Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
  • visibility 743

Sekali Menyelam Dapat 30 Sampai 40 Ekor Penyu

Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Kepulauan (KKP) Sula yang telah ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada 10 Juni 2020 lalu,  ternyata  memiliki kekayaan biota laut melimpah. Tidak hanya terumbu karang dan ikan tetapi juga  penyu. Di kawasan ini ditemukan ada tiga jenis penyu yakni jenis hijau, sisik dan belimbing.

EVI Nurul Ikhasan Direktur Conservation Coral Triangle Center (CTC)  dalam diskusi online Talking Underwater Online  Edition Hari Satwa Sedunia, bilang, Kepulauan Sula  Maluku Utara memiliki sumbedaya alam luar biasa. KKP yang baru ditetapkan 10 Juni 2020 berdasarkan Kepment no 68 tahun 2020 itu, memilik   zona inti untuk melindungi pelestarian penyu.

“Ada beberapa kelebihan di KKP ini. Yang menarik ada salah satu lokasi tempat menyelam yang lengkap.  Terumbu karangnya  bagus  dan  sesuai hasil  identifikasi, ada lokasi  ikan kakap beragregasi memijah atau kawin.  Di KKP Kepsul sekali menyelam bisa menemukan 30 sampai 40 ekor penyu.  Ada tiga jenis penyu yakni hijau sisik dam jenis belimbing. Saat ini tidak banyak wilayah pantai teridentifikasi ada penyu belimbing bertelur,” jelasnya. 

Dia  bilang  sudah puluhan tahun menyelam di berbagai tempat. Kami temukan berbeda dengan di Kepulauan Sula. Masih sangat padat dan cukup banyak penyu. Saya berpikir ini hanya keberuntungan, ternyata setiap menyelam  selalu bertemu penyu sebanyak itu. Kawasan Pantai Desa Fatkayuon  kata Evi  menjadi tempat hidup penyu paling baik.  

Dia bilang saat ini ada gap informasi dan pengetahuan bagaimana sebetulnya melindungi dan melestarikan populasi penyu di Kabupaten Kepulaian Sula. Karena itu  secara umum penyu di Kepsul juga dalam kondisi terancam karena diburu secara brutal. Telur penyu masih diburu untuk dikonsumsi juga ada predator lain seperti babi, buaya anjing dan lainnya. Untuk penguatan kapasitas masyarakat, didatangkan  ahli dari Universitas Papua untuk melatih warga.

Terumbu karang dan ikan yang menarik ditemukan di perairan Maluku Utara foto Abdul Khalis Tidore

Di Kepulauan Sula  telah dibentuk Kelompok Masyarakat untuk pengawasan (Pokmaswas). Ada dua desa yakni Desa Fatkayuon Sulabesi Timur dengan Pokmaswas Pasir Putih dan Desa Waisum di Pulau Lifmatola dengan Pokmaswas Tanjung Deko. Di Lifmatola  juga ada  Cagar alam Lifmatola.

Direktur CTC Rili DJohani dalam rilisnya kepada kabarpulau.co.id/ mengatakan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. Ada  lebih dari 17 ribu pulau dengan panjang garis pantai 95.181 km dan luas wilayah perairan 5,8 juta km2 (5.8 juta hektar). Untuk melindungi kawasan perairan dan keaneka ragaman hayati di dalamnya, telah dibentuk 200 Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang mencakup luasperairan 23 juta hektar atau. Pemerintah menargetkan pembentukan KKP seluas 30 juta ha atau 10% dari total luas perairan di Indonesia.

Perburuan penyu masih marak. Penangkapan yang pernah dilakukan warga di Halmahera Selatan

Segitiga Terumbu Karang di mana Kepsul ada di dalamnya merupakan kawasan istimewa yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia, yaitu terumbu karang dan ikan karang. Kawasan segitiga terumbu karang meliputi negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.  

Saat ini ancaman utama yang dihadapi dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati di dalam wilayah segitiga terumbu karang adalah polusi plastik, perubahan iklim, penangkapan ikan dan pariwisata yang tidak bertanggung jawab. “CTC mendukung 5 KKP di Indonesia yaitu Nusa Penida, Kepulauan Banda, Kepulauan Lease, Kepulauan Buano dan Kepulauan Sula dan 2 KKP di Timor Lestey aitu Liquica dan Atauro, serta menjadikannya sebagai kawasan pembelajaran dengan berbagai tantangan yang dihadapinya.

