita  membangun kesadaran bersama semua komponen masyarakat termasuk pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam aksi pelestarian ekosistem pesisir dan laut,” jelas Helmi  

Dijelaskan, dalam kurun waktu 7 bulan SEMANK telah melaksanakan base line data,  pelatihan Konservasi Ekosistem Pesisir dan Laut,  Pelatihan Pembibitan   dan Penanaman Mangrove,  serta  studi  ekologi ekosistem.  Hasil studinya kita seminarkan dalam bentuk seminar kampung pada  5 Januari 2018   di kantor desa Gotowasi. Seminar kampung ini menghadirkan seluruh warga desa Gotowasi termasuk siswa-siswi Madrasah Aliyah, MTs, dan SD di desa Gotowasi bersama  unsur pemerintah  

Sementara untuk hasil studi ekologi yang dilakukan  mendapatkan fakta bahwa di daerah Gotowasi  terdapat 12 genera terumbu karang, sebanyak 9 famili  dengan 18 jenis mangrove dan lamun sebanyak 2 famili dengan 12 jenis. Sementara  data  Kementerian  KKP jenis lamun yang terdapat di Indonesia sebanyak 12 jenis dan 12 jenis itu semuanya terdapat di desa Gotowasi. Beberapa spesies  ditemukan kritis dan prioritas juga di temukan di kawasan ini seperti penyu hijau (Chelonia mydas), duyong (dugong dugon), Akar Bahar, Ikan Napoleon, Teripang (mentimun laut), Kima (T.gigas) dan beberapa burung yg hidup di kawasan Mangrove seperti burung pantai. Keberadaan ekosistem ini berada di daratan/pesisir dan beberapa pulau disekitarnya. Luas hutan mangrove di Gotowasi dan sekitarnya sebesar 1.830 hektar.

Sepanjang pesisir Desa Gotowasi sampai Waci merupakan habitat bertelur penyu, lokasi bertelur penyu betina di Desa Gotowasi antara lain di Tanjung Tapalo. Musim bertelur adalah bulan April sampai Juni atau Juli. Jumlah betina yang bertelur antara 1-2 ekor/malam sampai 5-6 ekor/malam. Hasil temuan juga masyarakat Desa Tewil (tetangga Desa Gotowasi) tidak hanya mengambil telur penyu, tetapi mereka juga menangkap penyu untuk diambil daging dan telur yang masih ada di dalam perutnya (dikonsumsi), sedangkan kulit dan tempurung untuk aksesoris.

Sementara di Pulau Plun, di sebelah timur Gotowasi yang  tidak berpenghuni, telah dijadikan tempat tujuan wisata dengan gazebo-gazebonya. Sebenarnya pulau itu merupakan habitat bagi penyu untuk bertelur. Pada malam hari saat musim bertelur, sekitar 5-7 ekor penyu mendatangi Pulau Plun untuk bertelur. Masyarakat mengambil telur di pulau tersebut untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Pulau Lelewi, yang terletak di sebelah timur Pulau Plun dan berhadapan dengan lautan Pasifik, juga menjadi habitat penyu untuk bertelur. Masyarakat Buli biasanya menangkap penyu untuk diambil daging maupun telurnya.

Dugong merupakan mamalia laut yang biasa merumput di padang lamun. Biota ini pernah terlihat di padang lamun Tanjung Tapalo. Namun masyarakat  desa tidak terbiasa mengkonsumsi daging dugong karena  bentuk tubuhnya yang besar dan menakutkan menurut mereka.

Pada kesempatan seminar ini, kepala dinas pariwisata Haltim bapak Hardi Musa menyampaikan bahwa pemda melalui dinas pariwisata akan meneyerahkan aset pemda yang ada di pulau Plun kepada pemerintah desa Gotowasi untuk selanjutnya dikelola oleh desa melalui kelompok Bumdes.

