Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
  • visibility 463

Festival  Kampong  Pulau  yang digelar warga  beberapa desa di Kabupaten Halmahera Selatan turut menampilkan produk pangan lokal. Kegiatan yang difasilitasi EcoNusa Indonesia bersama  Perkumpulan PakaTiva   itu,  telah dilaksanakan  di  Desa  Gane  Dalam  Gane Barat Selatan dan  Desa Samo Gane Barat  Utara. Kegiatan yang  seluruhnya disiapkan dan diselnggarakan warga itu, selain membuat    produk olahan pangan local seperti sagu, singkong dan padi ladang juga turut menampilkan beberapa atraksi budaya.

Di  Desa Samo, warga menampilkan  beberapa olahan makanan dari sagu, juga singkong dan  ubi jalar atau batatas. Mereka juga  mengolah padi   dengan ditumbuk secara  tradisional menggunakan lesung dan alu.  Produk makanan dari  pangan local ini turut dihidangkan kepada warga dan tamu yang hadir dalam acara ini.

Bahalo sagu menggunakan alat tradisional/ft hiar

“Pangan local yang ada ini menjadi tanda  atau memberi pesan kepada semua pihak bahwa banyak pangan local yang  diusahakan oleh warga untuk  memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Direktur Eksekutif EcoNusa  Bustar Maitar saat  memberi pesan-pesan dalam acara Festival ini.   Dia bilang warga sebenarnya mandiri dengan pangan local yang mereka miliki.    

Soal makanan dari sagu ada beberapa jenis  makanan dengan bahan baku tepung sagu yang dihasilkan misalnya,  popeda, sinyole (Sagu yang disangrai,red) boko boko (sagu yang dimasak di dalam bambu,red) dan baha-baha (tepung sagu dibungkus daun sagu lalu dibakar).

 Soal pangan sagu ini warga turut memeragakan cara mengolah sagu. Warga menyebutkan  dengan  bahalo sagu. Bahalo sagu ini ditunjukan mulai dari proses mengolah  pokok sagu, diremas hingga menjadi tepung sagu. Tidak itu saja wadah   menaruh tepung sagu juga  dibuat dari daun rumbia  yang dianyam membentuk seperti ember yang disebut dengan tumang.  

sinyole salah satu ,makanan dari tepung sagu

Menurut warga,  apa yang mereka tunjukan ini adalah bagian dari symbol mengolah pangan local  secara tradisional  yang kini sudah mulai ditinggalkan  warga.  Misalnya untuk bahalo sagu di beberapa tempat di Maluku Utara  tidak lagi menggunakan Ngongalo  (alat pemukul pokok sagu,red) tetapi  menggunakan mesin untuk menggiling. “Rata rata warga sudah menggunakan mesin untuk menggiling pokok sagu. Jadi kami menggunakan alat-alat tradisional ini untuk menunjukan alat alat pemukul sagu yang sudah mulai hilang ini,” ujar Luth Komo-komo  salah satu warga yang turut memeragakan cara bahalo sagu  dengan Ngongalo.  Cara mengolah sagu secara tradisional ini di desa  Samo  sudah lama ditinggalkan.

tumbuk padi menggunakan lesung dan alu/foto ivan

Padahal menurut warga dari sisi rasa tepung sagu yang dipukul dengan alat tradisional dan  mesin sangat berbeda. “Jelas dari segi rasa antara yang diolah dengan mesin dan menggunakan alat tradisiona ngongalo sangat beda,” jelasnya. Sementara untuk pangan dari  padi ladang ,warga sempat membuat  atraksi tumbuk padi mengunakan lesung dan alu. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Jamin Unit Pengolah Ikan di Morotai Dapat Layanan Sertifikat Digital  

    • calendar_month Ming, 20 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 524
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong kemudahan perizinan dan sertifikasi terhadap pelaku usaha kelautan dan perikanan. Tak hanya di kota besar, melainkan juga bagi mereka yang berada di daerah, termasuk di wilayah Terpencil Terluar dan  Terdepan atau perbatasan negara. Kepala Stasiun  Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanaan (SKIPM) Ternate, Arsal menegaskan layanan yang […]

  • Tambang Hadir, Kebun Hilang, Pangan Sulit 

    • calendar_month Rab, 1 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 961
    • 0Komentar

    Cerita dari Sagea dan Kiya Weda Utara Halmahera Tengah Ketika mobil yang saya tumpangi tiba di Desa Lukulamo Weda Halmahera Tengah Maluku Utara pada Selasa (10/10/20230) siang, mulai terasa memasuki kawasan industri tambang nikel yang sibuk. Kendaraan terlihat lalu lalang tak henti melewati jalan nasional poros Weda-Patani. Debu mengepul membungkus jalanan. Mobil menutup kaca jendela […]

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 491
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

  • Pemkot Ternate akan Bangun Pusat Studi dan Riset Rempah

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 603
    • 1Komentar

    Bentang Artefak sejarah tentang kejayaan rempah di masanya/ foto istimewa

  • Literasi Lingkungan dari Pulau Tulang Halmahera

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 661
    • 0Komentar

    Cerita Fahri Lolahi dan Rumah Botol Plastik untuk Perangi Sampah   Cuaca siang di Sabtu akhir Agustus lalu itu agak mendung. Ketika tiba dengan mobil di Tobelo dari Kao, saya dijemput oleh Fahmi Lolahi. Tujuan saya menuju pulau Tulang. Setelah menunggu sekira 30 menit, saya  melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tulang.     Fahmi Lolahi adalah kakak  […]

  • Kawal Demokrasi dan Konstitusi, KEPAL: Batalkan Omnibus Law

    • calendar_month Jum, 11 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 425
    • 1Komentar

    Aksi protes pengesahan Omnibus Lawa beberapa waktu lalu, foto Antara

expand_less