“Tujuan CTC adalah membantu mencari solusi untuk permasalahan ini dan membangun kapasitas lokal untuk konservasi laut dalam jangka panjang di Kawasan Segitiga Terumbu Karang, tempat bernaungnya terumbu karang yang paling beragam di dunia. CTC memiliki visi laut yang sehat mensejahterakan masyarakat dan alam. Misi kami  menginspirasi dan melatih generasi untuk menjaga ekosistem pesisir dan laut.

Kami fokus pada program pelatihan dan pembelajaran, kawasan perlindungan laut, jaringan pembelajaran, melibatkan komunitas dan menginspirasi kelompok seperti perempuan dan pemuda. Bekerjasama bersama para mitra, kami dapat meningkatkan pekerjaan kami”,ungkap Rili Djohani

Untuk membantu perlindungan penyu di KKP Kepulauan Sula, CTC bekerjasama dengan Dinas Kelautan  dan Perikanan Provinsi Maluku Utara dan Dinas Kelautandan Perikanan Kabupaten Kepulauan Sula, dan telah memberikan penguatan kapasitas masyarakat setempat dalam perlindungan dan konservasi penyu. (*)    

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekolah Penggerak PAUD Akegaale Lepas Siswa  

    • calendar_month Sel, 21 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 604
    • 1Komentar

    Pendidikan anak usia dini sangat menentukan nasib generasi di masa depan. Penanaman nilai Pancasila berbudaya, beriman dan berakhlak menjadi salah satu syarat penting diajarkan kepada anak anak. Syarat merdeka belajar ini juga   diterapkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ake Gaale Malaha di Kelurahan Sangaji Ternate Utara Kota Ternate yang Senin (20/6),  berhasil melepas 15 siswa […]

  • Seriusnya Siswa SD Belajar Buat  Eco Enzyme

    • calendar_month Jum, 17 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Sebanyak 30 siswa Kelas 6 SD Negeri 10 Kota Ternate didampingi Kepala sekolahnya mengunjungi Sanggar Eco Enzyme.  Kunjungan mereka ini untuk belajar   membuat larutan eco enzyme untuk mengisi praktikum. “Karena mereka akan menghadapi Ujian, praktek pembuatan Eco Enzyme  ini bagian dari ujian praktikum, ” jelas, Rohani Hutumoy Kepala Sekolah SD Negeri 10 Ternate Kamis (16/3/2023). […]

  • Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 693
    • 0Komentar

    Hasil Kolaborasi Pakativa – Disperindag dan Distan Provinsi Turunan hasil kelapa yang  mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan  oleh petani  di Maluku Utara.  Mereka hanya mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi  terpuruk. Sementara, hasil lain dari kelapa  seperti tempurung, air dan sabuk kelapa  hanya dibuang […]

  • Berapa Banyak Ikan yang Dicuri dari Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 1.042
    • 0Komentar

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang didominasi oleh lautan, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), pada tahun 2019, nilai hasil ekspor perikanan Indonesia mencapai Rp73.631.883.000 dan termasuk salah satu sektor yang sangat diandalkan untuk pembangunan nasional.   Namun,  kita sering mendengar […]

  • Tangkap Tuna Makin Jauh, Ukurannya juga Makin Kecil

    • calendar_month Sab, 20 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 580
    • 1Komentar

    Ikan Tuna yang ditangkap nelayan Ternate saat diturunkan di tempat pendaratan ikan dufa dufa foto M Ichi

  • Awas Bahaya Limbah Tailing Nikel di Balik Transisi Energi

    • calendar_month Sab, 16 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 919
    • 34Komentar

    Cerita  Film Dokumenter Ungkap Korban Nyawa dan Lingkungan Indonesia, merupakan negara produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54%–61% pasokan global (diproyeksikan meningkat hingga 74% pada 2028). Sering disebut sebagai kunci transisi energi global,namun, di balik narasi optimisme hilirisasi tambang, mengintai ancaman yang jarang disorot: limbah beracun industri nikel yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Di […]

expand_less