Anggota DPRD Haltim Bahri Hayun menyarankan agar desain pariwisata di tanjung Tapalo dan pulau Plun harus ada kerja sama antara Dinas Pariwisata Haltim, Pemerintah Desa Gotowasi dan Yayasan SEMANK. Senada Asisten II Setda Haltim   Jai Mandar mendesak agar   ada Perdes yang mengatur tentang pengelolaan dan pelestarian ekosistim pesisir dan laut. Sementara Kepala Desa Gotowasi sangat berharap agar perencanaan pengelolaan pelestarian pesisir dan laut  harus  masuk dalam RPJMDes  sehingga ke depan   lebih fokus dalam aksi pelestarian lingkungan.  

Dalam seminar kampung  itu menghasilkan salah satu kesepakatan penting yaitu kesepakatan mendasain Daerah Perlindungan Laut (DPL) sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian sumberdaya perairan terutama ekosistem terumbu karang dan lamun yang pengelolaan dan pemanfaatannya  diatur dalam PERDES tentang DPL. Pelaksanaanya secara  partisipatif masyarakat diharapkan program ini bisa menyentuh masyarakat bawah. Salah satu partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DPL  adalah  menetapkan kawasan DPL di Desa Gotowasi. “DPL  ini perlu diproteksi dan dipantau dalam perkembangannya, sehingga dapat dijadikan indikator keberhasilan program DPL  sebagai acuan dalam penetapan kebijakan program itu. Diharapkan kelak DPL ini dapat dipantau dan dimonitoring masyarakat .(ici)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Kawasan konservasi Kepulauan Sula di Kabupaten Kepulauan Sula  di Provinsi Maluku Utara mencakup enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kecamatan Sulabesi Timur, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kecamatan Mangoli Timur, dan Kecamatan Mangoli Tengah. Terdapat 35 desa di enam kecamatan  masuk di dalam wilayah konservasi  Kepulauan Sula. KKP Sula yang masuk dalam Taman Pesisir […]

  • Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 415
    • 2Komentar

    Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan. Beberapa    yang diidentifikasi […]

  • Indonesia Mencari Pemimpin Pro Lingkungan

    • calendar_month Jum, 27 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 299
    • 1Komentar

    Kepastian capres dan cawapres yang akan bertanding di pilpres 2024 memunculkan satu pertanyaan penting. Apakah para kontestan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan? Krisis iklim yang sedang terjadi dan menjadi permasalahan semua negara termasuk Indonesia membutuhkan komitmen besama untuk menanganinya. Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menahan laju pemanasan global, dengan mengedepankan pembangunan rendah karbon yang […]

  • Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

    • calendar_month Jum, 4 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Cerita Aksi Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistiwa Kawasan taman pemakaman umum (TPU) Desa Guruapin Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan saat ini berada dalam  kondisi terancam. TPU yang berada di pantai  bagian barat desa itu, terancam abrasi cukup serius yang membuat pemakaman itu habis tersapu air. Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan itu, Komunitas Pecinta Mangrove Khatulistiwa  (KPMK) yang […]

  • Dampak Industri Ekstraktif di Malut Sangat Serius

    • calendar_month Jum, 23 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 597
    • 0Komentar

    BRIN: Kelestarian dan Kelangsungan Ekosistem Pulau-pulau Makin Terancam   Dampak industry ekstraktif bagi kelestarian dan kelangsungan ekosistem  terutama di pulau pulau kecil seperti di Maluku Utara sangat serius. Kehadiran industry padat modal  terutama pertambangan mineral diberbagai tempat termasuk di Maluku Utara disebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  mengancam lingkungan, biodiversitas dan manusia di dalamnya. […]

  • Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Ironi pendanaan iklim kembali mengemuka bersamaan dengan Konferensi Iklim COP 30 di Brasil. Penelitian International Institute for Environment and Development (IIED) menemukan hanya kurang dari 10 persen dana iklim global yang benar-benar sampai ke kampung-kampung dan Masyarakat Adat. Dikutip dari   Berita | SIEJ – COP30 – BELEM, BRAZIL dari total US$17,4 miliar yang disetujui untuk proyek […]

expand_less