Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
  • visibility 833

Sekali Menyelam Dapat 30 Sampai 40 Ekor Penyu

Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Kepulauan (KKP) Sula yang telah ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada 10 Juni 2020 lalu,  ternyata  memiliki kekayaan biota laut melimpah. Tidak hanya terumbu karang dan ikan tetapi juga  penyu. Di kawasan ini ditemukan ada tiga jenis penyu yakni jenis hijau, sisik dan belimbing.

EVI Nurul Ikhasan Direktur Conservation Coral Triangle Center (CTC)  dalam diskusi online Talking Underwater Online  Edition Hari Satwa Sedunia, bilang, Kepulauan Sula  Maluku Utara memiliki sumbedaya alam luar biasa. KKP yang baru ditetapkan 10 Juni 2020 berdasarkan Kepment no 68 tahun 2020 itu, memilik   zona inti untuk melindungi pelestarian penyu.

“Ada beberapa kelebihan di KKP ini. Yang menarik ada salah satu lokasi tempat menyelam yang lengkap.  Terumbu karangnya  bagus  dan  sesuai hasil  identifikasi, ada lokasi  ikan kakap beragregasi memijah atau kawin.  Di KKP Kepsul sekali menyelam bisa menemukan 30 sampai 40 ekor penyu.  Ada tiga jenis penyu yakni hijau sisik dam jenis belimbing. Saat ini tidak banyak wilayah pantai teridentifikasi ada penyu belimbing bertelur,” jelasnya. 

Dia  bilang  sudah puluhan tahun menyelam di berbagai tempat. Kami temukan berbeda dengan di Kepulauan Sula. Masih sangat padat dan cukup banyak penyu. Saya berpikir ini hanya keberuntungan, ternyata setiap menyelam  selalu bertemu penyu sebanyak itu. Kawasan Pantai Desa Fatkayuon  kata Evi  menjadi tempat hidup penyu paling baik.  

Dia bilang saat ini ada gap informasi dan pengetahuan bagaimana sebetulnya melindungi dan melestarikan populasi penyu di Kabupaten Kepulaian Sula. Karena itu  secara umum penyu di Kepsul juga dalam kondisi terancam karena diburu secara brutal. Telur penyu masih diburu untuk dikonsumsi juga ada predator lain seperti babi, buaya anjing dan lainnya. Untuk penguatan kapasitas masyarakat, didatangkan  ahli dari Universitas Papua untuk melatih warga.

Terumbu karang dan ikan yang menarik ditemukan di perairan Maluku Utara foto Abdul Khalis Tidore

Di Kepulauan Sula  telah dibentuk Kelompok Masyarakat untuk pengawasan (Pokmaswas). Ada dua desa yakni Desa Fatkayuon Sulabesi Timur dengan Pokmaswas Pasir Putih dan Desa Waisum di Pulau Lifmatola dengan Pokmaswas Tanjung Deko. Di Lifmatola  juga ada  Cagar alam Lifmatola.

Direktur CTC Rili DJohani dalam rilisnya kepada kabarpulau.co.id/ mengatakan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. Ada  lebih dari 17 ribu pulau dengan panjang garis pantai 95.181 km dan luas wilayah perairan 5,8 juta km2 (5.8 juta hektar). Untuk melindungi kawasan perairan dan keaneka ragaman hayati di dalamnya, telah dibentuk 200 Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang mencakup luasperairan 23 juta hektar atau. Pemerintah menargetkan pembentukan KKP seluas 30 juta ha atau 10% dari total luas perairan di Indonesia.

Perburuan penyu masih marak. Penangkapan yang pernah dilakukan warga di Halmahera Selatan

Segitiga Terumbu Karang di mana Kepsul ada di dalamnya merupakan kawasan istimewa yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia, yaitu terumbu karang dan ikan karang. Kawasan segitiga terumbu karang meliputi negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.  

Saat ini ancaman utama yang dihadapi dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati di dalam wilayah segitiga terumbu karang adalah polusi plastik, perubahan iklim, penangkapan ikan dan pariwisata yang tidak bertanggung jawab. “CTC mendukung 5 KKP di Indonesia yaitu Nusa Penida, Kepulauan Banda, Kepulauan Lease, Kepulauan Buano dan Kepulauan Sula dan 2 KKP di Timor Lestey aitu Liquica dan Atauro, serta menjadikannya sebagai kawasan pembelajaran dengan berbagai tantangan yang dihadapinya.

“Tujuan CTC adalah membantu mencari solusi untuk permasalahan ini dan membangun kapasitas lokal untuk konservasi laut dalam jangka panjang di Kawasan Segitiga Terumbu Karang, tempat bernaungnya terumbu karang yang paling beragam di dunia. CTC memiliki visi laut yang sehat mensejahterakan masyarakat dan alam. Misi kami  menginspirasi dan melatih generasi untuk menjaga ekosistem pesisir dan laut.

Kami fokus pada program pelatihan dan pembelajaran, kawasan perlindungan laut, jaringan pembelajaran, melibatkan komunitas dan menginspirasi kelompok seperti perempuan dan pemuda. Bekerjasama bersama para mitra, kami dapat meningkatkan pekerjaan kami”,ungkap Rili Djohani

Untuk membantu perlindungan penyu di KKP Kepulauan Sula, CTC bekerjasama dengan Dinas Kelautan  dan Perikanan Provinsi Maluku Utara dan Dinas Kelautandan Perikanan Kabupaten Kepulauan Sula, dan telah memberikan penguatan kapasitas masyarakat setempat dalam perlindungan dan konservasi penyu. (*)    

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Jamin Unit Pengolah Ikan di Morotai Dapat Layanan Sertifikat Digital  

    • calendar_month Ming, 20 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 850
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong kemudahan perizinan dan sertifikasi terhadap pelaku usaha kelautan dan perikanan. Tak hanya di kota besar, melainkan juga bagi mereka yang berada di daerah, termasuk di wilayah Terpencil Terluar dan  Terdepan atau perbatasan negara. Kepala Stasiun  Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanaan (SKIPM) Ternate, Arsal menegaskan layanan yang […]

  • Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera (1)

    Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera (1)

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 447
    • 0Komentar

    Pukul 10.30 WIT jelang siang itu,  matahari belum begitu terik. Muddin Hasan (69) beristrihat sejenak di sebuah jojaga-rumah kebun, setelah sejak pagi menyiangi  padi yang ditumpangsarikan dengan jagung, cabe, terong dan kangkung. Hari itu meski suasana Idul Fitri belum sepenuhnya berakhir, dia tetap ke kebun merawat tanaman di kebunnya. “Torang pe karja  bakobong ini sudah. […]

  • Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

    • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
    • account_circle
    • visibility 926
    • 1Komentar

    Tambyambut atan perahu desa Hatejawa Moari yang tenggelam jika air pasang. Terlihat anak anak desa ini berdiri menyambut speed boat yang akan sandar di tambatan perahu desa ini

  • Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.129
    • 0Komentar

     Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang tergabung dalam Koalisi Save Sagea kembali menggelar aksi protes  Senin, 13 Oktober 2025. Aksi ini  dilakukan berkaitan dengan  aktivitas tambang PT Mining Abadi Indonesia (PT MAI), kontraktor dari perusahaan tambang nikel PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT First Pacific Mining. Aktivitas penambangan […]

  • Tiga Persen APBD Harus Dialokasikan Atasi Sampah

    • calendar_month Sen, 16 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.004
    • 0Komentar

    Gubernur/Bupati Wali Kota Didesak Buat Aksi Nyata Kepala Daerah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku Utara  dan Kabupaten/kota  didesak segera melakukan aksi nyata  atasi sampah yang  makin tidak bisa tertangani  saat ini. Aksi nyata  yang harus dilakukan kepala daerah  Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), […]

  • Temuan Ngengat Baru, Matikan Cengkih Petani

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 797
    • 1Komentar

    Kabar ini  menjadi warning bagi petani cengkih termasuk  di Maluku Utara.  Pasalnya ada temuan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta tim Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi  Manado berhasil mengidentifikasi  tiga jenis ngengat baru. Ketiganya adalah Cryptophasa warouwi, Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae.  Seperti dikutip dari https://brin.go.id/press-release/117548/peneliti-brin-temukan-tiga-ngengat-jenis-baru-salah-satunya-patut-diwaspadai-petani-cengkeh, BRIN merilis bahwa awal 2024 ini  beberapa […]

expand_less